• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Foto 2: Tisu Alkohol

Sumber: Data Penelitian Lapangan Tahun 2019

Selain peralatan Dukun Beranak, pada proses melahirkan sang ibu dan keluarganya harus pula membawa perlengkapan melahirkan yang juga tak kalah penting. Perlengkapang tersebut terbagi menjadi dua yakni perlengkapan bayi, dan perlengkapan ibu. Perlengkapan Bayi diantaranya sebagai berikut:

1. 2 stel baju bayi baru lahir lengan pendek, 2. 2 stel baju bayi baru lahir lengan panjang, 3. 3 pasang sarung tangan & kaki,

4. 12-24 pcs Popok kain/ sekali pakai

5. Toileters bayi (sabun, baby oil dan minyak telon), 6. 3-6 buah kain bedong,

7. Selimut 8. Kupluk/topi.

Sementara itu perlengkapan Ibu adalah sebagai berikut:

1. Satu stel baju untuk pulang 2. Bantal menyusui,

3. Tisu basah dan kering, 4. Gendongan bayi

Sementara itu perlengkapan pelengkap lainnya adalah pelastik hitam untuk membawa pakaian kotor bekas setelah melahirkan.

Pemeriksaan Luar dan Tetap Sabar

Sebelum waktu melahirkan tiba, selain mengacu pada kontraksi yang terjadi, Dukun Beranak juga akan memeriksa tubuh pasien. Pemeriksaan fisik oleh Dukun Beranak tanpa melakukan pemeriksaan dalam atau vagina toucher (VT).

Hal ini dianggap lebih aman dan juga member rasa nyaman kepada ibu hamil tersebut.

“… sebelum lahir itu kalau si ibunya belum ada kontraksi atau sakit perutnya ya biasanya ibu akan coba cek bentuk perutnya dan juga vaginanya. kami gak pernah nyolok-nyolok lo dek, ya dilihat aja. Ada yang bilang itu di luar sana katanya kalau beranak di Dukun Beranak lubang vaginanya disogrok-sogrok pake tangan, enggak betul itu. Ngapain pulak disogrok pake tangan kalau pake mata aja uda bisa kok keliatan …” (wawancara tanggal 4 Juni 2019)

Dukun Beranak dalam detik-detik menjelang keluarnya bayi dari dalam kandungan selalu mencoba untuk menenangkan pasien. Dukun Bayi akan selalu meminta pasien untuk tetap bersabar. Dalam hal ini pasien bernama kak Puja terlihat menggenggam tangan Wak Suwerni ketika perutnya sudah terasa sakit.

Intinya, pada saat menolong melahirkan Dukun Beranak mengutamakan sikap sabar kepada para pasiennya.

“… ya disabarin ya, kita bilang pelan-pelan, jangan jeret-jeret orang perempuan ya pahalanya di situ, yang sabar, yang ikhlas, malu didengar orang, ya kita bujuk lah gak boleh di marah-marah namanya juga dia sakit. Ya nolong orang melahirkan ya harus sabar, apalagi anak pertama kan dia belom ngerti kayakmana rasanya, makanya kalau ibunya jeret-jeret kitanya ya mesti sabar.

Istilahnya dia sabar, ya saya juga harus sabar karena banyak juga tipe-tipe orang yang melahirkan ini orangnya panikan dan teriak-teriak terus …” (wawancara tanggal 4 Juni 2019)

Dukun Beranak juga pada saat proses melahirkan akan memberikan banyak motivasi kepada sang ibu. Dorongan motivasi penting diberikan sebab terkadang dalam beberapa kondisi, ibu hamil kerap mengalami kesulitan pada saat persalinan, sehingga motivasi diperlukan oleh ibu hamil agar proses melahirkan

dapat dilaksanakan dengan lancar dan tanpa masalah. Seperti dalam kutipan wawancara dengan informan berikut ini:

“… Sama pasiennya kita bilang istighfar yang banyak-banyak, nanti tak bilang baca doa ya nak, semangat ya nak, namanya yang penting kan kita semangati pasiennya. Biasanya kalau dia masih baru pertama kali melahirkan itu saya sampe minta bantuan kerabatnya untuk bantuin saya nenangin. Tapi kalau yang udah melahirkan yang ke 4, 5 atau ke 6 itu biasanya ya gak akan rewel.

