BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
Adapun saran-saran dalam penelitian ini yaitu:
1. Dalam mendorong percepatan dan perluasan digitalisasi daerah, maka pemerintah daerah bersama Bank Indonesia dan Bank Pembangunan Daerah dan seluruh perbankan perlu melakukan pengembangan sosialisasi kepada masyarakat, agar masyarakat lebih memahami penggunaan transaksi non tunai.
2. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara lebih memperluas perkembangan layanan digital untuk diterapkan pada seluruh kab/kota dan menambah persediaan tapping box sebagai alat rekam yang diyakini dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
3. Melakukan bimbingan teknis kepada SDM untuk meningkatkan pemahaman dalam pengimplementasian dalam pengelolaan keuangan daerah berbasis sistem online dan dapat melakukan sosialisasi ke masyarakat serta mengembangkan sistem pembayaran non tunai untuk lebih memudahkan masyarakat yang ada di pedesaan.
4. Dalam penerapan transaksi non tunai perlu adanya perhatian lebih dari Dinas Komunikasi dan Informasi terhadap daerah-daerah terpencil yang masih blank spot dengan menambah kecepatan jaringan komunikasi, kualitas jaringan yang baik dapat mendukung percepatan dan perluasan implementasi ETPD, sehingga dapat diakses oleh seluruh organisasi perangkat daerah dan masyarakat dalam menggunakan kanal pembayaran sehingga dapat tercipta ekosistem digital pada setiap daerah.
73
DAFTAR PUSTAKA
Al Kautsar. A.,Aditya, T., & Rizky D.A . (2021). Penerapan sistem transaksi non tunai dalam pelaksanaan belanja langsung di Dinas Sosial Kota Tangerang. Jurnal riset akuntansi dan keuangan, 9(1), 115-124.
Astuti,S.Y.W . (2005). Peluang dan Tantangan Penerapan E-Governance dalam Konteks Otonomi Daerah. Jurnal Universitas Airlangga, 1(1), 1-14.
Auditya,L., Husaini.H & Lismawati L. (21-42). Analisis Pengaruh Akuntabilitas dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah. Jurnal Fairness, 3(1), 2013.
Badan Pusat Statistik. (2021, Desember 04). Retrieved from Badan Pusat Statistik:
https://deliserdangkab.bps.go.id/publication/2020/05/20/176bd94b20ee2b8 a50adfdea/Provinsi-deli-Sumatera Utara-dalam-angka-2020.html
Bank Indonesia. (2021). Pedoman Program Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah. Departemen Penyelenggara Sistem Pembayaran Bank Indonesia.
Jakarta.
Departemen Penyelenggara Sistem Pembayaran. (2021). pedoman kerja dan monitoring program elektronifikasi serta kegiatan edukasi interoperabilitas transaksi elektronik. Bank Indonesia.
Dewi, I.G.A.A.T &, A. (2020). Pengaruh Penggunaan Non Tunai dan Upah Minimum Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Pada Kabupaten/Kota Provinsi Bali. Universitas Udayana, 12 (4), 150-175.
Dona,H.R.,& Khaidir A. . (2019). Implementasi Pengelolaan Keuangan Dengan Transaksi Non Tunai Di Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Barat.
Jurnal Mahasiswa Ilmu Administrasi Publik, 3(1), 21-42.
Grace B Nangoi, A., & Grace B.Nangoi, A. (2018). Analisis Penerapan Sistem Transaksi Non Tunai Dalam Pengelolaan Keuangan Daerah Pada Dinas Lingkungan Hidup Kota Bitung. Jurnal Riset Akuntansi Going Concern, 13 (4), 220-229.
Halim,Abdul. (2008). Akuntansi sektor publik, Akuntansi keuangan daerah.
Jakarta: Salemba empat.
Hendrawan, S. (2018). Implementasi Transaksi Non Tunai Sebagai Dasar Tata Kelola Pemerintah yang Baik (Studi Kasus Pada Pemerintah Jombang).
Akuntansi Going Concern, 13(4), 220-229.
