• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gestapu September 24, 2007

Dalam dokumen catatan pinggir (Halaman 95-101)

Posted by anick in All Posts, Demokrasi, Indonesia, Marxisme, Sejarah.

trackback

Tiap 30 September dan 1 Oktober kita teringat pembunuhan. Di tahun 1965-1966 itu, mula-mula sejumlah jenderal, kemudian berpuluh ribu orang Indonesia yang bukan jenderal dan tak bersalah bergelimpangan dibantai. Atau disiksa.

Sejak itu, di tanah tumpah darah ini, kita begitu takut, pedih, dan malu mengaku bersalah oleh keganasan itu. Semuanya kita masukkan ke dalam sebuah kata, ”Gestapu”, seperti kita menyembunyikan sesuatu di dalam kotak. Kita gagap bila kita harus mengenangnya.

Maka tiap 30 September dan 1 Oktober ada keinginan yang saya kira terpendam di hati orang banyak: keinginan untuk mampu mengenang horor itu, tapi juga berharap ia tak akan berulang. Indonesia tak boleh lagi mengelola konflik lewat darah dan besi.

Keinginan itu tampak mudah dipenuhi setelah ”Orde Baru” runtuh, setelah sebuah pemerintahan yang stabil—tapi bersandar pada kapasitasnya membangun rasa takut— ambruk. Tapi segera terbukti kita gampang terbuai ilusi. Prasangka rasial, rasa curiga antarkelompok, kebencian, paranoia, dan waswas yang diperkuat oleh agama seakan-akan malah bergelombang datang. Indonesia nyaris habis harapan. Semuanya seakan-akan mesti berakhir dengan membunuh.

Tapi mungkinkah ada sebuah lingkungan hidup bersama—bisa disebut ”masyarakat”, ”komunitas”, atau ”bangsa”—yang akan memilih khaos dan kekerasan sebagai satu-satunya cara bersaing dan bersengketa? Para optimis mengatakan, tak mungkin. Sengketa dan kekerasan bukanlah pola dalam sejarah. Tiap kehidupan bersama selalu mengandung keinginan bersama untuk ”masyarakat yang baik” dan kapasitas untuk mencapai mufakat. Bahkan binatang buas berdamai dalam puaknya.

Tapi benarkah ”selalu”? Benarkah kita senantiasa bergerak untuk mufakat? Katakanlah tiap orang, tiap kelompok, memang menghendaki ”masyarakat yang baik”, tapi apa gerangan yang ”baik”? Selalukah yang ”baik” bagi kami juga ”baik” bagi mereka?

Zaman ini yang berbeda dan ganjil berduyun-duyun masuk ke dalam pengalaman—dan kita ragu adakah nilai yang universal. Kondisi ”pasca-modernis” datang. Seorang pemikir seperti Richard Rorty bahkan menunjukkan, nilai-nilai selamanya contingent, tergantung, kepada waktu dan tempat. Apa yang ”baik” selamanya dipengaruhi konteks. Sebab itu jangan dipaksakan. Bahkan keyakinan kita sendiri tentang ”baik” dan ”buruk” perlu dicampur dengan satu dosis besar ironi.

Pandangan seperti ini memang membuka ruang luas toleransi. Kita tak bisa jadi fanatik memeluk ide-ide besar. Tapi ada yang boyak; ia tak cukup memberi dasar bagi langkah politik untuk membangun kebaikan bagi sesama. Tentu, Rorty tak menganggap kita bisa selamanya berdiri di tepi dengan senyum ironis. Baginya, tak ada alasan untuk berpangku tangan ketika kekejaman terjadi.

Rorty memang tak menampik tumbuhnya rasa solidaritas antarmanusia. Tapi bagaimana rasa solidaritas itu mungkin? Bagaimana ia bisa memadai untuk membentuk sebuah kekuatan pembebas, jika keyakinan tentang nilai-nilai yang universal, yang menggerakkan siapa saja, cair oleh ironi?

