Desain Arsitektur Reformasi Seleksi Penyelenggara Pemilu
C. Evaluasi Seleksi KPU Tahun 2001, 2007 dan 2012
Ketentuan Pasal 22 E Ayat (5) UUD 1945 ini kemudian diwujudkan dalam bentuk turunan regulasi (UU) yang khusus mengatur eksistensi penyelenggara Pemilu melalui UU No. 12 tahun 2003 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD yang dalam UU telah mengatur seluk-beluk Pemilu. Memuat ketentuan Pasal 1 angka 3, Komisi Pemilihan Umum bersifat Nasional, tetap dan mandiri. Pasal 15 KPU bertanggung jawab menyelenggarakan Pemilu, dalam pelaksanaan tugas KPU melaporkan tahapannya kepada Presiden dan DPR. Namun, seleksi anggota KPU untuk pelaksanaan Pemilu 2004 tidak dilakukan berdasarkan UU No. 12/2003 melain berdasarkan ketentuan UU No. 3 Tahun 1999 tentang Pemilu tahun 1999 melalui Pasal 10, selambat-lambatnya 3 tahun setelah Pemilihan Umum dilaksanakan, KPU mengevaluasi sistem Pemilihan Umum. Dilakukan perubahan keanggotaan KPU dari sebelumnya berasal dari perwakilan partai politik menjadi nonpartisan maka melalui Kepres No. 10 Tahun 2001 dibentuklah KPU baru dengan melakukan seleksi terhadap 60 tokoh nasional yang disaring oleh presiden menjadi 22 orang, lalu dilakukan uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) yang menghasilkan 11 orang anggota KPU. Seleksi KPU di era ini tidak dilakukan secara akuntabel dan transparan, sejak dari hulu di tangan presiden, hingga ke hilir di tangan komisi II DPR. Akibatnya param-eter keanggotaan KPU tidak cukup jelas.
Pemilu 2004 Ini adalah Pemilu yang berslogan “berbeda”, karena selain untuk pertama kalinya sepanjang sejarah diselenggarakan oleh
17 Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Pembinaan dan
Pegembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi II, Cetakan ke Tujuh, (Balai Pustaka; Jakarta, 1995), hlm. 789.
KPU yang bersifat nasional tetap dan mandiri, akan tetapi rakyat juga diberi kebebasan untuk memilih wakil rakyat dan memilih Pemilu presiden secara langsung. Pemilu 2004 ini merupakan tonggak sejarah keberhasilan Pemilu yang paling kompleks di dunia dan meneguhkan Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga setelah Amerika Serikat dan India. Namun, di tengah keberhasilan penyelenggaraan Pemilu 2004 ini, citra KPU seketika runtuh saat ketua dan beberapa anggota KPU serta beberapa pejabat Sekretariat KPU dijebloskan oleh KPK ke penjara karena terbukti melakukan korupsi anggaran APBN dalam proses tender pengadaan logistik keperluan Pemilu 2004.19 Citra KPU di era ini kian menurun saat anggota KPU, Anas Urbaningrum menyeberang menjadi politisi dan bergabung ke partai Demokrat yang merupakan partai pemenang saat Pemilu 2004 dan Hamid Awaluddin menjadi Menteri Hukum dan HAM. Publik menengarai institusi KPU era ini tak mandiri, profesional, dan berintegritas.
Atas dasar itulah, maka dibuat UU No. 22/2007 tentang Penyelenggara Pemilu yang merupakan UU pertana yang mengatur secara khusus dan rinci tentang eksistensi, juga pokok dan fungsi KPU. Di dalamnya diatur secara rinci model seleksi KPU yang lebih baik dari era sebelumnya. UU ini telah melahirkan model seleksi KPU yang berbeda dari sebelumnya. Salah satu yang membedakan adalah, seleksi dilakukan oleh Tim Seleksi yang dipersiapkan oleh presiden, dirancang sejumlah persyaratan untuk menjadi anggota KPU yang baik, dilakukan tes tulis dan psikologi hingga dilakukan uji kepatutan dan kelayakan di komisi II DPR. Namun, keseluruhan proses tes, mulai seleksi di Tim Seleksi hingga uji kepatutan dan kelayakan di DPR, penuh kepentingan politik.
Akibatnya, hasil seleksi anggota KPU tahun 2007 tak mampu menghasilkan anggota KPU yang ideal. Banyak anggota KPU yang tidak berlatar belakang pengalaman Pemilu dan ilmu kePemiluan. Bahkan salah satu anggota KPU, Andi Nurpati, ikut bergabung ke partai Demokrat yang merupakan partai penguasa. Publikpun dikejutkan Panitia Kerja (Panja) Mafia Pemilu bentukan Komisi II DPR untuk menelusuri jejak pemalsuan surat putusan hakim
