Pemisahan sebagai perceraian agama dan politik tidak pernah dikenal dalam sejarah negara yang diperintah Muslim. Sepanjang sejarah, agama selalu diintegrasikan dengan negara. Sekularisme adalah gagasan yang sama sekali tidak terbayangkan dalam tradisi poli tik Islam. Wacana Islam modern tentang sekularisme sepenuhnya diilhami oleh wacana Barat.41 Kata-kata yang dipakai dalam bahasa-bahasa Islamik, seperti ‘ilmaniyyah (dari ‘ilm), ‘almaniyyah (dari ‘alam), la diniyyah (harfiah: nonreligius), dahriyyah (dari dahr), dan laiklik (kata Turki), semuanya adalah terjemahan modern dari kata Inggris secularism atau Prancis laicite.42
Eksponen Model 1 menolak sekularisme dalam makna baik politik maupun filosofis. Mereka berargumen bahwa karena Islam tidak
mengakui pemisahan (agama dan negara), gagasan sekularisme pun absurd. Begitu pula, makna filosofis kata itu (yang biasanya dikaitkan dengan gagasan penolakan akan Tuhan) bahkan lebih absurd lagi. Natsir, misalnya, menolak sekularisme bukan hanya karena ia adalah “jalan kehidupan yang berisi keyakinan, tujuan, dan perilaku hanya di dalam batas-batas duniawi”, melainkan juga karena ia “tidak mengakui akhirat dan Tuhan”.43
Eksponen Model 1 memahami pemisahan sebagai sebentuk penyang kalan negara terhadap agama. Fungsi negara adalah mela-yani agama. Fungsi ini hanya bisa tercapai kalau negara secara resmi menyatakan klaim itu. Konsep pemisahan dalam kenyataan menyangkal klaim itu. Ia justru bertujuan menjauhkan urusan agama dari negara. Memisahkan urusan agama dengan negara, bagi pen-dukung Model 1, dengan demikian merongrong fungsi negara.
Eksponen Model 1 juga memahami konsep netralitas agama sebagai sebentuk iresponsibilitas negara terhadap agama. Mereka bukan memahami netralitas agama sebagai konsep tidak berpihak pada golongan mana pun, melainkan sebagai sikap membiarkan pemimpin agama menangani urusan agama tanpa bantuan apa pun dari negara. Bagi mereka, ini pun bertentangan dengan fungsi negara. Lagi pula, mereka menganggap konsep netralitas agama sebagai pembenaran terhadap marginalisasi agama. Mereka menunjuk pada negeri komunis yang hukumnya, menurut mereka, terbukti menganut konsep netralitas agama, walaupun sebenarnya anti-agama. Selama akhir 1950-an, sebagian besar Muslim Indonesia percaya bahwa Komu nisme adalah ancaman besar terhadap agama mereka. Acuan mereka terhadap negeri komunis harus dipahami dari latar belakang politik ini. Ahmad menunjuk pada Uni Soviet sebagai contoh negara yang menganut kebijakan netralitas, tapi dalam kenyataan bermusuhan dengan agama. Dia menulis:
Tidaklah dapat kita menerima faham netral agama dengan arti netral beragama dan tidak beragama, sehingga memberi kesempatan kepada sebahagian penduduk untuk memperkosa kehormatan se buah agama, atau untuk mempropagandakan supaja rakyat
membelakangi ketuhanan. Islam tidak dapat membenarkan faham netral setjara Soviet Russia jang mentjantumkan dalam Undang2 Dasarnya fasal 124 jang memakai perkataan “Kemerdekaan mela-kukan agama dan kemerdekaan melamela-kukan anti-propaganda terhadap agama”.44
Jadi, yang harus dilakukan Muslim adalah memastikan bahwa negara tidak menganut pemisahan ataupun netralitas agama. Satu-satunya jaminan solid terhadap hal ini adalah Undang-Undang Dasar. Eksponen Model 1 menganggap Piagam Jakarta jaminan solid bahwa Indonesia tidak akan menjadi negara sekular. Namun, jaminan ini tersingkirkan, yang berarti bahwa Muslim harus menemukan jaminan lain. Dalam konteks inilah kita bisa memahami pentingnya Kementerian Agama bagi Muslim. Walaupun fungsinya tidak eks-klusif bagi Muslim saja, pembentukannya terutama bertujuan memuaskan tuntutan mereka. Bagi Muslim sendiri, ia sudah cukup untuk sementara menutupi kekecewaan mereka dan untuk menye-diakan jaminan sesaat bahwa Indonesia tidak akan menjadi sekular. Rasjidi, Menteri Agama pertama dan pendukung utama Model 1, pernah berkata:
Kementerian Urusan Agama didirikan pada 3 Januari 1946. Sebe-lumnya ada Kementerian Negara. Ini adalah kompromi antara Muslim ortodoks yang ingin mendirikan negara Islam dan pe-mimpin-pemimpin berpendidikan Belanda yang ingin mem-buatnya negara sekular.45
H.M. Kafrawi, salah satu pejabat awal di Kementerian itu menam-bahkan:
Dalam kaitan ini harus dikatakan, pertama-tama, bahwa pendirikan Kementerian Agama di Indonesia disebabkan oleh kompromi antara teori sekular dan Kristen tentang pemisahan gereja dan negara dan teori Muslim tentang persekutuan keduanya. Kedua, Kementerian Agama sama sekali tidak campur tangan dalam
kegiatan kementerian-kementerian lain, karena kompetensi setiap agama telah dengan jelas dibatasi oleh undang-undang. Karena itu Kementerian Agama lahir dari formula asli Indonesia yang berisi kompromi antara kedua konsep bertentangan itu: sistem negara Islam dan sekular.46
Dilihat dari sudut pandang pemerintah, keberadaan Kementerian itu adalah kompromi terbaik. Dari sudut pandang Muslim, ia adalah jaminan bahwa Indonesia tidak akan menjadi negara sekular.
Dalam perjalanannya, Kementerian Agama memang berfungsi sebagai jaminan bagi penyatuan agama dan negara. Seperti dijelaskan Noer, ia bermula sebagai lembaga yang sangat sederhana, tapi berkembang menjadi lembaga yang sangat kompleks.47 Pada mulanya, kementerian itu punya tiga seksi: Islam, Katolik, dan Protestan;
kemudian Hindu-Buddha ditambahkan.48 Fungsi utamanya
men-cakup tiga bidang: informasi, pendidikan, dan peradilan. Di bidang informasi, Kementerian mengoordinasi dan menerbitkan informasi mengenai urusan agama. Seksi Islam punya departemen khusus yang disebut “dakwah” (da’wah, seruan). Di bidang pendidikan, Kemen-terian bertanggungjawab untuk pengajaran agama di sekolah dan pendidikan tinggi. Seksi ini juga bertanggungjawab menyelenggarakan madrasah, yang punya kurikulum berbeda dari sekolah umum yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan. Di bidang peradilan, Kementerian itu bertanggungjawab menyelenggarakan pengadilan agama Islam. Agama lain tidak punya pengadilan tersendiri. Peng-adilan agama Islam menangani isu privat seperti perkawinan, perce-raian, dan pewarisan.
Eksponen Model 1 sepenuhnya mendukung ketiga bidang program Kementerian itu, terutama pengajaran agama. Mereka meng -anggap bidang ini sangat penting karena hanya lewat peme rintahlah pengajaran agama di sekolah dapat dijaga tetap efektif. Natsir menganggap hal itu semacam perlindungan oleh pemerintah dari bahaya sekularisme.49 Mereka tidak menganggap pengajaran agama bertentangan dengan prinsip demokratis, yang menuntut kebe-basan agama bagi setiap orang, sehingga negara tidak boleh punya
hak campur tangan. Sebaliknya, argumen mereka, negeri-negeri yang melarang pengajaran agama justru menentang semangat demokratis. Abu Hanifah menyamakan mereka dengan Komunisme atau fasisme.50 Menarik melihat di sini bahwa pendukung Model 1 sekali lagi menunjuk pada negeri Barat sebagai model ideal. Abu Hanifah berkata bahwa di negeri Eropa seperti Belanda, Denmark, dan Inggris, pengajaran agama jelas-jelas dilindungi. Dia mengutip Undang-Undang Pendidikan Inggris 1944, No. 7, yang menyatakan bahwa “pengajaran agama adalah unsur penting dalam pendidikan”.51
Selama zaman revolusi (1945-1950), tidak banyak orang mem-pertanyakan keberadaan Kementerian ini. Orang Indonesia, Muslim dan non-Muslim, tampaknya lebih menaruh perhatian pada upaya melawan usaha Belanda merekolonisasi negeri ini. Akan tetapi, setelah revolusi, dan khususnya setelah banyak orang mengkritik kinerja Kementerian itu, pendukung Model 1 merasa ragu.52 Setelah 1950, hasrat untuk mendapatkan jaminan yang lebih kokoh daripada Kemen terian Agama pun makin kuat. Tampaknya orang mulai berpikir kembali tentang perlunya jaminan yang lebih solid.