Memang, liberalisme Rorty bukan formula untuk bunuh-membunuh. Tapi ia tak bisa memberi jawab bagi keadaan yang mungkin tak dialaminya. Rorty begitu betah dengan hidup nyaman Amerika-nya. Tapi ada kondisi lain, di mana politik bergerak bukan karena keinginan, melainkan oleh kemestian, di mana gagasan tentang ”masyarakat yang baik” bukan imajinasi waktu senggang, melainkan karena rasa lapar yang akut akan keadilan. Di sini liberalisme ala Rorty bisa semacam skandal. Tak mengherankan dalam latar umum Afrika, Asia, dan Amerika Latin, orang pernah dengan bahagia mendapatkan analisis dan inspirasi dari yang lain: Marxisme. Marxisme punya satu imbauan universal: cita-cita tentang masyarakat tanpa kelas. Tapi juga Marxisme bisa ampuh karena melihat nilai-nilai sebagai sesuatu yang tak datang dari luar sejarah. Marxisme merayakan dinamika dan perubahan. Tak mengherankan bila beribu-ribu orang pun bergerak, dengan sakit dan miskin, dengan jiwa dan raga. Yang tragis ialah bahwa Marxisme—sebuah alat diagnostik yang cemerlang— ternyata sebuah terapi yang gagal. Bahkan Cina murtad. Apa yang tersisa dari Marxisme di sana sekarang, dengan kemajuan ekonomi yang membuat orang terkesima? Hanya sebuah partai komunis yang tak percaya kepada imannya sendiri.

Maka pada suatu saat orang pun membaca Habermas. Ia meyakinkan kita bahwa ada rasionalitas yang bisa membawa apa yang ”baik” melintasi batas ruang-dan-waktu. Komunikasi adalah laku yang tak asing. Dalam situasinya yang ideal, komunikasi dapat menghasilkan mufakat tentang ”masyarakat yang baik”.

Tapi tiap 30 September dan 1 Oktober kita teringat bahwa dorongan untuk bermufakat berakhir dengan pembunuhan. Indonesia adalah sebuah republik yang luka ketika bersikeras membentuk konsensus. Kini kita takut berilusi: bisakah kita sepakat tentang ”masyarakat yang baik”? Akan adakah situasi percakapan yang ideal?

Siapa yang takut mimpi perlu memanggil mambang Marxisme. Kita akan bisa melihat— seperti Laclau memanggil roh Gramci—bahwa mufakat tak datang dengan sendirinya. Ia hasil pergulatan hegemoni. Dan dengan Marxisme yang radikal yang memandang sejarah sebagai perubahan, kita akan mengakui bahwa hegemoni itu tak akan abadi. Pengertian dan konsensus tentang ”masyarakat yang baik” tak akan kekal. Kekuasaan yang menjaga konsensus itu tak akan selamanya bisa memenuhi cita-cita.

Itu sebabnya kita memilih demokrasi sebagai sistem yang mengakui kekurangan manusia. Kita lebih berendah hati. Maka sambil mengakui pergulatan politik akan berlangsung terus-menerus, kita tak perlu bersiap dengan darah dan besi. Ongkos akan terlalu mahal—seperti

30 September dan 1 Oktober 1965—untuk sesuatu yang tak akan sempurna dan selama-lamanya.

~Majalah Tempo Edisi. 31/XXXVI/24 – 30 September 2007~

Glung Juli 24, 2006

Posted by bocah in All Posts, Bencana, Tuhan.

trackback

Bola api tampak di langit Pangandaran, suara ”glung” dan ”bleg” terdengar di bawah bumi Yogya.- Orang pun gentar, setengah terkesima: apa arti semua itu?

Barangkali itu isyarat, bisik sebagian mereka, entah dari angkasa luar, entah dari palung lautan. Barangkali itu waham, kata yang lain. Barangkali alam dan rasa takut telah berkait, barangkali alam dan suasana berkabung tumpang-menumpang, dan tak jelas lagi mana yang menyebabkan dan mana pula yang disebabkan.

Apa boleh buat: bencana menghantam kita berturut-turut—dua kali tsunami dalam jarak waktu belum dua tahun, dua kali gempa yang membunuh ratusan manusia, Gunung Merapi yang memuntahkan lumpur panas ber-hari-hari…. Dengan kata lain, kesadaran kita dengan serta-merta digebrak oleh sesuatu yang tak dapat sepenuhnya dijinakkan penjelasan ilmu, tak dapat ditata oleh wacana, tak terjangkau utuh oleh tata simbolik. Bahasa kita jadi gagap, dan bola api itu terasa semakin besar, suara ”glung” dan ”bleg” itu terasa semakin menakutkan, dan kita semakin berkabung.

