Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kebon Kopi 2 merupakan SDN yang berlokasi di jalan Kebon Kopi RT.04/09 kelurahan Kebon Kelapa di Kecamatan Bogor Tengah Kotamadya Bogor, provinsi Jawa Barat. Letak sekolah ini dikelilingi oleh pemukiman penduduk padat dan kuburan umum. SDN ini dipergunakan sejak tahun 1974.
Fasilitas yang tersedia di dalam SD adalah: 6 ruang belajar, 1 ruang kepala sekolah, satu ruang guru, 1 ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) berupa kamar yang berisi 1 tempat tidur, 1 mushola, WC 2 buah dan tempat air wudhu (menjadi satu ruangan), air bersih yang dipergunakan bersumber dari PDAM dan listrik dari PLN serta ada halaman tempat untuk diadakannya upacara bendera. SDN ini tidak memiliki kantin, tetapi di sekitar sekolah terdapat beberapa pedagang jajanan keliling dan warung makan.
SDN Kebon Kopi 2 saat penelitian dikepalai oleh Hj. Neni Suprani, S.Pd. Sekolah memiliki tenaga 9 guru, 1 orang tata usaha, dan 1 orang penjaga sekolah. Jumlah siswa sebanyak 215 orang. Kegiatan belajar mengajar dilakukan mulai pukul 07.00 sampai dengan 12.30 WIB untuk kelas 3, 4, 5 dan 6, dan kelas 1 dan 2 dimulai pukul 07.00 hingga 10.00 WIB.
Karakteristik Peserta
Umur dan Jenis Kelamin
Peserta dalam penelitian ini merupakan siswa SDN Kebon Kopi 2 Bogor kelas 5 dan 6, dengan jumlah sebanyak 62 orang. Sebaran peserta berdasarkan
jenis kelamin dan umur dapat dilihat pada Tabel 5. Berdasarkan tabel tersebut, diketahui bahwa sebesar 56.5% (35 orang) dari siswa berjenis kelamin perempuan. Tabel tersebut juga menggambarkan bahwa distribusi usia kelas 5 dan kelas 6 berada pada rentang 9-13 tahun, dan sebesar 44.5% berjenis kelamin laki-laki, 42.9% adalah perempuan berada pada usia 11 tahun. Anak usia 6 sampai 12 tahun termasuk dalam fase akhir masa anak-anak (late childhood) sampai tiba saatnya anak menjadi matang secara seksual yaitu pada usia 13 tahun bagi anak perempuan dan 14 tahun bagi anak laki-laki (Hurlock 1999). Pada golongan usia anak sekolah dasar yaitu anak belum mencapai dewasa tetapi masih dalam tahap pertumbuhan (usia emas ke-2/golden age). Oleh karena itu, pada usia tersebut perlu diperhatikan konsumsi makanan yang tepat jumlah dan kualitasnya.
Tabel 5 Distribusi peserta berdasarkan umur dan jenis kelamin
Umur Laki-laki Perempuan Total
n % n % n %
7-9 0 0.0 1 2.9 1 1.6
10-12 26 96.3 32 91.4 58 93.5
13-15 1 3.7 2 5.7 3 4.8
Total 27 100.0 35 100.0 62 100.0
Besar Uang Jajan
Besar uang jajan merupakan sejumlah uang yang diterima anak didik dalam sehari untuk membeli jajan. Uang jajan anak sekolah menjadi suatu kebiasaan, baik yang berasal dari keluarga dengan pendapatan yang rendah maupun tinggi. Napitu (1994) menyatakan bahwa sebaiknya anak diharapkan dapat belajar bertanggung jawab untuk mempergunakan uang jajan yang dimilikinya. Tabel 6 menggambarkan bahwa sebagian besar (54.8%) peserta memiliki uang jajan ≤ Rp3.000. Jumlah uang jajan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar siswa tersebut berasal dari golongan miskin, karena besar kecilnya uang jajan dipengaruhi oleh besarnya pendapatan keluarga. Hasil ini berbeda dengan penelitian di 2 lokasi sekolah dasar (orang tua siswa termasuk ekonomi mampu) yang sebagian besar (51.8%) siswanya memiliki uang jajan berkisar antara Rp 5.001-10.000 (Nurdiani 2011).
