BAB III. HIDUP KOMUNITAS MENURUT PEDOMAN
A. Hidup Komunitas dalam Hidup Religius
1. Landasan Hidup Komunitas Para Suster SPC
Komunitas religius pada dasarnya merupakan komunitas rohaniah. Orang-orang yang berada di dalam komunitas tidak mempunyai ikatan darah tetapi disatukan dan diikat oleh panggilan mengikuti Allah. Lingkup ikatan dalam
komunitas lebih luas dari ikatan dan hubungan keluarga biasa. Allah Bapa sendiri yang menjadi Bapa komunitas religius, Yesus Kristus menjadi saudara sulung dan Roh Kudus menjadi jiwa komunitas. Kongregasi SPC dalam PH, art. 34 memaparkan secara tegas landasan hidup komunitas yang menjadi pedoman bagi para suster menghayati hidup persaudaraan di dalam komunitas sebagai berikut:
Allah adalah kasih. Ia menciptakan manusia menurut citra-Nya untuk memungkinkan manusia mengambil bagian dalam kehidupan kasih-Nya. Wahyu tentang misteri Tritunggal mengungkapkan kepada kita hubungan cinta yang sempurna yang mempersatukan ketiga Pribadi Ilahi, sambil mempertahankan perbedaan di antara mereka. Bapa menyampaikan kasih-Nya kepada kita untuk mencintai-kasih-Nya dan untuk saling mencintai sebagaimana Yesus Kristus telah mencintai kita. Dengan demikian kita melangkah ke arah tujuan maksud kita diciptakan.
Pemersatu para suster SPC adalah Allah yang memanggil dan mengasihi. Kasih Allah itulah yang memampukan para suster mengambil bagian dalam kehidupan kasih-Nya. Dasar dan sumber hidup bersama dalam persekutuan cinta ialah hidup Allah sendiri. Allah hidup dalam kebersamaan dan persekutuan kasih. Putera menerima segala-galanya dari Bapa. Putera dan Bapa saling mencintai dalam Roh Kudus. Kesatuan hidup Allah itu merupakan persekutuan dan kesatuan cinta. Para suster dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam hidup cinta Allah. Setiap bentuk hidup persekutuan cinta manusia merupakan tanda konkret yang ada dalam Tuhan Allah. Cinta kasih Allah menjadi dasar bagi hidup bersama. Tanpa kesadaran akan kasih Allah, para suster akan mengalami kesulitan untuk mencintai sesama di dalam komunitas. Hubungan cinta sempurna yang mempersatukan ketiga Pribadi Ilahi tanpa kehilangan perbedaan diantara mereka, hendaknya menjadi dasar bagi para suster untuk menyadari keberadaan mereka
yang berbeda satu sama lain. Para suster perlu menyadari bahwa Allah bebas memanggil setiap pribadi dengan kekhasannya masing-masing. Dalam kasih dan kesatuan panggilan para suster yang berbeda-beda menjadi satu tubuh. Seperti tubuh dengan anggota yang berbeda-beda saling membantu demikian pula para suster saling membantu, menerima, menghargai dan saling mendukung (PH, art. 34; bdk. Suparno, 2007b: 69).
Hubungan antara anggota komunitas didasarkan atas cinta kasih persaudaraan. Cinta kasih persaudaraan merupakan perintah terbesar yang kedua, yang diwartakan oleh Yesus, “Aku memberikan perintah baru kepadamu yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13:34-35). Perintah Yesus inilah yang menjadi pendorong bagi para suster untuk mencintai sesamanya dalam komunitas. Dasar bahwa Yesus telah memberikan cinta yang begitu besar kepada seorang pribadi memungkinkan bagi orang tersebut membagikan cinta itu kepada sesamanya. Kasih yang tercipta dalam sebuah komunitas akan memancar keluar dan menjadi saksi nyata bahwa para suster merupakan murid-murid Yesus yang juga meneladani Yesus dalam hal mencintai. Cinta yang tulus tanpa mencari keuntungan pribadi, serta mampu menerima sesamanya dengan apa adanya (PH, art. 34).
