• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen ATANIA RASBINA BR SEMBIRING (Halaman 72-0)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Pembahasan

4.3.1 Bank Indonesia mendukung upaya Pemerintah Daerah Sumatera Utara dalam percepatan dan perluasan elektronifikasi transaksi Bank Indonesia sebagai bank sentral mempunyai tugas untuk mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Efektivitas pelaksanaan tugas Bank Indonesia ini memerlukan dukungan sistem pembayaran yang efisien, cepat, aman dan handal. Pengaturan elektronifikasi transaksi pemerintah daerah diawali dengan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang diinisiasi oleh Bank

Indonesia bersama pemerintah pada tahun 2014 untuk menciptakan cashless society. Sejalan dengan GNNT, diterbitkan Instruksi Presiden no.10/2016 yang salah satunya berisi arahan percepatan implementasi transaksi non tunai di seluruh Kementerian/Lembaga (K/L) dan pemerintah daerah dan sesuai Surat Edaran dari Menteri Dalam Negeri No.910/1867/SJ Tentang Implementasi Transaksi Non Tunai pada pemerintah daerah kab/kota yang menghimbau semua bupati/walikota di seluruh Indonesia untuk segera menerapkan transaksi non tunai.

Perluasan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) merupakan salah satu program strategis Bank Indonesia yang bertujuan mendorong transaksi keuangan secara non tunai yang sejalan dengan upaya peningkatan keuangan inklusif yang terarah, efisien dan sinergis melalui pemanfaatan teknologi, inovasi produk dan saluran distribusi. Dalam hal ini Bank Indonesia mendukung upaya pemerintah dalam mempercepat dan memperluas digitalisasi daerah diwujudkan dengan keanggotaan Bank Indonesia dalam Satuan Tugas Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (Satgas P2DD) yang terdiri dari Menko Perekonomian selaku Ketua dan beranggotakan Gubernur Bank Indonesia, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Sekretaris Negara, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi serta Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, serta membentuk Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) yang merupakan forum komunikasi yang diharapkan dapat mempermudah koordinasi dan penyampaian informasi sehingga berbagai tantangan dan hambatan yang ditemui dilapangan dapat teratasi. TP2DD berperan sebagai perpanjangan tangan kebijakan dari pusat agar

diimplementasikan dengan baik di daerah serta melakukan tracking roadmap 2021-2025 sebagai peta jalan dalam pelaksanaan program, dan pendampingan dalam implementasi ETPD.

Harapannya, tim ini dapat menjadi tim yang solid dalam rangka menyusun strategi perluasan implementasi ETPD serta mendorong perkembangan digitalisasi.

Meskipun telah dibentuknya Satgas P2DD, Bank Indonesia juga menyusun konsep dan pedoman championship TP2DD diselenggarakan sebagai wujud apresiasi kepada pemerintah daerah yang telah berhasil mendorong perluasan digitalisasi, khususnya dalam ETPD dan sekaligus meningkatkan motivasi pemerintah daerah dalam inovasi dan perluasan elektronifikasi dan menciptakan inovasi e-retribusi dan pendapatan pajak menggunakan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) untuk optimalisasi pendapatan asli daerah melalui penetapan pemerintah daerah terbaik.

Selanjutnya, melakukan sosialisasi atau edukasi kepada pemerintah daerah meliputi regulasi dan kebijakan yang mendukung elektronifikasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait digitalisasi, serta melakukan koordinasi kepada Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara sebagai Bank Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) untuk meninjau perkembangan dari penerapan digitalisasi pada setiap daerah. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mendukung upaya percepatan dan perluasan digitalisasi daerah dengan membentuk Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Sumut. Tim ini berperan mendukung pengembangan transaksi pembayaran digital masyarakat.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Oktaviana Banda Saputri (2021) yang menyatakan bahwa dalam rangka

meningkatkan efisiensi dan optimalisasi penerimaan daerah dengan tetap mengedepankan transparansi dan good governance maka Bank Indonesia terus mendukung program elektronifikasi transaksi pemerintah daerah sebagai upaya mewujudkan hal tersebut. Hal ini tidak saja berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah dan perluasan akses keuangan, namun di sisi masyarakat juga akan meningkatkan kecepatan dan kemudahan pembayaran.