Amir Hamzah pernah menggambarkan situa-si manusia dan alam yang dilimbur bencana dalam sebuah puisi yang dengan plastis memantulkan bunyi-bunyi yang mengerikan bahkan sejak dari konsonan dan aliterasi kata-kata yang dibariskannya: ”terban hujan, ungkai badai, terendam karam, runtuh ripuk tamanmu rampak.”

Dan nun di sana tampak

Manusia kecil lintang pukang

lari terbang jatuh duduk

air naik tetap terus

tumbang bungkar pokok purba

Teriak riuh redam terbelam

dalam gagap gempita guruh

kilau kilat membelah gelap

Lidah api menjulang tinggi

Sajak itu sebenarnya bercerita tentang air bah yang didatangkan Tuhan untuk menenggelamkan dan menghabisi manusia yang tak hendak mengikuti jalan Nuh. Apabila yang dilukiskan Amir Hamzah terasa relevan se-karang, itu karena di sana juga tergambar bukan orang-orang yang berdosa, melainkan orang-orang yang tak berdaya—”manusia kecil” yang dilihat dari atas yang jauh.

Hanya Nuh yang disebut ”bebas lepas” dan ”lapang”. Hanya ia yang dikatakan duduk dalam kepastian, bisa bersuara ”sentosa” ketika manusia lain ”di tengah gelisah”.

Sang penyair sendiri tak seperti nabi itu.. Ia bimbang dan galau: kekuatan destruktif Tuhan bisa demikian menakutkan demi menegakkan kepastian, tapi tetap saja sang penyair tak dapat memutuskan mana yang harus dipilihnya di tengah sistem kepastian yang berbeda-beda. Akhirnya ia mengatakan, semua itu tak ada gunanya. Akhirnya ”hanya satu kutunggu hasrat”, katanya, yakni merasa ”dekat rapat” dengan Tuhan sendiri.

Bola api, suara gemuruh yang ganjil, lahar yang mengancam, kematian yang menyebar— alam dan ketakutan jemput-menjemput, bersama kemurungan. Para pakar g-eologi, klimatologi, dan psikologi dapat berbicara fasih men-jelaskan semua itu, tapi benarkah mereka bisa menjangkau alam itu sendiri? Bukankah ilmu-ilmu pengetahuan tak pernah menangkap alam itu an sich, melainkan hanya menangkapnya sesudah dijinakkan dalam kerangka sebuah wacana, dalam keadaan disetel (Gestell, kata Heidegger)? Dengan kata lain sebenarnya tak ada yang dapat ”de-kat rapat” dengan yang dirindukan untuk dijangkau itu— yakni yang benar, yang memukau, yang membuat gentar?

Bahkan saat Musa di pucuk Tursina (yang oleh Amir Hamzah dianggap sebagai momen yang dihasratkannya, momen ”dekat rapat” dengan Tuhan) manusia itu tetap mustahil menangkap ”Wajah” itu..

Mungkin ada yang dapat memberi kita kearifan dari tsunami di Aceh dan Pangandaran serta gempa dan ancaman magma di Yogyakarta: kita sadar akan kemustahilan seperti itu dan sebab itu kita berkabung, seperti saya katakan tadi. Kita berkabung karena kita merasa bersatu dengan yang ditinggal mati dan hilang. Kita juga berkabung karena kita tak bisa merasa ”bebas lepas”, ”lapang”, dan ”sentosa” di tengah sesama yang gelisah ketika bahkan ilmu tak dapat lagi bicara pasti.

Berkabung itu memberi kita kearifan, sebab dari sanalah kita sadar betapa mustahil kita untuk tak menjadi ”manusia kecil”. Kita akan senantiasa ”lintang pukang”. Tapi pada saat yang sama, justru karena itulah kita merindukan itu: bisa bersentuhan dengan yang abadi, biarpun sejenak. ”Aku berkabung untuk keabadian, aku berkabung untuk ia yang dalam dirinya kutanam dan kupupuk keabadian”, tulis Hèlène Cixous dalam Deluge.

