• Tidak ada hasil yang ditemukan

dan di Eksekutif Antikorupsi

H. Mendemokratiskan Waktu, Visi, Misi, dan Shadow Cabinet

Berdasarkan amar Putusan MK No. 14/PUU-XI/2013 Pileg dan Pilpres akan dilaksanakan secara serentak pada tahun 2019 men-datang.32 Maka manajemen konvensi penentuan Capres dan Caleg dilakukan oleh internal Parpol sebaiknya dilakukan 1 tahun menjelang Pemilu serentak. Hal ini dimaksudkan agar rakyat dapat melakukan penilaian dan kualitas kandidat jauh sebelum Pemilu. Akan lebih baik lagi jika dalam konvensi setiap Capres mampu menyosialisasi visi, misi, dan program kerja Capres dan menghadirkan susunan shadow

cabinet (kabinet bayangan) dengan menyebutkan sejumlah

tokoh-tokoh publik yang akan diplot untuk menjadi menteri dalam kabinetnya saat nanti terpilih dalam pilpres.33

29 Tentang pendanaan Parpol dapat dibaca antara lain, Ramlan Surbakti, Dana Publik Untuk Parpol, Kompas, 2 April 2015, hal, 5. Robert Adhi Ksp (ed) , Pentingnya Akuntabilitas Pengeloaan keunagan Parpol,dalam,http://nasional.kompas.com/read/2011/08/25/ 20291287/Penting.Akuntabilitas.Pengelolaan.Keuangan.Parpol, diakses pada tanggal, 15 Juli 2016., Didik Supriyanto, Besaran Bantuan Partai Politik, Kompas, 19 Maret 2015, hlm, 6.

30 Kasan Mulyono, Belajar Galang Dana Kampanye Ala Obama, dalam http://

ww w. k o m pa si a n a . co m / k a s a n m ul yo n o / b e l a j a r g a l a n g d a n a k a m p a n ye a l a -obama_552072dd813311607419f7e7. Diakses pada tanggal, 15 Juli 2016.

31 Herry B Priyono, Momen Para Relawan, Kompas, 16 Mei 2016, hlm, 6 dan R. Ferdian Andi R, Mengatur Relawan Politik, Republika, 29 Maret 2016, hlm, 4.

32 Agus Riwanto, Implikasi Hukum Putusan MK Tentang Pemilu Serentak, Media Indonesia, 31 Januari 2014, hlm, 10.

33 Abdul Gafar Karim, Kabinet Bayangan, dalam,http://agkarim.staff.ugm.ac.id/2007/ 09/26/kabinet-bayangan/. Diakses pada tanggal, 15 Juli 2016.

Bukan tidak mungkin visi, misi, dan program kerja yang baik dan susunan kabinet bayangan yang berkualitas akan dapat menaikkan daya tawar Parpol dan calon di mata publik terutama pada ketepatan menyusun program kerja yang dibutuhkan rakyat dan dalam penem-patan tokoh sebagai menteri. Sehingga rakyat terbiasa dicerdaskan oleh sistem untuk menilai visi, misi, dan program kerja dan rekam jejak Capres dan calon meteri dalam menjalankan roda pemerintahannya. Jauh sebelumnya rakyat akan disediakan oleh sejumlah alternatif pilihan visi, misi dan program kerja kandidat Capres dan kandidat menteri. Dengan begitu kualitas penyeleng-garaan pemerintah, visi, misi, dan program Capres sudah dapat dinilai rakyat sebelum Pemilu. Cara ini tentu akan kian mendorong kuatnya partisipasi publik dalam pengambilan setiap keputusan dan kebijakan politik sebagai ciri negara demokrasi.34

I. Perlunya Pengaturan Seleksi Demokratis

Parpol perlu didorong untuk melakukan seleksi secara ketat, transparan, dan akuntabel. Sehingga mampu melahirkan kader-kader terbaiknya yang dapat memimpin. Bukan didasarkan pada kedekatan dengan pimpinan Parpol jalur kekerabatan elite atau pertimbangan uang.35 Semua persyaratan calon, proses penjaringan, penyaringan, nominasi dan penetapan calon diwajibkan untuk dilakukan secara demokratis dan melibatkan masyarakat umum, bila perlu di umumkan kepada publik 1 s/d 2 tahun sebelum Pemilu berlangsung. Cara-cara ini harus di atur dalam UU Pemilu dan UU Parpol dan disertai dengan sanksi yang tegas agar dapat dilaksanakan oleh internal Parpol melalui AD/ART. Ini semata-mata untuk menghindari terulangnya model-model pencalonan dalam Pemilu-Pemilu sebelumnya (2004, 2009 dan 2014) yang sangat tertutup, oligarkis, dan asal comot.36

Lebih dari itu proses seleksi kandidat dalam internal Parpol demokratis akan dapat menjauhkan pada kecenderungan bahwa

34 Larry Daimond, 2010. “Indonesia’s Place in Global Democracy”, in Edward Aspinall and Marcus Mietzner (editors), 2010, Problem of Democratisation in Indonesia, Election, Institutions, and Society, (Singapore: Institute of South East Asian Studies, 2010), hlm, 21-52. 35 Pusat kajian politik FISIP UI Jakarta, menyimpulkan bahwa model perekrutan Parpol di Indonesia bersifat instan, dan hanya memasukkan kalangan tertentu, terutama tokoh publik, pejabat dan pengusaha, Lihat, Tim Pusat Kajian Politik, 2008, Kerangka Penguatan Parpol di Indonesia, (Jakarta: FISIP UI, 2008).

