Analisis dekomposisi multiplier sebenarnya sudah menjelaskan jalur
struktural. Namun jalur yang dijabarkan masih antarblok, sehingga tidak dapat
menjelaskan bagaimana alur dampak itu terjadi dari satu aktifitas ke aktifitas yang
lain. Untuk memotret alur dampak semacam ini dengan lengkap maka alat analisis
yang lebih tepat adalah structural path analysis (SPA). Melalui SPA kita dapat melakukan identifikasi seluruh jaringan yang berisi jalur yang menghubungkan
Pengaruh dari suatu sektor ke sektor lainnya dapat melalui sebuah jalur dasar
(elementary path) atau sirkuit (circuit). Selain itu pengaruh yang diukur bukan hanya mencakup pengaruh langsung, namun juga pengaruh tidak langsung,
pengaruh total dan pengaruh global.
Untuk menganalisis jalur struktural dari semua sektor pertanian dalam
perekonomian Indonesia digunakan perangkat lunak MATS version 1.0.5 (matrix accounts tranformation system) yang mampu menghasilkan perhitungan sangat lengkap. Namun demikian tidak semua output hasil perhitungan MATS
ditampilkan dalam pembahasan ini, mengingat banyak sekali jalur yang telah
diukur. Jalur dasar yang disampaikan dalam pembahasan ini hanyalah jalur dari
sektor pertanian ke institusi rumahtangga. Kemudian, agar lebih jelas melihat
bagaimana cara mengaplikasikan SPA, maka hanya 2 sektor pertanian saja yang
dijelaskan jalur dasarnya untuk mewakili keseluruhan sektor pertanian. Dua sektor
yang dimaksud adalah komoditi padi dan industri penggilingan padi.
Pemilihan jalur dasar dari sektor pertanian ke rumahtangga dalam SPA
kali ini sangat terkait erat dengan tujuan dari pembangunan pertanian, dimana
salah satunya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk terutama yang
hidup di perdesaan, selain itu dalam tujuan penelitian juga sudah tersirat bahwa
jalur dasar yang diidentifikasi adalah jalur dari sektor pertanian ke institusi
rumahtangga. Adapun yang menjadi alasan mengapa komoditi padi dan industri
penggilingan padi yang menjadi fokus pembahasan dalam SPA kali ini, karena
kedua sektor pertanian tersebut telah terindikasi sebelumnya memiliki dampak
multiplier yang paling besar terhadap perubahan pendapatan institusi
Pada Tabel 31 disajikan hasil perhitungan lengkap jalur dasar dari
subsektor padi (13) ke institusi rumatangga, dimana institusi rumahtangga dibagi
menjadi enam kelompok rumahtangga yakni buruh tani (6), pengusaha tani atau
petani pemilik modal (7), rumahtangga golongan rendah di perdesaan (8),
rumahtangga golongan atas di perdesaan (9), rumahtangga golongan rendah di
perkotaan (10), dan rumahtangga golongan atas di perkotaan (11). Berdasarkan
Tabel 28 terlihat jelas bahwa institusi petani pemilik modal (7) menerima
pengaruh global paling tinggi yaitu sebesar 0.849, jauh lebih besar dibandingkan
yang diterima oleh buruh tani (6) dan rumahtangga golongan rendah di perdesaan
(8). Dalam hal ini, alur pengaruh komoditi padi ke institusi pengusaha tani yang
dapat dideteksi adalah sekitar 89.6 persen, sisanya 11.4 persen tidak terdeteksi
oleh karena pengaruhnya sangat kecil dibawah 0.1 persen. Pengaruh langsung
yang diterima oleh pengusaha tani dari komoditi padi adalah sebesar 0.454 persen,
atau sekitar 83.3 persen, yang diperoleh melalui jalur dasar dari subsektor padi
(13) ke faktor produksi tenga kerja pertanian (1), dan berakhir pada institusi
pengusaha tani (7).