Ilman, A.H.,, M. N. (2019). Peran Teknologi Finansial Bagi Perekonomian Negara Berkembang. Universitas Teknologi Sumbawa, 15(2),115-121 Kirana Widyatuti, I. (2017). Tantangan dan Hambatan Implementasi Produk Uang
Elektronik. 6(1),90-101
Kurnia,L.D. (2020). Analisis Efisiensi Penerapan Transaksi Non Tunai Dalam Pengelolaan Keuangan Daerah Pada Sekretariat Daerah Kota Metro Provinsi Lampung. Jurnal Manajemen, 14(1), 89-98.
Kuswandi,Aos. (2016). Manajemen Pemerintahan Daerah.Bekasi: Badan Penerbit Universitas Islam '45' (UNISMA).
Mia Rosmiati, R. (2020). Penerapan Transaksi Non Tunai Atas Pendapatan dan Belanja Daerah Untuk Mewujudkan Prinsip E-Governance BPKD Kabupaten Bandung Barat. 3(1), 115-167.
Monginsidi E.C. Koleangan, R.A, & Rotinsulu D.C . (2021). Analisis implementasi transaksi non tunai dalam pengelolaan keuangan daerah kota manado. Jurnal Pembangunan Ekonomi dan Keuangan Daerah, 20(1), 15-30.
Nugraha, Joko Tri. (2018). E-government dan pelayanan publik (Studi Elemen Sukses Pengembangan e-government di pemerintah kabupaten sleman).
jurnal komunikasi dan kajian media, 2(1), 32-42.
Pemerintah Indonesia. (2021). Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 2021 Tentang Satuan Tugas Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah. Kementerian Komunikasi dan Informatika. Jakarta.
Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah .
Republik Indonesia. Permendagri 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
Saputri, O. B. (2021). Analisis SWOT Transformasi Digital Transaksi Keuangan Pemerintah Daerah Dalam Mendukung Inklusi Keuangan. INOVASI, 17 (3), 482-494.
Septiani,S.,&Kusumastuti E. (2019). Penerapan Transaksi Non Tunai Dalam Pelaksanaan Belanja Pemerintah Daerah Untuk Mewujudkan Prinsip Good Governance: Studi Kasus Pada BPKAD Jawa Barat. Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar, 10(1), 1171-1181.
Sugiyono, & Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&B . Bandung: Alfabeta.
Suhendri,S.,Sari,R.N.,&Rasuli,M. (2020). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Implementasi Transaksi Non Tunai Di Pemerintah IndraGiri Hulu.Jurnal Akuntansi (Media Riset Akuntansi & Keuangan), 8(2).
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Widyastuti,K.,Handayani,P.W. (2017). Tantangan dan Hambatan Implementasi Uang Elektronik di Indonesia. Jurnal Sistem Informasi, 13(1), 38-48.
75
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 :Pedoman Wawancara Mendalam (In-Depth Interview) 1. Pertanyaan untuk Bank Indonesia dan Bank Pembangunan Daerah
a. Apa tujuan/alasan Bank Indonesia menerapkan elektronifikasi transaksi?
b. Bagaimana peran Bank Indonesia dalam mendukung percepatan dan perluasan elektronifikasi transaksi?
c. Upaya apa yang telah dilakukan Bank Indonesia Sumatera Utara dalam memperluas percepatan dan perluasan elektronifikasi transaksi?
d. Apa saja dukungan yang telah diberikan BPD Sumatera Utara dan Bank Himbara dalam memperluasan kanal digital di lingkungan pemerintah daerah?
e. Bagaimana perkembangan penerapan elektronifikasi transaksi pada setiap daerah untuk meningkatkan pendapatan asli daerah?
f. Sejauh mana komitmen pemerintah daerah dalam pelaksanaan perluasan elektronifikasi transaksi?
g. Apa saja peluang dan tantangan setelah dilaksanakannya penerapan elektronifikasi transaksi?
