• Tidak ada hasil yang ditemukan

UKM BATIK DI KOTA PEKALONGAN

DAYA SAING PRODUK LOKAL

2. TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Participatory Rural Appraisal (PRA)

PRA ada antara lain dilatarbelakangi oleh kritik para aktivis pengembangan dan pemberdayaan masyarakat terhadap penelitian dahulu yang lebih banyak memposisikan masyarakat sekedar sebagai obyek penelitian. Lahirnya metode partisipasi masyarakat dalam pembangunan dikarenakan adanya kritik bahwa masyarakat hanya diperlakukan sebagai obyek, bukan subyek. Metode Participatory Rural Appraisal (PRA) merupakan perkembangan dari metode-metode terdahulu, diantaranya teknik Rapid Rural Appraisal (RRA) yang kurang dalam mengajak stakeholder untuk berpartisipasi dalam program atau kebijakan (Chambers, 1996).

Jadi, PRA adalah teknik yang memungkinkan masyarakat untuk turut serta dalam membuat tindakan nyata rencana, pengawasan, dan evaluasi kebijakan yang berpengaruh pada kehidupannya. PRA bukan hanya terdiri dari riset, melainkan juga perencanaan (partisipatif), monitoring, dan evaluasi. Dengan dilibatkannya masyarakat dalam proses program, program itu akan lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tingkat kepedulian masyarakat dalam menjalankan program/kebijkan akan lebih tinggi.

Prinsip-prinsip PRA

Berikut adalah prinsip-prinsip gabungan menurut Adimihardja & Hikmat (2003) serta Bhandari (2003):

1. Masyarakat dipandang sebagai subjek bukan objek.

2. Orang luar sebagai fasilitator dan masyarakat sebagai pelaku. 3. Peneliti memposisikan dirinya sebagai insider bukan outsider.

5. Pemberdayaan dan partisipatif masyarakat dalam menentukan indikator sosial (indikator evaluasi partisipatif). Kemampuan masyarakat ditingkatkan melalui proses pengkajian keadaan, pengambilan keputusan, penentuan kebijakan, peilaian, dan koreksi terhadap kegiatan yang dilakukan.

6. Keterlibatan semua anggota kelompok dan menghargai perbedaan.

7. Konsep triangulasi. Untuk bisa mendapatkan informasi yang kedalamannya dapat diandalkan, bisa digunakan konsep triangulasi yang merupakan bentuk pemeriksaan dan pemeriksaan ulang.

8. Optimalisasi hasil.

9. Fleksibel dalam proses partisipasi.

Teknik dalam melakukan PRA (Bhandari, 2003)

Terdapat beberapa teknik utama didalam melakukan PRA, Bhandari, 2003 menyebutkan terdapat 7 jenis teknik utama yang dapat dilakukan, antara lain:

1. Secondary Data Review (SDR) – Review Data Sekunder. Merupakan cara mengumpulkan sumber-sumber informasi yang telah diterbitkan maupun yang belum disebarkan. Tujuan dari usaha ini adalah untuk mengetahui data manakah yang telah ada sehingga tidak perlu lagi dikumpulkan.

2. Direct Observation – Observasi Langsung. Direct Observation adalah kegiatan observasi secara langsung pada obyek masyarakat atau komunitas. Tujuannya adalah untuk melakukan cross-check terhadap jawaban yang disebutkan oleh masyarakat.

3. Semi-Structured Interviewing (SSI) – Wawancara Semi Terstruktur. Adalah wawancara yang mempergunakan panduan pertanyaan sistematis yang masih mungkin untuk berkembang selama interview dilaksanakan, karena pertanyaan bersifat memberikan umpan bagi responden untuk memberikan jawaban yang lebih detail. SSI dapat dilakukan kepada beberapa jenis responden yang dianggap mewakili informasi, misalnya wanita, pria, anak-anak, pemuda, petani, dan pejabat setempat.

4. Pemetaan Sosial. Teknik ini adalah suatu cara untuk membuat gambaran kondisi sosial-ekonomi masyarakat, misalnya gambar posisi pemukiman, sumber-sumber mata pencaharian, peternakan, jalan, dan sarana-sarana umum. Hasil gambaran ini merupakan peta umum sebuah lokasi yang menggambarkan keadaan masyarakat maupun lingkungan fisik

5. Pencatatan Alur Sejarah. Teknik pencatatan alur sejarah ini adalah suatu teknik yang digunakan untuk mengetahui kejadian-kejadian dari suatu waktu lampau sampai keadaan sekarang dengan persepsi dari komunitas/masyarakat setempat. Tujuan dari teknik ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai topik-topik penting di masyarakat yang nantinya dapat dituangkan kedalam program.