Pendidikan Orang Tua
Pendidikan orang tua merupakan salah satu unsur penting yang dapat mempengaruhi keadaan gizi keluarga. Pada Tabel 7, diketahui bahwa sebagian
besar (43.1%) pendidikan ayah peserta tamat SMA, sedangkan pendidikan ibu peserta sebagian besar (36.7%) hanya tamat SD. Salimar et al (2010) menyebutkan bahwa sebagian besar tingkat pendidikan ayah di perkotaan minimal SLTP. Hal ini diduga karena jumlah peserta dalam penelitian ini terlalu kecil.
Tabel 6 Distribusi peserta berdasarkan besar uang jajan
Kategori uang jajan n %
≤ Rp3.000,- 34 54.8
>Rp3.000,-s/d Rp4.000,- 18 29.0
>Rp4.000,- 10 16.1
Total 62 100.0
Karakteristik Orang Tua Peserta
Dari Tabel 7 tersebut, dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan ayah peserta lebih tinggi dibandingkan tingkat pendidikan ibu peserta. Tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap derajat kesehatan keluarga. Ibu yang memiliki pendidikan tinggi cenderung memiliki pengetahuan gizi, kesehatan, dan pengasuhan anak yang baik.
Tabel 7 Distribusi orang tua peserta berdasarkan tingkat pendidikan
Kategori Pendidikan Ayah Ibu
n % n % Tidak Sekolah 1 1.7 0 0.0 SD 16 27.6 22 36.7 SMP 13 22.4 20 33.3 SMA 25 43.1 18 30.0 Perguruan Tinggi 3 5.2 0 0.0 Total 58 100.0 60 100.0
Pekerjaan dan Pendapatan Orang Tua
Pekerjaan atau mata pencaharian berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan terkait dengan faktor-faktor lain seperti kesehatan. Anak- anak yang tumbuh dalam keluarga miskin paling rawan terhadap kekurangan gizi diantara seluruh anggota keluarga (Harper et al 1986). Pekerjaan seseorang
akan berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas makanan yang
dikonsumsinya. Hal tersebut dikarenakan pekerjaan akan menentukan pendapatan yang dihasilkan, yang akan digunakan untuk membeli makanan.
Pekerjaan ayah peserta sebesar 53.3% adalah sebagai buruh, yaitu buruh bangunan, angkut barang, ataupun buruh pabrik. Pekerjaan memiliki hubungan dengan tingkat pendidikan yang nantinya akan mempengaruhi kehidupan sosial ekonominya.
Pekerjaan orang tua terutama ibu akan mempengaruhi kebiasaan makan dalam keluarga. Hal ini disebabkan karena umumnya ibu terlibat langsung dalam penyediaan makanan keluarga.
Tabel 8 Distribusi orang tua peserta berdasarkan pekerjaan
Kategori Pekerjaan Ayah Ibu
n % n %
Tidak Bekerja 3 5.2 50 83.3
Buruh (Bangunan , Angkut Barang, Pabrik) 31 53.5 4 6.7
Pedagang Keliling, Asongan 12 20.7 6 10.0
PNS 2 3.4 0 0
Jasa (supir angkot, ojeg) 10 17.2 0 0
Total 58 100 60 100
Ibu yang bekerja tidak lagi memiliki waktu untuk mempersiapkan makanan bagi keluarganya (Suhardjo 1989). Tabel 8 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar (83.3%) adalah sebagai ibu rumah tangga, tetapi terdapat juga ibu yang bekerja sebagai buruh (tukang cuci). Hal ini kemungkinan sebagai penyebab kondisi ekonomi peserta sebagian besar termasuk miskin.
Sebagian besar (75.8%) pendapatan orang tua peserta termasuk kategori miskin berdasarkan batas garis kemiskinan untuk kota Bogor sebesar Rp 278.530,00 (BPS 2010).
Besar Keluarga
Besarnya anggota keluarga merupakan sekelompok orang yang terdiri dari ayah, ibu serta anggota keluarga lainnya yang hidup dari sumberdaya yang sama. Suhardjo (1989) menyatakan bahwa terdapat hubungan sangat nyata antara besar keluarga dan kurang gizi pada masing-masing keluarga. Menurut Hurlock (1999), besar keluarga dibagi menjadi tiga kategori yaitu kecil (≤ 4 orang), sedang (5-6 orang) dan besar (≥ 7 orang). Hasil penelitian yang ditunjukkan dalam Tabel 9 dapat diketahui bahwa sebagian besar (46.8%) peserta termasuk kedalam golongan keluarga kecil.
