• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peruntukan Lainnya

Dalam dokumen WALIKOTA SUNGAI PENUH PROVINSI JAMBI (Halaman 46-51)

BAB IX. PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH BAB X. PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANA

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

G. Peruntukan Lainnya

1) Pertahanan dan Keamanan

Kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan merupakan kawasan peruntukan lainnya terkait kepentingan strategis nasional. Kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan di Kota Sungai Penuh memilki luas area pemanfaatan mencapai 4,85 ha meliputi :

II-14 a. Markas Komando Distrik Militer 0417 di Kecamatan Sungai Penuh;

b. Koramil yang terdapat di kecamatan dalam Kota Sungai Penuh; dan c. Polres dan polsek dalam Kota Sungai Penuh.

Rencana pengembangan kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan dilakukan melalui kajian yang komprehensif dan mendapat persetujuan dari instansi yang berwenang.

2) Kawasan Peruntukan Pertanian a. Holtikultura dan Perkebunan

Kawasan peruntukan holtikultura dan perkebunan di Kota Sungai Penuh terdapat pada kawasan sebelah barat kota yakni di Kecamatan Pesisir Bukit, Kecamatan Sungai Penuh dan Kecamatan Kumun Debai berupa perkebunan dengan jenis tanaman seperti kentang, cabe, tomat, casiavera, kopi, kemiri, cengkeh dan lainnya.

Arahan pengembangan lahan holtikultura dan perkebunan ini adalah secara tumpang sari agar dapat meningkatkan nilai produksi hasil perkebunan. Pemanfaatan ruang kawasan perkebunan dengan tetap mempertahankan areal perkebunan yang sudah ada. Potensi luas kawasan peruntukan holtikultura dan perkebunan mencapai 5.944,35 ha. Selain diarahkan sebagai kawasan pertanian perkebunan dan holtikultura, kawasan ini juga diarahkan sebagai kawasan penyangga yang dibatasi pengelolaannnya tanpa merubah fungsi utama kawasan. Rencana pengembangan kawasan peruntukan holtikultura, kawasan ini juga diarahkan sebagai kawasan penyangga yang dibatasi pengelolaannnya tanpa merubah fungsi utama kawasan b. Tanaman Pangan

Kawasan peruntukan untuk pengembangan budidaya pertanian tanaman pangan atau sawah kota diarahkan pada lokasi-lokasi yang memiliki sarana-saluran irigasi yang memadai. Upaya untuk mempertahankan kawasan pertanian kota tidak hanya dalam rangka ketahanan pangan namun juga sebagai bagian dari penataan lansekap kota dalam upaya menjaga keseimbangan antara lahan terbangun dan lahan tidak terbangun serta untuk mendukung penjagaan iklim mikro Kota Sungai Penuh yang sudah terkenal dengan kesejukannya. Adapun luas lahan yang dimanfaatkan untuk pengembangan sawah ini adalah 2.731,33 ha. Terdapatnya lahan rawa di Kecamatan Hamparan Rawang saat ini, sebagian telah diolah dan dimanfaatkan sebagai lahan pertanian pangan. Dengan karakteristik lahan rawa yang ada, selain dimanfaatkan sebagai daerah tangkapan air juga dapat diarahkan pada pengembangan areal persawahan.

3) Perternakan

Budidaya perternakan tersebar di seluruh kecamatan dalam Kota Sungai Penuh, arahan pengembangan peternakan ini dilakukan di setiap Kecamatan. Rencana pengembangan budidaya peternakan diarahkan menyebar diseluruh kecamatan dalam Kota Sungai Penuh melalui :

a. Penggunaan lahan secara terpadu.

II-15 b. Pengelolaan pemasaran hasil ternak secara lebih baik terutama

untuk pemasaran lokal dan regional.

4) Kawasan Peruntukan Perikanan

Adapun untuk kawasan peruntukan perikanan tersebar di seluruh kecamatan dalam Kota Sungai Penuh, arahan pengembangan kawasan ini dilakukan di setiap Kecamatan untuk memanfaatan Sungai Batang Merao sebagai areal pengembangan budidaya perikanan darat serta pengembangan Balai Benih Ikan (BBI) dalam Kota Sungai Penuh untuk menunjang pengembangan budidaya perikanan.