4.3.2 Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dalam percepatan dan perluasan transaksi belanja dan pendapatan menggunakan kanal digital

Dalam rangka mengakselerasi program P2DD yang saat ini diprioritaskan pada ETPD, salah satu kunci keberhasilan utk mewujudkannya adalah melalui koordinasi. Hal ini mempertimbangkan aspek ETPD yang luas sehingga dibutuhkan kolaborasi para pemangku kepentingan, yaitu antara Pemerintah, Bank Indonesia, Bank Pembangunan Daerah dan otoritas terkait.

Rencana perluasan transaksi belanja dan pendapatan menggunakan kanal digital terus didukung oleh Bank Indonesia bersama Bank Pembangunan Daerah selaku Bank Rekening Kas Umum (RKUD) dalam melakukan penyusunan strategi percepatan dan perluasan ETPD yang tepat agar ekosistem digital dapat terbentuk pada setiap daerah. Bank Pembangunan Daerah terus melakukan pengembangan inovasi pada beberapa layanan untuk meningkatkan penerimaan pajak dan retribusi.

seperti SPTPD, SIMPATDA, SISMIOP, STS, BPHTB, Pasar, KIR, e-PDAM hingga e-parking. Untuk mendukung perluasan kanal digital, Bank Pembangunan Daerah juga memperluas kanal pembayaran pajak dan retribusi seperti teller, loket bank, ATM, mobile banking, fintech, ritel, e-commerce dan QRIS dan

perluasan tapping box sebagai fasilitator pengadaan alat rekam, serta melakukan kolaborasi dengan Gojek untuk perluasan pembayaran pajak dan retribusi melalui menu GoTagihan pada aplikasi Gojek. Dalam hal transaksi belanja, BPD Sumatera Utara mengimplementasikan Cash Management System Kasda dan CMS OPD terus diperluas guna meningkatkan akuntabilitas serta transparansi transaksi belanja OPD.

Selain itu, dengan hadirnya Sistem Informasi Keuangan Daerah yang dikembangkan oleh Kemendagri yaitu SIPD, diharapkan dapat terintegrasi secara optimal dengan CMS yang telah digunakan sehingga elektronifikasi transaksi belanja dapat berjalan secara efektif.

Dalam mendukung ketersediaan layanan dan mendorong perluasan ETPD, BPD Sumatera Utara bekerja sama dengan PT. Mitracomm sebagai payment gateway. Diharapkan dengan adanya kerjasama, masyarakat dapat memenuhi kewajiban pembayaran melalui kanal e-commerce dan fintech. Selain itu, BPD Sumatera Utara juga mengembangkan QR Dinamis yang bekerjasama dengan Telkom untuk pembayaran pajak dan retribusi daerah bagi seluruh pemerintah daerah. Kedepannya akan dilakukan kerjasama dengan perbankan lain untuk memperluas kanal pembayaran seperti dengan BCA, BJP dan Himbara.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Oktaviana Banda Saputri (2021) yang menyatakan bahwa mempertimbangkan potensi yang besar pada transaksi keuangan digital di lingkungan Pemda, perlu adanya komitmen dari Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebagai salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang dapat berperan sebagai mitra pemerintah daerah dalam menyukseskan implementasi elektronifikasi transaksi Pemda, mengingat

pendirian BPD utamanya adalah sebagai mitra dalam mengakselerasi keuangan daerah, maka BPD perlu berinovasi untuk dapat meningkatkan pelayanan transaksi melalui mekanisme digital agar mampu menjadi garda terdepan dalam mewujudkan visi elektronifikasi transaksi pemerintah daerah.