36 Tentang buruknya model pencalonan dalam Pemilu 2004 dapat dibaca. Syamsudin Haris, 2005, Proses Pencalonan Legislatif Loka: Pola, Kecenderungan dan Profil Caleg” dalam Syamsudin Haris, (eds), Pemilu Langsung di Tengah Oligarki Partai : Proses Nominasi dan Seleksi Caleg Pemilu 2004,(Jakarta: Gramedia, Jakarta, 2005), hlm, 9.

yang dapat ditetapkan menjadi kandidat adalah tokoh yang hanya memiliki modal uang yang besar yang bisa membeli tiket dari Parpol, membeli suara rakyat dan manuver politik jahat.37 Penentuan kandidat Caleg yang hanya ditentukan segelintir elite politik Parpol atau kaum oligarki dan yang bermodal uang besar, dipastikan seolah-olah Parpol menjadi organisasi privat (perusahaan pribadi), bukan organisasi publik yang bertujuan mengelola dan merumus-kan kebijamerumus-kan publik dalam hubungan mediasi antar pemerintah dan rakyat.38

Ke depan, diharapkan, model seleksi demokratis di internal Parpol bermazhab Pancasila ini dapat berlangsung secara terpola, ajeg, dan terukur, sehingga tidak mudah ditelikung oleh elite politiknya. Karena ciri dari Parpol yang telah terlembaga seperti dinyatakan oleh Andreas Schuller, 1995, adalah:

“…solid, immobile, permanent, predictable, structured, hard and persistent” so institution is the thing that does not change every time we act…”.39

(solid, bergerak, permanen, dapat diprediksi, terstruktur, dan persisten, sehingga tidak mudah dirubah kapan saja setiap kali diinginkan).

Untuk menjaga keajegkan model seleksi demokratis internal Parpol bermazhab Pancasila dalam penentuan kandidat Capres, Caleg, dan Cakada maka ada baiknya belajar pada model negara Amerika Latin, yakni di Paraguay.40 Di negara ini untuk menjaga agar proses seleksi calon dapat berlangsung demokratis, transparan, dan akuntabel model seleksi calon dilakukan dengan cara UU memberi otoritas pada KPU untuk menghadiri langsung dalam proses seleksi dan kemudian KPU membuat penilaian tentang kedemokratisan proses pencalonan internal partai politik. Tentu saja model ini memerlukan bukan saja revisi UU Pilpres, UU Pileg, UU Pilkada, namun juga UU

Penyeleng-37 Ichlasul Amal, Menata Ulang Demokrasi: Dari Mana Kita Memulai ?, dalam Agus Pramusinto dan Wahyudi Kumorotomo, Governance Reform di Indonesia: Mencari Arah Kelembagaan Politik yang Demokratis dan Birokrasi yang Profesional, (Yogjakarta: Gava Media-MAP UGM, 2009), hlm, 19.

38 Jefry A. Winters, Oligarchy, (Oxford: Cambrigde University Press, 2010). 39 Andreas Schuller, 1995, “Under-and Overinstitutionalization: Some Ideal Typical Proposition Conserning New and Old Party System”, Working Paper # 213-March 1995, hal, 8.

40 “Hasyim Asy’ari, 2007, “Sistem Pemilu Ramah Perempuan: Sebuah Gagasan” Makalah

disampaikan dalam Seminar tentang “Pendidikan Politik Bagi Perempuan” diselenggarakan oleh Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Kabupaten Pati, di Hotel Gitrary Perdana, Pati pada 30 April 2007, hal, 8.

gara Pemilu agar memberi otoritas pada KPU dalam soal ini, dan juga diperlukan anggota KPU yang berintegritas moral tinggi serta memiliki kapabilitas yang memadai. Sehingga tidak berpotensi untuk berkolusi dengan Parpol. Dapat pula belajar dari sistem seleksi kandidat yang dilakukan dalam Pemilu di Jerman Barat. Mahkamah Konstitusi Negara Bagian Hamburg pada tanggal 4 Mei 1993 menyatakan bahwa hasil Pemilu Negara Bagian Hamburg tanggal 2 Juni 1991 adalah batal, bukan karena kecurangan dalam penyeleng-garaan Pemilu, namun karena proses pencalonan internal Partai

Christlich Demokratische Union (CDU) Negara Bagian Hamburg dinilai

tidak demokratis karena lebih ditentukan oleh DPP Partai DCU.41

41 Ibid., hal, 8. Tentang model pencalonan anggota Parlemen yang demokratis, akuntabel, transparan, terpola dan stabil di Eropa Barat dapat dilihat karya: Lars Bille, 2011, “Democratizing and Democratic Procedure: Myth or Reality, Candidate Selection in Western Europe Parties, 1960-1990" in Journal of Party Politics, Vol. 7.No.3, hal, 363-380.

Diperlukan desian arsitektur untuk mereformasi sistem Pemilu agar jauh dari perilaku korupsi politik, dimulai dari realitas bahwa Pemilu dengan suara terbanyak telah menjadi biang korupsi politik dan pemikiran alternatif mereformasinya menjadi kembali ke sistem nomor urut, mencoba alternatif sistem Pemilu campuran, dan gagasan pemikiran tentang desain arsitektur ketatanegaraan masa depan. Berikut ini akan diuraikan secara lebih luas.