• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Awam dalam Pendidikan Katolik

PENDIDIKAN BAGI KAUM MISKIN DAN TERSINGKIR MELALUI CURA PERSONALIS DALAM GEREJA

2.3 Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Pendidikan Gereja Katolik

2.3.3 Peran Awam dalam Pendidikan Katolik

Peran dan keterlibatan awam dalam hidup menggereja pada masa sekarang ini mendapat perhatian yang serius bagi Gereja. Awam sesuai dengan ciri khas hidupnya di tengah masyarakat dipanggil oleh Allah untuk mewartakan Injil dengan menunaikan kerasulan mereka di dunia. Gereja mengajak kaum awam, masing-masing menurut bakat-pembawaan dan pendidikan pengetahuannya untuk menjalankan peran mereka dalam menggali dan membela asas-asas Kristiani, serta dengan cermat menerapkan dalam konteks zaman sekarang (bdk. AA art. 6). Dalam kaitannya dengan karya pendidikan, Gereja mengakui peranan dan tanggung jawab

61 pada saat ini diserahkan kepada awam Katolik yang berkarya di sekolah dasar dan menengah dari segala jenis, baik sebagai guru, kepala sekolah, administrator maupun staf pembantu.77

Awam yang berkarya di sekolah dipanggil sebagai pewarta Injil. Awam dipanggil secara khusus untuk mengusahakan agar Gereja hadir dan berkarya di tempat dan situasi ketika hanya melalui mereka Gereja dapat menjadi garam dunia (LCS art.9).78 Melalui kesaksian dan tutur kata, serta perbuatan merekalah kehadiran Gereja dan karya keselamatan Allah diwartakan. Konsili Vatikan II memberi perhatian khusus kepada panggilan menjadi pendidik. Setiap orang yang membantu pembentukan manusia yang utuh adalah seorang pendidik; tetapi guru menjadikan usaha membentuk manusia secara utuh sebagai profesi mereka. Tugas guru sebagai pendidik lebih dari sekedar memindah pengetahuan yakni membantu pembentukan pribadi-pribadi manusia untuk menemukan kebenaran.

Dokumen ‘Awam Katolik di Sekolah sebagai Saksi-Saksi Iman’ menyebutkan sekolah merupakan lembaga yang sangat penting yang dikembangkan masyarakat untuk menanggapi hak setiap orang atas pendidikan dan sebagai tempat dalam memenuhi perkembangan pribadi. Sekolah menjadi salah satu unsur dalam pembentukan struktur dan kehidupan masyarakat oleh karenanya peran awam khususnya para tenaga pendidik di sekolah menjadi begitu penting bagi pendampingan anak. Hal ini hendak mengatakan bahwa para pendidik hendaknya

77 Kongregasi Suci untuk Pendidikan Katolik, Awam Katolik di Sekolah Saksi-Saksi Iman, Komdik KWI, Jakarta, 2008, 7.

78 The Sacred Congregation for Catholic Education, Awam Katolik di Sekolah Sebagai Saksi Iman, diterjemahkan dari Lay Catholics in Schools: Witnesses to Faith, oleh F. Darmanto, Grasindo, Jakarta, 1991, 47.

62 memiliki kecakapan tentang suatu pengetahuan kebenaran terutama kebenaran tentang arti hidup. Kecakapan tersebut nantinya akan membantu anak didik menjadi pribadi-pribadi yang mantap dan bertanggung jawab dan semakin membuka diri pada kenyataan yang sesungguhnya.

Setiap pendidik Katolik memiliki tanggung jawab dalam pembangunan sosial secara terus menerus, yakni membentuk pria dan wanita agar siap mengambil tempat di masyarakat demi perbaikan struktur masyarakat semakin sesuai dengan prinsip-prinsip Injil, yakni keadilan dan peradaban cinta kasih. Untuk mewujudkannya, sekolah menggunakan sarana-sarana untuk membentuk pribadi yang utuh yakni melalui komunikasi kebudayaan. Para pendidik Katolik perlu untuk merenungkan hubungan antara kebudayaan dan Gereja. Gereja bukan saja mempengaruhi kebudayaan tetapi juga sebaliknya Gereja dipengaruhi pula oleh kebudayaan. Konsep pemahaman ini sangat penting sebab Gereja menerima segala sesuatu dalam kebudayaan yang dapat dipersatukan dengan Wahyu dan yang perlu untuk mewartakan pewartaan Kristus serta mengungkapkannya dengan lebih tepat sesuai dengan ciri khas kebudayaan tiap bangsa dan zaman (LCS art. 20).79