2. Pertanyaan untuk Kepala BPKPAD Kabupaten/Kota
h. Bagaimana bapak/ibu menyikapi perubahan dari transaksi tunai ke sistem transaksi non tunai pada penerimaan retribusi dan pajak?
i. Apakah menurut bapak/ibu penerapan elektronifikasi sangat penting diterapkan dalam pemerintahan?
j. Apakah menurut bapak/ibu penerapan elektronifikasi transaksi dapat mewujudkan good governance and clean goverment?
k. Apa saja kebijakan yang telah diterapkan untuk melakukan percepatan dan perluasan digitalisasi dalam penerapan elektronifikasi transaksi?
l. Bagaimana langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam melakukan rencana perluasan transaksi belanja dan pendapatan menggunakan elektronifikasi transaksi?
m. Bagaimana langkah yang akan dilakukan oleh pemerintah daerah dalam menghadapi masyarakat yang belum memahami elektronifikasi transaksi non tunai?
n. Menurut bapak/ibu manakah kontribusi terbesar dari diterapkannya elektronifikasi transaksi pada penerimaan retribusi dan pajak?
o. Apakah dalam penerapan elektronifikasi transaksi di pemerintah daerah saat ini telah berjalan dengan lancar?
p. Bagaimana dukungan infrastruktur dalam penerapan elektronifikasi transaksi pada pengelolaan keuangan daerah?
q. Bagaimana kesiapan SDM dengan adanya perubahan menuju elektronifikasi transaksi?
r. Apa saja langkah-langkah yang seharusnya dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terkait perluasan elektronifikasi transaksi?
s. Apa saja peluang dan tantangan yang dihadapi selama melakukan penerapan elektronifikasi transaksi pada penerimaan daerah?
Lampiran 2 :Hasil Wawancara Mendalam (In-Depth Interview)
Peran Bank Indonesia dalam mendukung upaya Pemerintah Daerah Sumatera Utara dalam percepatan dan perluasan elektronifikasi transaksi
INFORMAN TRANSKRIP HASIL WAWANCARA
Direktur Divisi Sistem Pembayaran Non Tunai Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara
Untuk mendorong transaksi non tunai maka Bank Indonesia mendukung upaya pemerintah daerah dalam percepatan dan perluasan digitalisasi daerah diwujudkan dengan keanggotaan Bank Indonesia dalam Satuan Tugas Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (Satgas P2DD). Menciptakan strategi percepatan dan perluasan ETPD. Sebagaimana Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 2021, sejalan dengan visi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025, dukungan Bank Indonesia terhadap digitalisasi daerah adalah melalui penciptaan ekosistem pembayaran yang dapat mendukung integrasi ekonomi dan keuangan digital nasional, mendorong digitalisasi perbankan melalui Open Application Programming Interface (OPEN API), serta mengembankan interlink fintech dan perbankan, ketiga dukungan tersebut berkontribusi terhadap digitalisasi nasional dan pengelolaan keuangan daerah.
Kepala SP Non Tunai Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara
Bank Indonesia mendukung upaya pemerintah daerah dalam percepatan dan perluasan digitalisasi daerah diwujudkan dengan keanggotaan Bank Indonesia dalam Satuan Tugas Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (Satgas P2DD). Dengan membentuk Tim percepatan dan perluasan digitalisasi daerah (TP2DD) dimana tim ini berperan dalam mendukung pengembangan transaksi pembayaran digital. Dengan menyusun roadmap perluasan ETPD 2021-2025, Bank Indonesia juga telah mengeluarkan championship program, penyelenggaraan championship untuk meningkatkan motivasi pemerintah daerah dalam inovasi dan perluasan elektronifikasi transaksi pemerintah daerah dan menerapkan pilot project QRIS, inovasi e-retribusi dan pajak dengan menggunakan QR Indonesia Standard (QRIS) untuk optimalisasi pendapatan asli daerah
Analis Yunior SP Non Tunai Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara
Berbagai inisiatif BI terus diluncurkan untuk mempercepat implementasi Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) dan digitalisasi pembayaran baik melalui ekstensifikasi penggunaan instrumen dan kanal pembayaran seperti QR Code Indonesian Standard (QRIS), mendorong interkoneksi dan interoperabilitas layanan sistem pembayaran, mendorong penggunaan platform e-commerce untuk pembayaran pajak dan retribusi, memetakan profil ETPD di seluruh Pemda, mengoptimalkan penyedia jasa pembayaran untuk berkolaborasi dengan Pemda dan BPD setempat, hingga dukungan Kantor Perwakilan Bank Indonesia dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD).