19 Saldi Isra, Kekuasaan dan Prilaku Korupsi, (Jakarta, PT Kompas Media Nusantara, 2009), hlm. 147.
Mahkamah Konstitusi (MK) dalam penentuan kursi DPR pada Pemilu 2009 di daerah pemilihan (dapil) I Sulawesi Selatan. Pemalsuan surat itu diduga melibatkan salah satu mantan anggota KPU yang menjadi pengurus teras DPP Partai Demokrat, Andi Nurpati.20
Bukti tidak idealnya model seleksi versi UU No. 22/2007 ini adalah tak terwujudnya anggota KPU yang mampu menyelenggarakan Pemilu tahun 2009 yang adil dan demokratis. Pemilu 2009 ini bahkan tercatat sebagai Pemilu terburuk di era Reformasi. Pemilu 2009 nyaris kehilangan kepercayaan publik, karena tidak dapat memenuhi 10 (sepuluh) standar kriteria yang ditetapkan oleh ACE Electoral Knowladge
Network: Inter-Parliamentary Union’s Declaration on Free and Fair Election and Organization for Security and Co-operation in Europe’s International Election Observation Standards.21
Fakta ini telah menyadarkan publik agar pemerintah bergegas merevisi UU No. 22 tahiun 2007 ini agar semua kekurangan model seleksinya dapat ditambal. Akhirnya, disahkan UU No. 15/2011 tentang Penyelenggara Pemilu yang diproyeksikan untuk menyeleksi KPU periode 2011-2017 untuk menyelenggarakan Pemilu tahun 2014. UU ini disahkan pada 16 Oktober 2011. Undang-undang yang baru ini memiliki jumlah bab yang sama, tetapi memiliki lebih banyak (4 pasal) daripada undang-undang yang lama. Perbedaannya terletak pada pasal 11, tentang persyaratan menjadi Anggota KPU. Dalam UU terdapat syarat harus jeda 5 tahun dari keanggotaan partai politik, sedangkan UU baru tidak, sepanjang telah mengundurkan diri dari partai politik, maka sudah dapat mendaftar sebagai calon Anggota KPU. Dan terdapat penambahan keterangan bahwa seorang Anggota KPU tidak berada dalam ikatan perkawinan dengan rekan Anggota KPU. Selain itu, terdapat ketentuan Pasal 109 tentang adanya Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKKP) yang bersifat tetap, sedangkan dalam ketentaun Pasal 111 UU lama Dewan Kehormatan bersifat ad hoc. Namun demikian, model seleksi KPU periode ini pun tidak cukup ideal karena proses seleksinya mengulang dari proses
20 Agus Riewanto, “Mafia Pemilu dan Legitimasi Pemilu 2009", Media Indonesia, 14 Juli 2011, hal 10.
21 Adam Schmidt, 2010, “Indonesia’s Election: Performance Challengers and Negative Precedent”, in Edward Aspinall and Marcus Mietzner,(eds), 2010, Problems of Democratisation in Indonesia, Election, Institutions, and Society, (Singapore, ISEAS, 2010), hlm, 109.
periode terdahulu. Dari hulunya tidak akuntabel model penunjukan Tim Seleksi KPU hanya sekedar ditunjuk oleh presiden berdasarkan hak prerogatifnya. Dalam penentuan syarat anggota KPU tidak mengutamakan yang profesional atau yang berpengalaman sebagai penyelenggara Pemilu, tes tertulis dan psikologi lebih mengutamakan kemampuan kognitif bukan afeksi dan motorik. Tidak ada mekanisme tentang uji terbuka dengan presentasi makalah yang mencerminkan gagasan dan cita-citanya menjadi anggota KPU. Proses seleksi di Tim seleksi juga tidak dilakukan secara terbuka yang melibatkan publik secara luas.
Seleksi di tahap hilir atau di Komisi II DPR lebih mengutamakan kepentingan politik ketimbang pertimbangan profesional dan berintegritas, nilai tertinggi berdasarkan rekomendai dari Tim Seleksi tidak serta merta menjadi pertimbangan utama DPR dalam menen-tukan anggota KPU terpilih. Akibatnya anggota KPU periode 2012-2014 lebih merupakan representasi kepentingan politik dan golongan yang paling dominan di Komisi II DPR. Akibatnya, penyelenggaraan Pemilu 2014 belum dapat secara ideal kedap dari kecurangan Salah satunya praktik manipulasi penghitungan suara; tidak netralnya penyelenggara Pemilu (KPPS, PPS, PPK, dan KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota). Kecurangan secara teknis Pemilu yang membuat risau sejumlah kalangan dan berpotensi mengganggu perolehan suara caleg dan Parpol peserta Pemilu adalah adanya pemungutan suara ulang (PSU) di 770 TPS di 90 kabupaten/kota dan tersebar di 23 provinsi di Indonesia.22 Kecurangan lainnya, misalnya, secara teknis di tempat pemungutan suara (TPS) pada hari H: (1) ditemukan ribuan surat suara yang telah dicoblos oleh PPS sebelum pemungutan suara di Bogor; (2) ditemukan 3.941 DCT yang meninggal dunia, meng-undurkan diri, dan tidak memenuhi syarat, tetapi tidak diumumkan oleh KPPS; (3) terdapat 1.394 surat suara tidak ditandatangani oleh KPPS; (4) terdapat 4.391 saksi tidak hadir di TPS; (5) sejumlah 6.945 TPS menerima keberatan dari saksi.23
Tentang bukti buruknya model seleksi KPU berdasarkan UU No. 15/2011 ini adalah karena Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu
22 Agus Riewanto, “Menyoal Kecurangan Pemilu“, Republika, 30 April 2014, hlm. 6. 23 Agus Riewanto, “Penegakan Hukum Kecurangan Pemilu 2014", Media Indonesia, 22 April 2014, hlm. 10.
(DKPP) telah menjatuhkan sanksi kepada 163 orang penyelenggara Pemilu dari tingkat desa hingga provinsi karena melakukan pelanggaran kode etik pada pelaksanaan Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 lalu. Sebanyak 81 orang di antaranya dijatuhi sanksi pemecatan dan 82 orang dengan peringatan.24