• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR SINGKATAN

B. Istilah-istilah Umum

1.1 Latar Belakang

1.1.1 Filsafat Pendidikan

Keadaan manusia yang tidak utuh menurut Ki Hadjar Dewantara disebabkan karena adanya alienasi manusia akibat kemiskinan (ekonomi) dan alienasi dari budaya dampak dari penjajahan. Pengaruh dari alienasi ekonomi dan budaya tersebut menimbulkan hubungan antar manusia menjadi tidak wajar. Lama-kelamaan alienasi ekonomi dan alienasi budaya menimbulkan alienasi sosial dan

6 alienasi politik. Keempat alienasi itu membentuk manusia Indonesia menjadi manusia yang tidak utuh, manusia yang serba tergantung dan manusia yang tidak mampu mandiri. Alienasi ini dapat dihapuskan dengan jalan menempatkan kembali kedudukan manusia sebagai makhluk yang berbudaya sekaligus manusia seutuhnya. Dengan seluruh potensinya manusia membentuk hidupnya menjadi budaya.

Manusia yang mampu mengekspresikan budinya adalah manusia yang utuh.

Keutuhan manusia itu terwujud dalam bentuk kepribadiannya yakni dengan penguasaan jiwa: menertibkan cipta, rasa, karsa dan panca-indera. Kebudayaan dibentuk pula oleh karena adanya adat. Dalam adat manusia tidak hanya berhubungan dengan manusia saja, tetapi juga wajib berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat waktu. Dengan adat itulah manusia mengatur hidupnya secara harmonis. Pengaruh adat dapat pula membuat manusia terperangkap dalam kebekuan adat itu sendiri. Manusia perlu kreativitas agar mampu mencapai kebudayaan yang luhur dalam menghadapi perkembangan zaman. Dari sinilah diperlukan adanya kebangkitan kesadaran berbudaya yang membuat manusia tidak terikat oleh adat, sehingga mampu mengatur dan mengembangkan adat sesuai dengan kebutuhan.

Pengembangan adat terjadi dalam percampuran kebudayaan. Percampuran kebudayaan adalah usaha pembudayaan yang berjalan secara wajar, terencana, terarah dan usaha yang paling tepat adalah melalui pendidikan. Dengan pendidikan itu manusia dapat membebaskan dirinya dari kebodohan dan sekaligus manusia mampu mengekspresikan potensi-potensinya menjadi kebudayaan. Landasan moral

7 yang digunakan dalam pendidikan adalah keharusan memperhatikan tindakan yang manusiawi yaitu tindakan yang baik terhadap manusia lain (sesamanya), lingkungannya (alam), dan Tuhan.8

a. Arti Pendidikan

Pendidikan sering diartikan sebagai sebuah proses transfer ilmu dari guru kepada murid-muridnya. Pendidikan juga merupakan proses interaksi antara belajar dan mengajar, antara peserta didik dan pendidik. Menurut Dictionary of Education,9 pengertian education dituliskan sebagai berikut:

(a) The aggregate of all the process by mean of which a person develops abilities, attitudes, and other form of behavior of positive value in society in which he lives.

(b) The social process by which people are subjected to the influence of selected and controlled environment (especially that of school) so that they may attain social competence and optimum individual development.

Pengertian tentang pendidikan di atas hendak menerangkan bahwa pendidikan merupakan kumpulan dari semua proses yang memungkinkan pribadi mengembangkan kemampuan-kemampuan, sikap-sikap dan tingkah laku yang memiliki nilai positif dalam hidup bermasyarakat. Proses tersebut merupakan suatu proses sosial di mana seseorang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (sekolah) supaya mereka mendapatkan kemampuan sosial dan perkembangan pribadi yang optimal.

8 H.G. Soedijono, “Pemikiran Ki Hajar Dewantara suatu tinjauan filsafat”, Diakses dari http://lib.ui.ac.id/ (6 September 2014).

9 Zahara Idris – Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan 1, Grasindo, Jakarta, 1992, 2.

8 Driyarkara merumuskan pendidikan sebagai suatu upaya memanusiakan manusia muda. Pengangkatan manusia muda ke taraf insani itulah yang menjelma dalam perbuatan mendidik. Ki Hadjar Dewantara berpendapat hakikat pendidikan ialah proses penanggulangan masalah-masalah serta penemuan dan peningkatan kualitas hidup pribadi serta masyarakat yang berlangsung seumur hidup.10 Lebih lanjut Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa mendidik berarti menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.11

Menurut Zahara Idris, pendidikan berarti serangkaian kegiatan interaksi yang bertujuan memberikan bantuan terhadap perkembangan peserta didik seutuhnya atas potensi-potensi yang dimilikinya agar dapat menjadi manusia dewasa. Potensi-potensi tersebut mencakup Potensi-potensi fisik, emosi, sosial, sikap, moral, pengetahuan dan ketrampilan.12

Dalam UU No. 20 Sisdiknas Tahun 2003 pasal 3 dikatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Potensi peserta didik tersebut mencakup dimensi: sikap spiritual yakni beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

10 Zahara Idris – Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan 1, 1.

11 Zahara Idris – Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan 1, 3.

12 Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan, Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, Yogyakarta, 2004, 20.

9 sikap sosial yakni berakhlak mulia sehat, mandiri dan bertanggung jawab; dimensi pengetahuan yakni berilmu dan dimensi ketrampilan: cakap dan kreatif.

b. Arti Sekolah

Sekolah sebagai institusi formal pendidikan menurut James A. Johnson13 diartikan sebagai salah satu institusi sosial dan terlibat dalam berbagai aktivitas individu dan masyarakat. Sekolah juga merupakan salah satu bentuk pendidikan yang saling terkait dengan lingkungan sosial seperti masyarakat, guru dan siswa.14 Yakop Papu mendefinisikan sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dalam tingkat TK sampai Perguruan Tinggi. Setiap tingkat pendidikan merupakan pengejawantahan tujuan dari pendidikan nasional yaitu mencerdaskan bangsa dan membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang sehat jasmani dan rohani. Sekolah menjadi sarana pembentukan mental bangsa, alat integrasi sosial dan kunci pengembangan segala kehidupan manusia.15

Kosepsi tentang sekolah juga dipahami sebagai tempat pembentukan manusia secara menyeluruh melalui asimilasi kebudayaan secara sistematik dan kritis.

Sekolah merupakan tempat istimewa di mana pembentukan secara menyeluruh terjadi, melalui pertemuan hidup dengan warisan budaya.16 Salah satu tugas sekolah sebagai lembaga pendidikan ialah menampilkan dimensi etik, yaitu

13 James Allen Johnson adalah seorang penulis dan tokoh pendidikan di Amerika Serikat.

14 Aswandi Bahar, Dasar-Dasar Pendidikan, Depdikbud Diti Proyek Pengembangan LP dan Tenaga Pendidikan, Jakarta, 1988, 15.

15 Yakop Papu, Pendidikan Hidup Beriman Dalam Lingkup Sekolah, Nusa Indah, Flores, 1990, 13-14.

16 Komdik KWI, Sekolah Katolik, Komdik KWI, Jakarta, 2008, 13.

10 membangkitkan dinamisme spiritual setiap pribadi dan membantunya mencapai kebebasan moral yang melengkapi kebebasan psikologis.17