• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penggembalaan Pastor Simon Beekman, SJ

SEJARAH PERKEMBANGAN DAN CURA PERSONALIS 3N (NRESNANI, NGOPENI, NGGEMATENI)

3.2.1.1 Penggembalaan Pastor Simon Beekman, SJ

Pastor Simon Beekman, SJ sebagai pendiri Sekolah-Sekolah Theresiana adalah seorang misionaris Serikat Yesus, lahir pada tanggal 12 Maret 1893 di Limmen, Belanda. Ia bergabung dengan Serikat Jesuit pada bulan September 1912, dan ditahbiskan sebagai imam pada 10 Agustus 1922 di Maastrict. Pastor Simon Beekman, SJ mendapat tugas perutusan dari Pastor A. van Kalken, SJ, Superior Misi Jesuit, untuk mengembangkan misi di Indonesia, secara khusus di Vikariat

81 Apostolik Semarang. Pada tanggal 16 Januari 1925, Pastor Simon Beekman, SJ tiba di Semarang dan bertempat tinggal di Gereja Santo Yusup Gedangan.93

Wilayah karya pelayanan pastoral Pastor Simon Beekman, SJ salah satunya adalah Kebon Dalem yang merupakan kompleks Pecinan di Semarang. Pastor muda ini merasa tertarik kepada orang-orang keturunan Tionghoa yang umumnya berasal dari imigran-imigran Provinsi Fukien. Pastor Simon Beekman, SJ memulai karya misinya di Kebon Dalem dengan tidak mudah. Untuk dapat mendekati masyarakat ini, Pastor Simon Beekman, SJ melakukan karya sosial yaitu sekolah dan panti asuhan. Pada tahun 1931, Pastor Simon Beekman, SJ membuka kursus dagang bagi anak-anak laki-laki dan kursus menyulam dan menjahit bagi anak-anak perempuan di Gang Warung no. 33 tepat di tengah-tengah perkampungan Tionghoa. Kursus-kursus tersebut diperuntukkan bagi anak-anak yang tidak mampu dan tanpa dipungut biaya. Pendampingan kursus-kursus tersebut kemudian dipercayakan kepada Suster-Suster Fransiskan (OSF) yang lebih berpengalaman. Pastor Simon Beekman, SJ kemudian mendirikan Sekolah Taman Kanak-Kanak dengan nama Saint Mary’s Hall pada tahun 1932 yang menjadi cikal Sekolah Kebon Dalem.94

Pada tahun 1947, Pastor Beekman, SJ merayakan pesta perak imamatnya, 22 Agustus 1947. Saat itu timbullah gagasan untuk memperluas karya misi. Masih ada satu golongan Tionghoa yang belum diikutsertakan. Mereka adalah golongan

93 Panitia Perayaan Pesta Imamat 50 tahun dan Pesta Jesuit 60 Tahun Pastor S. Beekman SJ, 50 Tahun Imamat Pastor Beekman, SJ 1922 – 1972, Semarang, 1972, 3. Bdk. Buku Sejarah Gereja St. Yusup Gedangan, 2000, 30, tertulis 19 Januari 1925; dan In Memoriam Pastor Simon Beekman SJ, 21 Januari 1974, tertulis 10 Januari 1925.

94 Penulis melihat bahwa keprihatinan pendidikan dan pendampingan bagi kaum muda pada tahun-tahun itu menjadi perhatian serius Gereja terkait dengan dikeluarkannya ensiklik Divini Illius Magistri oleh Paus Pius XI pada tahun 1929.

82 pendatang baru dari Tiongkok yang masih mempergunakan bahasa Tionghoa.

Gagasan ini lahir di saat Pastor Beekman membaca riwayat hidup Santa Theresia.