Organisasi Perangkat Daerah 9 (Sembilan) Kab/Kota
Bank Indonesia mendorong percepatan dan perluasan digitalisasi daerah pada setiap Kab/Kota melalui rapat pembentukan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah untuk melakukan monitoring dan koordinasi yang dilakukan dalam melakukan penyusunan roadmap Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah 2021-2025 dan menyusun peta jalan aksi 1 (satu) tahun kedepan, dalam hal ini Bank Indonesia terus melakukan pemantauan baik melalui rapat koordinasi dan pemantauan via online yang dilakukan secara rutin, Bank Indonesia juga berkoordinasi dengan Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dalam perluasan baik dari sisi penyediaan kanal pembayaran digital dan perluasan layanan digital untuk menciptakan ekosistem digital
Rencana perluasan Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dalam transaksi belanja dan pendapatan menggunakan kanal digital.
INFORMAN TRANSKRIP HASIL WAWANCARA
Direktur Divisi Sistem Pembayaran Non Tunai Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara
Kabupaten/kota diharapkan dapat mendorong percepatan dan perluasan elektronifikasi pada beberapa penerimaan pajak dan retribusi seperti retribusi pasar, retribusi kawasan wisata, retribusi izin mendirikan bangunan, dan beberapa retribusi yang masih menggunakan skema pembayaran secara tunai. Untuk itu, diperlukan penyusunan strategi percepatan dan perluasan ETPD yang tepat agar ekosistem dapat terbentuk pada setiap daerah.
Penyusunan strategi perluasan dapat dimulai dengan melakukan asesmen terhadap transaksi-transaksi penerimaan yang menjadi potensial dilihat dari kontribusinya terhadap PAD.
Kepala SP Bank Sumatera Utara
Saat ini, Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara sedang merancang push strategy 2021 untuk memperluas transaksi non tunai, dimana akan memberikan mesin EDC kepada seluruh kabupaten/kota dan pengembangan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk dapat menerapkan metode pembayaran menjadi lebih luas. Selaku Bank Rekening Kas Umum Daerah, Bank Sumut berkolaborasi dengan Gojek untuk perluasan pembayaran pajak dan retribusi melalui menu GoTagihan pada aplikasi Gojek. Bank Sumut juga telah melakukan pengembangan layanan digital untuk mendukung penerimaan pajak dan retribusi seperti sistem aplikasi e-SPTPD untuk pajak dengan metode self assessment (pajak restoran, pajak hotel, pajak hiburan dll), Sistem informasi pendapatan daerah (SIMPATDA) untuk pajak dengan metode official assessment (pajak reklame dan air tanah). Sistem manajemen informasi objek pajak (SISIMOP) untuk pembayaran PBB-P2 bagi masyarakat, pemanfaatan layanan yang disediakan oleh BPD Sumatera Utara yaitu e-STS untuk pengelolaan dan pembayaran retribusi daerah dan aplikasi e-BPHTB untuk pengelolaan pajak BPHTB.
Dalam hal transaksi belanja, BPD Sumatera Utara telah mengimplementasikan Cash Management System SP2D untuk yang diyakini mampu meningkatkan PAD. Bank Sumut juga mendukung penyediaan tapping box untuk kebutuhan sebagai alat rekam transaksi pada setiap kabupaten/kota.
Organisasi Perangkat Daerah 9 (Sembilan) Kab/Kota
Untuk melakukan perluasan digitalisasi baik pada lingkungan pemerintah daerah dan masyarakat, Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara terus melakukan inovasi dalam perluasan layanan digital dan pembayaran kanal digital, BPD Sumatera Utara turut aktif dalam melakukan koordinasi dengan anggota TP2DD setiap Kab/Kota untuk merancang perluasan khususnya dalam perluasan mesin EDC dan tapping box pada hotel dan retroran yang diyakini dapat meningkatkan pendapatan asli daerah
Percepatan dan perluasan elektronifikasi transaksi yang diterapkan Pemerintah Daerah Sumatera Utara
INFORMAN TRANSKRIP HASIL WAWANCARA
Direktur Divisi Sistem Pembayaran Non Tunai Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara
Saat ini, terdapat metode asesmen baru untuk mengukur tingkat pencapaian implementasi ETPD yaitu Indeks ETPD. Adapun indeks ETPD kab/kota wilayah kerja Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara menunjukkan telah memasuki pada kategori digital. Hal ini menandakan bahwa secara umum mayoritas transaksi pendapatan pajak dan retribusi daerah telah dilakukan secara non tunai dengan memanfaatkan kanal basic (teller, loker bank) dan medium (ATM, EDC, sms/mobile/internet banking). Meskipun demikian, pemerintah daerah masih dapat melakukan perluasan elektronifikasi dengan memanfaatkan kanal pembayaran advance (fintech, e-commerce, ritel, QRIS) di seluruh transaksi penerimaan.
