DAFTAR SINGKATAN
B. Istilah-istilah Umum
1.1 Latar Belakang
1.1.5 Guru Sebagai Pengasuh Peserta Didik
Sekolah merupakan tempat atau institusi di mana terjadinya sebuah interaksi belajar dan mengajar antara peserta didik dan pendidik. Sekolah juga menjadi tempat pertukaran ilmu dan transformasi dalam proses pembentukan pribadi manusia. Proses interaksi belajar dan mengajar inilah yang dimaknai sebagai pendidikan. Pendidikan merupakan proses interaksi manusiawi yang ditandai oleh keseimbangan kedaulatan subyek didik dengan kewibaan pendidik, inilah sebenarnya hakikat dari pendidikan. Ki Hadjar Dewantara berpendapat bahwa hakikat pendidikan ialah proses penanggulangan masalah-masalah serta penemuan dan peningkatan kualitas hidup pribadi serta masyarakat yang berlangsung seumur
31 Surat Yayasan Bernardus kepada Menteri P.D. dan K, melalui Perwakilan Departemen P.D dan K Jawa Tengah, No. 29/syt/jb/66, perihal perubahan Sekolah Yu Te menjadi Sekolah Theresiana.
19 hidup. Tugas guru/pendidik lebih bersifat pengasuh yang mendorong, membimbing, memberi teladan, menuntun serta menyediakan dan mengatur kondisi untuk pembelajaran peserta didik sehingga dapat menghasilkan peserta didik yang mampu memperbarui diri terus menerus dan aktif menghadapai lingkungan hidupnya. Dengan kata lain peserta didik mampu meningkatkan kualitas hidup pribadi dan masyarakat sepanjang hayat.32
Guru sebagai salah satu aktor utama dalam lembaga pendidikan di sekolah menjadi faktor penentu terciptanya kualitas hidup peserta didik. Kualitas pribadi guru mempunyai peran dan andil penting dalam keberhasilan transformasi pendidikan. Kualitas pribadi guru dipengaruhi oleh kepribadian dan karakternya.
Sementara kepribadian dan karakter seseorang dibentuk dari dimensi spiritual pribadinya. Dari sini dapat dikatakan bahwa dimensi spiritual mempunyai pengaruh yang kuat dalam pembentukan karakter dan kualitas pribadi guru/pendidik.
Kualitas pribadi seorang guru ditunjukkan melalui sikap pendampinganya terhadap peserta didik yang diampunya. Model pendampingan cura personalis kerap dianggap cukup berhasil dalam proses pendidikan. Ungkapan cura personalis berasal dari bahasa Latin yang memiliki arti: cura 'reksa, pemiaraan, perhatian, pendampingan dan personalis (bersifat, secara) pribadi, perorangan, atau keseluruhan, keutuhan pribadinya. Dengan kata lain cura personalis dimaknai sebagai reksa atau tugas pendampingan secara pribadi.
32 Zahara Idris – Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan 1, Grasindo, Jakarta, 1992, 1.
20 1.1.6 Cura Personalis dalam Sekolah-Sekolah Theresiana
Sekolah-Sekolah Theresiana Yayasan Bernardus lahir dari keprihatinan Pastor Beekman SJ akan masalah pendidikan bagi kaum minoritas (etnis Tionghoa) yang berada di daerah Pecinan Semarang. Dalam karya selanjutnya Pastor Chang Peng Tu sebagai pelaksana karya pendidikan di Sekolah-Sekolah Theresiana sangat berandil besar bagi perkembangan Sekolah-Sekolah Theresiana terlebih usahanya dalam mengembangkan unit sekolah-sekolah Theresiana di luar kota Semarang dan ditujukkan bagi masyarakat pribumi. Pada perkembangan berikutnya Sekolah-Sekolah Theresiana mulai menggali semangat dasar karya pelayanan pendidikannya. Santa Theresia sebagai pelindung sekolah menjadi salah satu dasar dalam menggali semangat tersebut. Santa Theresia secara khusus memang tidak berbicara tentang dunia pendidikan. Ia adalah pribadi yang kotemplatif, seorang suster yang hidup hariannya dipenuhi dengan doa. Namun, secara khusus perhatian doanya diintensikan bagi para missionaris yang menjalankan tugas perutusan pewartaan karya keselamatan jiwa-jiwa. Semangat Santa Theresia, “memuliakan Tuhan dalam segala-galanya demi keselamatan jiwa-jiwa” menjadi semangat yang dihidupi oleh Pastor Simon Beekman SJ, missionaris Yesuit yang mendirikan tonggak bagi sekolah-sekolah Theresiana. Dari sinilah semangat tersebut kemudian dirumuskan oleh penyelenggara karya pendidikan Sekolah-Sekolah Theresiana selanjutnya seturut dengan cita-cita dan keprihatinan awal pendiri sekolah. Nama Theresiana tidak lain diadopsi dari nama Santa Theresia, pelindung misi Gereja,
21 yang secara khusus menjadi dihidupi dan menjiwai semangat karya missionaris Pastor Simon Beekman, SJ dan Pastor Chang Peng Tu, Pr.