Tabel 9 Distribusi peserta berdasarkan jumlah anggota keluarga Besar keluarga n % Kecil (≤ 4 orang) 29 46.8 Sedang (5-6 orang) 25 40.3 Besar (≥ 7 orang) 8 12.9 Total 62 100.0
Sumberdaya pada Penyelenggaraan Sarapan Menu Sepinggan
Tenaga Penjamah Makanan
Syarat-syarat sumberdaya yang dipekerjakan sebagai tenaga penjamah makanan dalam penyelenggaraan makanan adalah sebagai berikut: 1) bersih diri/penampilan bersih, 2) bersih rumah dan lingkungan, 3) mempunyai peralatan untuk menyelenggarakan makanan banyak/massal/institusi, dan 4) buat SOP (Standart Operating Procedure). Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pemilihan tenaga penjamah makanan yaitu: 1) hubungi pihak kepala sekolah atau guru atau aparatur desa yang lebih mengenal penduduk setempat, 2) setelah tenaga terpilih, amati rumahnya, amati ruang dapur apakah memenuhi syarat kesehatan untuk penyelenggaraan makanan banyak/massal/institusi, 3) komunikasikan dengan Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) puskesmas Merdeka agar dapat bekerja dibawah pengawasan TPG, dan 4) tuliskan tugas-tugas yang harus dapat diselesaikan oleh tenaga penjamah makanan. Jumlah tenaga penjamah makanan yang dibutuhkan dalam efikasi ini adalah 3 orang, yang bertugas sebagai tukang masak dan pembantu tukang masak.
Peralatan
Peralatan dibagi menjadi dua, yaitu peralatan masak (equipment) dan peralatan makan (utensil). Jenis dan jumlah peralatan yang harus disediakan oleh penyelenggara makanan anak sekolah tergantung dari macam menu yang diolah dan berapa banyak jumlah yang harus di masak. Peralatan yang dipergunakan dalam penyelenggaraan makanan ini adalah pisau, panci, kuali, wajan, kukusan. Umumnya bahan/material dari peralatan yang dipergunakan selama efikasi adalah aluminium dan stainless-steel. Peralatan memasak merupakan salah satu modal yang penting bagi kegiatan penyelenggaraan makanan anak sekolah. Jumlah dan mutu peralatan masak harus dipenuhi agar kegiatan penyelenggaraan makanan dapat berjalan sesuai dengan rencana.
Ketersediaan dan kelayakan peralatan yang digunakan turut menentukan proses pengolahan bahan pangan (Palacio 2009).
Syarat-syarat peralatan masak menurut (Depkes 2006) adalah: 1) bahan peralatan masak tidak boleh melepaskan zat beracun kepada makanan, seperti cadmium, plumbum (timah hitam), zincum (seng), cuprum (tembaga), stibium (antimon) atau arsenicum (arsen). Logam ini beracun yang dapat berakumulasi sebagai penyakit saluran kemih dan kanker, 2) keutuhan peralatan dalam penyelenggaraan makanan anak sekolah adalah tidak boleh patah, gompel, penyok, tergores atau retak karena akan menjadi sarang kotoran atau bakteri. Peralatan yang tidak utuh tidak mungkin dapat dicuci sempurna sehingga dapat menjadi sumber kontaminasi, dan 3) letak peralatan yang bersih dan siap dipergunakan sudah berada pada tempatnya masing-masing sehingga memudahkan waktu mencari (mengambilnya).
