• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. GAMBARAN HIDUP KOMUNITAS PARA SUSTER

B. Gambaran Komunitas Para Suster SPC di Indonesia

sampai saat ini, jumlah para suster berkembang dengan pesat dan tinggal di beberapa komunitas dalam kepulauan Indonesia. Mereka berasal dari berbagai daerah, berbagai latar belakang pendidikan, berada di beberapa komunitas, dan melayani berbagai karya.

1. Jumlah Komunitas SPC yang Ada di Indonesia

Komunitas SPC telah menyebar ke berbagai kepulauan yang ada di Indonesia. Sampai tahun 2009 komunitas SPC telah berjumlah 10 (sepuluh) komunitas yang berada di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Jawa dan

Nusa Tenggara Timur. Di Kalimantan Selatan terdapat 2 (dua) komunitas yaitu komunitas RSSI di Banjaramasin dengan 17 (tujuh belas) suster dan Komunitas Novisiat di Banjarbaru dengan 11 (sebelas) suster. Kalimantan Tengah terdapat 5 (lima) komunitas yaitu di Kuala Kapuas dengan 4 (empat) suster, Komunitas Kandui dengan 4 (empat) suster, komunitas Palangka Raya dengan 3 (tiga) suster, komunitas Sampit dengan 4 (empat) suster dan Komunitas Bangkal dengan 2 (dua) suster. Di Jawa ada 2 (dua) komunitas yang terdapat di Komunitas Rumah Studi Bunda Maria dari Chartres Yogyakarta dengan 5 (lima) suster dan komunitas Jakarta dengan 6 (enam) suster. Di Nusa Tenggara Timur terdapat 1 (satu) komunitas yang terdapat di Ruto dengan 3 (tiga) suster [Lampiran 2: (3)].

2. Asal Para Suster SPC

Para suster SPC berasal dari berbagai daerah di kepulauan Indonesia yaitu dari Flores, Timor, Jawa, Kalimantan, Toraja dan Sumatera. Selain itu ada beberapa suster misionaris Philipina yang masih tinggal di Indonesia. Para suster yang berasal dari Flores berjumlah 26 (dua puluh enam) suster, dari Timor berjumlah 2 (dua) suster, dari Kalimantan berjumlah 6 (enam) suster, dari Toraja berjumlah 8 (delapan) suster, dari Sumatera berjumlah 2 (dua) suster, dari Jawa berjumlah 14 (empat belas) suster dan misionaris dari Philipina berjumlah 5 (lima) suster [Lampiran 2: (3)].

3. Pendidikan Para Suster SPC

Salah satu syarat untuk masuk menjadi anggota suster SPC adalah seorang calon suster minimal berpendidikan SMA atau sederajat. Setelah menjadi

anggota SPC, pendidikan para suster ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan bidang karya pelayanan. Sampai tahun 2009 pendidikan para suster SPC adalah S2, S1, Diploma dan SMA. Para suster yang bependidikan S2 berjumlah 8 (delapan) suster, berpendidikan S1 berjumlah 13 (tiga belas) suster, berpendidikan Diploma berjumlah 14 (empat belas) suster, sedang kuliah untuk meraih gelar S1 berjumlah 16 (enam belas) suster dan SMA berjumlah 13 (tiga belas) suster [Lampiran 2: (3)].

4. Karya-karya yang Ditangani Para suster SPC

Para suster SPC berkarya dalam bidang pendidikan, kesehatan dan pastoral. Dalam bidang pendidikan para suster telah mendirikan TK, SD, SMP, AKPER dan STIKES. Dalam bidang kesehatan para suster SPC mendirikan Rumah Sakit dan Poliklinik. Sedangkan dalam bidang pastoral para suster SPC melayani pastoral secara khusus bagi umat di pedalaman Kalimantan. Sampai tahun 2009 di bidang pendidikan telah didirikan 3 (tiga) TK yang berada di Jakarta, Kuala Kapuas dan Ruto. Untuk SD dan SMP masing- masing ada 2 (dua) yang berada di Jakarta dan Kuala Kapuas. Sedangkan pendidikan dalam bidang kesehatan ada 1 (satu) AKPER dan 1 (satu) STIKES yang berada di Banjarmasin. Di bidang kesehatan sampai tahun 2009 telah didirikan 1 (satu) Rumah Sakit yang berada di Banjarmasin dan 3 (tiga) poliklinik yang berada di Kuala Kapuas, Sampit dan Kandui. Untuk bidang pastoral para suster melayani 3 (tiga) tempat yaitu di Kandui, Bangkal dan Kuala Kapua [Lampiran 2: (4)].

