• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desain Arsitektur Reformasi Seleksi Penyelenggara Pemilu

D. Model Seleksi KPU, KPU Prop dan KPU Kab/Kota di Hulu

Di sinilah relevansi untuk menemukan model baru seleksi KPU yang bukan saja mandiri seperti dinyatakan dalam Pasal 22 E Ayat (5) UUD 1945, akan tetapi juga profesional dan berintegritas. Profesional artinya memiliki kemampuan dan keterampilan khusus dalam melaksanakan penyelenggaraan Pemilu. Kemampuan dan keterampilan ini meliputi ilmu pengetahuan yang relevan dengan pekerjaan KPU, akan tetapi juga pengalaman dalam penyelenggaraan Pemilu. Ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan penyelenggaraan Pemilu, paling tidak ilmu yang berkait dengan kemampuan me-rencanakan, melaksanakan, mengevaluasi tahapan Pemilu, yakni ilmu hukum, ilmu manajemen, ilmu politik, ilmu sosiologi, ilmu teknologi dan informasi. Sedangkan, pengalaman berarti mengutamakan yang memiliki pengalaman dalam penyelengaraan Pemilu di tahun-tahun sebelumnya. Adapaun berintegritas berarti memiliki kemampuan atau sikap yang mencerminkan etika, moralitas, kejujuran, dan keadilan di dalamnya akan tercermin ketegasan dan kewibawaan sebagai penyelenggara Pemilu.25 Integritas juga merupakan sikap bekerja secara kolektif kolegial, mampu berkomunikasi dengan semua kalangan, anti korupsi, dan kolusi dan antikonspirasi jahat. Selain itu juga mencerminkan tentang kemampuan memimpin (leadership) dalam memipin institusi KPU, terutama cepat mengambil keputusan dan berani mengambil risiko.26 Karena sesungguhnya sebaik-baik Pemilu bukan hanya berhasil mewujudkan Pemilu secara prosedural, akan tetapi juga kepercayaan publik terhadap hasil-hasil Pemilu. Kepercayaan publik dapat tumbuh berdasarkan pada rekam jejak (track

record) anggota KPU.

24 Penyelenggara Pemilu Kena sanksi,.http://nasional.kompas.com/read/2014/06/12/ 1757501/163.Penyelenggara.Pemilu.Kena.Sanksi, diakses pada 4 Agustus 2015.

25 Haryatmoko, 2003, Etika Politik dan Kekuasaan, (Jakarta, Penerbit Buku Kompas, 2003), hml. 22.

26 Jazim Hamidi dan Mustafa Lutffi, 2010, Civic Education Antara Realitas Politik dan Implimentasi Hukumnya, (Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2010), hlm, 151-156.

Karakter komisioner KPU yang mandiri, professional, dan berintegritas ini diperlukan dalam penyelenggaran Pemilu ke depan, karena akan kian menghadapi tatangan yang tidak ringan. Mengingat beban kerja dan kecakapan komisioner dalam menajamen Pemilu kian diuji dan bertambah berat, seiring dengan munculnya Putusan MK.No.14/PUU-XI/2013 tentang Uji Materil UU No. 42/2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tanggal 23 Januari 2014. Dalam amar putusan Mahkamah Konstitusi, dinyatakan bahwa Pasal 3 ayat (5), Pasal 12 ayat (1) dan (2), Pasal 14 ayat (2) dan Pasal 112 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Mahkamah Konstitusi, telah memutuskan agar pemilihan umum mulai tahun 2019 dilaksanakan secara serentak. Pemilihan umum yang dimaksud adalah pemilihan umum presiden dan wakil presiden dan pemilihan umum anggota legislatif, baik anggota DPR, DPD maupun DPRD.

Itulah sebabnya, Pemilu serentak mulai tahun 2019 mendatang perlu disikapi dengan kian meningkatkan kualitas karakter kemandirian, keprofesionalitasan dan keberintegritasan komisioner KPU. Dengan langkah konkrit membangun model baru seleksi KPU di era Pemilu Serentak.

1. Model Pembentukan Tim Seleksi

Sesungguhnya, jika merujuk pada model seleksi KPU yang diadopsi selama ini baik melalui UU No. 22/2007 maupun UU No. 15/ 2011 tentang Penyelenggara Pemilu, di tangan Tim Seleksi (Timsel) inilah modal sumber daya komisioner ditentukan dan dipintal. Itulah sebabnya Timsel merupakan hulu dari tahapan seleksi komisiner KPU. Seleksi terhadap anggota Timsel menjadi penting untuk diperhatikan. Seharusnya Timsel juga merupakan domain publik, bukan meru-pakan hak prerogatif presiden semata dalam pembentukannya.

