BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Elektronifikasi Transaksi Keuangan
Sebagai bentuk respon akan perkembangan dunia digital yang begitu massive, pemerintah melalui Bank Indonesia merancangkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNTT) pada tahun 2014 yang bertujuan untuk menciptakan sistem pembayaran yang efektif dan efisien melalui penggunaan teknologi atau menciptakan sistem pembayaran yang efektif dan efisien melalui penggunaan teknologi atau menciptakan ekosistem cashless society. Lebih lanjut guna menindaklanjuti GNTT dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di tengah pandemi Covid-19, Pemerintah Indonesia pada tahun 2021 melalui Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 2021 mencanangkan program elektronifikasi transaksi keuangan. Dilansir dari portal resmi Bank Indonesia, elektronifikasi transaksi keuangan merupakan perubahan cara pembayaran yang semula menggunakan tunai menjadi non tunai. Elektronifikasi transaksi keuangan merupakan salah satu bentuk GNTT yang dirancang oleh Bank Indonesia.
Program tersebut terdiri dari 4 (empat) jenis, diantaranya:
1. Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah
Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) adalah suatu upaya yang terpadu dan terintegrasi untuk mengubah pembayaran dari tunai menjadi non tunai dengan tujuan untuk meningkatkan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan daerah. Elektronifikasi transaksi pemerintah daerah sendiri terbagi kedalam dua komponen, diantaranya:
a. Pengguna sistem layanan elektronifikasi transaksi keuangan yang terdiri dari pemerintah daerah dan masyarakat.
b. Penyedia layanan transaksi keuangan yang terdiri dari Bank Pengelola RKUD, Mitra Bank, Agen Bank, Point Payment dan Fintech.
Selain itu, terdapat beberapa hal yang juga perlu diperhatikan dalam keberlangsungan ekosistem elektronifikasi transaksi keuangan pemerintah daerah, seperti:
a. Sistem Informasi dan Keuangan Pemerintah Daerah memiliki konektivitas dengan sistem perbankan sebagai pengelola RKUD untuk mendukung transaksi non tunai sekurangnya meliputi aktivitas transfer/payment, payroll dan inquiry.
b. Ketersediaan instrumen dan kanal pembayaran diperluas melalui kerja sama Bank Pengelola RKUD dengan mitra kerja sama untuk mempermudah akses bagi masyarakat dalam melakukan transaksi non tunai dengan pemerintah daerah.
c. Pemerintah daerah dan perbankan bersinergi untuk melakukan edukasi kepada masyarakat dalam pengenalan dan perluasan akses keuangan melalui pemanfaatan instrumen dan kanal pembayaran non tunai.
Pengaturan elektronifikasi transaksi pemerintah daerah diawali dengan GNNT yang diinisiasi oleh Bank Indonesia bersama pemerintah pada tahun 2014 dalam rangka menciptakan cashless society. Sejalan dengan GNNT, diterbitkan Instruksi Presiden (Inpres) No.10/2016 yang salah satunya berisi arahan percepatan implementasi transaksi non tunai di seluruh Kementerian atau Lembaga (K/L) dan pemerintah daerah. Guna mendorong percepatan program elektronifikasi transaksi keuangan pemerintah daerah, diterbitkan Surat Edaran
Mendagri No.910/1866/SJ tentang Implementasi Transaksi Nontunai pada pemerintah daerah Provinsi dan Surat Edaran Mendagri No.910/1867/SJ tentang Implementasi Transaksi Non Tunai pada pemerintah daerah Kabupaten/Kota yang dipertegas dengan penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) No.12/2019 Pasal 222 yang berisikan kewajiban Pemerintah daerah untuk menerapkan sistem pemerintahan berbasis elektronik di bidang pengelolaan keuangan daerah. Peran elektronifikasi transaksi keuangan Pemerintah daerah dalam menopang berbagai kegiatan perekonomian antara lain:
a. Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan melakukan kerjasama antara pemerintah daerah bersama bank pengelola RKUD dan bank lainnya yang menyediakan berbagai kanal pembayaran untuk mempermudah penerimaan pendapatan secara non tunai yang bersumber dari pembayaran pajak maupun retribusi.
b. Perbaikan tata kelola keuangan pemerintah daerah tercermin pada penyediaan proses administrasi lebih sederhana, memiliki akses yang luas, mampu mencatat seluruh transaksi, meningkatkan efisiensi pengelolaan keuangan, dan mendukung perencanaan ekonomi yang lebih akurat. Seluruhnya merupakan dampak dari program elektronifikasi transaksi keuangan pemerintah daerah.
c. Peningkatan akses keuangan dapat dilihat dengan semakin merata dan beragamnya ketersediaan kanal dan instrumen pembayaran non tunai di seluruh wilayah, maka pada gilirannya akan meningkatkan peluang kepemilikan rekening.
d. Penguatan kontrol keuangan secara sistematis (tercatat dan terdokumentasi dengan baik) akan memudahkan berbagai pihak dalam melakukan kontrol dan evaluasi secara real time, serta memudahkan berbagai pihak dalam menyusun pelaporan transaksi keuangan sesuai kaidah akuntansi keuangan.