Alat makan yang dipergunakan dalam efikasi adalah boks makanan, yang bahannya dari plastik dan aman untuk dicuci berulang-ulang (tertera angka 5), serta tidak berlekuk-lekuk. Menurut Depkes (2006), syarat-syarat peralatan makan (utensil) adalah: 1) bersih, peralatan harus dalam keadaan bersih karena peralatan dapat mencemari makanan, 2) bentuknya utuh, tidak rusak, cacat, retak atau berlekuk-lekuk tidak rata, 3) peralatan yang sudah bersih dilarang dipegang di bagian tempat makanan, yang menempel di mulut, karena akan terjadi pencemaran mikroba melalui jari tangan, 4) peralatan yang sudah retak, gompel atau pecah selain dapat menimbulkan kecelakaan (melukai tangan) juga menjadi sumber pengumpulan kotoran karena tidak akan dapat dicuci sempurna, dan 5) peralatan makan yang dipakai yang sudah bersih disimpan di dalam kontainer plastik tertutup yang terlindung dari serangga dan tikus dan dikeluarkan apabila akan dipergunakan.
Bahan Pangan
Prosedur pembelian dan dimana membeli bahan pangan sangat menentukan kualitas bahan pangan yang akan dipergunakan. Kualitas bahan pangan sangat menentukan kualitas masakan yang dihasilkan. Untuk memperoleh bahan pangan yang baik harus dilakukan pemilihan bahan pangan pada saat pembelian ataupun selektif dalam menentukan tempat membeli bahan pangan. Penggunaan bahan pangan segar dilakukan setiap hari sehingga pembelian bahan pangan juga dilakukan setiap hari. Tempat pembelian bahan pangan dilakukan secara langsung di pasar terdekat, yaitu pasar kebon kopi
(dekat dengan Pusat Grosir Bogor/PGB). Tempat penyimpanan bahan pangan tidak tersedia, oleh karena itu kegiatan penyiapan dan pemasakan langsung dilakukan setelah bahan pangan dibeli (fasilitas yang tersedia tidak memadai).
Biaya (Dana)
Biaya makanan sebesar Rp3.000/hari/menu untuk sarapan menu sepinggan. Biaya ini mencakup biaya bahan pangan, biaya tenaga kerja dan biaya operasional, seperti bahan bakar, air dan listrik. Setelah dianalisa, maka rata-rata biaya pembelian bahan pangan (food cost) selama 2 minggu adalah 67.21%, biaya operasional (overhead cost) 12.81% dan upah tenaga penjamah makanan (manpower cost) sebesar 19.88%. Profit tidak ada dalam proses penyelenggaraan sarapan menu sepinggan, karena pelayanan makanan anak sekolah umumnya bersifat pelayanan atau service-oriented. Petugas pemasak dalam hal ini harus mempunyai jiwa sosial atau sukarela, artinya bekerja bukan mencari keuntungan, tetapi bertujuan untuk meningkatkan konsumsi makanan anak sekolah.
Metode
Tempat penyiapan dan pemasakan bahan pangan dilakukan di luar gedung sekolah karena fasilitas dapur sekolah belum ada, dan dilaksanakan oleh masyarakat yang dekat dengan sekolah. Hal ini dilakukan untuk menghindari biaya transportasi. Metode produksi yang dipergunakan dalam efikasi model ini adalah bahan pangan yang dibeli hari ini dimasak hari ini dan dimakan hari ini. Metode tersebut dikenal dengan metode produksi conventional. Hal ini dilakukan karena jumlah produksi tidak terlalu banyak dan fasilitas penyimpanan makanan jadi (ready to eat) belum ada. Standar-standar resep yang dihasilkan pada saat kegiatan pengolahan makanan didokumentasikan dengan baik, agar dapat digunakan sebagai standar baku (standar resep) untuk mempertahankan cita rasa makanan yang baik (rasa makanan sama, walaupun dilakukan oleh tenaga penjamah makanan yang berbeda).
Proses Penyelenggaraan Sarapan Menu Sepinggan untuk Anak Sekolah
Perencanaan Menu.
Perencanaan menu dilakukan melalui food preference dari siswa. Food preference dilakukan pada saat penelitian pendahuluan. Food preference dapat juga dilakukan oleh TPG dari puskesmas terdekat, dan dilaksanakan di sekolah, lalu hasilnya didiskusikan dengan calon tenaga penjamah makanan. Hal ini
sangat penting karena akan mempengaruhi jumlah dan kualitas tenaga penjamah makanan yang akan melaksanakan pemasakan. Menu yang direncanakan juga harus disesuaikan dengan peralatan yang tersedia, dan alat saji yang akan dipergunakan. Perencanaan menu yang dilakukan menitik beratkan kepada ketentuan sarapan untuk anak sekolah. Siklus menu mempergunakan 6 hari (senin sampai sabtu). Komposisi menu terdiri dari sumber energi (dapat berupa nasi, bubur, mie), lauk-pauk dan sayur. Resep makanan yang digunakan adalah resep yang pernah dimasak oleh petugas penjamah makanan. Standar resep tersebut di dokumentasikan dengan baik. Pada Tabel 10 dapat dilihat menu sepinggan dan kandungan energi, protein, vitamin A dan Fe yang disajikan selama 6 hari.
