• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. HIDUP KOMUNITAS MENURUT PEDOMAN

A. Hidup Komunitas dalam Hidup Religius

3. Landasan Hidup Komunitas menurut

Hidup komunitas merupakan ciri khas hidup religius, karena di dalam komunitas itulah pengabdian kepada Allah dihayati oleh setiap anggotanya. Pada bagian ketiga ini akan dibahas gambaran komunitas menurut Vita Consecrata, Bertolak Segar dalam Kristus, Perfectae Caritatis dan Kitab Hukum Kanonik 1983.

a. Hidup Komunitas menurut Vita Consecrata

Hidup bersaudara dalam komunitas religius menjadi lambang yang jelas bagi persekutuan gerejawi. Gereja menjadi wadah bersatunya perbedaan, karena Kristus yang menjadi sentral hidup bersama mengajarkan hal yang paling mendasar untuk modal hidup bersekutu, yakni cinta kasih. Cinta kasih Kristus memberi inspirasi bagi semua anggota komunitas untuk saling hidup sebagai saudara, yang menjadikan Kristus sebagai ‘yang sulung diantara banyak saudara (Rm 8:29). Dengan hidup sebagai murid Kristus menurut Injil, kaum religius menyanggupkan diri untuk melaksanakan “perintah baru” Tuhan, yakni saling mengasihi seperti Ia mengasihi kita (Yoh 13:34), sebagaimana Kristus telah mengungkapkan cinta-Nya yang besar dengan menyerahkan Diri, bahkan sampai korban termulia di Salib (VC, art. 42).

Para religius dalam hidup berkomunitas kiranya juga terinspirasi oleh cara hidup jemaat perdana (Kis 4:32). Hidup yang sehati sejiwa melalui cinta kasih yang dicurahkan oleh Roh Kudus ke dalam diri setiap anggota komunitas

memampukan setiap pribadi mengalami panggilan batin untuk berbagi bersama segala sesuatu. Berbagi tidak hanya dalam hal barang-barang material tetapi juga pengalaman-pengalaman rohani dan bakat yang bisa saling memperkaya kekhasan kerasulan tarekat (VC, art. 42). Dalam hidup berkomunitas, kuasa Roh Kudus yang berkarya dalam setiap individu sekaligus tersalurkan kepada semua anggota. Setiap pribadi memang memiliki karisma diri yang menjadi kekhasannya. Namun karisma diri yang khas itu tidak lagi menjadi milik pribadi melainkan juga tersalurkan kepada semua anggota, dan semua anggota komunitas saling menikmati buah-buah kurnia sesamanya, seolah-olah itu miliknya sendiri. Untuk bisa sampai pada pemahaman yang ideal ini memang dibutuhkan kedewasaan pribadi, yang mampu melihat secara rohani apa yang menjadi kelebihan dari sesama saudaranya (VC, art. 42).

Roh Kudus sendirilah yang membimbing jiwa untuk mengalami persekutuan dengan Bapa dan dengan Putera-Nya Yesus Kristus (1Yoh 1:3), dan persekutuan itu sumber hidup bersaudara. Rohlah yang membimbing komunitas-komunitas hidup bakti dalam menunaikan misi pelayanan mereka kepada Gereja dan kepada segenap umat manusia, menurut inspirasi asli mereka (VC, art. 42).

b. Hidup Komunitas menurut Bertolak Segar dalam Kristus

Dalam Bertolak Segar dalam Kristus hidup komunitas diartikan sebagai spritualitas persekutuan yaitu persekutuan orang-orang yang menghayati spritualitas bertolak segar dalam Kristus yang berarti selalu bertolak dari cinta Kristus yang begitu besar. Oleh Gereja, spiritualitas persatuan yang dihidupi oleh komunitas-komunitas Hidup Bakti diharapkan bisa disebarluaskan sehingga