Kepala BPKPAD Kota Medan
Penerapan yang telah dilakukan pada Kota Medan dalam percepatan dan perluasan digitalisasi daerah yakni telah dilaksanakan launching e-parking Kota Medan pada tanggal 18 Oktober 2021. Layanan e-parking diterapkan pada 18 ruas jalan dan 8 kawasan di Kota Medan yang dimana pembayarannya tidak lagi menggunakan uang tunai. Penerapan e-parking yang baru diterapkan terbukti telah meningkatkan pendapatan asli daerah sekitar 155 persen. Pendapatan pajak kendaraan bermotor dan Uji KIR juga telah beralih menggunakan non tunai.
Oleh karena itu, retribusi persampahan, retribusi pasar juga telah dikembangkan.
Telah dilaksanakan soft launching pembayaran nontunai untuk penerimaan Pajak Hotel, Restoran dan kafe (Horeka) pada tanggal 15 Desember 2021.
Kepala BPKPAD Kota Tebing Tinggi
Penerapan yang telah dilakukan Kota Tebing Tinggi telah diimplementasikan layanan pembayaran nontunai untuk retribusi parkir dan retribusi kebersihan di Kota Tebing Tinggi. Penerapan e-parking juga telah dilakukan pada tiga ruas jalan utama Kota Tebing Tinggi dan akan dilakukan perluasan, Kota Tebing Tinggi juga telah melakukan penerapan e-STS untuk pembayaran pajak hotel, retribusi tera ulang dan retribusi izin mendirikan bangunan. Dalam hal transaksi belanja Kota Tebing Tinggi telah mengimplementasikan cash management system Bank Sumut untuk 39 dari 39 OPD Pemko Tebing Tinggi dan telah menggunakan aplikasi SIMDA yang terintegrasi dengan CMS milik Bank Sumut.
Kepala BPKPAD Kota Binjai
Penerapan yang dilakukan oleh Kota Binjai, telah tersedia website Binjai Smart City yang dapat menjadi pondasi pengembangan layanan ETPD yang mudah diakses oleh masyarakat dan telah diimplementasikan layanan PBB dan e-BPHTB yang bekerja sama dengan Bank Sumut, dalam hal transaksi belanja, Pemko Binjai telah menggunakan aplikasi SIMDA yang terintegrasi dengan CMS milik Bank Sumut Guna menyeragamkan aplikasi keuangan pemerintah daerah.
Kepala BPKPAD Kabupaten Karo
Penerapan yang telah dilakukan Kabupaten Karo dengan melakukan kerja sama dengan Bank Sumut dalam mengembangkan beberapa layanan untuk meningkatkan penerimaan pajak dan retribusi seperti e-SPTPD, SIMPATDA, SISIMOP, e-BPHTB, e-STS. Pemkab Karo juga mengimplementasikan tapping box kepada Bank Sumut sebagai fasilitator pengadaan alat rekam. Pemkab Karo juga telah mengimplementasikan cash management system.
Kepala BPKPAD Kabupaten Pakpak Bharat
Penerapan yang dilakukan Kabupaten Pakpak Bharat dalam perluasan elektronifikasi transaksi dengan mengembangkan penerimaan pajak dan pendapatan seperti e-SPTPD, SIMPATDA, SISIMOP, e-STS melalui QRIS dan berbagai kanal digital lainnya seperti e-commerce dan e-wallet. Selaku Bank RKUD, Bank Sumut berkolaborasi dengan Gojek sehingga memungkinkan masyarakat Kab. Pakpak Bharat untuk membayar pajak melalui menu GoTagihan pada aplikasi gojek.
