DAFTAR SINGKATAN
B. Istilah-istilah Umum
1.1 Latar Belakang
1.1.3 Perhatian Gereja tentang Masalah Pendidikan
didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (UU tentang Guru dan Dosen No. 14: 2005 pasal 1 ayat satu).
Profesionalitas seorang guru juga terlihat dalam komitmen guru terhadap lembaga pendidikan yang diabdi. Komitmen organisasi adalah ikatan emosional seseorang, identifikasi, dan keterlibatan dengan organisasi tertentu.20 Komitmen seorang guru dalam konteks terhadap lembaga pendidikan berarti pula ada keterikatan, identifikasi, dan keterlibatan emosional guru terhadap visi dan misi pendidikan dan secara khusus terhadap visi dan misi sekolah dimana guru tersebut mengajar. Komitmen tersebut ditandai dengan kepercayaan, kesetiaan, dan penerimaan yang kuat atas tujuan dan nilai-nilai yang dikembangkan di sekolah tersebut.21
1.1.3 Perhatian Gereja tentang Masalah Pendidikan
Masalah dunia pendidikan juga menjadi kegelisahan bagi Gereja. Paus Pius XI dalam Ensikliknya Divini Illius Magistri (Pendidikan Kaum Muda) tahun 1929 melihat bahwa betapa pentingnya pendidikan terutama bagi kaum muda menghadapi perkembangan zaman. Hakikat pendidikan membentuk manusia dan membawanya kepada tindakan atau perilaku hidup untuk mencapai sesuatu yang luhur dan mulia sebagaimana tujuan manusia diciptakan. Aneka kemewahan dan
20 McShane – Von Glinow, Organizational Behavior, Mcgraw Hill international, New York, 2008, 112
21 Yustiana CB, “Guru: Komitmen, Utusan dan Wujud Iman” Educare No.2 VIII (Mei 2011) 19.
12 kekayaan dunia yang didapat manusia tidaklah cukup memberi kebahagiaan sejati.
Oleh karenanya pendidikan Kristiani menjadi hal yang sangat penting dalam hidup manusia tidak hanya baik secara individu saja tetapi juga keluarga dan terkait dengan masyarakat luas. Pendidikan menjadi salah satu fokus perhatian Gereja karena melalui pendidikan (Pendidikan Katolik) membawa orang dan masyarakat pada kesempurnaan hidup. Sebagaimana Sabda Tuhan, “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup” maka tidaklah ada pendidikan ideal dan sempurna selain daripada pendidikan Kristen. Dengan kata lain dasar dari pendidikan Kristen adalah untuk menjamin kaum muda menuju kebaikan yang tertinggi yakni Allah dan demi kesejahteraan masyarakat.22
Perhatian Gereja terhadap dunia pendidikan kembali ditegaskan dalam Dokumen Konsili Vatikan II dimana Gereja mempertimbangkan sangat pentingnya pendidikan dalam hidup manusia. Hak untuk mendapatkan pendidikan bagi setiap orang menjadi salah satu hak hakiki yang diperjuangkan oleh Gereja. Hal tersebut ditegaskan dalam dokumen Pernyataan Tentang Pendidikan Kristen (Gravissimum Educationis) demikian:
Semua orang dari suku, kondisi, atau usia mana pun, berdasarkan martabat mereka selaku pribadi, mempunyai hak yang tak dapat diganggu gugat atas pendidikan, yang cocok dengan tujuan maupun sifat perangai mereka, mengindahkan perbedaan jenis, serasi dengan tradisi-tradisi kebudayaan serta para leluhur, sekaligus juga terbuka bagi persekutuan persaudaraan dengan bangsa-bangsa lain, untuk menumbuhkan kesatuan dan damai yang sejati di dunia (GE art.1).
22 Bdk. Pius XI, Christian Education of Youth, diterjemahkan oleh Allan P. Farrell dari Ensiklik Paus Pius XI, Divini Illius Magistri, The American Press, New York, 1958, 3.