4.3.3 Percepatan dan perluasan elektronifikasi transaksi yang diterapkan Pemerintah Daerah Sumatera Utara

Penerapan dan perluasan yang diterapkan oleh setiap pemerintah daerah sudah termasuk dalam mendorong penggunaan digital dengan menerapkan transaksi pendapatan pajak/retribusi dan pengeluaran menggunakan elektronifikasi. Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa pemerintah daerah yang menjadi wilayah kerja Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara telah mengembangan penerimaan pajak dan retribusi seperti e-SPTPD, SIMPATDA, SISIMOP, e-BPHTB, e-STS dengan menggunakan kanal pembayaran digital seperti teller, loket bank, ATM, mobile banking, fintech, e-commerce, ritel dan QRIS yang diyakini mampu meningkatkan pendapatan asli daerah. QRIS merupakan standarisasi pembayaran berbasis QR Code yang dikembangkan oleh Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). Tujuannya agar seluruh proses transaksi berbasis QR Code yang dilakukan oleh masyarakat akan semakin cepat, mudah, murah, aman dan handal.

Dalam hal transaksi belanja pemerintah daerah telah bekerja sama dengan BPD Sumatera Utara dalam hal mengimplementasikan Cash Management System Kasda dan CMS OPD pada organisasi perangkat daerah sehingga diyakini dapat meningkatkan pendapatan asli daerah. Penggunaan Kanal dan instrumen pembayaran

sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat dan disesuaikan penggunaannya dengan tingkat literasi di daerah agar meningkatkan kecepatan, kenyamanan, keamanan dan efisiensi transaksi bagi masyarakat.

Dalam hal penerapan digitalisasi daerah Kota Medan dan Kota Tebing Tinggi telah melakukan penerapan e-parking pada beberapa ruas jalan dan kedepannya akan terus dilakukan pengembangan. Penerapan e-pasar juga telah dilakukan pada Kota Medan dan Kabupaten Langkat untuk meningkatkan antusiasme masyarakat dalam melakukan penjualan dan pembelian. Sampai saat ini Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat telah menerapkan e-pendidikan dan terus melakukan perkembangan sosialisasi dalam penerapan e-pendidikan bagi orang tua siswa untuk bertransformasi menggunakan kanal pembayaran digital.

Program ETPD memberikan dampak lain terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), governance, dan ease of doing business (EoDB). Berdasarkan data estimasi dari Bank Indonesia tahun 2020, implementasi ETPD secara signifikan dapat meningkatkan PAD apabila pemanfaatan masyarakat terhadap ETPD sudah cukup tinggi. Namun demikian, dalam pengembangan serta perluasannya di lapangan, masih ditemukan berbagai tantangan dan keterbatasan sehingga menahan akseptasi dan peningkatan penggunaan dari masyarakat.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Adam Al Kautasar, Toddy Aditya & Dini Aulia Rizky (2021) yang menyatakan bahwa dalam penerapan transaksi nontunai Pemda Kota Tangerang menerapkan cash management system (CMS) yang bekerja sama dengan Bank Jabar Banten (BJB)

selaku Bank RKUD untuk pembayaran belanja langsung untuk meminimalisir praktik pungli ataupun penyelewengan pada kegiatan belanja langsung.

4.3.4 Peluang dan tantangan yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah Sumatera Utara dalam melakukan percepatan dan perluasan elektronifikasi transaksi

Implementasi hal baru di masyarakat tentu tidak terlepas dari kendala yang dihadapi. Pertama, terkait minat masyarakat untuk tetap bertransaksi secara tunai yang merupakan kendala terbesar dalam penggunaan ETPD di provinsi Sumatera Utara. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih diperlukan sosialisasi terkait layanan ETPD yang lebih luas dan tepat sasaran oleh pemangku kepentingan kebijakan terkait di daerah. Kedua, terkait dengan kompetensi SDM serta komitmen Pemda dalam pengembangan layanan ETPD, Pengembangan sistem pembayaran pajak dan retribusi secara non tunai tentu tidak terlepas dari peran Pemda. Oleh karena itu, ETPD di Sumatera Utara membutuhkan dukungan komitmen dari Pemda beserta SDM-nya agar layanan ETPD dapat diimplementasikan sehingga dapat menciptakan ekosistem digital. Ketiga, terkait infrastruktur dan teknologi pendukung layanan ETPD. Kelancaran transaksi dan kepercayaan masyarakat untuk melakukan pembayaran pajak dan retribusi secara nontunai tentu tidak terlepas dari peran infrastruktur TI. Kendala jaringan menjadi tantangan terbesar selain masih rendahnya minat masyarakat dalam pengembangan serta penggunaan ETPD disebabkan oleh belum meratanya jaringan internet 4G dan keberagaman kualitas smartphone yang dimiliki oleh masyarakat.

