Hak Kebebasan Berpolitik dan Jaminan Konstitusi
B. Hak Berserikat dan Berpolitik Menurut UUD 1945
Istilah “hak” dapat diartikan (1) yang benar; (2) milik, kepunyaan; (3) kewenangan; (4) kekuasaan untuk berbuat sesuatu; (5) kekuasaan yang benar atas sesuatu atau untuk menuntut sesuatu; (6) derajat atau martabat; (7) hukum; wewenang menurut hukum. Karena itu, hak asasi adalah kebutuhan yang bersifat mendasar dari umat
6 Fatkhurohman, Ibid., hal 94-96. 7 Fatkcurrohman, Ibid.,hal 96-97.
manusia. Pengertian yang luas dan tak seragam itu pada dasarnya mengandung prinsip bahwa, hak adalah sesuatu yang oleh sebab itu seseorang (pemegang) hak memiliki keabsahan untuk menuntut sesuatu yang dianggap tidak dipenuhi atau dingkari. Seseorang yang memegang hak atas sesuatu tersebut sebagaimana dikehendaki, atau sebagaimana keabsahan yang dimilikinya.8
Ketidakseragaman arti HAM ini, menurut Satjipto Rahardjo, disebabkan karena pemunculan, perumusan, dan institusionalisasi HAM memang tak dapat dilepaskan dari lingkungan sosial atau habitatnya, yaitu tidak lain masyarakat itu sendiri di mana HAM itu dikembangkan. Terjadi semacam korespondensi antara HAM dan perkembangan masyarakat. HAM juga memiliki watak sosial dan struktur sosial sendiri.9
Sejarah panjang perlengkapan antara HAM dan individu kemudian tertuang dalam sejumlah dokumen penting seperti magna Charta (1215), Petition of Right (1628), Bill of Right (1689). Barulah secara universal mendapat kesepahaman bersama oleh masyarakat dunia ketika Majelis Umum PBB menetapkan Universal Declaration of
Human Rights pada 10 Desember 1948, di mana kelak deklarasi ini
mengilhami lahirnya sejumlah kovensi dan protokol HAM seperti, The
International Convenant on Economic, Social, and Culture Rights, International Convenant on Civil and Political Right (ICCPR), Optional Protocal for the Convenant on Civil and Political Rights.10
Kemudian diilhami oleh Revolusi Perancis, maka HAM dibagi tiga generasi. Pertama, generasi pertama, hak-hak sipil dan politik
(liberte); kedua, generasi kedua, hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya (egalite); ketiga, generasi ketiga, hak-hak solidaritas (fraternite).11 Generasi
8 I Gede Arya B.Wiranata, 2005, “Hak Asasi (Anak) dalam Realitas Quo Vadis?, dalam Muladi (eds) Hak Asasi Manusia, Hakekat, Konsep dan Implikasinya dalam Perspektif Hukum dan Masyarakat, Refika Aditama, Bandung, hal, 228.
9 Satjipto Rahardjo, 2005, “Hak Asasi Manusia dalam Masyarakatnya”, dalam Muladi (eds) Hak Asasi Manusia, Hakekat, Konsep dan Implikasinya dalam Perspektif Hukum dan Masyarakat, Refika Aditama, Bandung, hal, 217.
10 Ibid., hal 228.
11 Satya Arinanto, 2003, Hak Asasi Manusia dalam Transisi Politik di Indonesia, Pusat Studi Hukum Tata Negara FH UI, Jakarta, hal 78. Dalam soal etape generasi HAM, dapat juga dibaca: Jimly Assidiqie, 2005, Hukum Tata Negra dan Pilar-Pilar Demokrasi, Konpress, Jakarta, hal, 207. Catatan tentang dinamika HAM dan Globalisasi dapat dibaca, Hamid Awaluddin, “Urgensi Deklarasi Universal HAM”, Kompas, 10 Desember 2003, Muh.Budairi Idjehar, 2003, HAM Versus Kapitalisme, Insist, Yogjakarta. Tentang dinamika HAM dan Hukum dapat di baca Benny D Setiono, 2003, Pergulatan Wacana HAM di Indonesia, Mascom Media, Semarang.