Dikatakan secara lain, justru karena kita tak kunjung mendapatkan kepastian, justru karena kita terbatas, kita pun—seperti Amir Hamzah—menunggu hasrat untuk ”d-ekat rapat” dengan yang sama sekali lain: yang Maha Tak Terbatas, transcendens yang mutlak.

Kata ”maha” menegaskan betapa radikalnya sifat ”lain” di situ: sifat ”lain” yang tak dapat dirumuskan, tak dapat dibandingkan, yang hanya dapat disebut, meskipun de-ngan menyebutnya kita sadar kita hanya mencoba sejenak menafsirkannya. Sebab sifat ”lain” yang radikal itulah yang menyebabkan kita tak akan pernah rampung dan usai menerjemahkannya: kita tak akan mungkin membuatnya sedemikian rupa sehingga ”sama” dengan kita.

Agaknya itulah yang membentuk sikap ethis kita: berhadapan dengan yang berbeda, kita tergetar, tak akan jumawa, bahkan kita menatapnya dengan hormat yang berkabung.

Sebab kita tahu ada yang tetap tersembunyi. Ada misteri yang tak mungkin dianggap sekadar sebagai problem untuk kecerdasan kita. ”Dunia tak pernah merupakan sebuah obyek yang

tegak di depan kita dan dapat disimak”, kata Heidegger. Dunia selalu tak berlaku jadi sasaran subyektif kita, selama ”jalan kelahiran dan kematian, rahmat dan kutuk, tetap membawa kita ke dalam ada”.

Maka bola api itu mungkin tampak mungkin tidak di langit Pangandaran, bunyi ”glung” itu mungkin terdengar mungkin tidak di bawah Yogya….

~Majalah Tempo Edisi 22, 24-30 Juli 2006~

Grrr Juni 27, 2011

Posted by anick in All Posts, Seni, Tokoh.

trackback

Di depan kita pentas yang berkecamuk. Juga satu suku kata yang meledak: ”Grrr”, ”Dor”, ”Blong”, ”Los”. Atau dua suku kata yang mengejutkan dan membingungkan: ”Aduh”, ”Anu”. Di depan kita: panggung Teater Mandiri.

Teater Mandiri pekan ini berumur 40 tahun—sebuah riwayat yang tak mudah, seperti hampir semua grup teater di Indonesia. Ia bagian dari sejarah Indonesia yang sebenarnya penting sebagai bagian dari cerita pem-bangun-an—”bangun” dalam arti jiwa yang tak lelap tertidur. Putu Wijaya, pendiri dan tiang utama teater ini, melihat peran pem-bangun-an ini sebagai ”teror”—dengan cara yang sederhana. Putu tak berseru, tak berpesan. Ia punya pendekatan tersendiri kepada kata.

Pada Putu Wijaya, kata adalah benda. Kata adalah materi yang punya volume di sebuah ruang, sebuah kombinasi bunyi dan imaji, sesuatu yang fisik yang menggebrak persepsi kita. Ia tak mengklaim satu makna. Ia tak berarti: tak punya isi kognitif atau tak punya manfaat yang besar.

Ini terutama hadir dalam teaternya—yang membuat Teater Mandiri akan dikenang sebagai contoh terbaik teater sebagai peristiwa, di mana sosok dan benda yang tak berarti dihadirkan. Mungkin sosok itu (umumnya tak bernama) si sakit yang tak jelas sakitnya. Mungkin benda itu sekaleng kecil balsem. Atau selimut—hal-hal yang dalam kisah-kisah besar dianggap sepele. Dalam teater Putu Wijaya, justru itu bisa jadi fokus.

Bagi saya, teater ini adalah ”teater miskin” dalam pengertian yang berbeda dengan rumusan Jerzy Grotowski. Bukan karena ia hanya bercerita tentang kalangan miskin; Putu Wijaya tak tertarik untuk berbicara tentang lapisan-lapisan sosial. Teater Mandiri adalah ”teater miskin” karena ia, sebagaimana yang kemudian dijadikan semboyan kreatif Putu Wijaya, ”bertolak dari yang ada”.