Pembatasan kegiatan selama masa pandemi Covid-19 menjadi tantangan dalam melakukan koordinasi dan sosialisasi perluasan elektronifikasi transaksi

pemerintah. Sehingga perlu adanya sinergi dan kolaborasi dari berbagai pihak dalam membentuk mindset masyarakat untuk bertransformasi menggunakan non tunai.

Sosialisasi dan pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran (awareness) masyarakat tentang manfaat teknologi dalam mempermudah pembayaran pajak dan retribusi apabila dilakukan secara nontunai.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kirana Widyatuti, Iik Wilarso (2017) yang menyatakan bahwa dalam hal penerapan digitalisasi ditemukan hambatan seperti kurangnya pengalaman dalam penggunaan digitalisasi dan masih rendahnya literasi keuangan masyarakat terhadap penggunaan digital. Hal tersebut juga didukung oleh penelitian Astuti S.Y.W (2005) menyatakan keterbatasan sarana dan prasarana fisik jaringan telekomunikasi dan listrik termasuk menjadi hambatan dalam penerapan digitalisasi.

Namun, dalam penerapannya terdapat peluang dalam perluasan elektronifikasi transaksi dengan diterbitkannya Surat Edaran Mendagri Nomor 910/14005/SJ Tentang Implementasi Transaksi Nontunai dalam Rangka ETPD dan Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 2021 Tentang Satuan Tugas Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah serta diterbitkannya regulasi/ketentuan kepala daerah dalam pembentukan smart city dan penerapan digitalisasi pada daerah. Adanya perkembangan teknologi yang mudah dijangkau serta pendidikan yang semakin tinggi dapat memudahkan masyarakat untuk menyerap perkembangan digitalisasi.

Penerapan digitalisasi keuangan pada pemerintah daerah dapat menciptakan akuntabilitas dan transparansi transaksi tercatat lebih lengkap, efektif, efisien secara realtime dengan bukti yang sah sehingga dapat lebih tertib dan bebas dari kolusi,

korupsi dan nepotisme (KKN) dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Selain meningkatkan PAD, digitalisasi pelayanan dan transaksi pemerintah daerah dapat memberikan kemudahan dan percepatan pelayanan masyarakat di masa pandemi Covid-19 yang cenderung mengalami perubahan dalam pola interaksi dan pola transaksi.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Lidanna Dian Kurnia (2020) yang menyatakan bahwa penerapan transaksi non tunai dalam pengelolaan keuangan daerah akan memberikan banyak manfaat transaksi menjadi sangat efisien juga efektif karena penggunaan aliran dana dapat ditelusuri dengan bukti yang sah. Hal tersebut juga didukung oleh penelitian Selly Septiani, Endah Kusumastuti (2018) menyatakan penerapan transaksi nontunai dapat meningkatkan perwujudan prinsip good governance terutama prinsip akuntabilitas, transparansi, efektivitas dan efisiensi sehingga dapat menekan tingkat penyelewengan terutama korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

70 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka penelitian ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Bank Indonesia mendukung perkembangan digitalisasi daerah dengan membentuk Satgas P2DD dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD). Tim ini berperan dalam mendukung pengembangan transaksi pembayaran digital masyarakat. Bank Indonesia juga mengeluarkan program championship untuk meningkatkan motivasi pemerintah daerah dalam inovasi dan perluasan elektronifikasi transaksi.

