• Tidak ada hasil yang ditemukan

UKM BATIK DI KOTA PEKALONGAN

DAYA SAING PRODUK LOKAL

4. HASIL DAN PEMBAHASAN Sosialisasi dan Focus Group Disussion

Metode Partisipatory Rural Appraisal (PRA) ini dimulai dengan melakukan sosialisasi dan Focus Group Disussion mengenai beberapa kegiatan pendampingan pada para pembatik baik dari KUBe “Putri Kawung” maupun Paguyuban Batik “Taruntum”. Kami juga memberi kesempatan pada para pembatik untuk mengemukakan permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi sehingga bisa dirancang beberapa kegiatan yang lebih berguna bagi mereka.

Gambar 1. Kegiatan Sosialisasidan Focus Group Disussion

Dari hasil Sosialisasi dan Focus Group Disussion, ditambahkan beberapa kegiatan yang belum tercantum dalam proposal IbM dan menjadi solusi:

a. Studi Banding terkait topik “Kesadaran Merek” dan “Pengemasan”

Berdasarkan pengalaman kami sebelumnya (pada saat pembentukan awal KUBe “Putri Kawung”) studi banding memberikan dampak yang luar biasa pada peningkatan semangat para peserta. Karena itu, kami membawa peserta ke beberapa UKM lain di Yogyakarta, yaitu “Lawe” dan “Harpa”, untuk menimba pengalaman dari mereka.

b. Inbound

Setelah lebih dari 2 tahun berjalan, ditakutkan muncul sedikit konflik diantara para anggota “Putri Kawung”, seperti pada umumnya terjadi pada organisasi yang sudah agak lama beroperasi. Dengan mengikuti inbound (outbound yang dilaksanakan di lingkungan sendiri) diharapkan semakin muncul kelekatan antar anggota organisasi sehingga akan merangsang kekompakan sebagai satu bagian dari team kerja.

c. Pelatihan pembuatan proposal

Beberapa kali “Putri Kawung” diberi kesempatan untuk mengajukan proposal oleh Kepala Desa Jarum, untuk beberapa bantuan yang kemungkinan bisa diberikan oleh pemerintah atau instansi lain. Sayangnya, “Putri Kawung” belum tahu bagaimana cara membuat proposal yang baik. Untuk itu, akan diberikan pelatihan pada beberapa anggota inti “Putri Kawung” terkait dengan masalah ini.

Adapun rancangan kegiatan setelah dilakukan sosialisasi pendampingan, kesesuaian permasalah mitra dengan kegiatan pendampingan, dan kesesuaian dana hibah pengabdian pada masyarakat dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini:

Tabel 3. Rancangan Penyesuaian Kegiatan-Permasalahan Mitra

No Kegiatan Peserta

3. Penyuluhan Kesadaran Merek Putri Kawung dan Taruntum

4. Studi Banding Putri Kawung

5. Inbound Putri Kawung

6. Pelatihan Pengemasan Putri Kawung dan Taruntum 7. Pelatihan Diversifikasi Putri Kawung dan Taruntum 8. Penyuluhan “Akses Pemasok Bahan Baku” Putri Kawung dan Taruntum

9. Pembuatan Weblog Taruntum

10. Peningkatan Akses Penjualan Putri Kawung dan Taruntum

Pelatihan Pembuatan Proposal

Pelatihan pembuatan proposal dilaksanakan pada tanggal 16 Juni 2013, diikuti oleh beberapa anggota inti dari KUBe “Putri Kawung”. Diharapkan setelah diberikan pelatihan pembuatan proposal ini, Putri Kawung tidak merasakan kesulitan lagi dalam membuat proposal sehingga bisa mendapatkan bantuan baik dari pemerintah maupun dari lembaga lain.

Gambar 2. Kegiatan “Pelatihan Pembuatan Proposal” Gambar 3. Kegiatan “Penyuluhan Kesadaran Merek” Penyuluhan Kesadaran Merek

Penyuluhan Kesadaran Merek ini diadakan pada tanggal 26 Juni 2013 dengan tema “Pentingnya Pemberian Merek” yang bertujuan memberikan informasi bahwa pemberian merek mampu menaikkan nilai jual produk, bisa membedakan dengan produk pesaing, menaikkan citra dan persepsi produk. Penyuluhan ini dihadiri anggota KUBe “Putri Kawung” dan Paguyuban Batik “Taruntum”.

Studi Banding

Studi Banding dilaksanakan pada tanggal 8 Juli 2013, dilaksanakan di 2 tempat. Yang pertama adalah di CV Lawe yang terletak di Galeri Amri Yahya, Jl. Prof. Dr. Ki Amri Yahya Yogyakarta.