Beliau yakin bahwa Santa Theresia-lah yang mendorong gagasan ini. Maka, bila Santo Fransiskus Xaverius menjadi pelindung karya misi bagian pertama, Santa Theresialah pelindung kaya misi bagian kedua. Pada tahun 1950, ada satu persoalan dalam bidang pendidikan yang kurang mendapat perhatian yaitu bidang pendidikan anak-anak dari keluarga Katolik keturunan atau warga negara asing yang di Semarang jumlahnya banyak. Pada tanggal 2 Mei 1950, Pastor Beekman mendirikan sekolah yang diberi nama Taman Kanak-Kanak Yu Te artinya tunas muda.95

Pastor Beekman, SJ lalu mempelajari bahasa Tionghoa dengan tekun. Tetapi akhirnya gagal. Suatu saat dicobanya berkhotbah dalam bahasa Tionghoa dan ternyata tak seorang pun tahu apa yang diucapkannya. Maka, beliau menulis surat permohonan kepada beberapa uskup agar dapat dikirim imam muda yang berpendidikan Tionghoa dan hasilnya dua imam muda dari Hong Kong diutus ke kota Semarang yaitu Pastor Rochus Chang Peng Tu, Pr dan Pastor Joseph Ting Shu Jen, Pr.96 Pada tanggal 25 Maret 1952, tibalah di Semarang dua orang misionaris tersebut. Sekolah Yu Te kemudian diserahkan kepada mereka untuk diperkembangkan. Pastor Chang yang kemudian memperkembangkan misinya, sementara Pastor Ting mendapat tugas baru di Singapura. Kebon Dalem ternyata terlalu sempit untuk karya misi di antara Tionghoa pendatang baru ini. Lahan untuk

95 Panitia Peringatan 25 Tahun Sekolah Theresiana, Buku Peringatan 25 Tahun Sekolah Theresiana Yayasan Bernardus (2 Mei 1950 – 2 Mei 1975), Semarang 1975, 18.

96 Panitia 40 Tahun Imamat Rochus Chang Peng Tu, 40 Tahun Imamat Rochus Chang Peng Tu, Pr, Semarang, 1992, 8.

83 perluasan sekolah didapatkan, namun akhirnya tanah seluas 2000 m2 yang diperoleh Pastor Beekman tersebut harus direlakan untuk pembangunan kolese atas permintaan dan demi ketaatan kepada pembesar Yesuit.

Pastor Beekman kemudian ditawari sebidang tanah oleh Bruder-Bruder FIC di daerah Kampung Kali, tetapi tanah ini penuh dengan penghuni liar karena tidak berpagar. Kira-kira 75 keluarga menghuni daerah ini dan mereka minta uang saku yang tidak kecil untuk mengosongkan tanah tersebut. Kembali Pastor Beekman berkeliling ke mana-mana, rumah demi rumah, dengan harapan yang teguh bahwa Santa Theresia akan membantu. Benar saja, 2-4 tahun kemudian semua penghuni liar sudah pindah, tanpa pesangon yang berarti. Dalam pembangunan Sekolah Theresiana, patut dikenang jasa Mgr. Soegijapranata dan Mgr. Van Melckebeke, uskup dan semua imam-imam Tionghoa yang bekerja di luar Tiongkok. Mgr. Van Melckebeke memberikan bantuan sebesar fl. 1.300, jumlah yang tidak kecil.

Dengan demikian, pembangunan sekolah untuk anak-anak berbahasa Tionghoa dapat dimulai dan selanjutnya diperluas bagian demi bagian. Di tengah-tengah kompleks ini, didirikanlah gereja berbahasa Tionghoa yang pertama.97

97 Panitia Perayaan Pesta Imamat 50 tahun dan Pesta Jesuit 60 Tahun Pastor S. Beekman SJ, 50 Tahun Imamat Pastor Beekman, SJ 1922 – 1972, 11.