2. Bank Indonesia bersama Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara mendukung rencana perluasan dengan melakukan penyusunan strategi Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah melalui pengembangan layanan digital dan menggunakan kanal pembayaran digital dengan memperluas pemberian mesin EDC kepada setiap Kabupaten/kota serta Bank Pembangunan Daerah mendukung implementasi CMS Kasda untuk transaksi belanja dan melakukan perluasan penggunaan tapping box sebagai fasilitator pengadaan alat rekam.

3. Penerapan transaksi yang dilakukan oleh pemerintah daerah Sumatera Utara untuk mempercepat dan memperluas digitalisasi sudah termasuk kategori digital dengan memanfaatkan pengembangan beberapa layanan untuk meningkatkan penerimaan pajak dan retribusi seperti penerapan e-parking

pada beberapa ruas jalan di Kota Medan dan Kota Tebing Tinggi, penerapan e-pasar pada Kota Medan dan Kabupaten Langkat, penerapan e-pendidikan pada Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat, penerapan e-SPTPD, e-STS, SIMPATDA, SISMIOP pada 9 (Sembilan) Kab/Kota. Penerimaan pajak dan retribusi dilakukan dengan menggunakan kanal pembayaran digital yang terus dikembangkan seperti teller, loker bank, ATM, fintech¸ ritel, e-commerce¸ dan QRIS.

4. Tantangan dalam penerapan digitalisasi daerah berupa tingkat pemahaman dan literasi masyarakat yang masih rendah terhadap non tunai, masih terdapat blank spot di daerah terpencil sehingga menghambat penerapan dan perluasan digitalisasi serta kompetensi SDM dan komitmen pemerintah daerah yang masih perlu ditingkatkan. Adapun peluang dalam penerapan digitalisasi daerah dengan diterbitkannya SE Mendagri No 910/14005/SJ Tentang Implementasi Transaksi Nontunai Dalam Rangka ETPD dan Keputusan Presiden No 3 Tahun 2021 Tentang Satuan Tugas Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah serta diterbitkannya regulasi/ketentuan kepala daerah dalam pembentukan smart city dan pembentukan tim percepatan dan perluasan digitalisasi untuk melakukan penerapan kepada masyarakat.

Adanya perkembangan teknologi yang mudah dijangkau serta pendidikan yang semakin tinggi dapat memudahkan masyarakat untuk menyerap perkembangan digitalisasi.

5.2 Saran

Adapun saran-saran dalam penelitian ini yaitu:

1. Dalam mendorong percepatan dan perluasan digitalisasi daerah, maka pemerintah daerah bersama Bank Indonesia dan Bank Pembangunan Daerah dan seluruh perbankan perlu melakukan pengembangan sosialisasi kepada masyarakat, agar masyarakat lebih memahami penggunaan transaksi non tunai.

2. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara lebih memperluas perkembangan layanan digital untuk diterapkan pada seluruh kab/kota dan menambah persediaan tapping box sebagai alat rekam yang diyakini dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

3. Melakukan bimbingan teknis kepada SDM untuk meningkatkan pemahaman dalam pengimplementasian dalam pengelolaan keuangan daerah berbasis sistem online dan dapat melakukan sosialisasi ke masyarakat serta mengembangkan sistem pembayaran non tunai untuk lebih memudahkan masyarakat yang ada di pedesaan.

4. Dalam penerapan transaksi non tunai perlu adanya perhatian lebih dari Dinas Komunikasi dan Informasi terhadap daerah-daerah terpencil yang masih blank spot dengan menambah kecepatan jaringan komunikasi, kualitas jaringan yang baik dapat mendukung percepatan dan perluasan implementasi ETPD, sehingga dapat diakses oleh seluruh organisasi perangkat daerah dan masyarakat dalam menggunakan kanal pembayaran sehingga dapat tercipta ekosistem digital pada setiap daerah.