Hari ini lahiran, besok udah nyuci dia …” (wawancara tanggal 4 Juni 2019)

Langkah-langkah pertolongan persalinan oleh Dukun Beranak sama halnya dengan proses persalinan pada umumnya, sehingga tidak ada teknik tertentu atau syarat-syarat khusus untuk pasien ketika akan bersalin. Dukun Beranak hanya akan menunggu calon ibu sampai waktunya tiba untuk melahirkan.

Dalam hal ini yang menjadi pusat perhatian dalam serangkaian persalinan adalah pemotongan tali pusar atau placenta pada bayi. Menurut kepercayaan setempat di Desa Sei Brombang, tali plasenta ini adalah saudara kembar dari bayi yang harus diperlakukan dengan baik dan memiliki kekuatan magis sehingga didalam pemotongan dan penguburannya harus dilakukan dengan hati-hati oleh si bapak.

Alat yang digunakan dalam pemotongan plasenta mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Pada awalnya Dukun Beranak menggunakan bilah yaitu sebuah pisau yang terbuat dari bambu, kemudian berganti menjadi gunting biasa, dan terakhir adalah gunting medis. Pemotongan Plasenta ini menjadi pusat perlakuan khusus bagi bayi. Pemotongan yang salah terhadap placenta akan berakibat fatal bagi jabang bayi sehingga dalam hal ini Wak Suwerni menggunakan cara, teknik, dan ramuan-ramuan tradisional untuk melakukan pemotongan plasenta tersebut.

Cara pemotongan plasenta dilakukan dengan memegang erat ujung yang menjadi batas ari-ari menurut perhitungan dukun bayi, kemudian mulai melakukan pemotongan dengan pisau yang terbuat dari bambu, kemudian bekas luka dibalut dengan garam, dan kunyit.Ramuan ini oleh Wak Suwerni dipercaya dapat menyembuhkan bekas luka dan meredam kesakitan pada bayi pasca pemotongan plasenta. Selanjutnya adalah penguburan plasenta atau ari-ari yaitu ari-ari dimasukkan kedalam wadah dan dibawah wadah tersebut terdapat secarik kertas bertuliskan lafal basmalah terbalik, daun sirih, dan kapur kemudian dikuburkan dalam satu tempat dan diberikan penerangan. Tempat penguburan biasanya di sekitar pekarangan rumah.

Dalam menolong persalinan Wak Suwerni juga menjaga privacy pasien.

Hal ini dianggap penting sebab apapun kondisi yang dimiliki pasien, Dukun Beranak tidak boleh membuka hal tersebut kepada siapapun. Seperti yang dikatakan oleh Wak Suwerni dalam wawancara berikut:

“… kadang banyak kondisi pasien itu yang datang dalam kondisi yang enggak bagus. Misalkan, dia menikah baru sebulan tapi kehamilannya uda 4 bulan, tapi itu kan sepenuhnya bukan urusan kita menceritakannya sama orang-orang. Kalau kita udah sekali ngebocorin rahasia si pasien tadi, yakin lah enggak aka nada lagi orang yang mau datang untuk minta pertolongan kami …”

(wawancara tanggal 3 Juni 2019)

Tindakan Dukun Beranak dalam menghadapi komplikasi atau gangguan dalam persalinan juga kerap dilakukan sendiri tanpa menggunakan bantuan medis.

Tindakan yang dilakukan oleh dukun bayi dalam menghadapi komplikasi persalinan yaitu mencari solusi sendiri, meminta bantuan ahli dan melakukan rujukan, berdo’a dan menjaga pasien tetap tenang.

“… banyak itu kasus-kasus yang darurat kejadian pas ibu nolong orang melahirkan. Dari mulai sungsang, keluarnya lama, sampe ada juga yang anaknya kembar. Pernah juga itu ibu nanganin yang lahir pantatnya dulu, kakinya dulu juga pernah, ya ditangani sendiri, dirahasiakan sama orangnya jagan ada yang tau, nanti jadi takut orangtua ataupun suaminya kan. Kenapa ibu enggak nyuruh ditangani sama medis aja kalau kondisinya udah kayak gitu, ya karena kalau uda dalam proses melahirkan gitu dek enggak bisa kita tunda-tunda atau kita hentikan proses melahirkannya, karena setiap menit itu antara hidup dan mati taruhannya …” (wawancra tanggal 4 Juni 2019)

Dalam proses melahirkan, Dukun Beranak juga kerap menemui masalah lainnya diantaranya:

- Diganggu oleh jin (makhluk halus) sehingga ibu hamil itu akan stress dan kesulitan untuk mengeluarkan bayinya. Ketika ada jin yang mengganggu pasien seperti ini maka dukun beranak akan mengluarkan energy kebatinan yang banyak untuk melawannya agar menjauh dari ibu hamil.