mempunyai efek positif terhadap kelompok sosial yang lebih luas. Namun spiritualitas persekutuan tersebut pertama-tama hendaknya menjadi milik bersama yang juga dihidupi bersama oleh setiap pribadi dalam komunitas, baru kemudian disebarluaskan ke jemaat gerejawi, dan masyakarat sekitar. Spiritualitas persatuan terutama menunjukkan kontemplasi hati ke arah misteri Tritunggal yang bersemayam dalam batin kita, lagi pula kita harus mampu memandang sinar cahaya-Nya yang memancari wajah saudara-saudara dan saudari-saudari di sekitar kita (BSK, art. 29). Spiritualitas Persatuan berarti juga kecakapan untuk memikirkan saudara-saudara dan saudari-saudari kita dalam pangkuan kesatuan mendalam Tubuh Mistik Kristus. Konsekuensinya adalah para religius harus ikut menanggung kegembiraan dan penderitaan saudara-saudari kita, merasakan keinginan-keinginan mereka dan memperhatikan keperluan-keperluan mereka, menyajikan kepada mereka persahabatan yang mendalam dan sejati (BSK, art. 29).

Spiritualitas Persekutuan mencakup kecakapan juga memandang apa pun yang positif pada diri sesama, menyambutnya baik dan menghargainya sebagai karunia dari Allah; dan juga mengerti bagaimana “meluangkan tempat” bagi saudara dan saudari kita, sambil “saling menanggung beban-beban sesama” Dialog cintakasih persaudaraan ini melampaui ras, suku bahkan agama. Di tengah-tengah situasi dunia dan masyarakat yang tercerai berai akibat kebencian antarsuku dan kekerasan yang tak masuk akal serta masyarakat yang terkotak-kotak seperti saat ini, komunitas-komunitas Hidup Bakti yang adalah tempat anggota-anggota dari berbagai usia, suku, daerah, kebangsaan, bahasa, dan kebudayaan kiranya mampu menawarkan pesan yang jelas, bahwa hidup dalam

dialog adalah mungkin dan bahwa persekutuan dapat memadukan perbedaan-perbedaan menjadi keselarasan (BSK, art. 29).

Setiap anggota komunitas melalui kesaksian hidup mereka, diutus mewartakan nilai persaudaraan kristiani dan kuasa kabar baik yang dapat menimbulkan perubahan. Kabar baik itu memungkinkan seorang religius memandang sesamanya sebagai putera-puteri Allah dan mendorongnya untuk berani mengungkapkan cinta kasihnya terlebih kepada mereka yang paling hina di antara sesama. Kekuatan cintakasih tersebut diperoleh dari kesetiaannya menimba kekuatan dari doa, sumber persekutuan persaudaraan komunitas dan komitmen diri atas panggilan sucinya. Para anggota tarekat hendaknya memelihara semangat doa sambil dengan tekun menimba dari sumber-sumber spiritualitas kristiani yang asli, yakni Kitab Suci, karena dengan tekun mendalami Kitab Suci, para religius bisa memperoleh pengertian akan Yesus Kristus yang lebih mulia dari segalanya. Dari Injil, seorang religius akan menemukan spiritualitas yang hidup dalam dirinya. Spiritualitas yang hidup berarti pertama-tama harus bersumber dari pribadi Kristus, yang sungguh Allah sungguh Manusia, serta hadir dalam Sabda-Nya,”. Memang bagi kaum religius, Sabda Allah hendaknya dijadikan makanan bagi hidup, bagi doa dan bagi perjalanan harian, prinsip yang menyatukan komunitas dan kesatuan pikiran, inspirasi buat permbaharuan berkelanjutan dan kreativitas kerasulan. Anda tidak boleh berhenti merenungkan Kitab Suci dan lebih-lebih Injil sampai itu bisa mencetak

sosok Sabda yang menjelma di hati Anda” (BSK, art. 24). Kata-kata Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II ini kiranya semakin memberi