13 Sidang Konferensi Waligereja Indonesia pada tanggal 3-13 November 2008 menghasilkan sebuah Nota Pastoral tentang Pendidikan yang memberi perhatian khusus pada Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) sebagai media pewartaan kabar gembira, unggul dan lebih berpihak kepada yang miskin. Sebagai Media pewarta kabar gembira, LPK dihimbau untuk tetap memperhatikan ciri khas pendidikan Katolik yakni menciptakan lingkungan paguyuban sekolah yang dijiwai oleh semangat kebebasan dan cinta kasih injili, supaya akhirnya siapapun yang terlibat dalam pendidikan itu siap menjadi ragi keselamatan bagi masyarakat.23
Dalam Nota Pastoral juga ditekankan pilihan sebagai LPK adalah untuk lebih berpihak kepada yang miskin sebagai kebijakan asasi. Kebijakan tersebut sebagai wujud dari amanat Sang Guru dari Nazaret dengan mendahulukan yang miskin, supaya asas keadilan dijunjung tinggi, dan orang miskin lebih mendapat perhatian sebagaimana mestinya. Perhatian kepada yang miskin dan tersingkir merupakan wujud panggilan sebagai pelayan sekaligus ikut serta dalam usaha pemerintah membantu orang miskin melalui pendidikan.24
23 KWI, Nota Pastoral tentang Pendidikan Lembaga Pendidikan: Media Pewartaan Kabar Gembira, Unggul Dan Lebih Berpihak Kepada Yang Miskin, Sekretariat Jenderal KWI, Jakarta, 2008, 3. Bdk. GE art. 8.
24 Bdk. KWI, Nota Pastoral tentang Pendidikan Lembaga Pendidikan: Media Pewartaan Kabar Gembira, Unggul Dan Lebih Berpihak Kepada Yang Miskin, 5.
14 1.1.4 Sekolah-Sekolah Katolik Theresiana
Sekolah-Sekolah Theresiana yang bernaung pada Yayasan Bernardus Semarang adalah Sekolah Katolik milik Keuskupan Agung Semarang. Sejarah berdirinya Sekolah-Sekolah Theresiana tidak bisa dilepaskan dari karya para misionaris Gereja di kota Semarang. Pilihan keberpihakan kepada mereka yang lemah, miskin dan terpinggirkan menjadi cita-cita awal lahirnya Sekolah Theresiana. Pastor Beekman SJ, seorang imam missionaris Yesuit yang berkarya di Kebon Dalem Semarang, merasakan keprihatinanannya terhadap anak-anak keturunan Tionghoa Peranakan yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan mengingat pada masa itu pendidikan masih terbatas hanya bagi golongan orang-orang kaya, anak saudagar dan juga anak-anak pegawai pemerintahan Kolonial. Pastor Beekman SJ, membuka kursus menjahit dan menyulam bagi anak-anak perempuan dan kursus dagang bagi anak laki-laki.
Kursus tersebut diperuntukkan bagi anak-anak yang tidak mampu, sehingga tidak dipungut biaya. Dalam perjalanan waktu kursus-kursus tersebut diserahkan kepada Suster-suster Fransiskan (OSF) dari Gedangan. Didasarkan pada perhatian yang besar kepada anak-anak kurang mampu, Pastor Beekman SJ kemudian mendirikan Sekolah Taman Kanak-kanak untuk anak laki-laki dan perempuan dengan nama Saint Mary’s Hall pada tahun 1932 beralamat di Gang Warung, Semarang. Sekolah ini kemudian menjadi cikal bakal Sekolah Kebon Dalem Semarang.25
25 Sukmawanto, Tonggak Berdirinya Sekolah Theresiana Semarang, Skripsi Program Studi Ilmu Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2006,22. Bdk. Panitia Perayaan 50 Tahun
15 Perhatian karya misi Pastor Beekman SJ semakin berkembang dan timbullah gagasan untuk meluaskan misi bagi golongan pendatang baru dari Tiongkok.