84 3.2.1.2 Masa Penggembalaan Pastor Rochus Chang Peng Tu, Pr

Pastor Robertus Chang Peng Tu, Pr memimpin yayasan ini selama lebih dari 40 tahun hingga wafatnya pada 27 April 1996. Zaman telah berubah, seirama perubahan zaman Pastor Chang juga menyesuaikan karya misinya. Beliau tidak lagi hanya memfokuskan pada kelompok etnis tertentu seperti karya pendahulunya, tetapi mengembangkan pada mereka yang berkehendak baik di mana pun mereka berada.98

Perkembangan Sekolah-Sekolah Theresiana di masa penggembalaan Pastor Chang sebagian besar dipengaruhi oleh pergolakan politik di Indonesia. Pada mulanya pemerintah Indonesia tidak begitu peduli terhadap pendidikan orang Tionghoa. Tidak ada pengawasan terhadap sekolah-sekolah Cina. Namun, dengan konsolidasi kekuasaan politiknya, pemerintah mulai mengalihkan perhatiannya terhadap sekolah-sekolah Cina yang terdiri dari sekolah pro-Beijing dan sekolah pro-Taipe yang jumlahnya sekitar 2000 di seluruh Indonesia.99 Pada tahun 1957, pemerintah mengeluarkan peraturan tertanggal 6 November 1957 bahwa warga negara Indonesia keturunan asing tidak diizinkan bersekolah di sekolah asing, yaitu sekolah yang menggunakan bahasa Cina sebagai pengantar. Banyak orang Tionghoa yang berkewarganegaraan Indonesia belajar di sekolah-sekolah yang

98 Panitia 40 Tahun Imamat Rochus Chang Peng Tu, 40 Tahun Imamat Rochus Chang Peng Tu, Pr, 23.

99 Departemen PP & K, Pengawasan Pengadjaran Asing, 38.

85 menggunakan bahasa Cina. Akibat peraturan ini, kira-kira 1.100 sekolah berbahasa Cina diubah menjadi sekolah Indonesia.100

Peraturan Pemerintah tersebut berimbas pula pada Sekolah-Sekolah Yu Te yang notebene bukan sekolah dengan aliran politik tertentu namun dalam praksis pendidikannya menggunakan bahasa asing (bahasa Cina). Bagi Sekolah Yu Te, hal itu berarti bahwa sekolah tidak dapat menerima WNI meskipun dia keturunan Tionghoa. Sekolah Yu Te hanya boleh menerima WNA (Tiongkok). Oleh karenanya pada bulan Januari 1958, Yayasan Bernardus mendirikan TK – SD – SMP Nasional sesuai dengan peraturan Pemerintah yang mengharuskan anak-anak warga negara Indonesia disalurkan ke sekolah Nasional101 yakni Sekolah Nasional Theresiana. Pada tahun yang sama tepatnya 14 November 1958, Mgr. A.

Soegijapranata SJ sebagai Vikaris Apostolik Semarang menuliskan surat No.

816/B/VIII/58 yang ditujukan kepada Ketua Yayasan Bernardus yang intinya meminta agar Yayasan Bernardus meneruskan Sekolah Yu Te. Surat tersebut sebagai bentuk antisipasi dari kesukaran-kesukaran yang akan dihadapi oleh Sekolah Yu Te akibat adanya pergolakan politik di Indonesia. Dengan demikian ada dua sekolah yakni Sekolah Nasional Theresiana dan Sekolah Yu Te yang berada di bawah payung Yayasan Bernardus. Perkembangan Sekolah Nasional Theresiana

100 Leo Suryadinata, Etnis Tionghoa dan Pembangunan Bangsa, diterjemahkan dari Chinese and nation-building in Southeast Asia, oleh Sori Siregar-Teti Filantri, Pustaka LP3ES, Jakarta, 1999, 174.

101 Panitia Peringatan 25 Tahun Sekolah Theresiana, Buku Peringatan 25 Tahun Sekolah Theresiana Yayasan Bernardus (2 Mei 1950 – 2 Mei 1975), Semarang, 1975, 20. Bdk. Akibat peraturan ini, kira-kira 1.100 sekolah berbahasa Cina diubah menjadi sekolah Indonesia. (Leo Suryadinata, Etnis Tionghoa dan Pembangunan Bangsa, Pustaka LP3ES, Jakarta, 1999, 174.)

86 begitu pesat. Pada tahun 1962 didirikan SMA Theresiana sebagai lanjutan SMP Theresiana.