5) Hutan Produksi Pola Partisipasi Masyarakat (HP3M)

Kawasan ini terdapat di Kecamatan Kumun Debai dan Kecamatan Sungai Penuh dengan luas lahan mencapai 941,03 ha. Penggunaan lahan pada kawasan hutan ini didominasi oleh perkebunan rakyat seperti tanaman perkebunan dan tanaman holtikultura. Arahan pengembangannya adalah Pemanfaatan lahan oleh masyarakat bersifat pertanian konservasi.

Rencana pemanfaatan lahan di Kota Sungai Penuh terbagi ke dalam 2 (dua) kawasan, yaitu: kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kawasan lindung meliputi : hutan konservasi, sempadan, hutan lindung, ruang terbuka hijau dan perairan. Kawasan budidaya meliputi : kawasan budidaya berfungsi lindung (hutan produksi, tanaman tahunan/perkebunan, hutan rakyat);

kawasan budidaya pertanian (pertanian lahan basah, pertanian lahan kering, perikanan, peternakan) dan kawasan budidaya non pertanian (kawasan pariwisata, kawasan peruntukan industri, kawasan pemerintahan/fasum, kawasan permukiman, kawasan perdagangan/jasa, kawasan Hankam).

Rencana pemanfaatan lahan untuk kawasan lindung seluas 23.177,60 ha sedangkan rencana pemanfaatan lahan untuk kawasan budidaya seluas 10.721,00 ha.

Tabel 2.8

Rencana Pola Ruang Kota Sungai Penuh Sampai Akhir Tahun 2031

No FUNGSI KAWASAN LUAS (ha) PERSENTASE

(%)

I Kawasan Lindung

1 Taman Nasional Kerinci Seblat 23.177,60 59,20

2 Kawasan yang memberikan perlindungan pada

kawasan bawahnya 19,51 0,05

3 Ruang Terbuka Hijau Kota 492,51 1,26

4 Kawasan Cagar Budaya 3,00 0,01

5 Kawasan Rawan Bencana 962,38 2,46

Sub total 24.655,00 62,98

II Kawasan Budidaya

A Kawasan Perkotaan 1.283,00 3,28

1 Permukiman 959,00 2,45

2 Perdagangan dan jasa 94,00 0,24

3 Perkantoran 50,00 0,13

4 Industri Kecil 5,00 0,01

5 Pariwisata 65,00 0,17

6 Ruang Terbuka Non Hijau 30,00 0,08

7 Ruang Evakuasi Bencana 30,00 0,08

8 Ruang Sektor Informal 5,00 0,01

9 Kawasan Pendidikan 30,00 0,08

10 Kawasan Kesehatan 15,00 0,04

B Peruntukan Lainnya 9.438,00 24,11

1 Kawasan Pertahanan dan Keamanan 5,00 0,01

2 Kawasan Pertanian :

a. Perkebunan dan Holtikultura 5.944,00 15,18

b. Pertanian Tanaman Pangan 2.548,00 6,51

3 Hutan Produksi 941,00 2,40

Sub total 10.721,00 27,38

Luas Wilayah Kota Sungai Penuh 39.150,00 100

Sumber : RTRW Kota Sungai Penuh 2011 – 2031

II-16 Gambar 2.10

Peta Rencana Pola Ruang Kota Sungai Penuh sampai Akhir Tahun 2031

Sumber : RTRW Kota Sungai Penuh 2011 – 2031

2.1.1.9.2. Potensi Unggulan Daerah

Diketahui bahwa sektor Jasa Kemasyarakatan mengalami peningkatan jumlah penduduk bekerja dengan peranan terbesar sebesar 32.20% dengan peranan rata-rata periode 2010-2014 sebesar 27,02%, sektor Perdagangan Besar, Eceran, Rumah Makan dan Hotel mengalami peningkatan siginifikan dengan jumlah penduduk bekerja dengan peranan sebesar 26,32 pada tahun 2014 dengan rata-rata peranan pada tahun 2010-2014 sebesar 24,37%

memiliki peranan terbesar kedua, sektor Pertanian, kehutanan, Perburuan dan Perikanan berada di peringkat ke-3 dengan peranan rata-rata sebesar 24,00%

pada tahun 2010-2014, jumlah terkecil yang berperan yaitu sektor Industri Pengolahan sebesar 5,38% dengan rata rata-rata peranan sebesar 4,73%.