Menjelang pemilihan umum 1955, keberadaan Kementerian Agama sebagai jaminan telah sama sekali tidak diperhitungkan. Target pendu kung Model 1 bukan lagi bagaimana meningkatkan kinerja Kementerian itu, atau menciptakan lembaga Islam lain, melainkan bagaimana memenangi pemilihan umum dan mengusulkan kembali agenda politik mereka akan negara Islam. Pada 1954 dan awal 1955, pemimpin Muslim dengan semangat berkampanye demi negara Islam. Publikasi partai-partai, yang sebagian besar dikelola pendukung Model 1, menyerukan pesan yang sama. Mohamad Saleh Suaidy, kolumnis Muslim, menulis kolom tentang “Tjita2 Negara Islam”,53
sementara Suara Partai Masyumi, berkala Masyumi, menerbitkan iklan dengan slogan: “Tujuan Kita: Negara Islam.54 Pada masa itu, pendukung Model 1 sangat yakin mereka akan memenangi pemilihan umum itu dan dengan demikian mewujudkan target mereka.
Namun, demokrasi tidak pernah gampang. Pemilihan umum yang mereka kira akan memberikan kemenangan kepada mereka terbukti tidak. Partai-partai Islam gagal. Bahkan, mereka hanya mendapatkan
kurang dari separuh suara. Eksponen Model 1 benar-benar kaget dan sangat kecewa. Harapan mendapatkan jaminan solid lewat pemilihan umum terbukti sia-sia. Kini mereka harus menemukan jalan lain. Perhatian pun beralih pada Konstituante, badan politik yang dibentuk untuk merancang Undang-Undang Dasar. Namun, pertempuran politik di dalam Konstituante jauh lebih sulit daripada di dalam BPUPKI. Di sini, pendukung Model 1 harus melawan dua front sekularisme: nasionalis sekular yang menolak basis Islam sambil mengusulkan Pancasila, dan komunis sekular yang menginginkan bukan hanya pemisahan, melainkan juga perceraian komplet, agama dari politik. Bagi pendukung Model 1, komunis sekular bahkan lebih berbahaya karena sikap “ateistik” mereka terhadap agama.
Kehadiran komunis di panggung politik nasional menempatkan pendukung Model 1 pada posisi yang sangat sulit. Segera setelah kemerdekaan, mereka sebenarnya telah menerima Pancasila seba-gai dasar negara Indonesia. Mereka juga sudah mulai memuji falsa-fah Pancasila.55 Tapi serangan komunis terhadap agama, sambil berlin dung di bawah Pancasila,56 membuat mereka berpikir dua kali untuk menyokong Pancasila. Sebaliknya, mereka mulai berbicara tentang bahaya Pancasila. Natsir secara dramatis berpaling dari sikap membenarkan Pancasila sebagai cocok dengan ajaran Alquran men jadi sikap menganggap Pancasila serupa dengan sekularisme. Dia berargumen bahwa “walaupun Pancasila berisi sila ketuhanan, sumbernya adalah sekularisme, la diniyyah, anti-agama”.57
Bagi pendukung Model 1, sekularisme, baik yang disokong nasionalis sekular maupun komunis sekular, sama-sama berbahaya, dan karena itu harus ditolak. Menarik untuk dicatat bahwa setelah Soekarno membubarkan Konstituante melalui dekrit yang dia keluar-kan pada 5 Juli 1959, pendukung Model 1 mendapatkeluar-kan bahwa kedua bentuk sekularisme itu bersatu di bawah sistem Demokrasi Terpimpin. Soekarno, yang sudah lama menjadi pendukung utama Nasionalisme sekular, tiba-tiba menjadi pembela gigih komunis. Bagi pendukung Model 1, bentuk sekularisme yang satu mengkhawatirkan, yang lain memuakkan.