73

DAFTAR PUSTAKA

Al Kautsar. A.,Aditya, T., & Rizky D.A . (2021). Penerapan sistem transaksi non tunai dalam pelaksanaan belanja langsung di Dinas Sosial Kota Tangerang. Jurnal riset akuntansi dan keuangan, 9(1), 115-124.

Astuti,S.Y.W . (2005). Peluang dan Tantangan Penerapan E-Governance dalam Konteks Otonomi Daerah. Jurnal Universitas Airlangga, 1(1), 1-14.

Auditya,L., Husaini.H & Lismawati L. (21-42). Analisis Pengaruh Akuntabilitas dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah. Jurnal Fairness, 3(1), 2013.

Badan Pusat Statistik. (2021, Desember 04). Retrieved from Badan Pusat Statistik:

https://deliserdangkab.bps.go.id/publication/2020/05/20/176bd94b20ee2b8 a50adfdea/Provinsi-deli-Sumatera Utara-dalam-angka-2020.html

Bank Indonesia. (2021). Pedoman Program Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah. Departemen Penyelenggara Sistem Pembayaran Bank Indonesia.

Jakarta.

Departemen Penyelenggara Sistem Pembayaran. (2021). pedoman kerja dan monitoring program elektronifikasi serta kegiatan edukasi interoperabilitas transaksi elektronik. Bank Indonesia.

Dewi, I.G.A.A.T &, A. (2020). Pengaruh Penggunaan Non Tunai dan Upah Minimum Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Pada Kabupaten/Kota Provinsi Bali. Universitas Udayana, 12 (4), 150-175.

Dona,H.R.,& Khaidir A. . (2019). Implementasi Pengelolaan Keuangan Dengan Transaksi Non Tunai Di Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Barat.

Jurnal Mahasiswa Ilmu Administrasi Publik, 3(1), 21-42.

Grace B Nangoi, A., & Grace B.Nangoi, A. (2018). Analisis Penerapan Sistem Transaksi Non Tunai Dalam Pengelolaan Keuangan Daerah Pada Dinas Lingkungan Hidup Kota Bitung. Jurnal Riset Akuntansi Going Concern, 13 (4), 220-229.

Halim,Abdul. (2008). Akuntansi sektor publik, Akuntansi keuangan daerah.

Jakarta: Salemba empat.

Hendrawan, S. (2018). Implementasi Transaksi Non Tunai Sebagai Dasar Tata Kelola Pemerintah yang Baik (Studi Kasus Pada Pemerintah Jombang).

Akuntansi Going Concern, 13(4), 220-229.

Ilman, A.H.,, M. N. (2019). Peran Teknologi Finansial Bagi Perekonomian Negara Berkembang. Universitas Teknologi Sumbawa, 15(2),115-121 Kirana Widyatuti, I. (2017). Tantangan dan Hambatan Implementasi Produk Uang

Elektronik. 6(1),90-101

Kurnia,L.D. (2020). Analisis Efisiensi Penerapan Transaksi Non Tunai Dalam Pengelolaan Keuangan Daerah Pada Sekretariat Daerah Kota Metro Provinsi Lampung. Jurnal Manajemen, 14(1), 89-98.

Kuswandi,Aos. (2016). Manajemen Pemerintahan Daerah.Bekasi: Badan Penerbit Universitas Islam '45' (UNISMA).

Mia Rosmiati, R. (2020). Penerapan Transaksi Non Tunai Atas Pendapatan dan Belanja Daerah Untuk Mewujudkan Prinsip E-Governance BPKD Kabupaten Bandung Barat. 3(1), 115-167.

Monginsidi E.C. Koleangan, R.A, & Rotinsulu D.C . (2021). Analisis implementasi transaksi non tunai dalam pengelolaan keuangan daerah kota manado. Jurnal Pembangunan Ekonomi dan Keuangan Daerah, 20(1), 15-30.

Nugraha, Joko Tri. (2018). E-government dan pelayanan publik (Studi Elemen Sukses Pengembangan e-government di pemerintah kabupaten sleman).

jurnal komunikasi dan kajian media, 2(1), 32-42.