INFORMAN TRANSKRIP HASIL WAWANCARA Kepala BPKPAD Kabupaten
Langkat
Pemerintah Kabupaten Langkat telah mengembangkan e-pasar untuk penerimaan retribusi pasar dan tera ulang. Saat ini Dinas Perdagangan Kabupaten Langkat tengah menentukan kanal pembayaran non tunai yang dapat digunakan.
Beberapa opsi yang dianggap memungkinkan antara lain menggunakan virtual account atau QRIS. Dinas perdagangan kabupaten langkat juga merencanakan adanya perluasan elektronifikasi pada pembayaran toilet dan parkir di kawasan pasar tradisional. Penerapan e-parking juga tengah dirancang untuk dilakukan menggunakan kanal digital. Penerimaan pajak dan penerapan tapping box terus dikembangkan oleh Pemkab Langkat untuk mendorong peningkatan pendapatan asli daerah.
Kepala BPKPAD Kabupaten Serdang Bedagai
Penerapan yang dilakukan Serdang Bedagai telah tersedia website e-government Kab. Serdang Bedagai yang dapat diintegrasikan dengan layanan ETPD, telah diimplementasikan layanan e-PBB, e-BPHTB dan e-STS bekerja sama dengan Bank Sumut. Pemkab Serdang Bedagai juga telah menggunakan aplikasi SIMDA yang terintegrasi dengan cash management system milik Bank RKUD.
Kepala BPKPAD Kabupaten Deli Serdang
Penerapan yang dilakukan oleh Kabupaten Deli Serdang telah diimplementasikan layanan e-PBB, e-BPHTB dan e-STS di Kabupaten Deli Serdang bekerja sama dengan Bank Sumut, Pemkab Deli Serdang bekerja sama dengan Bank RKUD untuk perluasan pembayaran digital dengan e-commerce dan e-wallet, penerapan e-parking juga telah dikembangkan oleh Pemkab Deli Serdang untuk mengoptimalkan pendapatan asli daerah, Pemkab Deli Serdang juga telah mengimplementasikan cash management system milik Bank Sumut.
Peluang dan tantangan yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah Sumatera Utara dalam melakukan percepatan dan perluasan elektronifikasi transaksi.
INFORMAN TRANSKRIP HASIL WAWANCARA
Kepala BPKPAD Kota Medan
Dalam penerapan yang dilakukan dilapangan masih terdapat kendala yang dihadapi dalam perluasan terutama masih rendahnya literasi masyarakat dalam menggunakan transaksi nontunai sehingga masih diperlukan sosialisasi intensif kepada masyarakat terkait eparking dan tata cara pembayaran pajak Horeka secara non tunai masih perlu didorong. Perlu dilakukan pelatihan kepada SDM pemerintah daerah dalam menggunakan aplikasi dan pengembangan kanal pembayaran digital. Namun, dalam penerapannya didukung oleh Keputusan Presiden No 3 Tahun 2021 Tentang Pembentukan Satuan Tugas Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah serta Peraturan Walikota Medan Nomor 28 Tahun 2018 tentang smart city Kota Medan dan Keputusan Walikota Medan No 900/08/K/IV.2021 59 tentang pembentukan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah pada Kota Medan sehingga dengan diterapkannya elektronifikasi dapat memberikan kemudahan bagi pemerintah daerah dalam pencatatan dapat dilakukan secara realtime dengan bukti yang sah.
Kepala BPKPAD Kota Tebing Tinggi
Saat ini pemerintah kota Tebing Tinggi telah melakukan penerapan transaksi pendapatan dan pengeluaran menggunakan kanal digital, tetapi pemahaman masyarakat terhadap tata cara pembayaran pajak dan retribusi melalui e-STS perlu ditingkatkan, kendala juga dihadapi dari sisi juru parkir yang tidak memiliki smartphone, Dalam penerapannya didukung oleh SE Mendagri No 910/14005/SJ Tentang Implementasi Transaksi Nontunai Dalam Rangka ETPD dan Instruksi Walikota Tebing Tinggi No 900/1248 Tahun 2018 Tentang Implementasi Transaksi Nontunai di Lingkungan Pemerintah, dan juga didukung oleh kecepatan jaringan komunikasi yang sudah tidak memiliki titik blankspot, dengan adanya penerapan transaksi digital dapat mengefisiensi operasional dengan menekan biaya pengelolaan keuangan daerah serta transaksi tercatat secara lebih lengkap sehingga perencanaan lebih akurat.