spiritualitas yang hidup untuk menjalani peziarahan hidup kesehariannya. Selain mendengarkan dan merenungkan Kitab Suci secara intens dalam doa-doa pribadi, kaum religius hendaknya juga menjadikan Ekaristi sebagai tempat khusus berjumpa dengan Tuhan. Karena di sanalah Ia menyatakan diri-Nya hadir di tengah para murid, Ia menguraikan Kitab Suci, Ia menghangatkan hati dan menerangi budi, Ia membuka mata dan membiarkan diri untuk dikenali (Luk 24:13-35). Paus Yohanes Paulus II menyampaikan pesannya dengan sangat indah kepada kaum religius perihal Ekaristi, Para terkasih, jumpailah Dia dan pandanglah Dia dengan jalan istimewa pada Ekaristi, dirayakan dan disembah tiap hari sebagai sumber dan puncak hidup dan kegiatan kerasulan Kaum religius memerlukan viaticum (bekal perjalanan) perjumpaan dengan Tuhan untuk membawa hidup sehari-hari memasuki waktu kudus yang dihadirkan oleh perayaan kenangan Tuhan. Oleh karena itu bagi komunitas hidup bakti, menimba kekuatan dari Ekarisi baik secara personal maupun komunal menjadi sangat penting, karena dengan demikian komunitas tersebut akan senantiasa diperbaharui setiap hari. Persekutuan persaudaraan dalam komunitas adalah ruang yang disinari oleh Allah, untuk mengalami kehadiran tersembunyi Tuhan yang Bangkit mulia (Mat 18:20). Hal itu terwujud berkat cintakasih timbal balik antara sesama anggota komunitas, cintakasih yang dipupuk melaui sabda dan Ekaristi, dimurnikan dalam Sakramen Pendamaian, dan diitopang oleh doa untuk kesatuan, anugerah khusus Roh bagi mereka yang dengan patuh mendengarkan Injil (BSK, art. 26).

Makna lain dari hidup berkomunitas adalah sebagai bentuk kesaksian di tengah arus globalisasi dan nasionalisme sempit yang kian mengaburkan makna

kebersamaan dalam cinta kasih. Komunitas-komunitas Hidup Bakti yang para anggotanya datang dari aneka suku bangsa, tarekat-tarekat Internasional, dipanggil untuk menegakkan dan memberi kesaksian tentang kesadaran akan persekutuan antara bangsa-bangsa, suku-suku dan kebudayaan-kebudayaan. Kendati ada perbedaan latar belakang dalam diri tiap anggota komunitas, namun diharapkan diantara mereka ada relasi pribadi mendukung hidup panggilan. Dalam lingkup dinamika komunitas, relasi pribadi makin mendalam dan sekaligus makin dikokohkan pertukaran antar budaya, yang diakui sebagai kebaikan dan pemicu buat institusi sendiri (BSK, art. 13).

c. Hidup Komunitas menurut Perfectae Caritatis

Komunitas Gereja Perdana merupakan model pertama hidup komunitas yang sampai sekarang dijadikan teladan oleh semua Tarekat religius dalam menghayati hidup komunitas, serta semakin menghantar mereka kepada kesucian hidup. Kehidupan sehati dan sejiwa dalam komunitas sangat diperlukan maka untuk mewujudkannya mereka diharapkan bersama bertekun dalam ajaran Injil yang mereka terima, dalam menjalankan liturgi suci serta yang paling penting dan menjadi puncak kekuatan iman mereka adalah mengikuti perayaan Ekaristi Kudus. Sebagai sesama anggota Tubuh Kristus para religius hendaknya dalam hidup sehari-hari selalu berusaha untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain di antara segala perbedaan yang ada. Sikap menghormati ini sangat penting karena tanpa itu tak mungkin seorang religius yang dipertemukan dalam berbagai perbedaan dapat hidup bersama. Di samping itu pertumbuhan dan perkembangan hidup komunitas menjadi tanggung jawab semua anggota

komunitas semua ini membuat para religius semakin peka pada kesusahan dan kebahagiaan anggota komunitasnya (PC, art. 15).