C. GAMBARAN KOMUNITAS PARA SUSTER SPC DI KOMUNITAS RUMAH SAKIT SUAKA INSAN

Komunitas RSSI merupakan komunitas pertama yang ditempati oleh para suster misionaris Philipina yang datang pada tahun 1967. Di komunitas RSSI inilah para suster memulai tugas pelayanan mereka dalam melayani umat yang ada di sekitar sungguh memberi yang mayoritas beragama Islam. Dari komunitas RSSI para suster menyebar ke seluruh Indonesia. Komunitas RSSI terdiri dari beberapa generasi, pendidikan, asal, dan macam-macam bidang karya yang dilayani.

1. Jumlah Suster Senior, Medior dan Yunior

Para suster yang tinggal di komunitas RSSI pada tahun 2009 berjumlah 17 (tujuh belas) suster. Para suster tersebut terdiri dari suster senior, medior dan yunior. Suster senior adalah suster yang telah berkaul kekal lebih dari 15 (lima belas) tahun. Suster medior adalah suster yang mengikralkan kaul kekal kurang dari 15 (lima belas) tahun. Sedangkan Suster Yunior adalah para suster muda yang telah mengikralkan kaul pertama 1 (satu) sampai 5 (lima) atau 7 (tujuh) tahun. Suster senior berjumlah 5 (lima) suster. Suster medior berjumlah 7 (tujuh) suster dan suster yunior berjumlah 5 (lima) suster [Lampiran 3: (5)].

2. Pendidikan Para Suster

Pendidikan Para suster yang tinggal di komunitas RSSI adalah S2, S1, Diploma dan SMA. Para suster menempuh pendidikan baik di dalam negeri maupun di dalam negeri. Suster yang berpendidikan S2 berjumlah 7 (tujuh)

suster, dari ketujuh suster tersebut ada 3 (tiga) Lulusan sekolah Perawat, 1 (satu) suster lulusan Farmasi, 1 (satu) suster lulusan sekolah Gizi, 1 (satu) suster lulusan sekolah Akuntansi dan 1 (satu) suster lulusan sekolah Analis. Para suster yang berpendidikan S1 berjumlah 3 (tiga) suster, dari ketiga suster tersebut 1 (satu) suster sekolah Farmasi, 1 (satu) suster lulusan sekolah arsitek dan 1 (satu) suster lulusan sekolah ilmu Sejarah. Para suster yang berpendidikan Diploma berjumlah 5 (lima) suster, dari kelima suster tersebut 1 (satu) suster lulusan sekolah Gizi, 1 (satu) suster lulusan sekolah Akademi Perawat, 1 (satu) suster sekolah pertanian, 1 (satu) suster bidang spritualitas dan 1 (satu) suster sekolah Analis. Selain itu ada 2 (dua) suster lulusan SMA yang sedang menempuh pendidikan 1 (satu) suster Akademi Perawan dan 1 (satu) S1 Akuntansi [Lampiran 3: (5)].

3. Asal Para Suster

Para suster yang tinggal di komunitas RSSI berasal dari berbagai daerah di Indonesia yaitu dari Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Jawa, sumatera dan Toraja. Selain itu ada beberapa suster misionaris dari Filiphina. Para suster berjumlah 17 (tujuh belas) suster, dari ketujuh belas suster tersebut ada 5 (lima) suster berasal dari Nusa Tenggara Timur, 4 (empat) suster berasal dari Jawa, 1 (satu) suster dari Kalimantan, 1 (satu) suster dari Sumatera, 1 (satu) suster dari Toraja dan 5 (lima) suster misionaris dari Filiphina [Lampiran 3: (5)].