Kepala BPKPAD Kota Binjai
Layanan ETPD di Kota Binjai telah diterapkan namun literasi masyarakat terhadap tata cara pembayaran PBB dan BPHTB secara non tunai masih perlu didorong, dalam pengimplementasiannya pemahaman SDM OPD Pemko Binjai terkait layanan CMS OPD juga perlu menjadi perhatian dengan melakukan kegiatan bimtek penggunaan CMS OPD oleh Bank RKUD. Namun dalam penerapannya didukung oleh Instruksi Walikota No.
900-5982 Tahun 2018 Tentang Pelaksanaan Transaksi Nontunai di Lingkungan Pemerintah Kota Binjai, dan didukung oleh kerjasama dengan beberapa stakeholder sehingga dengan diterapkannya elektronifikasi transaksi memberikan akses lebih luas dan meningkatkan akses masyarakat terhadap sistem pembayaran, khususnya pembayaran pajak dan retribusi.
Kepala BPKPAD Kabupaten Dairi
Penerapan transaksi non tunai juga terus diterapkan pada masyarakat Dairi, tetapi tantangan terbesar masih rendahnya pengetahuan masyarakat dalam menggunakan transaksi non tunai, Pada saat launching Taman Wisata Iman masih banyak pengunjung menggunakan transaksi tunai, kebijakan yang dilakukan petugas wisata dengan melakukan top up pada smartphone, serta memberikan edukasi apabila masyarakat datang tidak memahami 61 mengenai transaksi digital maka akan dibantu oleh petugas untuk melakukan pembayaran melalui digital, dalam hal ini pemerintah daerah sekaligus melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan perlu adanya bantuan dari Bank Indonesia dan Bank Pembangunan Daerah serta perbankan untuk melakukan sosialisasi, dengan transaksi non tunai memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada bendahara kas daerah, karena tidak perlu menyimpan tunai terlalu banyak di brankas.
INFORMAN TRANSKRIP HASIL WAWANCARA
Kepala BPKPAD Kabupaten Preferensi masyarakat di Kabupaten Karo untuk menggunakan uang tunai
Karo masih tinggi karena dianggap lebih praktis, perlu adanya sinergi dan kolaborasi dari berbagai pihak untuk membentuk mindset masyarakat agar perluasan digital dapat berjalan. Pada daerah Kabupaten Karo juga terkendala infrastruktur pendukung seperti masih terdapat daerah blankspot dan gadget dengan spesifikasi yang kurang memadai. Penerapannya ini didukung oleh SE Mendagri No 910/14005/SJ Tentang Implementasi Transaksi Nontunai Dalam Rangka ETPD serta Peraturan Bupati Karo No 43 Tahun 2017 Tentang Penerapan Sistem Informasi Manajemen Pemerintahan Berbasis Elektronik dan adanya komitmen dari Dinas Kominfo untuk memperluas jaringan pada daerah-daerah terpencil
Kepala BPKPAD Kabupaten Pakpak Bharat
Perluasan elektronifikasi transaksi di Kabupaten Pakpak Bharat masih terkendala oleh terbatasnya literasi dan pemahaman masyarakat mengenai produk serta layanan keuangan digital, kesiapan dan konsistensi OPD juga masih perlu ditingkatkan, dimana masih banyak OPD yang belum melek dalam penggunaan transaksi digital, infrastruktur yang belum merata juga menjadi kendala bagi pemerintah daerah dalam memperluas dan menerapkan pembayaran digital bagi masyarakat terpencil. Penerapan ini didukung oleh
Perluasan elektronifikasi transaksi di Kabupaten Pakpak Bharat masih terkendala oleh terbatasnya literasi dan pemahaman masyarakat mengenai produk serta layanan keuangan digital, kesiapan dan konsistensi OPD juga masih perlu ditingkatkan, dimana masih banyak OPD yang belum melek dalam penggunaan transaksi digital, infrastruktur yang belum merata juga menjadi kendala bagi pemerintah daerah dalam memperluas dan menerapkan pembayaran digital bagi masyarakat terpencil. Penerapan ini didukung oleh