Tabel 10 Kandungan energi, protein, vit. A dan Fe sarapan menu sepinggan
Menu sepinggan
Energi Protein Vit. A Fe
Kkal % AKG Gr % AKG µg RE % AKG mg % AKG Laki- laki Perem -puan Mie goreng 422 20.6 9.6 19.2 363.6 60.6 3.4 26.2 16.9 Nasi uduk kuning 456 22.2 8.7 17.4 152.9 25.5 1.3 9.7 6.3 Lontong sayur 412 20.1 8.1 16.2 320.4 53.4 1.3 10.0 6.5 Bubur ayam 433 21.1 9.4 18.8 283.4 47.2 1.0 7.5 4.9 Gado-gado lontong 478 23.3 16 32.0 316.3 52.7 3.8 29.4 19.1 Nasi goreng 435 21.2 8.4 16.8 164.1 27.4 1.3 9.7 6.3 Rata-rata 439 21.4 10 20.1 266.8 44.5 1.97 15.4 10.0
Rata-rata kandungan energi menu sepinggan adalah 439 Kkal dan protein 10 gram. Berdasarkan AKG tahun 2004, angka ini sudah memenuhi 20%, dan dapat dipergunakan sebagai sarapan bagi siswa SD kelas 5 dan 6. Kandungan menu sepinggan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan menu PMT-AS di SDN 1 Malangsari Cipanas Lebak Banten.
Pengolahan
Berapa lama waktu yang diperlukan untuk penyiapan bahan pangan dan waktu pemasakan perlu diperhitungkan. Siapa yang melakukan penyiapan dan
pemasakan bahan pangan juga perlu diperhatikan. Standard Operational
Procedure (SOP) pemasakan diperlukan sebagai acuan untuk pengolahan bahan pangan. Langkah-langkah yang harus dilakukan saat penyiapan dan
pengolahan bahan pangan, seperti tidak terlalu lama waktu penyiapan ke waktu pemasakan dan waktu penyajian makanan.
Pengolahan bahan pangan terdiri atas dua kegiatan yaitu penyiapan dan pemasakan bahan pangan. Tahap ini perlu mendapat perhatian karena kehilangan zat gizi sering terjadi pada saat bahan pangan mengalami proses pengolahan. Pelaksanaan efikasi penyelenggaraan makanan anak sekolah ini melakukan penyiapan bahan dan pemasakan yang rata-rata dimulai pukul 04.30 dan selesai pukul 06.30 (2 jam), dilanjutkan dengan pemorsian dan siap untuk didistribusikan pada pukul 06.45. Proses penyiapan tidak selalu dilakukan pada hari yang sama karena ada penyiapan-penyiapan yang dilakukan 1 hari sebelumnya seperti membuat bumbu gado-gado. Proses pemasakan dilakukan 1 kali dalam 1 hari.
Proses penyiapan dan pemasakan yang dilakukan oleh penjamah makanan dalam pembuatan kudapan PMT-AS di SD Negeri 1 Malangsari adalah 7 jam. Jika dibandingkan dengan waktu penyiapan dan pemasakan yang dilakukan oleh penjamah makanan kudapan PMT-AS di SD Negeri 1 Malangsari, maka pembuatan makanan sepinggan lebih cepat, dan jika dibandingkan dengan data pada laporan pengumpulan data dasar dan evaluasi PMT-AS (1997), rata- rata lama memasak adalah 10.8 hingga 21.9 jam. Hal tersebut terjadi karena beberapa faktor, yaitu tenaga penjamah makanan yang kurang terampil memasak berbagai jenis kudapan, jumlah dan jenis alat penyiapan dan alat masak yang kurang memadai, dan lain-lain.