Pada analisis SNSE, matriks koefisien A (lihat Lampiran 27) adalah
merupakan matriks yang menunjukan besaran-besaran pengaruh langsung dari
satu aktifitas ke aktifitas yang lain. Dalam hal ini apabila kita menunjuk pada sel
(7, 13), dibaca baris ke-7 (petani pemilik modal) kolom ke-13 (kolom padi), yang
terlihat sebenarnya adalah angka nol. Sekarang bagaimana kita bisa mengatakan
bahwa ada pengaruh langsung dari komoditi padi (13) ke institusi petani pemilik
modal (7) sebesar 0.454. Untuk menjawab hal ini kita lihat dahulu jalur dasar
Tabel 31. Jalur Dasar Komoditi Padi ke Institusi Rumahtangga Jalur Pengaruh Global Pengaruh Langsung Jalur Multiplier Pengaruh Total Persentase Terhadap Pengaruh Global Kumulatif Persentase Terhadap Pengaruh Global 13, 1, 6 0.159 0.043 1.464 0.064 40.0 40.0 13, 2, 6 0.025 1.285 0.032 19.9 60.0 13, 1, 7, 6 0.006 1.632 0.010 6.6 66.5 13, 1, 9, 6 0.001 1.560 0.002 1.2 67.7 13, 1, 7 0.849 0.454 1.557 0.707 83.3 83.3 13, 2, 7 0.018 1.512 0.027 3.2 86.5 13, 5, 7 0.003 1.726 0.006 0.7 87.2 13, 1, 9, 7 0.001 1.652 0.002 0.3 87.5 13, 18, 1, 7 0.010 1.665 0.016 1.9 89.3 13, 36, 3, 7 0.001 0.729 0.001 0.1 89.5 13, 36, 4, 7 0.001 0.797 0.001 0.1 89.6 13, 1, 8 0.299 0.090 1.577 0.142 47.6 47.6 13, 3, 8 0.003 1.486 0.004 1.5 49.0 13, 5, 8 0.003 1.639 0.005 1.6 50.6 13, 1, 7, 8 0.003 1.746 0.006 1.9 52.5 13, 18, 1, 8 0.002 1.687 0.003 1.1 53.6 13, 36, 3, 8 0.005 0.664 0.003 1.0 54.5 13, 1, 9 0.206 0.080 1.484 0.118 57.3 57.3 13, 3, 9 0.001 1.453 0.002 0.9 58.3 13, 5, 9 0.002 1.546 0.004 1.8 60.0 13, 1, 7, 9 0.001 1.652 0.002 0.9 60.9 13, 18, 1, 9 0.002 1.590 0.003 1.3 62.2 13, 36, 3, 9 0.002 0.654 0.001 0.6 62.8 13, 2, 10 0.340 0.018 1.553 0.029 8.4 8.4 13, 5, 10 0.004 1.753 0.008 2.2 10.6 13, 1, 7, 10 0.007 1.915 0.013 3.7 14.3 13, 1, 9, 10 0.001 1.843 0.002 0.7 15.0 13, 33, 4, 10 0.001 2.457 0.003 0.8 15.8 13, 36, 4, 10 0.010 0.733 0.007 2.1 17.8 13, 2, 11 0.321 0.021 1.513 0,032 9.9 9.9 13, 5, 11 0.004 1.713 0,008 2.4 12.3 13, 1, 7, 11 0.001 1.880 0,003 0.8 13.0 13, 33, 4, 11 0.001 2.435 0,002 0.8 13.8 13, 36, 4, 11 0.009 0.727 0,007 2.1 16.0
Jalur dasar ini ternyata memliki dua busur yaitu dari komoditi padi (13) ke
tenaga kerja pertanian (1), dan tenaga kerja pertanian (1) ke petani pemilik modal
(7), dengan demikian jalur dasar dari pengaruh langsung ini mempunyai panjang
sebesar dua. Dalam matrik A nilai koefisien (13.1) adalah sebesar 0.6674,
sedangkan nilai koefisien (1, 7) sebesar 0.6803. Sesuai dengan rumus yang telah
diutarakan pada bab sebelumnya maka besarnya pengaruh langsung dari (13) ke
(7) adalah : ID(13,7) = a(13,1) x a(1,7) = 0.6774 x 0.6803 = 0.4540. Cara seperti ini
digunakan sama untuk menghitung pengaruh langsung dari jalur-jalur dasar yang
lain yang memiliki dua buah busur.
Buruh tani menerima pengaruh global dari subsektor padi hanya sebesar
0.159. Sedangkan pengaruh langsungnya paling besar kelihatan pada jalur dasar
(13, 1, 6). Pengaruh langsung yang diberikan oleh jalur ini adalah sebesar 0.043,
dengan kata lain bila ada injeksi pada komoditi padi sebesar 1 rupiah maka
pendapatan buruh tani diperkirakan langsung bertambah sebanyak 0.043 rupiah.
Jalur dasar komoditi padi ke buruh tani yang melalui alur (13, 1, 6) adalah sekitar
40 persen yang dapat dideteksi dari seluruh jalur dasar yang terbentuk. Dimana
secara keseluruhan jalur dasar yang bisa ditelusuri untuk menjelaskan pengaruh
langsung dari komoditi padi ke buruh tani hanyalah sebesar 67.7 persen, sisanya
32.3 persen tidak bisa terdeteksi oleh karena pengaruhnya sangat kecil dibawah 10
persen.