Keturunan mereka dikenal dengan Tionghoa Totok karena belum bercampur/berasimilasi perkawinan dan budayanya. Berbeda dengan Tionghoa Peranakan yang telah mengalami asimilasi atau percampuran dengan budaya masyarakat sekitar, Tionghoa Totok ini tetap menjaga identitasnya dengan menghindari perkawinan campur dengan etnis lain dan masih menjaga tradisi leluhur dengan kuat dan dalam kehidupan sehari-hari mereka masih menggunakan bahasa asli mereka yakni Hwa Yu (baca; kuo-i) atau sekarang bahasa mandarin.
Bercermin pada pengalaman karya pelayanan bagi anak-anak Tionghoa peranakan yang dinilai cukup berhasil, Pastor Beekman SJ menempuh jalan yang sama yakni melalui karya pendidikan bagi anak-anak Tionghoa Totok. Gagasan perluasan karya misi bagi Tionghoa Totok ini lahir di saat Pastor Beekman membaca riwayat hidup Santa Theresia dan beliau yakin, bahwa Santa Theresialah yang mendorong gagasan ini. Oleh karenanya, bila Santo Fransisikus Xaverius menjadi pelindung karya misi bagian pertama, Santa Theresialah pelindung karya misi bagian kedua.26 Pada tanggal 2 Mei 1950, didirikanlah sebuah sekolah bagi anak-anak Tonghoa Totok dengan nama Yu Te (baca: i-te) yang berarti tunas muda, dengan pelindungnya adalah Santa Theresia.27 Sekolah Yu Te ini dalam perjalanannya diberi nama Yu Te Kindergarten dengan menggunakan bahasa Hwa Yu sebagai
Imamat Pastor Simon Beekman SJ, Buku Kenangan Perayaan 50 Tahun Imamat Pastor Simon Beekman, SJ (1922-1972), Semarang, 1972, 6.
26 Panitia Perayaan 50 Tahun Imamat Pastor Simon Beekman SJ, Buku Kenangan Perayaan 50 Tahun Imamat Pastor Simon Beekman, SJ (1922-1972), 10.
27 Panitia Peringatan 25 Tahun Sekolah Theresiana, Buku Peringatan 25 Tahun Sekolah Theresiana Yayasan Bernardus (2 Mei 1950 - 2 Mei 1975), Semarang, 1975, 18.
16 bahasa pengantarnya. Yu Te Kindergarten semakin berkembang dan mendapat kepercayaan dari para orang tua etnis Tionghoa Totok.
Pada tahun 1952, Pastor Beekman SJ mendirikan sekolah dasar untuk menampung dan melayani lulusan Yu Te Kindergarten di area Gedung Xaverius dan sebuah garasi di Kebon Dalem, satu gedung yang sama dengan yang dipergunakan untuk Yu Te Kindergarten. Pada tahun yang sama pula, tepatnya 25 Maret 1952, dua Pastor Diosesan dari Keuskupan Honan, Tiongkok; Pastor Joseph Ting Shu Yen, Pr dan Pastor Rochus Chang Peng Tu, Pr tiba di Semarang. Kedua pastor tersebut menjadi jawaban atas kebutuhan tenaga pelayan (imam) yang bisa berbahasa Hwa Yu bagi perkembangan pelayanan di Kebon Dalem. Untuk memenuhi kebutuhan tempat bagi murid-murid SD Yu Te yang semakin bertambah maka pada periode 1952-1954 dimulailah proses pembangunan gedung sekolah di Jl. Be Biauw Tjwan (Kampung Kali). Lahan tanah untuk gedung sekolah tersebut dibeli atas nama Yayasan Bernardus milik Bruder FIC. Pastor Beekman SJ sekaligus mengambil alih nama itu sebagai nama Yayasan Bernardus untuk Sekolah Yu Te dan Sekolah-Sekolah Theresiana di kemudian hari.28 Pada tanggal 1 Januari 1955, sembilan gedung sekolah baru sudah bisa ditempati untuk menampung anak-anak SD. SD Yu Te inilah yang menjadi sulung di kompleks Sekolah Theresiana Kampung Kali.