pertama ialah yang tergolong dalam hak sipil dan politik, terutama yang berasal dari teori-teori kaum reformis yang dikemukakan pada awal Abad ke-17 dan 18. Dipengaruhi oleh filsafat individualisme liberal dan doktrin sosial-ekonomi laisez-faire, generasi ini meletakkan posisi HAM lebih pada terminologi yang negatif (“bebas dari”) dari pada terminologi yang positif (“hak dari”). Ia lebih menghargai ketiadaan intervensi pemerintah dalam pencarian martabat manusia. Ia diakomodasi dalam Pasal 2-21 DUHAM.12
Generasi kedua berakar secara umum pada tradisi sosialis yang membayang-bayangi di antara saint-simonians pada awal abad ke-19 di Perancis. Ia merupakan suatu respon terhadap pelanggaran dan penyelewengan dari perkembangan kapitalis dan menggaris bawahinya; tanpa kritik yang esensial, konsepsi kebebasan individual yang mentoleransi bahkan melegitimasi eksploitasi kelas pekerja dan masyarakat kolonial. Ia dirumuskan melalui Pasal 22-27 DUHAM.13
Generasi ketiga, merupakan rekonseptualisasi dari generasi HAM sebelumnya. Ia dapat dipahami dengan cara terbaik sebagai suatu produk dari kebangkitan dan kejatuhan negara-bangsa dalam paruh kedua dari abad ke-20. tercantum dalam Pasal 28 DUHAM, ia tampak mencakup enam hak sekaligus. Tiga dari mereka me-refleksikan bangkitnya nasionalisme dunia ketiga dan keinginannya untuk mendistribusikan kembali kekuatan, kekayaan, dan nilai-nilai yang penting.14
Di dalam membahas persoalan generasi HAM tersebut, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, masalah pertentangan antara hak politik dan eknomi, yang secara resmi telah diselesaikan di Wina pada tahun 1993. Kedua, HAM adalah bagian dari demokrasi dan tidak terpisahkan dari demokrasi. Kedua hal ini berpengaruh atas negara-negara baru (termasuk Indonesia) yang sedang dalam masa transisi dari rezim otoriter ke negara demokrasi.15
Indonesia melalui konstitusi dasarnya (UUD 1945) telah meng-akomodasi eksistensi HAM dalam hal ini ada 40 hak konstitusional
12 Satya Arinanto, Ibid., hal, 79. 13 Satya Arinanto, Ibid, hal, 79. 14 Santya Arinanto, Ibid., hal 80.
15 Fatkhurohman, 2010, Pembubaran Partai Politik di Indonesia, Tinjauan Historis Normatif Pembubaran Partai Politik sebelum dan Sesudah Terbentuknya Mahkamah Konstitusi, Setara Press, Malang, hal, 74.
setiap warga negara yang diberikan oleh UUD 1945 pasca amandemen yang harus dihormati (to respect), dilindungi (to protect), dan dipenuhi
(to fulfill) yang dapat dikelompokkan dalam 14 rumpun.16 Dalam tulisan ini hanya akan mengambil dua rumpun yakni:
1. Hak atas kemerdekaan pikiran dan kebebasan memilih, yang dapat dibaca melalui Pasal 28I Ayat (1); Hak atas kemerdekaan pikiran dan hati nurani; Pasal 28E Ayat (3) Hak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.
2. Hak atas Pemerintahan, yang dapat dibaca melalui Pasal 28 D Ayat (3), Hak untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.
Pasal 28 UUD 1945 pasca amandemen inilah yang menjadi rujukan dan jaminan kekuatan regulasi dasar bagi lahirnya sejumlah organisasi masyarakat dan partai politik di Indonesia.
16 A. Mukhtie Fajar, “Mahkamah Konstitusi Sebagai Pengawal dan Penafsir Konstitusi: Masalah dan Tantangan” dalam Sirajuddin (Penyunting), Konstitusionalisme Demokrasi, Sebuah Diskursus tentang Pemilu, Otonomi Daerah dan Mahkamah Konstitusi, Sebuah Kado untuk “Sang Pengembala” Prof. A. Mukthie Fajar, S.H.,M.Si., In-Trans, Malang, hal, 4.
Mencita-citakan pemerintahan yang bebas korupsi tidak bisa melupakan aspek penyokong pemerintah yang paling utama, yakni partai politik untuk melakukan reformasi menjadi institusi yang bersih pula. Salah satu problem mendasar berupa perilaku korupsi politik di partai politik marak terjadi karena tak jelasnya model pengaturan tentang pendanaan partai politik baik dalam menjalankan roda organisasi internal partai politik maupun pendanaan pembiayaan saat Pemilu berlangsung.
Itulah sebabnya, pendanaan partai politik harus diatur secara cermat dalam hal sumber pendapatannya, model akuntabilitas pengelolaannya, hingga penggunaannya untuk kepentingan konstituen, dan politik lainnya. Hanya dengan mengatur secara cermat, rigid, dan sistematik lah partai politik akan dapat menjadi organisasi yang bersih dan kelak dapat melakukan fungsi kontrol jalannya pemerintahan dan juga menyiapkan visi-misi besar dan pro-gram kerja yang konkrit untuk mewujudkan cita-cita kesejahteraan rakyat sebagai tujuan akhir demokrasi perwakilan.
Berikut ini akan diuraikan sejumlah gagasan pemikiran tentang pendanaan partai politik dan menelisik faktor-faktor penyebab partai politik melaukan korupsi.