Pastor Ag. Tri Hartono, Pr sebagai Direktur Yayasan Bernardus Sekolah-Sekolah Theresiana periode tahun 2000 – 2012 menterjemahkan spiritualitas Santa Theresia yang menekankan kasih kepada Allah dengan memuliakan Tuhan dalam segala-galanya demi keselamatan jiwa-jiwa ke dalam semboyan 3N (Nresnani, Ngopeni, Nggemateni). Semboyan 3N ini menjadi semangat bagi pendidik dan seluruh elemen di sekolah Theresiana. Bagi Pastor Ag. Tri Hartono Pr, guru bukan hanya sebagai pengajar di kelas, tetapi juga sebagai pendidik. Lebih daripada itu panggilan guru juga sebagai gembala yakni perlu mengenal domba-domba (anak didik) secara pribadi. St. Theresia sebagai pelindung Sekolah Thersiana mengajarkan agar melakukan tugas apapun dengan penuh cinta kasih atau dengan semangat 3N (Nresnani, Ngopeni, Nggemateni).33 Semboyan 3N tersebut diambil dari kata-kata mutiara berbahasa Jawa yang memiliki maknanya sendiri-sendiri.
Nresnani mempunyai padanan kata dengan mencintai dengan sepenuh hati.
Mencintai sepenuh hati merupakan golden rule, sabda abadi dari Tuhan sendiri
“cintailah sesama seperti mencintai dirimu sendiri”. Ngopeni mempunyai makna memungut, memperhatikan, mengambil dengan penuh kasih karena peserta didik Sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Bernardus pada umumnya datang dari masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah. Nggemateni agak sulit menemukan padanan kata dalam bahasa Indonesia. Gambaran ilustrasi makna kata nggemateni adalah gambaran sosok seorang ibu yang penuh perhatian dalam merawat
33 Surat Pemberitahuan kepada Kepala-Kepala Sekolah Theresiana, No. 029/A.II/DYB/E.I/VIII/04.
22 anaknya. Pendidikan yang berada dalam rengkuhan sosok ibu yang penuh belas kasih dipastikan akan membantu pertumbuhan dan perkembangan seluruh aspek kepribadian peserta didik dengan harapan kemudian hari mampu hidup mandiri sebagai orang dewasa.34
Semangat 3N inilah yang terus mengobarkan Sekolah-sekolah Theresiana untuk selalu gigih membela orang yang menderita karena kelemahannya yang sejalan dengan gerak Gereja Keuskupan Agung Semarang.35 Semboyan 3N menjadi landasan semangat yang sedang diupayakan di Theresiana. Jika semua dan setiap warga Theresiana memiliki semangat 3N, tentulah Theresiana akan tumbuh dan berkembang sesuai harapan Gereja, masyarakat dan Negara.36 Semboyan 3N inilah yang menjadi daya dorong serta menyemangati para pendidik dalam memberikan pelayanannya bagi para peserta didik. Para pendidik sebagai tokoh sentral dalam menentukan mutu pendidikan di Sekolah-Sekolah Theresiana sudah semestinya menghidupi semangat tersebut.
34 Tri Hartono, “Menjawab Tantangan Global Integrasi Ilmu dan Iman”, Educare No.2 VIII (Mei 2011) 5.
35 Panitia 60 Tahun Sekolah-Sekolah Theresiana, Buku kenangan 60 tahun Sekolah – Sekolah Theresiana, Semarang, 2010, 21.
36 Panitia 60 Tahun Sekolah-Sekolah Theresiana, Buku kenangan 60 tahun Sekolah – Sekolah Theresiana, 7
23 1.2 Pokok Permasalahan
Sekolah Katolik Theresiana sebagai tanda kehadiran Gereja di tengah masyarakat dipanggil untuk mewartakan karya keselamatan Allah bagi yang miskin dan tersingkir. Ketersingkiran dimaknai dengan keadaaan yang serba terasing, dipinggirkan, diabaikan dan kurang mendapat perhatian. Dalam konteks pendidikan sering ditemui problematika peserta didik yang mengalami situasi psikologis akibat dikotomi kaya-miskin, keluarga utuh-berpisah. Akibatnya anak menjadi pribadi yang tidak utuh, merasa minder dan pada akhirnya memilih menjauh, terasing dengan lingkungannya. Berhadapan dengan fenomena peserta didik dan tantangan pendidikan bagi generasi muda ke depan, penulis melihat lebih seksama dan mengkajinya melalui penelitian. Penelitian ini menekankan pokok permasalahan dengan dibantu pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: Apakah Sekolah-Sekolah Theresiana sebagai bagian dari Lembaga Pendidikan Katolik masih mengupayakan opsinya kepada orang-orang miskin dan tersingkir dalam karya pelayanan pendidikan? Tantangan pendampingan pendidikan bagi kaum muda dewasa ini memang kompleks terkait dengan kondisi sosial-ekonomi dan situasi keluarga yang dihidupi. Lalu, bagaimana usaha keberpihakkan kepada yang miskin dan tersingkir diwujudkan melalui pendampingan peserta didik dalam semangat cura personalis 3N (nresnani, ngopeni, nggemateni)?
24 1.3 Tujuan Penelitian
Penulis memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini.
Pertama, penulis ingin mengetahui pengetahuan, pemahaman, penghayatan opsi keberpihakkan Sekolah-Sekolah Theresiana bagi mereka yang miskin dan tersingkir terwujud dalam tindakan nresnani, ngopeni dan nggemateni terhadap peserta didik dalam proses belajar mengajar. Dari hasil pengamatan dan penelitian ini, diharapkan mampu menjelaskan bagaimana opsi pelayanan pendidikan di Sekolah-Sekolah Theresiana bagi para peserta didiknya khususnya mereka yang miskin dan tersingkir.
Kedua, penelitian ini dimaksudkan pula sebagai syarat untuk meraih gelar Magister Teologi dalam Program Pascasarjana dari Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.