CV Lawe adalah UKM yang bergerak di bidang produksi kerajinan tenun serat alam. Yang kedua adalah di PT Harpa Inti Mandiri yang terletak di Jl. Kanggotan, Plered, Bantul, Yogyakarta. PT Harpa memproduksi aksesoris rumah dari pandan, bambu, dan mendong.

Ada banyak hal yang didapatkan dari studi banding ini. Di CV Lawe, sebelum dipersilakan keliling untuk melihat-lihat produk dan workshop, Putri Kawung diajak untuk bersambung rasa terlebih dahulu. Setelah diceritakan tentang sejarah berdirinya CV Lawe, pembatik dipersilakan untuk bertanya, bisa terkait dengan apa yang sudah dialami CV Lawe ataupun dengan kesulitan yang selama ini dialami Putri Kawung. Dari sini beberapa pelajaran bisa dipetik.

Gambar 4. Kegiatan Studi Banding ke CV. Lawe

Di PT Harpa, Putri Kawung diajak untuk melihat-lihat beraneka macam hasil produksi dari PT Harpa. Ada beberapa produk dari PT Harpa yang bisa dikombinasikan dengan batik. Pemilik PT Harpa bahkan menawarkan kerjasama dengan Putri Kawung untuk memasok batik yang nantinya akan menjadi bahan baku kombinasi untuk produk tersebut. Hanya saja, mengingat spesialisasi Putri Kawung adalah batik tulis –bukan batik cap atau printing– maka Putri Kawung hanya bisa menyediakan produk batik tulis saja. Hal ini akan berimbas pada mahalnya bahan baku, sehingga membuat PT Harpa merasa perlu memikirkan kembali tawarannya.

Gambar 5. Kegiatan Studi Banding ke Harpa Gambar 6. Kegiatan Inbound

batik tulis sintetis harganya antara 1/3-1/2 dari kain batik tulis alami. Pada tanggal 1 Nopember 2013 Putri Kawung mengirimkan sampel-sampel ini.

Inbound

Inbound dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2013. Inbound dilakukan dengan menggandeng narasumber dari luar tim, yaitu Ibu Elina dari Ardhana Consulting. Kegiatan ini dilakukan agar semakin muncul kelekatan antar anggota organisasi sehingga akan merangsang kekompakan sebagai satu bagian dari tim kerja.

Pelatihan Pengemasan

Pelatihan pengemasan dilaksanakan pada 11 Nopember 2013. Beberapa alternatif pengemasan diberikan, antara lain hard box, tas furing, dan tas kertas. Untuk barang-barang bertekstur keras yang akan dikirim ke luar daerah, perlu adanya perlindungan tambahan dengan menggunakan bubble wrap.

Gambar 7. Kegiatan Pelatihan Pengemasan

Pelatihan Diversifikasi

Pelatihan diversifikasi dilaksanakan pada 14 Nopember 2013. Pelaksanaan program praktik diversifikasi dilakukan dengan cara melibatkan UKM pendamping praktik dari wilayah Bantul, yaitu KUBE Sekar Arum (yang memberikan materi praktik pembuatan hem batik, kaos, dan semacamnya) dan PT Harpa Inti Mandiri (diwakili oleh Norhadi sebagai praktisi pembuatan produk handycraft dari produk-produk turunan batik).

Gambar 8. Kegiatan “Pelatihan Diversifikasi”

Dalam prakteknya kemudian, Putri Kawung merasa kesulitan dalam menerapkan materi handycraft dari Harpa dan memutuskan untuk tidak meneruskan pembuatan produk kerajinan semacam itu. Namun materi pembuatan hem batik, kaos batik, dan sejenisnya sangat disukai dan terus dipraktekkan. Bahkan mereka juga mencoba-coba untuk membuat sajadah batik. Sajadah batik ini ternyata sangat laku penjualannya.

Gambar 9. Hasil dari Pelatihan Diversifikasi

Penyuluhan “Akses Pemasok Bahan Baku”

Penyuluhan akses pemasok bahan baku dilaksanakan pada 29 Nopember 2013. Materinya berupa sosialisasi strategi akses pemasok khususnya bahan baku kain mori dan pewarnaan sintetis kepada anggota KUBe Putri Kawung dan anggota Paguyuban Taruntum. Penyuluhan ini dimaksudkan untuk membangun peluang kerjasama perajin dalam rangka pengadaan bahan baku yang ekonomis. Selama ini, perajin melakukan pemesanan secara perseorangan dan umumnya mereka membeli kain atau bahan pewarnaan sintetis ke pasar Klewer Solo. Sementara di tingkat kecamatan sendiri ada GKBI (Gabungan Keluarga Batik Indonesia) yang juga menyediakan bahan-bahan untuk keperluan membatik, namun karena kurangnya sosialisasi pengurus GKBI ke perajin maka perajin

Dalam penyuluhan ini audiens didorong untuk melakukan negosiasi untuk mendapatkan potongan harga seandainya perajin memesan dalam kuantitas besar. Karena itu, solusi yang ditawarkan adalah menyarankan pengadaan bahan baku secara kolektif.

Pembuatan Weblog

Weblog dibuat untuk Paguyuban Batik “Taruntum”. Pengusaha-pengusaha yang bergabung dalam paguyuban ini dimunculkan profil usahanya, serta foto-foto dari usahanya tersebut. Beberapa pengusaha yang sudah terdata adalah Sekar Mawar, Sarwidi Batik, Unik Batik, Ellsa Batik, Adhimas Batik, Cavin Craft Batik, Makruf Batik, Bimasena Batik, Sri Endah Batik, dsb. Selain itu, artikel-artikel terkait batik diunggah dalam weblog tersebut untuk meningkatkan kemungkinan seseorang untuk menemukan weblog Paguyuban Taruntum tanpa sengaja pada saat Googling. Weblog yang kami buatkan adalah yang tidak berbayar, karena bila berbayar, ada kemungkinan setelah masa kontrak habis tidak diperpanjang oleh paguyuban. Alamat weblog Paguyuban Taruntum adalah www.paguyubantaruntum.blogspot.comU

Gambar 10. Tampilan Weblog Paguyuban Taruntum

Peningkatan Akses Penjualan

Peningkatan akses penjualan atau perluasan jaringan pemasaran dilakukan dengan mendatangi beberapa toko atau pasar swalayan, baik di sekitar Jogja.

Ada beberapa kendala dalam kegiatan ini, mengingat banyak toko/swalayan yang menolak dengan berbagai alasan. Beberapa alasan yang disampaikan di antaranya adalah:

- Tingginya harga produk. Produk memang memiliki harga yang relatif tinggi mengingat produk ini adalah batik tulis alami. Meski demikian, sebenarnya bila dibandingkan produk sejenis produk dari KUBe “Putri Kawung” harganya relatif rendah.

- Beberapa swalayan craft, pada saat didatangi menyatakan bahwa sebenarnya mereka mau menerima titipan, namun saat itu produk sejenis masih menumpuk. Kami diminta datang kembali beberapa minggu kemudian (dan beberapa minggu kemudian pun kondisinya masih sama seperti itu).

- Pada toko yang lain, kami diijinkan untuk memajang barang di toko tersebut dengan sistem sewa rak dengan harga yang lumayan tinggi. Tentu saja kami menolak.

Gambar 11. Kegiatan Peningkatan Akses Penjualan

Toko yang menerima tawaran kerjasama untuk mendistribusikan batik Putri Kawung dan Taruntum:

- Mirota Batik Jl. Kaliurang Yogyakarta

Toko ini memberi kesempatan pada Putri Kawung dan Taruntum untuk melakukan konsinyasi. Konsinyasi dilakukan dengan cara menitipkan barang ke petugas, dengan tanda bukti nota. Penagihan dilakukan 1,5 bulan kemudian. PPN sebesar 3% menjadi tanggungan Putri Kawung. Untuk penitipan perdana, Mirota Batik memberi kesempatan untuk menitipkan minimal 10 potong kain batik tulis alami dan 10 potong sajadah batik.

- Sidiq Manajemen

Sidiq Manajemen membawahi sekitar 15 toko dan rumah makan yang menjual souvenir etnis (diantaranya batik). Barang yang dititipkan di Sidiq Manajemen akan didistribusikan ke toko-toko batik yang berada di bawah manajemennya. Sidiq Manajemen tidak membebankan PPN pada produsen yang menitipkan barang padanya. Untuk penitipan perdana, Sidiq manajemen memberi kesempatan untuk menitipkan minimal 20 potong kain batik tulis.

- Untuk Paguyuban Taruntum tidak ada masalah, mengingat Paguyuban ini terdiri dari banyak pengusaha sehingga ada kemampuan untuk memenuhi kuota penitipan.

- KUBe “Putri Kawung” tidak bisa memenuhi kuota penitipan saat itu juga karena pada saat yang bersamaan banyak produknya yang sedang dititipkan ke luar daerah untuk pameran,sementara stok yang ada di workshop masih di bawah kuota.

Stimulasi Bahan baku, Pengemasan dan Weblog

Stimulasi berupa bahan-bahan untuk diversifikasi dan pengemasan diserahkan pada Putri Kawung di Show Room mereka pada tanggal 29 Nopember 2013, sebelum penyuluhan “Akses Pemasok Bahan Baku” dimulai. Stimulasi yang diberikan berupa kaos untuk bahan membuat kaos batik, busa Coldoray dan blaco untuk membuat sajadah, serta kain furing dan tali kur untuk membuat tas kemasan. Sayangnya kain blaco hanya 4,4 m yang bisa kami dapatkan, karena stok di toko habis. Jadi kain tersebut hanya dijadikan sampel saja. Harapan dari Tim pendamping, bantuan ini bisa dijadikan stimulus untuk produksi lebih lanjut. Bantuan serupa ini tidak diberikan terhadap Paguyuban Batik Taruntum, mengingat jumlah pengusaha yang tergabung dalam paguyuban ini ada 34 pengusaha. Untuk Paguyuban Batik Taruntum, bantuan berupa blog profil dan produk anggota.

4. KESIMPULAN

Setelah dilakukannya kegiatan pemberdayaan berbasis Participatory Rural Appraisal (PRA) pada pelaku usaha batik di Bayat yang menjadi mitra pendampingan dan hasil yang dicapai maka dapat disimpulkan sbb: pertama, masalah dalam pemasaran: kegiatan pemberdayaan mampu menfasilitasi peningkatan akses penjualan di beberapa toko atau pasar swalayan, baik di sekitar Jogja (Mirota Batik Jl. Kaliurang Yogyakarta dan Sidiq Manajemen). Selain itu pelaku usaha batik yang menjadi mitra dampingan mempunyai alternatif pengemasan antara lain hard box, tas furing, dan tas kertas. Untuk barang-barang bertekstur keras yang akan dikirim ke luar daerah, perlu adanya perlindungan tambahan dengan menggunakan bubble wrap.

Kedua, berkaitan kurangnya kesadaran pelaku usaha batik di Bayat akan merek dari produk yang dihasilkan. Adapun yang dilakukan Tim pemberdayaan adalah melakukan Penyuluhan Kesadaran Merek, pembuatan Weblog untuk KUBe “Putri Kawung” dan Paguyuban Batik “Taruntum”, pembuagan leaflet.

Ketiga, berkaitan masalah dalam Produksi. Kegiatan yang dilakukan Tim pemberdayaan adalah Penyuluhan “Akses Pemasok Bahan Baku”. Penyuluhan ini dimaksudkan untuk membangun peluang kerjasama perajin dalam rangka pengadaan bahan baku yang ekonomis.

Keempat, masalah variasi produk yang masih rendah. Dalam hal ini Tim pemberdayaan menfasilitasi Pelatihan Diversifikasi dengan melibatkan UKM pendamping praktik dari wilayah Bantul, yaitu KUBE Sekar Arum (yang memberikan materi praktik pembuatan hem batik, kaos, dan semacamnya. Tim pemberdayaan juga menfasilitasi kegiatan Studi Banding pada: CV Lawe, UKM yang bergerak di bidang produksi kerajinan tenun serat alam dan PT Harpa Inti Mandiri yang memproduksi aksesoris rumah dari pandan, bambu, dan mendong.

5. UCAPAN TERIMAKASIH

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada DP2M DIKTI yang telah mendanai kegiatan pendampingan yang kami lakukan melalui Hibah Kegiatan Ipteks bagi Masyarakat (IbM) sehingga mampu meningkatkan daya saing produk lokal IKM Batik di Kecamatan Bayat pada umumnya dan khususnya pada KUBe Putri Kawung dan Paguyuban Taruntum sebagai mitra dampingan kami.

REFERENSI

Adimihardja, K. &. H. H., 2003. Participatory Research Appraisal : Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat. Bandung: Penerbit Humaniora.

Bhandari, B. B., 2003. Participatory Rural Appraisal. In: Kanagawa, Japan: Institute for Global Environmental Strategies (IGES), p. Module 4.

Chambers, R. 1996. Participatory Rural Appraisal: Memahami Desa Secara Partisipatif. Oxfam – Kanisius. Yogyakarta.

Djohani, R. 1996. Berbuat Bersama Berperan Setara. Driya Media. Bandung

Kumar, S. 2002. Methods for Commmunity Participation. ITDP Publishing. London.

Mikkelsen, B. 2001. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-upaya Pemberdayaan. Yayasan Obor Indonesia.

POTRET FUTURE ANTICIPATION UMKM BATIK