4. Macam-macam Karya yang Ditangani Para Suster di Komunitas Rumah Sakit Suaka Insan

Dari semua komunitas yang ada di Indonesia, komunitas RSSI merupakan komunitas yang anggotanya menangani beberapa bidang karya yaitu di bidang

pendidikan dan kesehatan. Di bidang Pendidikan ada 3 (tiga) suster yang menangani Akademi Perawat (AKPER) dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES), dari ketiga suster tersebut 2 (dua) suster bertugas sebagai Dosen dan 1 (satu) suster bertanggung jawab di bagian Administrasi Sekolah. Dalam bidang Kesehatan ada 9 (Sembilan) suster melayani di RSSI, dari kesembilan suster tersebut 2 (dua) suster bertanggung jawab di bagian Apotik RSSI, 1 (satu) suster melayani di bagian Laboratorium RSSI, 1 (satu) suster dipercaya sebagai Administrator RSSI, 1 orang suster bertanggung jawab di bagian Gizi RSSI, 1 orang suster menangani persediaan barang-barang RSSI, 1 (satu) suster mengelola di bagian Tata Usaha RSSI, 1 (satu) suster melayani Pastoral RSSI, dan 1 (satu) suster bertugas di bagian mesin RSSI. Selain para suster yang sudah berkarya di komunitas RSSI juga terdapat 3 (tiga) suster yang masih kuliah, 1 (satu) suster kuliah di Akademi Perawat, 1 (satu) suster kuliah S1 Akuntansi dan 1 (satu) suster kursus bahasa Perancis di Paris. Di komunitas RSSI suster Pemimpin Distrik dan Sekretariat Distrik tinggal dan melaksanakan seluruh urusan Distrik Indonesia [Lampiran 3: (5)-(6)].

5. Acara Harian Para Suster

Acara harian para suster di komunitas RSSI sudah terjadual dengan baik yang membantu para suster untuk melaksanakan tugas karya, hidup doa serta hidup berkomunitas.

Waktu Hari Biasa Hari Minggu Hari Libur (1) (2) (3) (4) 04.30 Bangun Pagi 05.00 Doa pagi, Meditasi Bangun Pagi 05.30 Bangun Pagi

06.00 Misa Ibadat Pagi Misa

06.30 Sarapan Meditasi Sarapan

07.00 Sarapan

07.30 Karya

10.00 Minum Minum Minum

10.30 Karya Examen (Pemeriksaan Batin)

Examen (Pemeriksaan Batin) 11.45 Karya Litani st. Paulus, Doa

Malaikat Tuhan

Doa Malaikat Tuhan

12.15 Examen

(Pemeriksaan Batin) 15.00 Karya

16.00 Minum Minum Minum

17.00 Bacaan Rohani Bacaan Rohani (Pribadi) Bacaan Rohani

(Pribadi)

17.30 Rosario Rosario (Pribadi) Rosario (Pribadi) 18.00 Visit Visit dan Ibadat Sore

(Pribadi)

Visit dan Ibadat Sore (Pribadi) 18.30 Doa Sore Makan Malam Makan Malam 19.00 Makan malam

20.00 Ibadat Malam Ibadat Malam (Pribadi) Ibadat Malam (Pribadi)

22.00 Istirahat Istirahat Istirahat

Selain jadual harian yang dilaksanakan secara rutin ada kegiatan lain yang berkaitan dengan hidup doa dan hidup komunitas yaitu: Adorasi kepada Sakramen Maha Kudus dilaksanakan setiap hari Rabu malam setelah makan malam dan Jumat pertama. Rekoleksi bulanan dilaksanakan minggu pertama. Sharing komunitas dilaksanakan setelah rekoleksi. Rekreasi bersama dilaksanakan hari Selasa dan Jumat setelah makan malam. Organized joy dilaksanakan setiap

dua bulan sekali. Dalam acara organized joy para suster diberi kesempatan untuk saling menghibur dan menampilkan talentanya masing-masing dalam bentuk nyanyian, permainan dan lain-lain [Lampiran 7: (13)].

D. USAHA-USAHA MEMBANGUN HIDUP KOMUNITAS DALAM