Komunikasi kebudayaan menjadi kegiatan pendidikan yang sejati sebab di dalamnya terkandung kemampuan pendidik untuk bersifat kritis dan evaluatif. Iman membantu mereka untuk melihat sejarah manusia sebagai sejarah keselamatan yang mencapai puncak dalam kepenuhan Kerajaan Allah. Dalam komunikasi kebudayaan para pendidik awam sesuai dengan ciri keduniawiannya (hidup di

79 The Sacred Congregation for Catholic Education, Awam Katolik di Sekolah Sebagai Saksi Iman, 52.

63 tengah dunia) pada akhirnya akan dapat membantu para siswa memahami dari sudut pandang mereka ciri keseluruhan yang sebenarnya dari kebudayaan, yakni sintese yang memadukan segi duniawi dan religius kebudayaan, dan sumbangan pribadi dari status mereka sebagai awam yang dapat diharapkan untuk membentuk kebudayaan. 80

Dalam komunikasi kebudayaan hal pokok yang diperlu diperhatikan adalah bahwa sintese iman, kebudayaan dan hidup telah lebih dulu dihidupi dan diyakini oleh para pendidik. Proses selanjutnya adalah bagaimana pendidik memiliki hubungan yang baik secara pribadi dengan siswa. Melalui hubungan yang baik tersebut, proses dialog terjadi antara pendidik dan siswa yang akhirnya akan saling memperkaya mereka satu sama lain. Hal yang sangat penting untuk diingat dalam proses dialog ini adalah bahwa perutusan pendidik adalah sebagai kawan dan pembimbing yang membantu siswa untuk mengatasi keraguan dan menemukan arah hidupnya. Proses dialog ini bermanfaat pula bagi pendidik untuk semakin peka dan tahu akan kebutuhan para siswa sehingga pendidik dapat mendampingi dan membimbing mereka secara memadai.

80 Bdk. The Sacred Congregation for Catholic Education, Awam Katolik di Sekolah Sebagai Saksi Iman, 53.

64 2.3.4 Peran Orang Tua dalam Pendidikan Katolik

Karena orang tua telah menyalurkan kehidupan kepada anak-anak, terikat kewajiban amat berat untuk mendidik anak mereka. Maka orang tualah yang harus diakui sebagai pendidik mereka yang pertama dan utama. Begitu pentinglah tugas mendidik itu, sehingga bila diabaikan, sangat sukar pula dapat dilengkapi. Sebab merupakan kewajiban orang tua: menciptakan lingkungan keluarga, yang diliputi semangat bakti kepada Allah dan kasih sayang terhadap sesama sedemikian rupa, sehingga menunjang keutuhan pendidikan pribadi dan sosial anak-anak mereka.

Maka keluarga itulah lingkungan pendidikan pertama keutamaan-keutamaan sosial, yang dibutuhkan oleh setiap masyarakat. Adapun terutama dalam keluarga Kristen, yang diperkaya dengan rahmat serta kewajiban Sakramen Perkawinan, anak-anak sudah sejak dini harus diajar mengenal Allah serta berbakti kepada-Nya dan mengasihi sesama, seturut iman yang telah mereka terima dalam Baptis. Di situlah anak-anak menemukan pengalaman pertama masyarakat manusia yang sehat serta Gereja. Melalui keluarga, mereka lambat-laun diajak berintegrasi dalam masyarakat manusia dan umat Allah. Maka hendaklah para orang tua menyadari, betapa pentinglah keluarga yang sungguh Kristen untuk kehidupan dan kemajuan umat Allah sendiri.

Tugas menyelenggarakan pendidikan, yang pertama-tama menjadi tanggung jawab keluarga, memerlukan bantuan seluruh masyarakat. Oleh sebab itu, disamping hak-hak orang tua serta mereka, yang oleh orang tua diserahi peran serta tugas dalam mendidik, masyarakatpun mempunyai kewajiban-kewajiban dan

hak-65 hak tertentu, sejauh merupakan tugas wewenangnya untuk mengatur segala-sesuatu yang diperlukan bagi kesejahteraan umum di dunia ini. Termasuk tugasnya: dengan pelbagai cara memajukan pendidikan generasi muda; misalnya: melindungi kewajiban maupun hak-hak para orangtua serta pihak-pihak lain, yang memainkan peranan dalam pendidikan, dan membantu mereka: sesuai dengan prinsip subsidiaritas melengkapi karya pendidikan, bila usaha-usaha para orang tua dan kelompok-kelompok lain tidak memadai, tetapi dengan mengindahkan keinginan-keinginan para orang tua; kecuali itu, sejauh dibutuhkan bagi kesejahteraan umum, mendirikan sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan (bdk. GE 3)