2. Elektronifikasi Bantuan Sosial
Elektronifikasi bantuan sosial (Bansos) adalah transformasi penyaluran bansos dari tunai menjadi non tunai yang bertujuan untuk mewujudkan pemenuhan prinsip 6T (Tepat waktu, Tepat sasaran, Tepat jumlah, Tepat kualitas, Tepat harga, dan Tepat administrasi) serta meningkatkan kesempatan dan kemampuan masyarakat dalam mengakses dan memanfaatkan layanan keuangan. Program elektronifikasi bansos meliputi Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Sembako (Bantuan Pangan Non Tunai) yang diintegrasikan ke dalam Kartu Kombo. Program ini juga telah tertuang dalam Peraturan Presiden RI No.63 tahun 2017 tentang Penyaluran Bantuan Sosial secara Non Tunai. Secara teknis implementasi elektronifikasi bansos diawali dengan beberapa tahapan yakni:
a. Diawali dengan adanya arahan Presiden RI mengenai transformasi penyaluran bansos secara nontunai dalam Rapat Kabinet Terbatas tanggal 26 April 2016. Arahan tersebut telah sesuai dengan kebijakan BI terkait keuangan inklusif dan Strategi Peningkatan Akseptasi Implementasi Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah 10 Di Provinsi Sumatera Utara elektronifikasi melalui Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang
dicanangkan BI dan Pemerintah pada 14 Agustus 2014;
b. Selanjutnya BI menginisiasi penandatanganan Nota Kesepahaman tentang koordinasi pelaksanaan elektronifikasi penyaluran bansos bersama 5 Kementerian pada 26 Mei 2016. Penyaluran bansos tersebut selaras dengan salah satu pilar Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI).
c. Implementasi elektronifikasi bansos pada tahun 2016 dimulai dengan penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) dan selanjutnya pada tahun 2017 diluncurkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang merupakan reformasi dari program Keluarga Sejahtera (Rastra).
d. Arahan Presiden dalam Nota Keuangan 16 Agustus 2019 pemerintah akan menyalurkan BPNT kepada 15,6 Juta keluarga melalui Kartu Sembako sehingga dapat membeli dan memilih bahan pangan yang lebih beragam serta jumlah bantuan meningkat menjadi Rp1,8 Juta/KPM/tahun. Selanjutnya hasil Rapat Tingkat Menteri (RTM) pada 17 Desember 2019 menyepakati bahwa terdapat pengembangan BPNT menjadi Program Sembako dan tetap menggunakan Kartu Kombo sebagai instrumen penyaluran.
3. Elektronifikasi Transportasi
Program elektronifikasi ketiga yakni program elektronifikasi transportasi secara nasional. Program ini telah didukung dengan ditandatanganinya Kesepakatan Bersama antara Bank Indonesia dengan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia No.19/8/NK/GBI/2017 tanggal 6 Januari
2017 tentang Kerja Sama dan Koordinasi dalam rangka Pelaksanaan Tugas Bank Indonesia dan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.
Penerapan elektronifikasi pembayaran di sektor transportasi juga telah diimplementasikan pada transportasi darat, penyeberangan, dan laut serta transportasi berbasis rel sesuai dengan prinsip GPN (interkoneksi dan interoperabilitas) dan terbuka untuk semua penerbit Uang Elektronik (non-eksklusif) sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.20/6/PBI/2018 tentang Uang Elektronik tanggal 3 Mei 2018. Dalam pelaksanaan elektronifikasi pembayaran moda transportasi, Bank Indonesia bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan, Pemprov/ Dishub setempat, operator moda transportasi dan Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) untuk melakukan peningkatan awareness masyarakat, kemudahan akses perolehan instrumen pembayaran dan layanan top up, serta keandalan peralatan alat transaksi di masing-masing moda transportasi.
4. Elektronifikasi Jalan Tol
Bank Indonesia juga mengawal elektronifikasi transaksi jalan tol yang telah didukung dengan ditandatanganinya Kesepakatan Bersama antara Bank Indonesia dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia No.19/5/NK/GBI/2017 tanggal 31 Mei 2017 tentang Kerja Sama dan Koordinasi dalam rangka Pelaksanaan Tugas Bank Indonesia dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia, Selain itu, melalui Permen PUPR No.16 tahun 2017, pembayaran tarif jalan tol secara serentak dilakukan secara non tunai menggunakan uang
elektronik berbasis chip pada 31 Oktober 2017. Secara bertahap, akan dilakukan migrasi pembayaran dari sebelumnya melalui mekanisme tapping menjadi nirsentuh/contactless.