Saya ingat bagaimana pada 1971 Putu Wijaya memulainya. Ia bekerja sebagai salah satu redaktur majalah Tempo, yang berkantor di sebuah gedung tua bertingkat dua dengan lantai yang goyang di Jalan Senen Raya 83, Jakarta. Siang hari ia akan bertugas sebagai wartawan. Malam hari, ketika kantor sepi, ia akan menggunakan ruangan yang terbatas dan sudah aus itu untuk latihan teater. Dan ia akan mengajak siapa saja: seorang tukang kayu muda yang di waktu siang memperbaiki bangunan kantor, seorang gelandangan tua yang tiap malam istirahat di pojok jalan itu, seorang calon fotograf yang gagap. Ia tak menuntut mereka untuk

berakting dan mengucapkan dialog yang cakap. Ia membuat mereka jadi bagian teater sebagai peristiwa, bukan hanya cerita.

Dari sini memang kemudian berkembang gaya Putu Wijaya: sebuah teater yang dibangun dari dialektik antara ”peristiwa” dan ”cerita”, antara kehadiran aktor dan orang-orang yang hanya bagian komposisi panggung, antara kata sebagai alat komunikasi dan kata sebagai benda tersendiri. Juga teater yang hidup dari tarik-menarik antara pathos dan humor, antara suasana yang terbangun utuh dan disintegrasi yang segera mengubah keutuhan itu.

Orang memang bisa ragu, apa sebenarnya yang dibangun (dan dibangunkan) oleh teater Putu Wijaya. Keraguan ini bisa dimengerti. Indonesia didirikan dan diatur oleh sebuah lapisan elite yang berpandangan bahwa yang dibangun haruslah sebuah ”bangunan”, sebuah tata, bahkan tata yang permanen. Elite itu juga menganggap bahwa ke-bangun-an adalah kebangkitan dari ketidaksadaran. Ketika Putu Wijaya memilih kata ”teror” dalam hubungan dengan karya kreatifnya, bagi saya ia menampik pandangan seperti itu. Pentasnya menunjukkan bahwa pada tiap tata selalu tersembunyi chaos, dan pada tiap ucapan yang transparan selalu tersembunyi ketidaksadaran.

Sartre pernah mengatakan, salah satu motif menciptakan seni adalah ”memperkenalkan tata di mana ia semula tak ada, memasangkan kesatuan pikiran dalam keragaman hal-ihwal”. Saya kira ia salah. Ia mungkin berpikir tentang keindahan dalam pengertian klasik, di mana tata amat penting. Bagi saya Teater Mandiri justru menunjukkan bahwa di sebuah negeri di mana tradisi dan antitradisi berbenturan (tapi juga sering berkelindan), bukan pengertian klasik itu yang berlaku.

Pernah pula Sartre mengatakan, seraya meremehkan puisi, bahwa ”kata adalah aksi”. Prosa, menurut Sartre, ”terlibat” dalam pembebasan manusia karena memakai kata sebagai alat mengkomunikasikan ide, sedangkan puisi tidak. Tapi di sini pun Sartre salah. Ia tak melihat, prosa dan puisi bisa bertaut—dan itu bertaut dengan hidup dalam teater Putu Wijaya. Puisi dalam teater ini muncul ketika keharusan berkomunikasi dipatahkan. Sebagaimana dalam puisi, dalam sajak Chairil Anwar apalagi dalam sajak Sutardji Calzoum Bachri, yang hadir dalam pentas Teater Mandiri adalah imaji-imaji, bayangan dan bunyi, bukan pesan, apalagi khotbah. Dan ini penting, di zaman ketika komunikasi hanya dibangun oleh pesan verbal yang itu-itu saja, yang tak lagi akrab dengan diri, hanya hasil kesepakatan orang lain yang kian asing.

Sartre kemudian menyadari ia salah. Sejak 1960-an, ia mengakui bahasa bukan alat yang siap. Bahasa tak bisa mengungkapkan apa yang ada di bawah sadar, tak bisa mengartikulasikan hidup yang dijalani, le vecu. Ia tentu belum pernah menyaksikan pentas Teater Mandiri, tapi ia pasti melihat bahwa pelbagai ekspresi teater dan kesusastraan punya daya ”teror” ketika, seperti Teater Mandiri, menunjukkan hal-hal yang tak terkomunikasikan dalam hidup.

Sebab yang tak terkatakan juga bagian dari ”yang ada”. Dan dari sana kreativitas yang sejati bertolak.

Dalam dokumen catatan pinggir (Halaman 95-101)