Subsektor padi memberi pengaruh global terhadap rumahtangga golongan
rendah diperdesaan sebesar 0.299, dan pengaruh langsung paling besar yang dapat
dideteksi adalah 0.09 atau sekitar 47.6 persen, dimana pengaruh ini dijelaskan
13 1 5 7 2 18 4 3 36 6 8 9 10 33 11
untuk menjelaskan pengaruh langsung subsektor padi ke rumahtangga golongan
rendah di perdesaan sebesar 54.5 persen, yang berarti ada sekitar 45.5 persen
jalur dasar lainnya lagi yang tidak dideteksi oleh karena hanya dapat menjelaskan
pengaruh di bawah 10 persen.
Gambar 12. Jalur Dasar Komoditi Padi ke Institusi Rumahtangga
Rumahtangga golongan rendah di perkotaan (10), menerima pengaruh
global sebesar 0.340, dengan pengaruh langsung yang diterima paling besar dapat
dideteksi adalah sebesar 0.018 atau sekitar 8.4 persen melalui jalur dasar (13, 2,
10). Untuk keseluruhannya jalur dasar yang dapat dideteksi hanya sebesar 17.8
persen, sedangkan sisanya 81.2 persen tidak terdeteksi oleh karena pengaruh yang
dijelaskan di bawah 10 persen.
Jalur dasar yang dijelaskan dalam SPA sebenarnya mencoba untuk
mengurai pancaran efek yang ditimbulkan dari dampak injeksi subsektor padi ke
karena itu SPA bisa menjadi dasar pemikiran yang pertama sebelum kita
melakukan berbagai simulasi kebijakan yang terkait dengan peningkatan produksi
padi. Untuk mengetahui lebih dalam maksud dari pernyataan ini, berikut disajikan
gambar jalur struktural komoditi padi ke institusi rumahtangga.
Gambar 12 di buat berdasarkan seluruh jalur dasar yang dapat dideteksi
oleh SPA sebagaimana yang dipaparkan dalam Tabel 30. Dalam gambar tersebut
kelihatan jelas bahwa pengaruh dari injeksi yang disimulasikan pada komoditi
padi sebelum mencapai masing-masing institusi rumahtangga terlebih dahulu
harus melalui berbagai variabel antara (intervening variable) sebagai penghubung antara komoditi padi dengan institusi rumahtangga. Kita ambil contoh
rumahtangga golongan rendah di perdesaan (8). Sekiranya disimulasikan ada
injeksi sebanyak 1 rupiah pada komoditi padi, maka dampak yang diberikannya
untuk pertambahan pendapatan rumahtangga golongan rendah di perdesaan akan
melalui 5 jalur dasar yaitu: (13, 1, 8), (13, 3, 8), (13, 5, 8), (13, 1, 7, 8), (13, 18,
1, 8), dan (13, 36, 3, 8). Dengan demikian sebelum pendapatan rumahtangga
golongan rendah di perdesaan berubah akibat adanya injeksi pada komoditi padi,
maka terlebih dahulu yang merasakan dampak kenaikan pendapatan tersebut
adalah tenaga kerja pertanian di desa (1), tenaga kerja non pertanian di desa (3),
kapital (5), sektor tanaman pangan lainnya (18), sektor perdagangan (36), dan
terakhir pengusaha tani (7). Kondisi yang sama juga terjadi untuk dampak
komoditi padi terhadap institusi rumahtangga lainnya.
Beranjak kepada alur pemikiran yang telah disampaikan, maka sangatlah
logis jika petani pemilik modal (7) menjadi satu-satunya institusi yang paling
eksogennya diinjeksi sebesar satu-satuan moneter. Institusi petani pemilik modal
dapat menjadi variabel penghubung dari setiap jalur dasar komoditi padi ke
institusi rumahtangga. Keadaan inilah yang menyebabkan mengapa pendapatan
mereka bertambah lebih besar dibandingkan institusi lainnya ketika ada injeksi
sebanyak 1 rupiah pada komoditi padi. Dimana kenyataan tersebut sudah
diketahui sebelumnya melalui uraian angka multiplier household induced income multiplier yang dipaparkan pada pembahasan sebelumnya.
Berikut ini akan dijelaskan jalur struktural dari industri penggilingan padi
ke institusi rumahtangga. Sebagaimana yang dipaparkan dalam Tabel 32 kelihatan
sekali lagi bahwa rumahtangga petani pemilik modal menerima pengaruh global
paling besar, yakni sebesar 0.707. Pengaruh langsungnya yang paling besar adalah
melalui industri penggilingan padi yakni sebesar 0.320 atau sekitar 73 persen yang
dapat dijelaskan melalui jalur dasar (27, 13, 1, 7). Secara keseluruhan jalur dasar
yang dapat dideteksi untuk menjelaskan pengaruh dari industri penggilingan padi
ke intitusi rumahtangga adalah sebesar 81.1 persen yang berarti masih ada sekitar
19.9 persen jalur dasar yang tidak dapat dideteksi oleh karena pengaruhnya di
bawah 10 persen.