Tabel 2.9

Pesentase Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha di Kota Sungai Penuh

URAIAN TAHUN

Rata2 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1 2 3

Pertanian, kehutanan, Perburuan dan Perikanan 42.08 20.11 13.45 N/A 20.34 23.08 23.81

Industri Pengolahan 5.76 3.72 4.05 N/A 5.38 5.10 4.80

Perdagangan Besar, Eceran, Rumah Makan dan Hotel 24.20 22.60 24.34 N/A 26.32 32.03 25.90

Jasa Kemasyarakatan 20.32 30.92 37.33 N/A 32.20 25.39 29.23

Lainnya (Pertambangan dan Penggalian, Listrik, Gas dan Air, 15.75 Pergudangan dan Komunikasi, Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan Bangunan, Tanah dan Jasa Perusahaan 2014)

7.64 22.64 20.83 N/A 15.75 14.40 16.25

Sumber : Kota Sungai Penuh dalam angka, 2011-2015.

Ditinjau dari peranan sektoral terhadap PDRB pada tahun 2010-2014, sektor Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor berperan terbesar yaitu 23.84% yang diikuti oleh sektor Informasi dan Komunikasi sebesar 14,14% serta sektor Konstruksi sebesar 12,99%. Dalam perekonomian dikenal adanya sektor basis dan non basis. Sektor basis adalah sektor ekonomi yang sudah berkembang dan sudah memiliki kemampuan untuk kebutuhan lokal dan kebutuhan wilayah lain. Jika nilai LQ > 1 maka sektor tersebut dikategorikan sektor basis, artinya tingkat spesialisasi

II-17 kabupaten/kota lebih tinggi dari tingkat provinsi. Produksi komoditas sektor atau sub sektor yang bersangkutan sudah melebihi kebutuhan konsumsi di daerah dimana komoditas tersebut dihasilkan dan kelebihannya dapat dijual keluar daerah (ekspor). Jika LQ = 1 maka tingkat spesialisasi kabupaten/kota sama dengan di tingkat provinsi. Produksi komoditas yang bersangkutan hanya cukup untuk kebutuhan daerah setempat. Produksi komoditas tersebut belum mencukupi kebutuhan konsumsi di daerah yang bersangkutan dan pemenuhannya didatangkan dari daerah lain Jika LQ < 1 maka sektor tersebut dikategorikan sektor non basis, artinya tingkat spesialisasi kabupaten/kota lebih rendah dari tingkat provinsi. Dalam kurun tahun 2010-2014.

Tabel 2.10

Hasil Analisis LQ Kota Sungai Penuh Tahun 2010 - 2014

NO SEKTOR Hasil Analisis LQ Kota Sungai Penuh Tahun 2011 - 2014

2010 2011 2012 2013 2014

1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 0.06 0.06 0.06 0.06 0.06

2 Pertambangan dan Penggalian 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01

3 Industri Pengolahan 0.01 0.01 0.02 0.01 0.01

4 Pengadaan Listrik dan Gas 0.12 0.12 0.12 0.10 0.10

5 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang 0.66 0.64 0.65 0.60 0.61

6 Konstruksi 0.49 0.47 0.52 0.47 0.45

7 Perdagangan Besar dan Eceran, dan

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 0.64 0.63 0.69 0.64 0.65

8 Transportasi dan Pergudangan 0.30 0.29 0.28 0.24 0.28

9 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 0.27 0.27 0.27 0.26 0.28

10 Informasi dan Komunikasi 2.02 2.03 1.88 1.92 1.93

11 Jasa Keuangan dan Asuransi 0.99 1.01 1.03 1.03 1.08

12 Real Estate 0.37 0.37 0.37 0.39 0.36

13 Jasa Perusahaan 3.53 3.53 3.54 3.69 3.67

14 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

0.56 0.55 0.52 0.51 0.53

15 Jasa Pendidikan 1.19 1.14 1.28 1.26 1.27

16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1.00 1.04 0.95 0.96 0.91

17 Jasa lainnya 2.46 2.51 2.55 2.54 2.51

Sumber : Hasil Analisis Bappeda 2016.

Berdasarkan hasil analisis, Jasa Perusahaan menjadi sektor basis dengan nilai rata-rata 3,59 diikuti sektor oleh Jasa lainnya, Informasi dan Komunikasi dan sektor Jasa Pendidikan. Sementara sektor lainnya dan Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor merupakan sektor non basis.

Kriteria ini menunjukkan bahwa selama tahun 2010-2014 tidak terjadi pergeseran basis ekonomi sektoral.

Kemudian Hasil perhitungan LQ (Master Plan Ekonomi Kota Sungai Penuh, 2015) menurut sub sektor untuk Kota Sungai Penuh dalam perbandingannya dengan daerah sekitarnya ditampilkan pada Tabel dibawah, Jika LQ suatu sektor atau produk semakin positif dan lebih besar dari 1, menunjukkan bahwa sektor tersebut bisa dijadikan sebagai sektor atau sub sektor unggulan utama untuk ditumbuh kembangkan bagi pengembangan perekonomian suatu daerah.

Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi maka percepatan pengembangan sektor basis dan produk-produk unggulannya sangat diperlukan.

II-18 Tabel 2.11

Perbandingan Nilai"Location Quotient atau Karateristik Perekonomian Kota Sungai Penuh dengan Beberapa Daerah Sekitarnya 2014

NO Lapangan Usaha

Kabupaten/Kota Kerinci Merangin Solok

Selatan Pesisir

Selatan Kota S.Penuh I PRIMIER

1 a Tanaman Bahan Makanan 1.09 0.79 0.85 0.77 0.18

2 b Tanaman Perkebunan 1.06 1.88 1.22 1.03 0.19

3 c Perternakan dan Hasil-Hasilnya 0.78 0.85 0.57 1.61 0.67

4 d Kehutanan 0.44 0.30 0.12 0.07 0.03

5 e Perikanan 1.33 0.87 1.26 0.44 0.58

6 f Penggalian 0.55 0.75 0.61 0.55 0.48

II SEKUNDER

7 a Industri Bukan Migas 0.75 0.53 0.72 1.03 1.65

8 b Listrik 0.35 0.46 0.65 0.65 0.75

9 c Gas Kota 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

10 d Air Bersih 0.28 0.48 0.51 0.52 0.69

11 e Konstruksi 0.48 0.53 0.60 0.70 1.15

III TERSIER

12 a Perdagangan 1.18 1.35 0.47 1.58 1.63

13 b Perhotelan 0.51 0.78 0.95 0.65 1.04

14 c Restoran 0.49 0.71 0.83 0.54 0.99

15 d Transportasi 0.45 0.65 0.67 1.08 1.20

16 e Komunikasi 0.27 0.46 0.49 0.53 0.34

17 f Perbankan 0.20 0.89 0.25 0.81 1.60

18 g Lembaga Keuangan Non-Bank 0.13 0.46 0.06 0.53 1.47

19 h Pendidikan 0.56 0.57 0.25 0.25 1.59

20 i Sewa Bangunan 0.38 0.65 0.47 0.89 1.04

21 j Jasa Perusahaan 0.50 0.01 0.54 1.06 1.02

22 k Pemerintahan umum 0.30 0.27 0.37 0.54 0.73

23 l Swasta 0.65 1.04 0.48 1.01 1.08

Sumber : Master Plan Ekonomi Kota Sungai Penuh 2016.

2.1.1.10. Wilayah rawan bencana

Wilayah atau Kawasan rawan bencana alam merupakan kawasan yang memiliki faktor resiko terhadap kejadian bencana gempa bumi, banjir, dan gerakan tanah sehingga harus dilindungi dari pengembangan kawasan terbangun dan aktifitas perkotaan. Kawasan rawan bencana Kota Sungai Penuh terdiri dari kawasan rawan gerakan tanah, kawasan rawan genangan (banjir) dan kawasan jalur sesar (gempa bumi).

Dalam dokumen WALIKOTA SUNGAI PENUH PROVINSI JAMBI (Halaman 46-51)