POTRET FUTURE ANTICIPATION UMKM BATIK JAWA TENGAH
METODE PENELITIAN
Jenis dan Lokasi Penelitian
Jika ditinjau dari kegunaannya (purpose of study), penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan penyebab dan dampak hubungan (Blaikie, 2000). Penelitian ini dilakukan di tiga wilayah yang merupakan produsen batik seperti Pekalongan, Lasem dan Solo, Propinsi Jawa Tengah. Ketiga lokasi ini dipilih mengingat wilayah ini banyak terdapat UMKM Batik, baik yang sudah ekspor maupun yang belum melakukannya. Future Anticipation Customer value Extra Effort Market Performance H1 H2 H3 H6 H4 H5
Teknik Pengambilan dan Pengolahan Data
Populasi dalam penelitian ini adalah pengusaha batik yang tersebar di Solo, Lasem dan Pekalongan. Peneliti menyebarkan kuesioner dengan skala likert 1-7 untuk mendapatkan persepsi responden terhadap variabel-variabel yang diteliti dalam penelitian ini. Metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah snowball sampling dengan jumlah responden sebanyak 50 responden dari tiap kota sehingga total diperoleh 150 sampel. Data yang terkumpul kemudian diolah dengan metode structural equation modelling dengan software LISREL 8.80 untuk menguji hipotesis yang diajukan.
Hasil Penelitian
Dengan menggunakan SEM dan bantuan Lisrel 8.8, diperoleh uji kesesuaian keseluruhan model struktural, yang didalamnya menghasilkan nilai kesesuaian atau GOF. Secara lengkap nilai kesesuaian tersebut ditunjukkan pada tabel 1.
Tabel 1. Ukuran Kesesuaian keseluruhan Model Struktural Indikator
GOF
Ukuran Yang Hasil
Kesimpulan Diharapkan Estimasi
GFI GFI > 0,90 0,83 Marginal fit RMSEA
RMSEA <
0,08 0,046 Good fit
NNFI NNFI > 0,90 0,93 Good fit NFI NFI > 0,90 0,91 Good fit RFI RFI > 0,90 0,96 Good fit IFI IFI > 0,90 0,91 Good fit CFI CFI > 0,90 0,94 Good fit
Sumber: Data primer, 2013
Berdasarkan tabel diatas, pada umumnya dapat disimpulkan bahwa model penelitian memiliki tingkat kesesuaian yang baik. Hal ini terbukti dari nilai estimasi yang didominasi oleh nilai dengan tingkat kesesuaian baik (good fit). Meskipun demikian, terlihat ada satu ukuran yang berada dibawah ukuran kesesuaian baik, yaitu GFI tapi masih berada dalam lingkup kesesuaian marginal.
Hasil Pengujian Hipotesis
Berikut merupakan gambar dan hasil analisis full model SEM.
Gambar 2. Path Diagram Sumber: output Lisrel 8.8 (2013)
Hasil diatas memperlihatkan nilai koefisien yang dihasilkan dan nilai │t│. Apabila lintasan struktural memiliki nilai │t│≥ 1,96, maka koefisien lintasan tersebut dinyatakan signifikan, dan apabila │t│≤ 1,96, maka disimpulkan bahwa koefisien
dari lintasan tidak signifikan (Hair et al. , 2010).
Tabel 2. Hasil Pengujian Hipotesis
Hypotheses t-value (Un)/Supported
H1: Future anticipation postively influences extra effort
5.36 Supported H2: Future anticipation positively influences
customer value
4.10 Supported H3: Future anticipation positively influences market
performance
3.15 Supported H4: Extra effort positively influences customer
value
3.05 Supported H5: Customer value positively influences market
performance
2.07 Supported H6: Extra effort positively influences market
performance
Berdasarkan hasil analisis diatas ditemukan bahwa future anticipation berpengaruh positif terhadap extra effort. Hal ini terlihat dari nilai │t│pada tabel 2
yang sesuai dengan persyaratan statistik yang telah ditentukan (│t│≤ 1,96), sehingga
hipotesis ini dinyatakan didukung data. Pada hasil pengujian hipotesis 1 ditemukan bahwa future anticipation yang dilakukan oleh perusahaan membuat perusahaan tersebut untuk memberikan extra effort bagi pelanggannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Morales (2005) yang menyatakan bahwa perusahaan yang meletakkan pelanggan sebagai focal point akan memberikan upaya extra untuk pelanggannya. Perusahaan yang melihat antisipasi masa depan dengan melihat faktor politik, sosial, ekonomi, budaya dan teknologi akan membuat perusahaan tersebut melakukan extra effort demi memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggannya.