Para religius percaya bahwa komunitas mereka berjalan semata oleh rahmat dan karya Roh Kudus maka setiap pribadi diharapkan untuk selalu terbuka pada karya Roh kudus dalam hidup mereka. Hukum utama dan dasar yang menyatukan para religius adalah Kristus yang mencintai dan memanggil mereka, maka dalam kehidupan mereka pun, mereka diharapkan dapat membagikan cinta yang mereka terima secara cuma-cuma kepada anggota komunitas dan semua orang yang mereka layani serta yang tinggal bersama mereka. Cinta kasih yang melingkupi kehidupan komunitas merupakan saksi cinta Allah kepada semua orang dan cinta itu pula yang menjadi daya pendorong yang memampukan para religius melaksanakan tugas perutusannya di dunia (PC, art. 15).

d. Hidup Komunitas menurut Kitab Hukum Kanonik 1983

Hidup berkomunitas merupakan salah satu kekhasan dari lembaga hidup bakti, karena di sana dihidupi semangat persaudaraan dalam ikatan cinta kasih Kristus. Mereka dihimpun bagaikan dalam keluarga khusus, kendati tanpa menutup mata terhadap keterbatasan dan kelemahan manusia, juga dalam tarekat, sekurang-kurangnya ada inspirasi dan motivasi untuk menghayati hidup bersama sebagai keluarga besar. Hanya karena iman dan visi hidup yang sama mereka membentuk ‘keluarga khusus’ tersebut. Kekhususan ini semakin menjadi nyata ketika masing-masing anggota bersekutu bukan atas dasar ikatan darah keluarga, juga bukan atas kehendaknya pribadi untuk memilih rekan sekomunitas, melainkan ditentukan oleh pimpinannya. Kalau para religius mampu hidup

berkomunitas, sesungguhnya hanya iman dan kesetiaannya akan Kristuslah yang membuat setiap religius mampu hidup dalam keanekaragaman tersebut. Agar komunitas tumbuh menjadi komunitas persaudaraan setiap anggota diharapkan mempunyai kedewasaan sosial, di mana setiap pribadi sadar bahwa ia hidup bersama orang lain (KHK, kan. 602)

Jika para religius sungguh menghidupi semangat persaudaran dalam Kristus, niscaya setiap pribadi akan merasa saling diteguhkan dan ditumbuhkembangkan dalam menghayati panggilannya, apalagi dalam penghayatan hidup menurut nasihat-nasihat injili. Dalam kehidupan Gereja, yang disebut nasehat injili ialah tiga kaul: ketaatan, kemurnian dan kemiskinan demi kerajaan Allah. Ketiganya merupakan simpul-simpul dari perjuangan mengikuti nasehat-nasehat injili. Kenyataaan ini mempunyai dasar dari pemahaman hidup sebagai murid Yesus Kristus (KHK, kan 602).

Kaul religius hanya mendapatkan konteks hidupnya dalam kaitannya dengan hidup Yesus. Dan tidak boleh dibatasi hanya dengan rumusan ketiga kaul melainkan harus dipahami dalam kasetiaan dengan usaha menjadi murid Yesus yang penuh, menjadi pengikut Yesus yang total dan integral, atau dalam bahasa Matius, ini adalah usaha menjadi sempurna seperti Bapa di surga sempurna adanya. Caranya ialah dengan mengikuti Yesus. Namun, untuk bisa menjadi murid Yesus yang total, integral dan saling mendukung panggilan, diandaikan setiap anggota komunitas mempunyai keutamaan kerendahan hati untuk saling mendengarkan, menasihati, mengampuni sesama saudaranya sekomunitas. (KHK, kan. 602).

Para religius hendaknya menyadari bahwa kekhasan panggilan mereka ialah memberi kesaksian, maka hidup dalam persaudaraan dalam komunitas harus menjadi kesaksian rekonsiliasi yang sangat dibutuhkan masyarakat yang dilanda individualisme, primordialisme dan sektarianisme. Jika para religius mampu hidup penuh persaudaraan dalam komunitas, hal itu juga akan menjadi kerasulan yang efektif karena melalui komunitas itu telah diwartakan wajah Kristus yang mencintai kasih, persaudaraan dan perdamaian (KHK, kan. 602).