6. Diagram Venn. Teknik ini adalah untuk mengetahui hubungan institusional dengan masyarakat. Tujuannya untuk mengetahui pengaruh masing-masing institusi dalam kehidupan masyarakat serta untuk mengetahui harapan-harapan apa dari masyarakat terhadap institusi-institusi tersebut.

7. Focus Group Discussion – Diskusi Kelompok Terfokus. Teknik ini berupa diskusi antara beberapa orang untuk membicarakan hal-hal bersifat khusus secara mendalam. Tujuannya untuk memperoleh gambaran terhadap suatu masalah dari misalnya program tertentu dengan lebih rinci serta melakukan evaluasi terhadap program tersebut.

Tahap Penerapan PRA

Tahapan didalam melakukan PRA secara umum dapat dibagai kedalam beberapa kegiatan sebagai berikut:

1. Membangun kesepakatan untuk mengevaluasi bersama-sama. Secara detail dalam tahapan ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan, meliputi: Penentuan latar belakang (apa yang akan di evaluasi); tujuan; biaya; waktu Tujuan dari diadakannya evaluasi; dan Pemilihan fasilitator

2. Menetapkan term of reference, meliputi: Pemilihan teknik dan pemilihan representasi wakil kelompok (stakeholder)

3. Mengumpulkan dan menganalisa data, meliputi: Pemetaan wilayah dan kegiatan yang erat berhubungan dengan penilaian dampak program; Identifikasi permasalahan beserta potensi pemecahan masalah; dan Pemilihan pemecahan masalah

Kelebihan dan kekurangan PRA

1. Masyarakat yang merupakan pelaku program kegiatan dapat berpartisipasi aktif. Tingkat kesesuaian programnya dengan kebutuhan masyarakat akan besar sehingga keberhasilan dan keberlanjutan (sustainability) program dapat terjamin.

3. Metode dan teknik dalam PRA terus berkembang sehingga bisa timbul beberapa persepsi dalam penerapannya secara praktis.

4. Butuh waktu yang tidak sebentar dan besarnya biaya. 3. METODE PEMBERDAYAAN

Participatory Rural Appraisal (PRA)

Pemberdayaan dilakukan bagi mitra pendampingan adalah dengan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA). PRA adalah metode yang biasa dilakukan dalam pemberdayaan masyarakat. Metode ini ditujukan pada ”orang luar”, menunjukkan bagaimana seharusnya ”orang luar” membantu masyarakat untuk mengembangkan dirinya, dengan mendudukkan posisi ”orang luar” di tengah masyarakat. ”Orang luar” dalam hal ini adalah pemerintah Kabupaten Klaten, akademisi (Tim IbM UPN “Veteran” Yogyakarta), Konsultan motivator (Ardhana Consulting), CV Lawe, PT Harpa Inti Mandiri,

Metode ini mendorong masyarakat pedesaan untuk turut serta meningkatkan pengetahuan dan menganalisa kondisi mereka sendiri dan wilayahnya yang berhubungan dengan kehidupan mereka sehari-hari agar dapat membuat rencana dan tindakan yang dilakukan, dengan cara pendekatan berkumpul bersama. Dalam metode ini, masyarakat sebagai pelaku, sementara ”orang luar” sebagai fasilitator. Posisi orang luar sebagai fasilitator artinya mereka mendorong proses perubahan secara partisipatif yang bersumber dalam masyarakat itu sendiri.

Solusi Dan Kegiatan Participatory Rural Appraisal (PRA)

Dari permasalahan-permasalah yang ada, kemudian diupayakan solusi untuk pemecahan masalah beserta dengan kegiatannya. Permasalahan yang pertama, terkait dengan pemasaran. Meski memiliki indikator yang berbeda, kedua mitra menunjukkan adanya masalah dalam pemasaran produknya. Dalam pemecahannya, kedua mitra diajak untuk memperluas jaringan pemasaran dengan cara menghubungi distributor-distributor dan disainer-disainer batik, serta mengidentifikasi cara masuk ke pasar modern. Selain itu juga mitra akan didampingi dalam mendapatkan akses pemasok pengadaan bahan baku. Untuk pemasaran dengan menggunakan teknologi (pembuatan weblog), hanya diberikan untuk mitra Paguyuban Batik “Taruntum”, karena KUBe “Putri Kawung” saat ini sudah memiliki blog sendiri.