Pemerintah Indonesia. (2021). Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 2021 Tentang Satuan Tugas Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah. Kementerian Komunikasi dan Informatika. Jakarta.

Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah .

Republik Indonesia. Permendagri 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

Saputri, O. B. (2021). Analisis SWOT Transformasi Digital Transaksi Keuangan Pemerintah Daerah Dalam Mendukung Inklusi Keuangan. INOVASI, 17 (3), 482-494.

Septiani,S.,&Kusumastuti E. (2019). Penerapan Transaksi Non Tunai Dalam Pelaksanaan Belanja Pemerintah Daerah Untuk Mewujudkan Prinsip Good Governance: Studi Kasus Pada BPKAD Jawa Barat. Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar, 10(1), 1171-1181.

Sugiyono, & Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&B . Bandung: Alfabeta.

Suhendri,S.,Sari,R.N.,&Rasuli,M. (2020). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Implementasi Transaksi Non Tunai Di Pemerintah IndraGiri Hulu.Jurnal Akuntansi (Media Riset Akuntansi & Keuangan), 8(2).

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Widyastuti,K.,Handayani,P.W. (2017). Tantangan dan Hambatan Implementasi Uang Elektronik di Indonesia. Jurnal Sistem Informasi, 13(1), 38-48.

75

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 :Pedoman Wawancara Mendalam (In-Depth Interview) 1. Pertanyaan untuk Bank Indonesia dan Bank Pembangunan Daerah

a. Apa tujuan/alasan Bank Indonesia menerapkan elektronifikasi transaksi?

b. Bagaimana peran Bank Indonesia dalam mendukung percepatan dan perluasan elektronifikasi transaksi?

c. Upaya apa yang telah dilakukan Bank Indonesia Sumatera Utara dalam memperluas percepatan dan perluasan elektronifikasi transaksi?

d. Apa saja dukungan yang telah diberikan BPD Sumatera Utara dan Bank Himbara dalam memperluasan kanal digital di lingkungan pemerintah daerah?

e. Bagaimana perkembangan penerapan elektronifikasi transaksi pada setiap daerah untuk meningkatkan pendapatan asli daerah?

f. Sejauh mana komitmen pemerintah daerah dalam pelaksanaan perluasan elektronifikasi transaksi?

g. Apa saja peluang dan tantangan setelah dilaksanakannya penerapan elektronifikasi transaksi?

2. Pertanyaan untuk Kepala BPKPAD Kabupaten/Kota

h. Bagaimana bapak/ibu menyikapi perubahan dari transaksi tunai ke sistem transaksi non tunai pada penerimaan retribusi dan pajak?

i. Apakah menurut bapak/ibu penerapan elektronifikasi sangat penting diterapkan dalam pemerintahan?

j. Apakah menurut bapak/ibu penerapan elektronifikasi transaksi dapat mewujudkan good governance and clean goverment?

k. Apa saja kebijakan yang telah diterapkan untuk melakukan percepatan dan perluasan digitalisasi dalam penerapan elektronifikasi transaksi?

l. Bagaimana langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam melakukan rencana perluasan transaksi belanja dan pendapatan menggunakan elektronifikasi transaksi?

m. Bagaimana langkah yang akan dilakukan oleh pemerintah daerah dalam menghadapi masyarakat yang belum memahami elektronifikasi transaksi non tunai?

n. Menurut bapak/ibu manakah kontribusi terbesar dari diterapkannya elektronifikasi transaksi pada penerimaan retribusi dan pajak?

o. Apakah dalam penerapan elektronifikasi transaksi di pemerintah daerah saat ini telah berjalan dengan lancar?

p. Bagaimana dukungan infrastruktur dalam penerapan elektronifikasi transaksi pada pengelolaan keuangan daerah?

q. Bagaimana kesiapan SDM dengan adanya perubahan menuju elektronifikasi transaksi?

q. Bagaimana kesiapan SDM dengan adanya perubahan menuju elektronifikasi transaksi?

Dalam dokumen ATANIA RASBINA BR SEMBIRING (Halaman 72-0)