- Ketika ada anak dibawah umur yang akan melahirkan, dia tidak pandai dalam mengatur nafas dan mendorong bayinya (ngeden) maka dukun beranak membuatkan ramuan yang berisi sebutir telur ayam kampung mentah dan madu sebanding dengan volume telur tersebut yang dicampurkan dan diaduk untuk diminum si ibu agar menambah tenaga dan memperlancar persalinan.

- Ketika posisi pantat bayi dalam kandungan mengarah ke jalan keluar V, maka dukun melakukan pengurutan perut untuk membetulkan kembali posisi bayi tersebut.

Setelah melahirkan lalu Dukun Beranak akan membersihkan bekas-bekas persalinan yang menempel di ibu hamil. Hal ini dilakukan karena pada saat itu

sang ibu belum sanggup untuk membersihkan dirinya sendiri. Sementara untuk sang bayi, Dukun Beranak akan terlebih dahulu memotong ari-ari si jabang bayi yang baru lahir tersebut. Lalu kemudian Dukun Beranak juga akan membersihkan sisa-sisa darah dan juga cairan dari rahim si ibu yang lengket dan tertinggal pada tubuh sang bayi. Lalu Ketika semuanya telah selesai dibersihkan, maka Dukun Beranak akan memakaikan/membungkus bayi yang baru lahir tersebut dengan kain panjang dan memberikannya kepada si ibu, agar si bayi langsung bisa mengenal detak jantung dan bau si ibu yang baru melahirkannya.

3.1.3. Fase Postpartum (Setelah Melahirkan)

Fase Postpatum atau setelah ibu melahirkan membutuhkan perawatan kembali oleh Dukun Beranak kepada sang ibu maupun kepada anak bayi yang baru lahir. Perawatan ini dimulai dari membersihkan ari-ari si jabang bayi, membersihkan kain-kain yang digunakan selama melahirkan, dan memandikan si jabang bayi setiap pagi.

“… Kalau istilah ilmiah kayak gitu uwak gak ngerti, tahunya Cuma habis lahiran, itu lah istilahnya. Nah, habis lahiran itu banyak yang harus dikerjai, dari mulai meriksa keadaan ibunya, sampe meriksa keadaan bayinya. Kita jangan salah, walaupun sudah selesai lahiran, ibunya itu bisa juga tiba-tiba sakit karena mungkin ada luka ataupun infeksi karena proses melahirkan itu.

Kalau udah memang dirasa sakitnya enggak normal, biasanya uwak suruh bawa langsung ke rumah sakit …” (wawancara tanggal 4 Juni 2019)

Di dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang penolong persalinan secara tradisional, Dukun Beranak juga mendapatkan berbagai pelatihan-pelatihan medis yang diadakan oleh pihak puskesmas dan bidan dan telah bersertifikat resmi sehingga dalam melakukan penanganan terhadap bayi dapat terjamin secara medis. Setelah kelahiran, Dukun Beranak memiliki tanggung jawab mendampingi

ibu dan bayi selama bulan pertama kelahirannya, yaitu dengan memberikan perawatan lanjutan berupa pijit bagi keduanya dalam konteks pemulihan pasca persalinan oleh ibu dan kesehatan bagi bayi.

Pada sembilan hari kelahiran bayi, dukun melakukan pijit pada bayi. Hal ini dimaksudkan agar tubuh si bayi tidak rentan dari penyakit dan memantapkan organ-organ tubuh pada bayi selain itu dukun bayi juga membantu memandikan bayi serta memberikan ramuan-ramuan tradisional agar bayi tidak mudah rewel.

Karena pada usia ini, bayi masih rentan terhadap kekuatan-kekuatan gaib yang ada disekelilngnya sehingga diperlukan pagar atau penangkal oleh dukun bayi.

Perawatan yang diberikan Dukun Beranak berlangsung sampai selapanan, yaitu usia bayi menginjak pada 1 bulan kelahirannya tetapi, dukun bayi tidak lagi memandikannya dan hanya datang seminggu dua kali untuk memijit bagi bayi.