Permasalahan yang kedua adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan merek dari produk yang dihasilkan oleh kedua mitra. Hal ini bisa disebabkan beberapa hal, antara lain mitra belum secara serius mencantumkan merek dalam produk-produknya, pengemasan yang terkesan seadanya,

(belum muncul ciri khas), dan lain-lain. Untuk itu, selain diberikan edukasi mengenai kesadaran merek, mitra juga akan dibuatkan leaflet untuk menunjang penguatan citra merek, Mitra juga akan didampingi dalam merancang pengemasan produknya.

Permasalahan yang ketiga, variasi produk masih rendah. Untuk itu mitra diberikan edukasi, praktik, dan pendampingan untuk diversifikasi produk guna mendukung keberlanjutan usaha. Kegiatan ini akan menekankan pada peningkatan kemampuan menciptakan nilai tambah sisa atau perca kain mori, perca kayu ataupun kulit. Tabel 1 dan 2 menunjukkan solusi dan kegiatan untuk masing-masing mitra.

Tabel 1. Solusi dan Kegiatan Paguyuban Batik “Taruntum”

No. Permasalahan Solusi Aktivitas

1. Masalah dalam pemasaran

Kolaborasi dengan berbagai agen penjualan

- Melakukan advokasi dan promosi ke pengecer pasar modern

- Identifikasi kriteria yang

dipertimbangan supermaket dalam seleksi pemasok (khususnya batik dan hasil kerajinan batik kayu ataupun kulit)

- Promosi ke butik-butik batik di sekitar Surakarta dan Yogyakarta - Promosi dan praktik pemasara

berbasis teknologi internet 2. Kurangnya

kesadaran akan merek

Peningkatan citra merek - Edukasi tentang “kesadaran merek” - Pengadaan leaflet untuk menunjang

peningkatan citra merek 3. Produksi

kurang maksimal

Diversifikasi produk terkait dengan jenis produk yang diproduksi.

Diversifikasi bisa dengan memanfaatkan sisa kain mori, kayu, dan kulit untuk membuat tempat pensil, tempat HP, tas, tas laptop, dsb.

- Edukasi dan pendampingan untuk diversifikasi produk yang terkait dengan perluasan varian produk. - Pengadaan bahan tambahan yang

diperlukan untuk perluasan varian produk.

- Kolaborasi dengan entitas bisnis yang potensi sebagai pemasok efektif bagi mitra.

Tabel 2. Solusi dan Kegiatan KUBe “Putri Kawung”

No. Permasalahan Solusi Aktivitas

1. Keterbatasan jaringan pemasaran Perluasan jaringan pemasaran - Pendampingan perintisan kerjasama dengan distributor baik di tingkat lokal (di kecamatan sekitar dan kota klaten) maupun regional (Yogyakarta dan Surakarta)

- Pendampingan perintisan kerjasama dengan pasar swalayan (Mirota Batik, Pandanaran, Kencono Wungu)

2. Kurangnya kesadaran akan merek

Peningkatan citra merek - Edukasi tentang “kesadaran merek”

- Pengadaan leaflet untuk menunjang peningkatan citra merek 3. Keterbatasan kemampuan pengemasan Peningkatan kemampuan pengemasan. - Pengadaan peralatan pengemasan

- Edukasi dan pendampingan pengemasan

4 Rendahnya variasi produk

Diversifikasi produk terkait dengan jenis produk yang diproduksi.

Diversifikasi bisa dengan memanfaatkan sisa kain mori untuk membuat tempat pensil, tempat HP, tas, tas laptop, dsb.

- Edukasi dan pendampingan untuk diversifikasi produk yang terkait dengan perluasan varian produk. - Pengadaan bahan tambahan

yang diperlukan untuk perluasan varian produk. 5. Rendahnya

variasi motif

Diversifikasi produk terkait dengan motif batik.

- Edukasi dan pendampingan untuk diversifikasi produk yang terkait dengan perluasan varian motif.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN