• Tidak ada hasil yang ditemukan

95 jalan, jembatan tidak atau belum dapat menahan berat kendaraan roda empat

Dalam dokumen WALIKOTA SUNGAI PENUH PROVINSI JAMBI (Halaman 128-131)

BAB IX. PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH BAB X. PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANA

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

B. Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan

II- 95 jalan, jembatan tidak atau belum dapat menahan berat kendaraan roda empat

atau lebih.

Untuk ketersediaan prasarana jalan raya dan jembatan yang menghubungkan Kota Sungai Penuh dengan wilayah di luarnya, tersedia jaringan jalan Arteri Primer (jalan Provinsi) sebagai berikut:

 Ruas Sungai Penuh – Sanggaran Agung;

 Ruas Sungai Penuh – Siulak Deras;

 Ruas Sungai Penuh – batas propinsi Sumbar (Tapan)

 Ruas Sungai penuh – Jujun – lempur

 Ruas Sungai Penuh – arah Bangko

 Ruas Sungai Penuh – batas propinsi ke arah padang, melalui muara labuh

Dengan demikian pergerakan manusia menjadi aspek yang dominan, selain pergerakan barang, dengan menggunakan sarana dan prasarana transportasi darat.

Ketersediaan sarana jalan terhadap jumlah kendaraan di Kota Sungai Penuh kurun waktu 2011-2015, dimana pada tahun 2011 mencapai 1 : 22.190 ini artinya bahwa setiap panjang jalan sepanjang 1 km, dapat diakses kendaraan baik kendaraan roda 4 maupun roda 2 sebanyak 22 kendaraan.

Sedangkan pada tahun 2015, ketersediaan sarana jalan terhadap jumlah kerndaraan sebesar 1 : 10.855. Perbandingan ini menunjukkan bahwa Kota Sungai Penuh semakin padat dibandingkan tahun sebelumnya.

Tabel 2.87

Rasio Panjang Jalan Per Jumlah Kendaraan di Kota Sungai Penuh Tahun 2011-2015

No. URAIAN TAHUN

2011 2012 2013 2014 2015 1. Panjang Jalan 180.002 185,475 192,724 195,936 196,966 2. Jumlah Kendaraan 8112 10550 13720 15778 18145

- Roda 4 999 1129 1259 1448 1665

- Roda 2 7113 9421 12461 14330 16480

Rasio 22.190 17.581 14.047 12,418 10,855 Sumber: Hasil Analisis Data 2015

2.4.2.2. Penataan Wilayah

Penataan wilayah di Kota Sungai Penuh dapat dilihat terhadap beberapa Indikasi diantaranya, Ketaatan terhadap RTRW yang merupakan kesesuaian implementasi tata ruang hasil perencanaan tata ruang berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional dengan peruntukan yang direncanakan sesuai dengan RTRW, Luas wilayah produktif yang merupakan persentase realisasi luas wilayah produktif terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW, Luas wilayah industri adalah persentase realisasi luas kawasan Industri terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW, Luas wilayah kebanjiran adalah persentase luas wilayah banjir terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW, Luas wilayah kekeringan adalah luas wilayah kekeringan terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW, dan Luas wilayah perkotaan adalah persentase realisasi luas wilayah perkotaan terhadap luas rencana wilayah budidaya sesuai dengan RTRW.

II-96 Tabel 2.88

Perkembangan Penataan Wilayah di Kota Sungai Penuh Tahun 2011-2015

URAIAN TAHUN

2011 2012 2013 2014 2015 Luas wilayah produktif 9.17 9.17 9.17 9.17 9.17 Luas wilayah kebanjiran T.a.d T.a.d 12.13 12.13 9.80 Luas wilayah kekeringan T.a.d T.a.d 1.52 1.52 0.00 Luas wilayah perkotaan 11.77 11.77 11.77 11.77 11.77

Sumber: BPS, Data diolah 2.4.2.3. Fasilitas Bank Non Bank

Ketersediaan fasilitas bank dan non bank sangat penting dalam rangka menunjang aspek daya saing daerah. Dengan adanya fasilitas tersebut segala urusan berkaitan dengan jasa dan lalu lintas keuangan dapat berjalan dengan lancar. Indikator kinerja berkaitan dengan fasilitas bank dan non bank salah satunya dapat dilihat dari jenis dan jumlah bank serta cabang-cabangnya.

Lembaga Kuangan (Bank dan Non Bank) Di Kota Sungai Penuh sebanyak 9 Bank baik itu Bank Pemerintah maupun Bank Swasta yaitu Bank BNI 46, Bank Jambi, Bank Pembangunan Kerinci, BRI, Bank Danamon, Bank BTPN, Bank Mega BPR dan PT. Pos Indonesia. dan diperkuat pula oleh 133 unit Koperasi, 2 unit Asuransi, dan 106 lembaga non Bank lainnya.

2.4.2.4. Ketersediaan Air Minum

Fasilitas Air Minum, merupakan salah satu Fasilitas pokok yang penting agar suatu rumah menjadi nyaman dan sehat untuk ditinggali, sedangkan Air Bersih (clean Water) adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum setelah dimasak. Air Minum (drinking water) juga merupakan Air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002).

Air bersih merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi rumah tangga dalam kehidupan sehari-hari. Ketersediaan dalam jumlah yang cukup terutama untuk keperluan minum dan memasak merupakan tujuan dari program penyediaan air bersih yang terus menerus diupayakan pemerintah.

