• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. HIDUP KOMUNITAS MENURUT PEDOMAN

A. Hidup Komunitas dalam Hidup Religius

2. Landasan Hidup Komunitas menurut Kitab Suci

Yesus Kristus selama hidup-Nya tidak pernah bermaksud membentuk hidup religius. Ia memanggil beberapa orang untuk menjadi murid-Nya, supaya mereka mengalami keselamatan. Maksud Yesus membentuk komunitas para rasul menjadi jelas setelah Ia bangkit dari kematian-Nya “Pergilah, jadikanlah

semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarilah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:19-20). Perintah Yesus ini dilaksanakan para rasul dalam tindakan mereka di tengah jemaat yang ada di sekitar mereka, sehingga keberadaan kelompok para rasul sangat menarik dan membuat banyak orang terpesona pada pribadi Yesus dan berkumpul di sekeliling para rasul.

Orang-orang dengan gembira berkumpul untuk mendengarkan pengajaran para rasul, bertekun dalam doa dan bersama-sama memecahkan roti seperti yang dahulu dilakukan oleh para murid (Kis 2:42). Orang-orang yang berkumpul tidak hanya untuk mendengarkan pengajaran para rasul, berdoa dan memecahkan roti bersama tetapi juga menyerahkan harta benda mereka untuk dipergunakan bagi kepentingan bersama dan menjadi milik bersama (Kis 2:44-45) “semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mareka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing”. Penyerahan harta benda ini mau menggambarkan tentang kesetiaan mereka untuk mengikuti Yesus (Kis 6:1-7).

Darminta (1981: 12-14) memaparkan beberapa ciri hidup komunitas Kristen Perdana yang menjadi teladan bagi hidup religius saat ini yaitu doa dan kebersamaan, mukjijat dan penyembuhan, pewartaan sabda, mengadakan keputusan bersama, milik dan kepentingan barsama dan pengaruh Roh Kudus.

a. Doa dan kebersamaan

Tuhan Yesus selama hidup dan karya-Nya memanggil para rasul untuk mengikuti-Nya secara radikal (Luk 6:12-16). Yesus membangun komunitas para Rasul dengan cara mengajarkan kepada mereka nilai-nilai Kerajaan Allah seperti kasih, pengampunan (Luk 6:27-36; bdk. Mat 5:38-48), suka cita, damai, keadilan, kebenaran, kebersamaan, perhatian (Yoh 14:27-31; 15:1-17). Nilai-nilai Kerajaan Allah inilah yang melandasi hidup komunitas para rasul (Darminta, 1981: 12).

Ketika Yesus naik ke surga dan peristiwa Pentakosta, dimana Roh Kudus turun atas para rasul, semangat kebersamaan dan doa serta pewartaan tentang Yesus yang bangkit menjadi berkobar-kobar. Dengan bertekun dalam doa dan sehati dalam kebersamaan para Rasul mendapat kekuatan Kristus untuk mewartakan tentang Yesus yang bangkit ke mana-mana sambil berbuat baik (Kis 2:41-47; 4:32-37). Doa bersama dan persaudaraan mengambil peranan penting dalam kehidupan jemaat perdana. Gambaran kebersamaan itu dapat dilihat dari beberapa peristiwa. Mereka makan bersama dengan gembira, dengan tulus hati memuji Allah, bertekun dan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah (Darminta, 1981: 12).

b. Mukjizat dan penyembuhan

Darminta (1981: 12) memaparkan peristiwa turunnya Roh Kudus atas para Rasul disebut juga dengan Mujizat Pentakosta, di mana para Rasul dapat berbicara dalam berbagai bahasa (Kis 2:1-13). Ketika mereka menerima Roh Kudus dalam bentuk lidah-lidah api, para Rasul menjadi berani untuk mewartakan Yesus yang bangkit, seperti Petrus yang berani berkhotbah berapi-api (Kis

2:14-40; 3:11-26). Para Rasul juga berani menerima berbagai resiko, misalnya; ditangkap dan dipenjarakan oleh Mahkamah Agama, bahkan ada yang dibunuh, seperti Stefanus (Kis 4:1-22; 5:26-42; 7:54-8:1). Kuasa Roh Kudus yang membakar jiwa dan semangat mereka untuk bersaksi, baik melalui pewartaan maupun peristiwa-peristiwa penyembuhan, membuat banyak orang berdecak kagum dan tercengang (Kis 3:1-10).