Di era demokratisasi yang mencerminkan tentang keterbukaan informasi dan partisipasi publik, sesungguhnya hak prerogatif presiden pun tidak seharusnya digunakan sebebas-bebasnya, me-lainkan berdasarkan pertimbangan kerterbukaan dan partisipasi publik. Sehingga pembentukan Timsel tidak dilakukan dengan asal

“comot”, apalagi jika hanya berdasarkan balas budi terhadap tokoh publik yang berjasa pada kekuasaan presiden. Itulah sebabnya, diperlukan juga masukan dari publik, melalui kesediaan tim kepresidenan untuk membuka seluas-luasnya informasi tentang seleksi calon tim seleksi komisioner KPU ini kepada publik agar publik dapat memberikan masukan dan saran tokoh-tokoh publik yang pantas menjadi calon anggota timsel ini.

2. Syarat Anggota Tim Seleksi

Pembentukan Timsel seharusnya dimulai dengan cara presiden melalui staf kepresidenan melakukan seleksi terhadap calon anggota Timsel KPU dengan menetapkan persyaratan dan kriterianya. Salah satu kriteria yang penting adalah independen, yang tidak ada kaitan langsung maupun tidak langsung dengan partai politik, linieritas dengan latar belakang calon dan dasar ilmu pengetahuan dan pengalaman.

Maka komposisi yang pas adalah hanya meloloskan anggota Timsel yang berlatar belakang ilmu yang linier dengan kePemiluan, yakni ilmu hukum, politik, manajemen, sosiologi dan informasi dan Teknologi dan sekaligus pernah berpengalaman dalam durasi tertentu dengan birokrasi pemerintah terkait Pemilu, mantan anggota KPU RI, akademisi di bidang ketatanegaraan, politik, manajemen dan profesional. Timsel sebaiknya bukan merupakan representasi dari golongan atau organisasi agama dan masyarakat tertentu, kendati tetap memperhatikan keterwakilan perempuan.

3. Mekanisme Kerja Tim Seleksi

Cara kerja Timsel dalam mencari dan menemukan sumber daya manusia berkualitas, yakni berkarakter mandiri, profesional dan berintegritas ini dapat dimulai dengan dua model: membuka pendaftaran secara terbuka kepada publik, dan mencari SDM yang berkualitas dengan memanggil kesediaan sejumlah tokoh publik untuk bersedia menjadi komisioner KPU. Cara kedua ini perlu dilakukan terutama untuk menghindari adanya kaum pencari kerja (seeker) yang mencoba mengais keberuntungan terutama, pensiunan dan peng-angguran. Timsel perlu menetapkan persyaratan calon Komisioner KPU yang sangat penting diperhatikan antara lain: Kedua, linieritas keilmuannya dengan kePemiluan, yakni ilmu hukum, politik,

sosiologi, manajemen dan teknologi informasi.27 Ketiga, tidak pernah sama sekali menjadi anggota partai politik tanpa harus jeda waktu tertentu; dan Ketiga, mengutamakan yang memiliki pengalaman sebagai penyelenggara Pemilu, sekurang-kurangnya 5 tahun.

Selanjutnya Timsel perlu merancang aneka model baru dalam menemukan SDM unggul selain harus lulus administrasi, juga tes substantif profesi kePemiluan dan psikologi untuk mengukur kemampuan kognitif (konseptual), afeksi (empati dan sikap jujur/ integritas), dan motorik (daya tahan kerja di bawah tekanan). Yang dapat dimulai dengan antara lain: (1) menetapkan kriteria administrasi yang harus dipenuhi, dan makalah tentang proyeksi dan gagasan menjadi komisioner KPU; (2) menetapkan soal-soal tes tertulis tentang profesi teknis kePemiluan, dalam membuat soal Timsel dapat bekerja sama dengan pusat-pusat studi konstitusi, HAM, politik dan Pemilu di perguruan tinggi yang kredibel; (3) mendesain test assisment psikologi, dapat bekerja sama dengan institusi psikologi yang kredibel, tes ini diutamakan untuk mengukur kesepadanan antara kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik; (4) perlu disusun kegiatan praktik yang menggambarkan tentang kinerja teknis KPU dalam uji psikologi ini; (5) disediakan tahapan untuk membuat makalah tertulis seketika untuk mengukur kemampuan teknis, visi dan gagasan calon jika terpilih menjadi anggota KPU; (6) perlu membuka kesempatan publik untuk menyampaikan masukan dan saran terhadap calon; dan (7) pada tahapan profile assisment Timsel dapat menggali lebih dalam terhadap rekam jejak (track record) calon dengan melakukan wawancara terbuka yang dapat diakses oleh publik.

4. Luaran Hasil Kinerja Seleksi di Hulu

Luaran hasil kinerja Timsel saat penentuan calon komisioner yang akan diajukan Timsel kepada Presiden untuk dimintakan persetujuan kepada Komisi II DPR, jumlah calon yang diloloskan sejumlah kebutuhan komisioner KPU, yakni 7 orang. Ini dimaksudkan untuk mengunci agar nama-mana yang lolos di tingkat KPU tak mudah “dipolitisir” oleh DPR.

27 Agus Riewanto, “Menanti Kinerja KPUD dalam Pilkada Langsung”, dalam Ari Pradanawati, Pilkada Langsung Tradisi Baru Demokrasi Lokal, (Surakarta, Kompip, 2005), hlm. 225-232.