Higiene dan Sanitasi
Higiene dan sanitasi makanan adalah pengendalian terhadap faktor makanan, orang, tempat, dan perlengkapannya yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan lainnya. Upaya untuk mencapai higiene dan sanitasi makanan yang dilakukan adalah memberikan pelatihan kepada tenaga penjamah tentang apa-apa yang harus dilakukan supaya tidak terjadi pencemaran pada saat proses penyiapan, pemasakan dan pemorsian serta penyajian (Depkes 2006). Hasil penilaian terhadap higiene & sanitasi sesuai dengan Permenkes Nomor: 1096 tahun 2011 tentang Higiene Sanitasi Jasaboga, didapatkan nilai bobot sebesar 66. Nilai ini telah memenuhi syarat untuk jasaboga golongan A1 (jasaboga yang melayani kebutuhan masyarakat umum, dengan pengolahan makanan yang menggunakan dapur rumah tangga
dan dikelola oleh keluarga). Nilai minimal yang dipenuhi tempat pengolahan tersebut mencapai 65 dari total nilai 70. Hal ini mengindikasikan bahwa 93% (65/70) nilai yang berhasil dicapai (lampiran 8). Bobot total 70 belum tercapai dalam penilaian karena masih ada kekurangan, yaitu bagian dinding yang kena percikan air sudah dilapisi keramik (bahan kedap air) tetapi hanya setinggi 1,5 meter dari lantai, pintu dapur belum dapat menutup sendiri, dan membuka hanya ke satu arah, tersedia tempat sampah yang cukup, tetapi belum bertutup, serta pada proses pencucian tahapan perendaman belum dilakukan.
Pemorsian dan Pendistribusian
Cara pembagian makanan untuk siswa adalah dengan memorsi sesuai dengan kecukupan anak SD kelas 5 dan kelas 6. Jumlah nasi/bubur/mie, lauk dan sayur disesuaikan dengan kecukupan siswa, dengan cara ditimbang dalam 1 porsi. Peralatan yang digunakan untuk penyajian adalah kotak plastik dan sendok. Proses distribusi yang dipergunakan adalah dengan cara sentralisasi yaitu makanan diporsi di tempat pengolahan. Peralatan makan yang digunakan oleh siswa merupakan alat yang sederhana sehingga mudah dalam pencucian dan penyimpanannya.
Penyajian Makanan
Cara penyajian makanan untuk anak di sekolah sangatlah tergantung dari fasilitas yang tersedia di sekolah, seperti adanya ruang makan, alat saji yang cukup, dan jumlah tenaga yang melaksanakannya. Umumnya makanan anak sekolah disajikan dengan tipe/gaya cafetaria. Penyajian makanan anak sekolah, dapat mempergunakan kotak makan yang tidak bersekat, dan terbuat dari plastik. Menu yang disajikan merupakan menu sepinggan, sehingga tidak perlu memisahkan satu masakan dengan masakan lainnya, tetapi penyajiannya cukup dalam satu alat saji, yaitu boks makanan.
Pada efikasi model penyelenggaraan sarapan menu sepinggan untuk anak sekolah di SDN Kebon Kopi 2 Bogor didapatkan bahwa, tidak terdapat fasilitas ruang makan, jadi makan bersama dilakukan di kelas masing-masing. Tipe pelayanan makanan yang dipergunakan adalah gaya cafetaria dengan kantin bergilir, yaitu dengan cara siswa antri bergilir mengambil boks makanan dari dalam kontainer plastik.
Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi penyelenggaraan makanan anak sekolah merupakan serangkaian kegiatan mengumpulkan data kegiatan pengelolaan makanan dalam jangka waktu tertentu, untuk menghasilkan bahan bagi penilai kegiatan pelayanan makanan. Monitoring yang dilakukan selama penelitian adalah adalah: jumlah makanan yang diproduksi, penggunaan bahan pangan, lamanya waktu produksi, lamanya waktu pemorsian, lamanya waktu penyajian, monitoring keuangan tentang pembelian bahan pangan, dan pembelian bahan bakar. Monitoring dan evaluasi terhadap menu yang diproduksi dilakukan dengan memberikan kuesioner evaluasi dan dilakukan secara langsung sehingga catatan penting mengenai evaluasi menu dapat segera diketahui, seperti makanan mana yang disukai atau kurang disukai siswa. Monitoring dan evaluasi dilakukan oleh penulis dengan dibantu oleh guru kelas pada saat makan. Jika model ini dipergunakan sebagai program maka tenaga monitoring dan evaluasi dapat dilakukan oleh guru, kepala sekolah, TPG puskesmas yang berkaitan dengan menu, pengolahan bahan pangan, tingkat kesukaan & daya terima makanan, serta tenaga penyuluh pertanian yang ada di kecamatan yang berkaitan dengan pengadaan bahan pangan lokal di sekitar sekolah yang melaksanakannya.