Mukjizat dan penyembuhan yang dilakukan oleh para rasul karena kuasa Roh Kudus yang berkarya dalam diri mereka, semakin menguatkan mereka bahwa Yesuslah yang telah menyatukan mereka. Turunnya Roh Kudus yang membuat para rasul menguasai berbagai bahasa memberi arti kepada mereka bahwa meskipun mereka berasal dari berbagai suku bangsa yang berbeda tetapi mereka telah disatukan oleh Allah sendiri sehingga mereka mampu saling memahami. Mukjijat dan penyembuhan mempunyai peranan penting, akan pertumbuhan dan kesadaran hidup berkomunitas, maupun dalam karya dan pewartaan mereka. Mukjizat dan penyembuhan mempunyai pengaruh besar terhadap hidup komunitas dan mengambil peranan penting dalam pertumbuhan kesadaran akan hidup dalam kebersamaan yang saling mendukung. Mukjizat yang membuat para rasul mampu berbicara dengan berbagai bahasa kiranya tidak hanya berpengaruh pada nilai untuk pewartaan tetapi juga mempunyai nilai untuk pembentukan hidup komunitas yang seiman, sehati dan sejiwa (Darminta, 1981: 12).

Para religius pada saat ini menghayati mukjijat yang sama seperti para rasul, para religius disatukan dalam sebuah komunitas karena kuasa Roh Kudus

yang memampukan mereka untuk hidup bersama meskipun terdiri dari berbagai suku, daerah, sifat dan pendidikan yang berbeda. Penyembuhan fisik yang dilakukan para rasul pada zaman dulu merupakan kesaksian yang kelihatan, sehingga banyak orang menjadi percaya. Pada zaman ini penyembuhan dilakukan para religius lewat karya-karya yang mereka tangani antara lain melayani umat dalam bidang kesehatan dan memberi pendidikan yang baik bagi anak-anak di sekolah itulah wujud kesaksian hidup yang laksanakan pada zaman ini.

c. Pewartaan Sabda

Pewartaan Sabda akan kasih Allah dalam diri Yesus Kristus yang dilakukan para rasul dan para murid merupakan salah satu unsur pokok yang menjadi kesaksian bahwa komunitas mereka terbentuk oleh rahmat kasih Allah. Inti pewartaan mereka adalah tentang Kerajaan Allah sama seperti yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Komunitas Gereja Perdana merupakan komunitas yang dipanggil untuk hidup bersama dengan Yesus dalam perjalanan-Nya mewartakan Kerajaan Allah, bahkan pada waktu Yesus tidak ada lagi di tengah mereka, Para Rasul tetap dengan gagah berani dan tanpa takut mewartakan sabda keselamatan kepada semua orang yang mereka jumpai (Darminta, 1981: 13).

d. Mengadakan keputusan bersama

Berkumpul dan bertemu untuk mengambil keputusan bersama merupakan unsur penting bagi komunitas jemaat perdana. Mereka memilih bersama orang yang menggantikan tempat Yudas (Kis 1:15). Mereka mengadakan musyawarah menentukan sikap dan langkah praktis dalam menyelesaikan masalah pelayanan

para janda, yang membuahkan terbentuknya kelompok diakon (Kis 6). Mereka memutuskan bersama mengenai masalah sunat bagi orang Kristiani yang bukan Yahudi (Kis 5). Semua keputusan yang menyangkut kepentingan bersama selalu mereka putuskan secara bersama, hal ini menggambarkan para murid menghayati hidup komunitas sebagai tempat untuk mengadakan penegasan dan membuat keputusan bersama (Darminta, 1981: 13).

e. Milik demi kepentingan bersama

Jemaat Perdana saling merelakan milik dan harta mereka demi kepentingan komunitas dan pelayanan. Dengan saling menyediakan dan saling membagikan harta milik, tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka, karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki para rasul serta dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya (Kis 4:34-35), tiap orang diberi sesuai kebutuhan menandakan bahwa tiap pribadi mempunyai kebutuhan berbeda, yang membutuhkan sedikit diberi sedikit sedangkan yang membutuhkan banyak diberi banyak (Darminta, 1981: 13-14).

Setiap tarekat religius mendapat inspirasi dari komunitas jemaat perdana, terutama mereka mengambil cara-cara kehidupan Jemaat itu untuk menghayati hidup berkomunitas. Maka yang menjadi landasan hidup bagi kebanyakan komunitas religius sekarang adalah cara hidup dan kebersamaan jemaat Perdana.

3. Landasan Hidup Komunitas menurut Vita Consecrata, Bertolak Segar