Desain Arsitektur Reformasi Seleksi Penyelenggara Pemilu
E. Model Seleksi KPU, KPU Prop dan KPU Kab/Kota di Hilir
Tahapan seleksi berikutnya adalah di Komisi II DPR. Tahapan ini juga penting karena merupakan tahapan yang sangat menen-tukan hitam-putih komisiner KPU baik kualitas SDM maupun kualitas institusi KPU. Itulah sebabnya seleksi di DPR ini disebut seleksi di tahapan hilir.
1. Model Seleksi KPU RI di DPR RI
Model seleksi di Komisi II DPR ini seharusnya bukan merupakan seleksi yang berwujud uji kepatutan dan kelayakan (fit and propoer
test), melainkan merupakan bentuk persetujuan dan konfirmasi saja
dari proses seleksi yang dilakukan oleh Timsel KPU. Sebagaimana saat DPR memilih hakim agung pada Mahkamah Agung (MA) yang tidak lagi melakukan uji kepatutan dan kelayakan melainkan persetujuan. Ini merupakan amanat dari Putusan MK No. 27/PUU-XI/2013 tentang Pengujian UU No. 3 Tahun 2009 tentang Mahkamah Agung terkait kewenangan DPR dalam seleksi hakim agung. MK menyatakan makna “pemilihan” dalam Pasal 8 ayat (2), (3), dan (4) UU No. 3 Tahun 2009 tentang Mahkamah Agung diubah atau harus dibaca dengan makna “persetujuan”.28
Karena Putusan MK ini dapat dijadikan yurisprudensi dalam membentuk model seleksi di Komisi II DPR cukup persetujuan, yakni mencocokkan sejumlah dokumen yang dijadikan acuan oleh Timsel dalam meloloskan calon komisioner KPU hingga ke tahapan di hilir. Maka Timsel saat mengajukan nama-nama yang lolos ke Presiden dan DPR harus disertai lampiran dokumen tahapan yang mem-buktikan calon tersebut lolos di Timsel.
Pada tahapan di hilir ini perlu dicegah adanya uji kepatutan dan kelayakan yang dilakukan Komisi II DPR melebihi apa yang telah dilakukan oleh Timsel. Sebab jika dibiarkan seperti lazimnya selama ini, maka yang terjadi adalah transaksi politik antara kelompok-kelompok dominan di Komisi II DPR dengan calon. Acapkali calon terbaik versi Timsel tak diloloskan oleh DPR hanya gara-gara ide dan gagasan calon tak sesuai dengan misi partai dan golongan tertentu.
28 MK: DPR Hanya “Menyetujui” Calon Hakim Agung Putusan MK ini akan lebih mempermudah KY dalam menjaring CHA.” Dalam http://www.hukumonline.com/berita/ baca/lt52cebf177b95d/mk-dpr-hanya-menyetujui-calon-hakim-agung, diakses pada 6 Agustus 2015.
Itulah sebabnya dalam tahapan ini hanya berbentuk konfirmasi saja. Uji kepatutan dan kelayakan di Komisi II DPR seharusnya hanya untuk memilih 1 orang di antara 7 calon yang dajukan oleh Timsel untuk menjadi Ketua KPU. Seharusnya Ketua KPU tidak dipilih oleh anggota KPU, akan tetapi dipilih oleh Komisi II DPR sebagaimana seleksi Ketua KPK.
Pemilihan Ketua KPU oleh Komisi II DPR ini penting dilakukan karena fakta menunjukkan bahwa pemilihan Ketua KPU di semua tingkatan acapkali menimbulkan friksi antar anggota KPU yang berujung pada perseteruan yang relatif panjang antara komisioner KPU disebabkan karena perbedaan pandangan dan golongan yang dikhawatirkan dapat menganggu kinerja KPU. Akibat pemilihan Ketua KPU biasanya komisioner KPU terbelah menjadi 2-3 golongan. Bahkan menurut Prof. Nazaruddin Syamsuddin (Ketua KPU RI 2001-2007), konflik di tubuh KPU yang berujung korupsi di KPU saat itu adalah adanya friksi di tubuh KPU akibat pemilihan ketua KPU RI yang relatif keras yang berujung pada terbelahnya dukungan komisioner KPU menjadi beberapa fraksi yang dapat menyeret ke tubuh organisasi Kesekretariatan Jenderal KPU RI.29
Karena itu, pemilihan Ketua KPU oleh Komisi II DPR meru-pakan jalan tengah ketika Komisi II DPR tak lagi melakukan uji kepatutan dan kelayakan, lalu diberi konsesi untuk dapat memilih Ketua KPU. Model ini juga sekaligus akan mengurangi friksi dan fraksi di tubuh KPU.
2. Model Seleksi KPU Provinsi dari Hulu
Model seleksi komisioner KPU provinsi tidak jauh berbeda dengan seleksi komisioner KPU RI. Dimulai dengan tahapan pembentukan Anggota Tim Seleksi Komisioner KPU provinsi. Untuk mencerminkan KPU bersifat nasional, maka pembentukan Timsel ini dilakukan oleh KPU RI dengan cara membuka pendaftaran calom Timsel. KPU RI harus menetapkan kriteria dan syarat yang terkait dengan linieritas keilmuan dan pengalamana menjadi penyelenggara Pemilu. Di titik ini, KPU RI harus membuka informasi yang luas agar publik dan tokoh-tokoh daerah dapat mendaftar menjadi anggota Timsel KPU.
29 Nazaruddin Sjamsuddin, 2009, Bukan Tanda jasa: Sebuah Otobiografi, (Jakarta, Enesce/ Nine Seassons Communication, 2009), hlm.15-139.