Pada tahun 1963 terjadi kerusuhan yang yang bernuansa rasialis yang melibatkan warga pribumi dan warga Tionghoa seperti terjadi di Cirebon (13 Maret 1963), Bandung (10 Mei 1963), dan berlanjut ke Garut, Cianjur, Bogor, Sukabumi dan Yogyakarta (21-22 Mei 1963).102 Peristiwa-peristiwa tersebut berpengaruh pula terhadap keberadaan Sekolah Yu Te yang digolongkan sebagai Sekolah Asing Katolik yang menampung siswa Tionghoa. Status dan pengelolaan Sekolah Yu Te kembali dipertanyakan. Kepala Inspeksi Pendidikan Asing di Semarang, sebagai perwakilan Biro Pendidikan Asing Pusat melakukan penyelidikan dan meminta kejelasan status Sekolah Yu Te beserta pengelolaannya.

Mgr. J. Darmojuwono sebagai Uskup Agung Semarang kemudian mengirimkan surat jawaban kepada Kepala Biro Pendidikan Asing Pusat di Jakarta bernomer 294/B/VIII/a/10/64 tertanggal 13 Juni 1964. Surat tersebut menerangkan empat point pokok103 yakni pertama, bahwa SD Yu Te didirikan dan diselenggarakan oleh Yayasan Bernardus di bawah pengawasan langsung Keuskupan Agung Semarang.

Kedua, tentang sifat Gereja Katolik yang supranasional, tidak memandang rasa atau politik kenegaraan. Oleh karenanya SD Yu Te didirikan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak Katolik yang berwarganegara asing, dan untuk anak-anak berwarganegara asing yang bukan Katolik tetapi memilih pendidikan asing Katolik.

Ketiga, ada sekolah asing di Jakarta yang dikelola oleh wali Gereja untuk

102 Benny G. Setiono, Tionghoa dalam Pusaran Politik, Elkasa, Jakarta, 2000, 682.

103 Bdk. Ulasan Sukmawanto, Pendidikan Berbasis Nasionalitas Gerejani Sekolah Katolik Tionghoa”Yu Te” Di Keuskupan Agung Semarang (1950-1966), Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 61-68.

87 memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak berkewarganegaraan asing. Atas dasar hal tersebut SD Yu Te didirikan dan diselenggarakan untuk tujuan yang serupa.

Keempat, pada tahun 1959/1960 telah terjadi pertemuan antara Mgr. A Soegijopranata SJ beberapa tokoh pejabat pemerintahan104 dan telah memperoleh pengertian dan kepemahaman dasar-dasar serta maksud wali Gereja mendirikan SD Yu Te.

Pasca meletusnya G 30 S / PKI 1965, Wilayah Daerah Tingkat I Jateng dan DIY dinyatakan dalam keadaan perang oleh Keputusan Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Republik Indonesia/Komando Operasi Tertinggi Nomor: 140/Koti/165. Pangdam VII selaku Peperda Tingkat I Jateng dan DIY melalui surat telegram no. ST-PPD/00215/4/1966 tanggal 20 April 1966 memerintahkan untuk menutup sekolah-sekolah asing Tionghoa. Pada tanggal 27 April 1966 keluarlah keputusan, bahwa sekolah-sekolah asing Tionghoa ditutup dan dijadikan sekolah nasional dan tidak dibenarkan mengadakan sekolah sendiri.

Keputusan tersebut diambil berdasarkan pertimbangan perlu mengambil tindakan lanjutan terhadap sekolah-sekolah asing Tionghoa yang telah diawasi oleh Peperda demi terpeliharanya ketenangan dan ketertiban dalam lingkungan pendidikan.105

Keputusan penutupan sekolah-sekolah asing Tionghoa ini menyebabkan banyak anak-anak Tionghoa tidak dapat melanjutkan pendidikan. Yayasan Bernardus berusaha menolong mereka dengan mendirikan SD – SMP – Theresiana

104 Para tokoh pemerintahan tersebut adalah Amongpradja selaku Kepala Biro Pendidikan Asing Pusat; Kol Dr. Sutjipto selaku wakil Penguasa Perang Pusat Jakarta; dan Slamet Danudinoto selaku Kepala Inspeksi Pendidikan Asing di Semarang.