Berdasarkan hasil analisis diatas ditemukan bahwa future anticipation berpengaruh positif terhadap customer value. Hal ini terlihat dari nilai │t│pada tabel
2 yang sesuai dengan persyaratan statistik yang telah ditentukan (│t│≥ 1,96),
sehingga hipotesis ini dinyatakan didukung data. Pada hasil pengujian hipotesis 2 ditemukan bahwa perusahaan yang melakukan future anticipation akan memberikan superior customer value kepada pelanggannya. Perusahaan tersebut memahami akan perubahan selera pelanggan dan perubahan struktur masyarakat sehingga perusahaan akan memberikan yang terbaik kepada pelanggannya yang tercermin dalam customer value. Penelitian ini sejalan dengan temuan dari Destan, Yaprak & Cavusgil (2006) yang menyatakan bahwa semakin perusahaan tersebut berorientasi kepada masa depan maka semakin bagus customer value yang diberikan oleh perusahaan tersebut. Pengusaha batik yang memahami masa depan akan memberikan superior customer value kepada pelanggannya melalui penciptaan motif ataupun desain batik yang unik. Berdasarkan hasil analisis diatas ditemukan bahwa future anticipation berpengaruh positif terhadap market performance. Hal ini terlihat dari nilai │t│pada
tabel 2 yang sesuai dengan persyaratan statistik yang telah ditentukan (│t│≥ 1,96),
sehingga hipotesis ini dinyatakan didukung data. Pada hasil pengujian hipotesis 3 ditemukan bahwa future anticipation yang dilakukan oleh perusahaan akan dihargai oleh pelanggannya. Bentuk penghargaan dari pelanggan ini berupa kepuasan dan loyalitas dari pelanggan kepada perusahaan. Hal ini tentunya memberikan dampak pembelian berulang yang berarti kenaikan penjualan yang berujung kepada peningkatan keuntungan perusahaan. Dengan demikian maka perusahaan yang dipersepsikan melakukan future anticipation akan memberikan dampak positif kepada market performance perusahaan. Hal ini sejalan dengan penelitian Flint et al., (2011) yang menyatakan bahwa future anticipation akan memberikan pengaruh yang positif terhadap kepuasan dan loyalitas pelanggan. Loyalitas inilah yang nantinya akan berujung kepada pembelian berulang sekaligus positive word of mouth kepada pelanggan yang lain sehingga akan meningkatkan market performance.
Berdasarkan hasil analisis diatas ditemukan bahwa extra effort berpengaruh positif terhadap customer value. Hal ini terlihat dari nilai │t│pada tabel 2 yang sesuai
dengan persyaratan statistik yang telah ditentukan (│t│≥ 1,96), sehingga hipotesis
ini dinyatakan didukung data. Pada hasil pengujian hipotesis 4 ditemukan bahwa perusahaan yang berupaya memberikan extra effort kepada pelanggannya akan memberikan superior customer value. Extra effort berarti berupaya memberikan yang lebih baik dibanding pesaing. Extra effort juga berarti tidak hanya memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan namun juga memberikan manfaat yang lebih besar dibanding biaya yang dikeluarkan oleh pelanggan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Haryanto (2007) yang menemukan bahwa extra effort akan memberikan daya tarik alternatif yang menarik pelanggan untuk berpindah karena adanya superior customer value yang ditawarkan.