Untuk pelayanan umum terhadap fasilitas air minum di Kota Sungai Penuh dapat dikatakan mengalami peningkatan lebih baik. Jumlah pemakaian air melalui PDAM Tirta Sakti di Kota Sungai Penuh pada tahun 2015 tercatat 2,58 juta M3. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya mengalami kenaikan sebesar 21,13%. Pemakaian terbanyak terdapat pada pelanggan Rumah Tangga sebanyak 10,23 juta M3 atau sekitar 76,41% dari seluruh pemakaian air minum. Kalau dilihat dari jumlah pelanggan/sambungan, mengalami peningkatan sebesar 21,13%. dari tahun sebelumnya. Secara lengkap dapat dilihat pada tabel.

Kebutuhan air bersih bagi masyarakat di Kota Sungai Penuh dapat dipenuhi melalui jaringan perpipaan dari PDAM, sumber air tanah, serta dari Program Pamsimas. Volume air minum yang sudah disalurkan oleh PDAM pada tahun 2012 mencapai 2.135.152 M3, dengan Jumlah Pelanggan sebesar 11.052 dan pada tahun 2015 mencapai 2.586.248 M3, dengan Jumlah Pelanggan sebesar 13.397.

II-97 Tabel 2.89

Jumlah Pelanggan Air Bersih Melalui PDAM Tahun 2011-2015

Uraian Jumlah Pelanggan

2011 2012 2013 2014 2015

1. Jumlah Pelanggaan 10.792 11.052 11.342 12.995 13397

2. Pemakaian Air (Ribu M3) 2.019.000 3.835.152 N.a 2 674 516 2.586.248 3. Penjualan Air ( Ribu Rp ) 5.070 319.00 5.360.521.280 N.a 6.668.628.000 7.534995.540

Sumber : Kota Sungai Penuh Dalam Angka 20112- 2016

2.4.2.5. Fasilitas Listrik

Penyediaan tenaga listrik bertujuan untuk meningkatkan perekonomian serta memajukan kesejahteraan masyarakat. Bila tenaga listrik telah dicapai pada suatu daerah atau wilayah maka kegiatan ekonomi dan kesejateraan pada daerah tersebut dapat meningkat. Untuk mewujudkan hal tersebut maka Pemerintah Daerah berkewajiban untuk melistriki masyarakat tidak mampu dan daerah terpencil.

Sistem jaringan listrik di Kota Sungai penuh dilayani oleh PLTD Koto Lolo dengan kapasitas daya sebesar ± 17 Mwatt, kapasitas eksisting terpasang 15,5 Mwatt dengan pembagian kapasitas sebagai berikut:

 ± 6 Mwatt daya listrik untuk kebutuhan Kota Sungai Penuh

 ± 9,5 MWatt daya listrik untuk kebutuhan Kabupaten Kerinci

Dengan kapasitas daya 6 Mwatt tersebut, belum mencukupi akan kebutuhan masyarakat Kota Sungai Penuh. Namun demikian, telah dilakukan upaya untuk menutupi kekurangan kapasitas listrik di masa yang akan datang dengan membangun jaringan listrik (SUTT) yang masih dalam tahap pelaksanaannya dengan pola interkoneksi Sumbagsel-Sungai Penuh-Sumatera Barat. Jaringan ketenagalistrikkan Kota Sungai Penuh yang terdiri dari Jaringan Tegangan Menengah (JTM) dan Jaringan Tegangan Rendah (JTR).

Pada tahun 2014 Daya Terpasang 38.140 (Kw) sementara Daya Mampu Terkini 17.650 (Kw) Seluruh wilayah Kota Sungai Penuh telah terlayani jaringan listrik.

Secara lengkap dapat dilihat table berikut Tabel 2.90

Persentase Rumah Tinggal Pengguna Listrik

No. INDIKATOR TAHUN

2011 2012 2013 2014 2015 1 Jumlah Pelanggan 46.517 15.174 55.393 57.260 62.253 2 Daya Tersambung (000,0) Kwh 54.974 27.890 65.297 73.186 5.951

3 Rumah tangga pengguna listrik (unit)

Juml Rumah Tangga 22,143 22,200 22,274 22,628 22,841 Rasio Elektrifikasi (RE) 94.56 94.28 98.49 97.50 96.88 Sumber : Kota Sungai Penuh Dalam Angka, diolah, 2016

2.4.2.6. Ketersediaan Rumah Makan/Restoran dan Penginapan/Hotel

Ketersediaan restoran, rumah makan dan penginapan pada suatu daerah menunjukan tingkat daya tarik investasi suatu daerah. Banyaknya restoran dan rumah makan dapat menunjukan perkembangan kegiatan ekonomi pada suatu daerah dan peluang-peluang yang ditimbulkannya. Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan ketersediaan restoran dan rumah makan salah satunya dapat dilihat dari jumlah restoran dan rumah makan. Selama kurun waktu 2008-2015 jumlah restoran, rumah makan dan penginapan yang berhasil di data oleh BPS Kota Sungai Penuh menunjukkan tren yang terus bertambah, yaitu 86 buah yang terdiri dari restoran/rumah makan, dan Cafe.

II-98

Dalam dokumen WALIKOTA SUNGAI PENUH PROVINSI JAMBI (Halaman 128-131)