Pergolakan politik masa 1955-1966 di Indonesia turut berpengaruh besar bagi perkembangan Sekolah Yu Te. Pada bulan November 1957 dikeluarkan Peraturan
28 Panitia Pesta Perak Imamat Rochus Chang Peng Tu, Buku Kenangan Pesta Perak Imamat Rochus Chang Peng Tu (8 Maret 1952 - 8 Maret 1977), Semarang, 1977, 10.
17 Pemerintah, agar anak-anak warga Negara Indonesia keturunan Tionghoa disalurkan pendidikannya ke sekolah Nasional. Maka pada tanggal 1 Januari 1958 dibukalah TK, SD, dan SMP Nasional. Sekolah ini khusus bagi anak-anak Warga Negara Indonesia. Nama yang dipakai adalah Theresiana, diambil dari nama Santa Theresia, pelindung sekolah dan artinya anak Theresia.29 Dengan demikian Yayasan Bernardus menyelenggarakan dua macam sekolah, Yu Te dan Theresiana.
Pada tahun 1959, Sekolah Kuo Min Tang ditutup pemerintah dan banyak anak dari sekolah tersebut membanjiri sekolah Yu Te.
Pasca peristiwa G 30 S sekolah-sekolah asing Tionghoa ditutup Pemerintah pada 27 April 1966, termasuk sekolah Yu Te. Keputusan itu diteguhkan dengan Tap.
MPRS No. XXXII/1966 dan Undang-Undang No. 11/1968 yang menyatakan bahwa anak-anak Tionghoa harus disekolahkan di sekolah-sekolah nasional dengan 60% anak-anak WNI serta dengan kurikulum nasional dan guru-guru harus mendapat izin dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, serta pelajaran Bahasa Tionghoa hanya sebagai mata pelajaran tambahan saja.30 Para murid sekolah-sekolah asing tersebut tidak dapat melangsungkan kembali proses pendidikan mereka. Masyarakat Tionghoa di Indonesia semakin menjadi kelompok marginal. Hal tersebut juga berpengaruh bagi Sekolah Yu Te yang dianggap sebagai sekolah asing karena menampung murid-murid etnis Tionghoa. Pastor Rochus Chang Peng Tu, Pr mengambil kebijakan dengan membuka sekolah-sekolah baru
29 Panitia Pesta Perak Imamat Rochus Chang Peng Tu, Buku Kenangan Pesta Perak Imamat Rochus Chang Peng Tu (8 Maret 1952 - 8 Maret 1977), 10.
30 Hidajat, Z.M., Masyarakat dan Kebudayaan Cina Indonesia, Tarsito, Bandung, 1977, 168 seperti dikutip oleh Sukmawanto, Pendidikan Berbasis Nasionalitas Gerejani Sekolah Katolik Tionghoa”Yu Te” Di Keuskupan Agung Semarang (1950-1966), Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Sanata Dharma,Yogyakarta, 2010, 52.
18 di luar kota Semarang yakni di Bedono, Sumowono, Bandungan yang menampung murid-murid pribumi untuk memenuhi kuota pemerintah sekaligus menyelamatkan pendidikan bagi murid-murid keturunan Tionghoa di Semarang. Sekolah Yu Te (TK, SD dan SMP) pada akhirnya dilebur dengan Sekolah Nasional Theresiana yang berbahasa Indonesia dan menampung murid-murid sekolah asing Tionghoa yang ditutup pemerintah. Pada tanggal 20 Mei 1966 secara definitif Sekolah Yu Te melebur menjadi Sekolah Nasional Theresiana melalui surat dari Yayasana Bernadus yang dialamatkan kepada Menteri P.D. dan K.31