Berdasarkan hasil analisis diatas ditemukan bahwa customer value berpengaruh positif terhadap market performance. Hal ini terlihat dari nilai │t│pada
tabel 2 yang sesuai dengan persyaratan statistik yang telah ditentukan (│t│≥ 1,96),
sehingga hipotesis ini dinyatakan didukung data. Pada hasil pengujian hipotesis 5 ditemukan bahwa perusahaan yang dipersepsikan memberikan customer value akan menciptakan kepuasan yang berujung kepada loyalitas pelanggan yang diwujudkan dalam bentuk pembelian berulang dan positif word of mouth. Jikalau ada pembelian berulang maka berarti akan ada kenaikan penjualan yang berujung kepada kenaikan keuntungan perusahaan. Dengan demikian, maka customer value tidak hanya berujung kepada kepuasan saja namun lebih jauh berpengaruh positif terhadap market performance. Customer value juga berarti memberikan manfaat yang lebih besar dari biaya yang harus dikeluarkan oleh pelanggan. Pelanggan yang merasa mendapatkan manfaat lebih dibanding pesaing akan melakukan customer retention dan sejalan dengan prinsip relationship marketing yang berorientasi kepada customer retention.
Berdasarkan hasil analisis diatas ditemukan bahwa extra effort tidak berpengaruh positif terhadap market performance. Hal ini terlihat dari nilai │t│pada
tabel 2 dimana nilai t ≤ 1,96, sehingga hipotesis ini dinyatakan tidak didukung data. Pada hasil pengujian hipotesis 6 ditemukan bahwa extra effort tidak mampu menciptakan market performance. Extra effort berarti ada biaya extra yang dikeluarkan oleh perusahaan sehingga tidak cukup kuat dalam jangka pendek untuk menciptakan market performance yang positif. Perusahaan dengan extra effort akan mengeluarkan biaya yang mengurangi keuntungan perusahaan sehingga tidak cukup kuat dalam jangka pendek untuk memberikan keuntungan bagi perusahaan.
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa future anticipation memiliki makna penting terhadap pembentukan extra effort, customer value maupun market
performance sebuah perusahaan. Terbentuknya extra effort, customer value maupun market performance sangat ditentukan oleh bagaimana dilakukannya future anticipation.
Dalam makna empiris, pengusaha batik yang mampu mengantisipasi masa depan akan dihargai oleh pelanggannya dan menciptakan pembelian berulang yang akhirnya memberikan peningkatan market performance bagi para pengusaha batik tersebut.
Dalam level UMKM diperlukan upaya extra dan penciptaan superior customer value kepada pelanggan untuk menciptakan market performance. Para pengusaha batik perlu memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan dengan lebih baik lagi di masa depan dan memenuhi keinginan tersebut dengan lebih baik lagi.
IMPLIKASI MANAJERIAL
Berdasarkan pada hasil penelitian, ada beberapa implikasi manajerial yang bisa dirumuskan yaitu:
1. Future anticipation penting bagi peningkatan kinerja pemasaran. Untuk itu para pengusaha pada umumnya dan batik pada khususnya perlu membuat rencana strategis mengenai future anticipation.
2. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan analisis apa saja yang telah dilakukan selama ini terkait dengan strategi pemasaran perusahaan. Perlu diketahui juga kekuatan dan kelemahan perusahaan yang telah ada selama ini. Kemudian perlu melakukan analisis perilaku konsumen selama ini dan kemudian dibuat proyeksi mengenai perilaku konsumen masa mendatang. Dari gab inilah kemdudian disusun strategi future anticipation
3. Perlu dibentuk tim khusus untuk menjalankan ini. Tim ini yang akan terus bekerja melakukan auidit terhadap perilaku konsumen dan kondisi perusahaan yang kemudian dijadikan dasar untuk menyusun strategi masa mendatang. Tim ini bisa berasal dari tim marketing dan tim produksi.
DAFTAR PUSTAKA
Adam, Barbara. 2008. Future Matters: Futures Known, Created and Minded. 21st Century Society, Vol. 3, No. 2, 111-116.
Adams, J. Stacy. 1965. Inequity in Social Exchange. In Advances in Experimental Social Psychology, Vol. 2, ed. Larry Berkowitz, New York: Academic Press, 1-64.
Campbell, Margaret C. Dan Amna Kirmani. 2000. Consumers’ Use of Persuasion
Perceptions of an Influence Agent. Journal of Consumer Research, Vol. 27, 69-83.
Cardozo, R.N. 1965. An Experimental Study of Customer Effort, Expectation, and Satisfaction. Journal of Marketing Research, Vol. 2, 244-49.
Chang, Horng Jinh, Lun Ping Hung, Chia Ling Ho. 2007. An Anticipation Model of
Potential Customers’ Purchasing Behavior Based on Clustering Analysis and
Association Rules Analysis. Expert Systems With Application, Vol. 32, 753-764.
DeRoo, Neal. 2009. Futurity in Phenomenology. Dissertation: The Graduate School of Arts and Sciences. Department of Philosophy. Boston College.
Flint, Daniel J., Christoper P. Blocker, Philip J. Boutin Jr. 2011. Customer Value Anticipation, Customer Satisfaction and Loyalty: An Empirical Examination. Industrial Marketing Management, Vol. 40, 219-230.
Folkes, Valerie S. 1988. Recent Attribution Research in Consumer Behavior: A Review and New Directions. Journal of Consumer Research, Vol. 14, 548-65. Friestad, Marian dan Peter Wright. 1994. The Persuasion Knowledge Model: How People Cope With Persuasion Attempts. Journal of Consumer Research, Vol. 21, 1-31.
Haryanto, Jony Oktavian. 2007. Model Baru Dalam Migrasi Pelanggan. Journal of Economics and Business. Vol. XIII No. 1. Salatiga: Satya Wacana Christian University.
Heider, Fritz. 1958. The Psychology of Interpersonal Relations New York: Wiley. Kandemir, Destan., Attila Yaprak, S. Tamer Cavusgil. 2006. Alliance Orientation:
Conceptualization, Measurement, and Impact on Market Performance. Journal of the Academy of Marketing Science, Vol. 34, No. 3, 324-340. Kelley, Harold H. 1967. Attribution Theory in Social Psychology. In Nebraska
Symposium of Motivation, Vol. 15, ed. D Levine, Lincoln: University of Nebraska Press, 192-238.
Kotler, P., & Kettler, K.L. (2009). Marketing Management, 13th Ed. New Jersey: Pearson Prentice Hall-Upper Saddle River.
Kirmani, Amna dan Peter Wright. 1989. Money Talks: Perceived Advertising Expense and Expected Product Quality. Journal of Consumer Research, Vol. 16, 344-53.
Kruger, J., Wirtz, L.V.B., dan Altermatt, T.W. 2004. The effort heuristc. Journal of Experimental Social Psychology, Vol. 40, 91-97.
Mello, Zena R., Dilrani Bhadare, Emilene J. Fearn, Michael M. Galaviz, Elisabeth S. Hartmann, and Frank C. Worrel. 2009. The Window, The River, and The
Novel: Examining Adolescents’ Conceptions of The Past, The Present, and
The Future. Adolescence, 44, 175, 539-556.
Mische, Ann. 2009. Projects and Possibilities: Researching Futures in Action. Sociological Forum, Vol. 24, 694-706.
Morales, Andrea C. 2005. Giving Firms an “E” for Effort: Consumer Responses to
High-Effort Firms. Journal of Consumer Research. Vol. 31, 306-312.
Regan, D.T. 1971. Effects of a Favor and Liking on Compliance. Journal of Experimental Social Psychology, 627-39.
Weiner, Bernard. 1974. “An Attributional Interpretation of Expectancy-Value
Theory” in Cognitive Views of Human Motion, ed. Bernard Weiner, New
York: Academic Press.
Weiner, Bernard. 2000. “Attributional Thoughts and Consumer Behavior”. Journal of Consumer Research, Vol. 27, 382-387.