105 Artikel sebuah koran, Sekolah-Sekolah Tionghoa Asing Dijadikan Sekolah Nasional, April 1966.

88 baru.106 Demikianlah pada tahun 1966 SD Theresiana menjadi 5 buah, terdiri dari SD Theresiana I – V. Yayasan mendirikan satu SMP baru lagi untuk mengimbangi jumlah SD yang ada. Sedang TK dan SD Yu Te yang juga bernaung di bawah Yayasan Bernardus menjadi sekolah Nasional terhitung mulai tanggal 20 Mei 1966.107 Keputusan peleburan Sekolah Yu Te menjadi Sekolah Nasional Theresiana bukanlah tanpa pertimbangan bahkan boleh dikatakan dengan penuh perjuangan.

Setiap keputusan yang hendak diambil oleh Gereja tentunya harus demi kebaikan bagi semua pihak. Segala upaya ditempuh demi memperjuangkan opsi terhadap kelompok marginal.108

Masa penggembalan Pastor Chang Peng Tu di Sekolah-Sekolah Yu Te dan Sekolah Nasional Theresiana penuh dengan masa-masa sulit namun meski demikian Sekolah-sekolah juga turut berkembang. Pada awal 1972, dengan diperolehnya gedung sekolah Theresiana yang baru di Jl. Gajah Mada 91, yayasan mendirikan satu SD di tempat ini. Tahun berikutnya satu SD lagi dan untuk menampung anak-anak kecil di sekitar gedung baru ini, yayasan mendirikan satu TK lagi. Pada tahun 1974 ditambah satu SMP Theresiana terutama untuk menampung lulusan SD yang ada. Dalam perkembangannya, Sekolah Theresiana meluaskan karyanya juga bagi masyarakat di pedesaan. Maka pada 1967 didirikan SMP Theresiana di Bandungan. Dua tahun berselang 1969 didirikan juga SMP di

106 Panitia Peringatan 25 Tahun Sekolah Theresiana, Buku Peringatan 25 Tahun Sekolah Theresiana Yayasan Bernardus (2 Mei 1950 – 2 Mei 1975), Semarang 1975, 20. Bdk. Sejak kup tahun 1965 semua anak Tionghoa, tanpa memandang kewarganegaraan mereka, diharuskan belajar sekolah-sekolah nasional Indonesia.

107 Surat Yayasan Bernardus No. 29/syt/jb/66 kepada Menteri P.D. dan K di Jakarta melalui Perwakilan Departemen P. D dan K Jawa Tengah tertanggal 19 Mei 1966.

108 Sukmawanto, Pendidikan Berbasis Nasionalitas Gerejani Sekolah Katolik Tionghoa”Yu Te”

Di Keuskupan Agung Semarang (1950-1966), Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta,61-68

89 Sumowono dan SMP Theresiana di Bedono dengan mengambil alih kepengurusan SMP desa yang sudah ada disana. Selanjutnya didirikan pula TK Theresiana Bedono untuk menunjang pendidikan di SD.109

Saat ini Yayasan Bernardus sudah mengembangkan sekolah Theresiana dari berbagai jenjang mulai dari Taman Kanak-Kanak, sampai tingkat Sekolah Menengah Umum dan Kejuruan dan tersebar di beberapa tempat di Jawa Tengah.

Berikut beberapa sekolah kejuruan yang juga dikembangkan oleh Yayasan Bernardus, Sekolah-sekolah Theresiana:

a. Sekolah Asisten Apoteker Theresiana pada tahun 1964 lengkap dengan fasilitas laboratoriumnya.

b. Sekolah analis Klinis dan STM Kimia Industri pada tahun 1973.

c. Sekolah Farming Menengah Atas di Bandungan untuk mendidik anak menjadi kader pertanian yang modern.