PENDIDIKAN BAGI KAUM MISKIN DAN TERSINGKIR MELALUI CURA PERSONALIS DALAM GEREJA
2.3 Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Pendidikan Gereja Katolik
2.3.1 Peran Sekolah Katolik dalam Pendidikan Katolik
Dalam konteks masyarakat yang majemuk, Gereja dipanggil meneruskan karya keselamatan Allah mewartakan kabar gembira tentang penebusan kepada semua orang. Gereja memandang salah satu karya pewartaan kabar gembira adalah melalui pendidikan. Gereja mendirikan sekolah-sekolah sebagai sarana istimewa untuk pembentukan manusia seutuhnya, mengingat sekolah adalah pusat pengembangan dan penyampaian konsepsi tertentu mengenai dunia, manusia, dan sejarah.
Kongregasi Suci untuk urusan Pendidikan Katolik menyadari, ada masalah-masalah serius yang merupakan bagian terpadu dari pendidikan Kristen di dalam masyarakat yang mejemuk. Oleh karena itu perhatian dipusatkan pada sifat dan ciri khas sekolah yang patut menyatakan diri Katolik sebagai tugas utama (CS art.2).72
Sekolah Katolik merupakan bagian dari tugas penyelamatan Gereja, khususnya pendidikan iman. Ciri khas pendidikan Katolik adalah menciptakan lingkungan paguyuban sekolah yang dijiwai oleh semangat kebebasan dan cinta kasih injili;
mengembangkan dan memperdalam pengetahuan yang diperoleh mengenai dunia, supaya akhirnya kehidupan dan manusia diterangi oleh iman sehingga siapapun
72 The Sacred Congregation for Catholic Education, Sekolah Katolik, 14.
57 yang terlibat dalam pendidikan itu siap menjadi ragi keselamatan bagi masyarakat.73 Mutu kekatolikan sekolah Katolik ditentukan dari hubungan konsepsi tentang hidup yang bersumber pada Yesus Kristus. Kristus menjadi dasar seluruh usaha pendidikan. Wahyu-Nya memberikan arti baru kepada hidup dan membantu manusia mengarahkan pikirannya, tingkah laku, dan kemauannya menurut Injil, dengan menjadi Sabda bahagia sebagai norma hidupnya (CS art.
34).74 Dari sini sekolah Katolik memiliki kewajiban untuk membangun manusia seutuhnya, karena di dalam Kristus, Manusia Sempurna, semua nilai manusia dipenuhi dan disatukan.
Pada dasarnya tujuan sekolah merupakan sintese dari kebudayaan dan iman serta sintese dari iman dan hidup yang terintergrasi satu sama lain. Sintesa kebudayaan dan iman tersebut dapat dicapai dengan mengintegrasikan semua aspek yang berbeda-beda dari pengetahuan manusia melalui mata pelajaran dengan cahaya Injil. Sintese iman dan hidup di capai dengan menumbuhkan keutamaan-keutamaan yang khas Kristen. Peran guru menjadi penting dalam membimbing murid, memperdalam imannya dan memperkaya serta menerangi pengetahuan manusia yang diajarkan dengan bahan-bahan iman sehingga murid menemukan kesadaran dan menuju kebenaran yang seutuhnya. Integrasi antara iman dan hidup dijembatani oleh integrasi lainnya yakni integrasi antara iman dan hidup dalam pribadi guru. Kemuliaan tugas yang merupakan panggilan para guru menuntut agar mereka dengan meneladan Kristus, satu-satunya Guru, mengungkapkan pewartaan
73 KWI, Lembaga Pendidikan Katolik: Media Pewartaan Kabar Gembira, Unggul dan Lebih Berpihak Kepada Yang Miskin, Nota Pastoral tentang Pendidikan, Sekretariat Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia, Jakarta, 2008, 3. Bdk. GE art. 8.
74 The Sacred Congregation for Catholic Education, Sekolah Katolik, 23.
58 Kristus tidak hanya dengan kata-kata, melainkan ditampakkan dalam tingkah laku (CS art. 43).75
Dalam sekolah Katolik, segala sesuatu yang terjadi harus mengarah pada perjumpaan dengan Kristus yang hidup. Sekolah Katolik menjadi tempat untuk menjaga karya keselamatan Allah dalam sejarah hidup manusia. Dengan kata lain, sekolah Katolik menjadi tepat kesaksian dan penerimaan, di mana iman dan pendampingan spiritual dapat diberikan kepada kaum muda agar mereka mampu membuka pintu hati bagi sesama dan menjunjung martabat manusia. Sekolah Katolik sebagai sarana pendidikan pada akhirnya menjadi sarana pula bagi evangelisasi. Yesus Sang Guru dan Teladan telah lebih dulu menunjukkan perhatiannya bagi kaum miskin, tersingkir dan orang-orang berdosa yang kehilangan harapan dengan perutusan mewartakan karya keselamatan Kerajaan Allah. Sekolah Katolik sebagai bagian dari Gereja dipanggil pula untuk menjadi saksi dan meneruskan karya perutusan Yesus dalam konteks zaman ini melalui pendampingan bagi kaum muda khususnya mereka yang miskin dan membutuhkan perhatian khusus. Sekolah Katolik melalui kehadirannya dipanggil untuk memberikan pelayanan dengan kerendahan hati dan cinta kasih kepada Gereja dengan menjamin bahwa kehadiran Gereja dalam bidang pengajaran adalah bermanfaat bagi keluarga umat manusia (CS art. 62).76
75 The Sacred Congregation for Catholic Education, Sekolah Katolik, 25.
76 The Sacred Congregation for Catholic Education, Sekolah Katolik 31.
59 2.3.2 Peran Kaum Tertahbis dalam Pendidikan Katolik
Para kaum religius, imam-biarawan-biarawati juga terlibat di dalam dunia pendidikan. Dengan kehidupan mereka mereka mengkonfirmasi bahwa iman menerangi seluruh bidang pendidikan dengan meningkatkan dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan. Sekolah Katolik khususnya memiliki prioritas melanjutkan apa yang dipelajari di sekolah sebuah pandangan Kristen tentang dunia, kehidupan, budaya dan sejarah" (CPTS art. 38). Melalui studi dan penelitian seseorang berkontribusi untuk menyempurnakan dirinya dan kemanusiaannya. Studi menjadi jalan bagi pertemuan pribadi dengan kebenaran, "tempat" perjumpaan dengan Allah sendiri. Dengan cara ini, pengetahuan dapat membantu untuk memotivasi keberadaan dan memulai pencarian Tuhan. Hal tersebut dapat menjadi pengalaman kebebasan bagi kebenaran, menempatkan dirinya dalam pelayanan, pematangan dan kemajuan kemanusiaan. Seperti tuntutan komitmen dari orang yang dikhususkan (disucikan) tentang kualitas analisis pendidikan mereka, dan perhatian yang secara terus menerus bagi pembentukan budaya dan profesionalitas mereka (CPTS art. 39).
Misi pendidikan dilakukan dalam semangat kerjasama antara berbagai mata pelajaran - siswa, orang tua, guru, tenaga non-mengajar dan manajemen sekolah - yang membentuk komunitas pendidikan. Hal ini dapat menciptakan lingkungan untuk hidup di mana nilai-nilai yang dimediasi oleh hubungan interpersonal otentik antara berbagai anggota yang terdiri. Tujuan tertinggi adalah pendidikan yang lengkap dan komprehensif dari orang tersebut. Dalam hal ini, orang dikhususkan
60 dapat menawarkan kontribusi yang menentukan, dalam terang pengalaman mereka persekutuan yang mencirikan kehidupan komunitas mereka. Bahkan, dengan melakukan sendiri untuk hidup dan berkomunikasi spiritualitas persekutuan dalam komunitas sekolah, melalui dialog yang konstruktif dan mampu menyelaraskan perbedaan, mereka membangun lingkungan yang berakar pada nilai-nilai Injili kebenaran dan cinta. Orang dikhususkan ibarat ragi yang mampu menciptakan hubungan persekutuan semakin mendalam di dalam lingkungan pendidikan.
Mereka mempromosikan solidaritas, peningkatan bersama dan tanggung jawab bersama dalam rencana pendidikan, dan mereka memberikan kesaksian Kristen secara eksplisit, melalui komunikasi dari pengalaman Allah dan berbagi kesadaran sebagai instrumen Allah dalam pelayanan kepada semua orang (bdk. CPTS art. 41).