Pedoman Hidup memaparkan lebih tegas lagi akan hukum cinta yang menjadi landasan hidup komunitas para suster SPC yaitu sebagai berikut:
Cinta kasih Allah dinyatakan dalam Yesus Kristus yang telah menjadi manusia untuk menebus kita. Oleh wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus menjadi putera sulung antara banyak saudara. Jadi, hukum cinta adalah piagam komunitas yang hidup dalam semangat persaudaraan
yang menemukan azas dan dasarnya dalam Pribadi Kristus. Kita telah ditebus dan dihimpun dalam Yesus Kristus. Sudah di dunia ini, kita hidup dalam cinta kasih dan kita mencita-citakan kerajaan persekutuan abadi dalam kasih yang tidak pernah akan berakhir (PH, art. 35).
Cinta Kristus menguasai segala sesuatu, mengatasi segala sesuatu. Karena Dia begitu mencintai kita maka kita juga harus saling mencintai. Inilah hukum dasar bagi hidup komunitas persaudaraan yang dibangun di atas Kristus. Setiap manusia diciptakan dan ditebus karena cinta dan di mata Allah ia begitu berharga. Oleh karena itu seseorang tidak dapat mencintai Allah tanpa mencintai mereka yang Dia cintai yaitu semua orang. Itulah cinta adikodrati yang Allah tempatkan di dalam hati kita pada saat pembaptisan yang memungkinkan kita mencintai sesama kita seperti Allah mencintai mereka (PH, art. 35).
Cinta kasih merupakan aspek dasar untuk membangun kehidupan bersama dalam sebuah komunitas. Apabila para suster tidak memiliki cinta kasih, maka mereka tidak akan mampu menahan sakit hati atas perselisihan-perselisihan yang timbul karena pengaturan-pengaturan serta kecenderungan-kecendengan para anggota komunitas. Oleh karena itu para suster harus berusaha keras agar tetap hidup dalam keutamaan cinta kasih. Teladan cinta kasih yang sempurna adalah Yesus Kristus yang rela menjadi manusia untuk menebus manusia dari dosa. Semangat cinta Kristus ini hendaknya senantiasa dipupuk dalam diri para suster SPC sehingga dari hari ke hari cinta kasih mereka semakin bertumbuh dan berkembang kepada sesama (PH, art. 35; bdk. Mareschaulx, 1804: 16).
Hidup bersama dalam komunitas religius yang tanpa ikatan cinta kasih, tidak lebih dari sebuah asrama atau masyarakat pada umumnya. Cinta kasih yang
dibangun berdasarkan teladan kasih Yesus membuat komunitas religius memiliki bentuk yang khas dibandingkan dengan asrama atau masyarakat pada umumnya. Kekhasan tersebut muncul karena para suster dipanggil dan diikat oleh Kristus untuk menjadi saksi cinta kasih-Nya di dunia (PH, art. 35).
Wujud nyata cinta kasih dalam kongregasi SPC adalah memandang para suster sebagai saudari yang bersama-sama berjalan menanggapi panggilan Allah. Dalam komunitas Levesville para suster tidak pernah digolongkan dalam tingkatan-tingkatan yang berbeda. Pastor de Truchis pemimpin kedua para suster, mencatat dengan tegas ciri menonjol tersebut:
Mengingat peraturan dan praktek mantap komunitas para suster yang sejak awal tidak membiarkan diskriminasi antara para suster. Kami dahulu tidak senang ketika disarankan agar menerima masuknya pemudi-pemudi yang akan menduduki suatu tingkat yang lebih rendah dari yang lain. Sekarang, kami menegaskan kembali pendirian kami mengenai hal ini (PH, hal. 3-4). penegasan yang dilakukan Pastor de Truchis adalah suatu sikap yang mencerminkan penghargaan kepada setiap pribadi. Pastor de Truchis tidak mengharapkan dalam komunitas yang ia bina terjadi diskriminasi karena setiap pribadi yang dikumpulkan dalam komunitas sama-sama dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi pelayan bagi semua orang yang ada di sekitar mereka. Diskriminasi dalam tubuh komunitas disadari akan dapat membawa kehancuran dalam kehidupan komunitas itu sendiri dan ini sangat bertentangan dengan komunitas yang berlandaskan pada semangat cinta kasih (PH, hal. 3-4).