Output Penyelenggaraan Makanan Anak Sekolah
Tingkat Kesukaan Anak terhadap Menu Sepinggan
Menurut Suhardjo (1989), sikap manusia terhadap makanan banyak
dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman dan respon-respon yang
diperlihatkan oleh orang lain terhadap makanan sejak masa kanak-kanak. Pengalaman yang diperoleh ada yang dirasakan menyenangkan atau sebaliknya tidak menyenangkan, sehingga setiap individu dapat mempunyai sikap suka atau tidak suka (like or dislike) terhadap makanan.
Preferensi makanan merupakan suatu tindakan/ukuran suka atau tidak suka terhadap makanan. Preferensi terhadap makanan didefinisikan sebagai derajat suka atau ketidaksukaan terhadap makanan dan akan berpengaruh terhadap konsumsi pangan (Suhardjo 1989). Uji kesukaan dilakukan dengan menggunakan uji hedonik, dengan 5 skala yaitu, sangat suka, suka, biasa, tidak suka, dan sangat tidak suka. Gambar 11 merupakan pengelompokkan menjadi dua kategori tingkat kesukaan, yaitu suka dan tidak suka. Kategori sangat suka dan suka dimasukkan ke dalam kategori suka, sedangkan kategori biasa saja, tidak suka, dan sangat tidak suka termasuk dalam kategori tidak suka.
Berdasarkan Gambar 11 diketahui bahwa sebagian besar contoh menyukai menu sepinggan yang diberikan selama penelitian. Hal ini dapat dilihat dari besarnya persentase suka terhadap setiap menu sepinggan > 90%. Beberapa contoh yang tidak menyukai menu sepinggan karena ada siswa yang tidak suka akan sayuran seperti mentimun, kol dan tomat.
Penelitian yang dilakukan Nurdiani (2011) di SD IT Insantama Bogor, menyatakan bahwa sebagian besar siswa menyukai makanan yang diberikan sekolah (katering). Sebanyak 88.6% siswa menyukai makanan pokok (nasi), 91.4% siswa menyukai lauk hewani, 91.4% siswa menyukai lauk nabati, 94.3% menyukai sayuran dan 97.1% menyukai buah. Dalam penelitian ini jenis menu yang diberikan adalah makanan sepinggan, jadi tidak ada pemisahan antara makanan pokok, lauk pauk dan sayuran. Hal tersebut dilakukan mengingat kondisi ekonomi dan jenis makanan yang biasa dikonsumsi oleh peserta. Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa sarapan menu sepinggan di sukai oleh siswa.
Gambar 11 Tingkat kesukaan peserta terhadap menu sepinggan
Apabila dibandingkan dengan kudapan PMT-AS yang dilakukan di SD Negeri 1 Malangsari, maka tingkat kesukaan siswa terhadap menu sepinggan lebih tinggi persentasenya dibandingkan dengan kudapan PMT-AS yang diberikan.
Daya Terima Makanan Anak Sekolah
Daya terima makanan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi konsumsi pangan seseorang. Daya terima terhadap makanan ditentukan oleh rangsangan dan indera penglihatan, penciuman, pencicip, dan pendengaran. Faktor utama yang dinilai dari cita rasa diantaranya ialah rupa
yang meliputi warna, bentuk, ukuran, aroma, tekstur dan rasa (Hardinsyah et al 1989). Gregoire dan Spears (2007) menyatakan bahwa tingkat kesukaan akan mempengaruhi daya terima siswa terhadap menu yang disajikan.
Daya terima seseorang terhadap makanan secara umum dapat dilihat dari jumlah makanan yang dikonsumsi. Sisa makan atau jumlah makanan yang