Perlu adanya keterbukaan dan partisipasi publik dalam menentukan Timsel ini. Salah satunya KPU RI membuka kesempatan pada publik untuk memberikan masukan dan saran terhadap calon tim seleksi yang dinyatakan lolos administrasi oleh KPU RI. KPU RI dan Sekjen KPU RI harus melakukan uji kelayakan dan kepatutan calon anggota Timsel ini untuk mencerminkan keterbukaan maka dilakukan uji secara terbuka. Ini juga dimaksudkan agar pengisian Timsel ini tidak didominasi oleh calon pesanan dari kelompok-kelompok tertentu.
Berikutnya Timsel yang telah dinyatakan lolos oleh KPU RI ini melakukan sejumlah tahapan untuk menghasilkan SDM KPU provinsi yang mandiri, profesional dan berintegritas dengan tahapan antara lain: (1) membuka pendaftaran calon komisioner KPU provinsi dan dengan mengirim surat tawaran pada tokoh-tokoh publik daerah yang berkompeten untuk ikut dalam seleksi; (2) melaksanakan semua tahapan yang dilakukan dalam seleksi seperti untuk seleksi KPU RI yang berbeda dalam tahapan menjawab soal tes tulis, psikologi dan pemaparan makalah calon anggota KPU provinsi lebih bersifat teknis bukan konseptual.
3. Model Seleksi KPU Kabupaten/Kota di Hulu
Model seleksi KPU kabupaten/kota ini dimulai dengan pem-bentukan Timsel oleh KPU provinsi dengan cara membuka pen-daftaran secara terbuka. Yang berbeda hanya KPU provinsi dapat mengirim surat kepada bupati/walikota, untuk diminta memberikan nama-nama tokoh kabupaten/kota yang layak ikut seleksi menjadi anggota Timsel KPU kabupaten/kota. Model ini perlu dilakukan karena realitanya tidak mudah mencari tokoh yang bersedia menjadi anggota Timsel. Itulah sebabnya perlunya dukungan bupati/walikota untuk mengusulkan calon Timsel alternatif. Adapun persyaratannya sama dengan anggota Timsel KPU RI dan KPU provinsi.
Sedangkan prosedur dan teknis kinerja Timsel KPU kabupaten/ kota ini untuk menyeleksi komisioner KPU kabupaten/kota yang mandiri, professional, dan berintegritas, sama dengan model kerja Timsel KPU RI dan KPU provinsi. Yang membedakan selain meng-utamakan calon yang punya pengalaman menjadi penyelenggara Pemilu juga linieritas keilmuan, karena itu syarat menjadi komisioner KPU kab/kota seharusnya juga berpendidikan Sarjana (S1) bukan SLTA.
Perbedaan lainnya dalam melakukan uji tertulis dan psikologi harus lebih menekankan pada kemampuan teknis ketimbang konseptor. Itulah sebabnya, tes menjawab soal-soal kePemiluan dan psikologinya lebih diutamakan kemampuan afeksi dan motorik bukan kognisi. Pada uji pemaparan makalah, maka calon komisioner KPU juga harus lebih diutamakan untuk melihat kemampuan teknisnya. Maka di titik ini perlu diadakan sesi untuk menguji kemampuan lapangan terkait dengan teknis Pemilu. Pada uji wawancara tahap akhir, Timsel seharusnya melakukan uji secara terbuka yang dapat diakses publik.
4. Luaran Hasil Kinerja Seleksi KPU Prop dan KPU Kab/Kota di Hilir
Adapun luaran hasil seleksi di hilir ini untuk KPU provinsi, yaitu dalam tahapan meloloskan jumlah komisioner KPU provinsi untuk diajukan ke KPU RI, maka Timsel dapat meloloskan 5 orang sesuai kebutuhan KPU provinsi di tambah 2 orang untuk cadangan. Diperlukan cadangan hanya 2 orang karena supaya KPU RI dapat memilih alternatif, selain itu untuk memberi jalan tengah dalam upaya pendelegasian kewenangan antara Timsel dan KPU RI; dalam hal ini, Timsel dipercaya hasil kerjanya dan KPU diberi otoritas mencari alternatif lain.
Dalam uji kepatutan terhadap 7 orang calom komisioner KPU provinsi ini, KPU RI harus melakukannya secara terbuka dan transparan yang dapat dilihat secara langsung oleh publik secara luas. Lalu KPU RI memilih 5 orang dan menyediakan 2 calon cadangan untuk Penggantian Antar Waktu (PAW).
Pada uji penentuan akhir ini, KPU RI diberi otoritas untuk meng-uji dan memilih 1 di antara 5 komisioner KPU provinsi terpilih untuk menjadi Ketua KPU provinsi. Pilihan Ketua KPU provinsi ini oleh KPU RI ini dimaksudkan agar tak terjadi friksi di tubuh KPU provinsi karena perbedaan antara komisioner dalam memilih Ketuanya.
Adapun luaran hasil kerja Timsel untuk KPU Kab/Kota, yaitu sama dengan seleksi KPU provinsi, yakni Timsel hanya akan mengusulkan 5 orang calon ditambah dengan 2 cadangan untuk diproyeksikan sebagai komisiner PAW.
Sedangakan, KPU provinsi dalam melakukan seleksi akhir penentuan calon dilakukan dengan transparan dan terbuka yang dapat diakses oleh publik. KPU provinsi juga diberi otoritas untuk menguji dan memilih 1 di antara 5 calon untuk menjadi ketua KPU kabupaten/kota. Otoritas ini perlu diberikan pada KPU provinsi juga dimaksudkan agar tak terjadi friksi di tubuh KPU kabupaten/kota hanya karena perbedaan pandangan dalam memilih ketua yang dapat berakibat pada tak kondusifnya kinerja KPU kabupaten/kota.