Setelah kelahiran itu, Dukun Beranak juga bertugas membantu persiapan acara selamatan kelahiran sang bayi. Syukuran dianggap penting untuk menunjukan rasa terimakasih dari pihak keluarga kepada sang Pencipta lewat pemberian makanan nasi urap kepada para tetangga.

“… Setelah abis lahir anaknya nanti uwak pun bantuin keluarganya untuk nyiapin acara syukuran. Misalnya kalau buat acara pengajian ya ibu ikut bantuin, atau kalau misalnya mau buat nasi urap, ya uwak diundang supaya bantuin dan kasih doa juga ke anak bayinya …” (wawancara tanggal 4 Juni 2019)

Perawatan setelah kelahiran yang diberikan kepada bayi juga hampir sama seperti perawatan yang diberikan pada ibu yang selesai melahirkan, yaitu meliputi massage atau dipijat dan personal hygiene yang berbeda adalah perawatan tali pusat.

“… kalau perempuan udah selesai melahirkan itu biasanya masih belum bisa kerja-kerja berat, bisa karena pinggangnya yang masih sakit karena selama 9 bulan habis bawa’ si bayi kemana-mana, trus bisa juga karena peredaran darahnya itu masih belum lancar karena mungkin sisa-sisa kehamilan itu masih ada di badan si ibu.

biasanya uwak kusuk itu mamaknya, dan ngusuknya itu enggak boleh kuat-kuat. Karena kalau dikusuk kuat-kuat itu bisa biru ataupun luka di dalam, karena memang setelah melahirkan badan si ibunya itu sensitive …” (wawancara tanggal 4 Juni 2019)

Tarif perawatan yang diterima oleh Dukun Beranak biasanya tidak tentu.

Bahkan terkadang pembayaran Dukun Beranak sifatnya hanya sekedar sukarela saja dan tidak ada pematokan harga yang khusus dari Dukun Beranak.

“… Kita kan niatnya nolong, jadi klo ada yang kasi ya Alhamdulillah, klo nggak ya ikhlas. Ada yang kasi Rp. 1000.000, Rp. 500.000, ada juga yang kurang mampu dan ngasi Rp. 300.000, bahkan dulu ada juga yang cuma bisa ngasi ayam atau hasil bertaninya aja karena enggak punya uang …” (wawancara tanggal 5 Juni 2019)

Secara umum Dukun Beranak akan terus mendampingi bayi sampai 45 hari kelahiranya. Selama rentang waktu tersebut perkembangan bayi akan tetap dipantau oleh Dukun Beranak yang menangani kelahirannya dengan cara mengunjungi tempat tinggal bayi. Pemberian nama pada bayi dilakukan pada hari kelima kelahirannya dan dihadiri oleh Dukun Beranak yang menangani kelahirannya. Acara tersebut dikenal sebagai acara Tabal Nama. Pada acara tersebut Dukun Beranak memotong sehelai rambut bayi dengan diberikan doa-doa tertentu sebagai syarat jalannya ritual. Kemudian pada usia 45 hari kelahirannya diadakan selapanan yaitu pencukuran seluruh rambut bayi, hal ini juga dilakukan oleh Dukun Beranak yang membantu kelahirannya, pencukuran seluruh rambut

bayi tersebut memiliki maksud dan tujuan agar kelak rambut bayi tumbuh dengan bagus dan secara magis bayi tidak mudah rewel dan lemah terhadap penyakit.

3.2. Pembuatan Sumpit Tangkal

Pada masyarakat pesisir yang dinamakan orang Melayu yang tinggal di Desa Sei Berombang Kecamatan Panai Hilir Kabupaten Labuhan Batu ada suatu tradisi yang harus dilakukan oleh perempuan yang sedang hamil yaitu membuat Tangkal. Tradisi ini masih tetap dipertahankan sampai saat ini, bahkan uniknya untuk membuat tangkal itu ada ritual khusus yang harus dilakukan oleh orang yang dipercaya untuk membuatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ritual kepercayaan yang dilakukan khususnya menggambarkan tentang proses pelaksanaan ritual kepercayaan pembuatan dan pemakaian tangkal pada ibu hamil, untuk mengetahui fungsi dan makna tangkal bagi masyarakat Melayu khususnya ibu yang sedang mengandung.