Subsektor industri penggilingan padi dapat memberi pengaruh global dan
pengaruh langsung terhadap perubahan pendapatan buruh tani masing-masing
sebesar 0.139 dan 0.031. Dimana pengaruh langsung yang diberikan ini tercipta
melalui jalur dasar (27, 13, 1, 6), yang berhasil dideteksi sekitar 36.2 persen dari
seluruh jalur dasar yang dapat dibentuk. Untuk menjelaskan pengaruh dari
subsektor industri penggilingan padi terhadap perubahan pendapatan buruh tani,
Tabel 32. Jalur Dasar Sektor Industri Penggilingan Padi ke Rumahtangga Jalur Pengaruh Global Pengaruh Langsung Jalur Multiplier Pengaruh Total Persentase Terhadap Pengaruh Global Kumulatif Persentase Terhadap Pengaruh Global 27, 3, 6 0.139 0.003 1.392 0.004 2.8 2.8 27, 13, 1, 6 0.031 1.52 0.047 33.4 36.2 27, 13, 2, 6 0.017 1.337 0.023 16.7 52.9 27, 36, 3, 6 0.003 0.619 0.002 1.4 54.3 27, 36, 4, 6 0.001 0.684 0.001 0.6 54.9 27, 3, 7 0.707 0.006 1.588 0.010 1.4 1.4 27, 4, 7 0.003 1.868 0.005 0.8 2.2 27, 5, 7 0.003 1.640 0.005 0.7 2.9 27, 13, 1, 7 0.320 1.613 0.516 73.0 75.9 27, 13, 2, 7 0.013 1.567 0.020 2.8 78.7 27, 13, 5, 7 0.002 1.782 0.004 0.6 79.3 27, 36, 3, 7 0.007 0.686 0.005 0.7 80 27, 36, 4, 7 0.007 0.749 0.005 0.8 80.8 27, 36, 5, 7 0.003 0.715 0.002 0.3 81.1 27, 3, 8 0.296 0.021 1.411 0.030 10.3 10.3 27, 5, 8 0.002 1.555 0.004 1.30 11.6 27, 13, 1, 8 0.064 1.631 0.104 35.1 46.7 27, 13, 3, 8 0.002 1.536 0.003 1.1 47.8 27, 13, 5, 8 0.002 1.691 0.003 1.1 48.9 27, 36, 3, 8 0.024 0.624 0.015 5.2 54.1 27, 36, 5, 8 0.002 0.675 0.002 0.5 54.6 27, 3, 9 0.192 0.01 1.38 0.013 7 7 27, 5, 9 0.002 1.469 0.003 1.6 8.5 27, 13, 1, 9 0.056 1.539 0.086 44.9 53.5 27, 13, 5, 9 0.002 1.598 0.003 1.4 54.8 27, 36, 3, 9 0.011 0.615 0.007 3.5 58.4 27, 36, 5, 9 0.002 0.654 0.001 0.7 59 27, 4, 10 0.365 0.022 1.691 0.036 10 10 27, 5, 10 0.004 1.659 0.006 1.7 11.7 27, 13, 2, 10 0.013 1.604 0.021 5.7 17.4 27, 13, 5, 10 0.003 1.805 0.005 1.5 18.9 27, 36, 4, 10 0.053 0.688 0.036 9.9 28.8 27, 36, 5, 10 0.004 0.698 0.003 0.7 29.5 27, 4, 11 0.346 0.021 1.676 0.035 10.2 10.2 27, 5, 11 0.004 1.622 0.006 1.8 12 27, 13, 2, 11 0.015 1.564 0.023 6.7 18.7 27, 13, 5, 11 0.003 1.765 0.006 1.6 20.3 27, 36, 4, 11 0.051 0.683 0.035 10.1 30.4 27, 36, 5, 11 0.004 0.687 0.003 0.7 31.1
27 1 2 3 4 5 36 13 7 6 8 9 10 11
Gambar 13. Jalur Struktural Industri Penggilingan Padi Ke Institusi Rumahtangga
dapat dibentuk. Ini berarti sisanya 45.1 persen merupakan jalur-jalur dasar yang
menjelaskan pengaruh subsektor industri penggilingan padi (27) terhadap buruh
tani dibawah 10 persen. Rumahtangga golongan rendah di perdesaan dapat
menerima pengaruh global dari industri penggilingan padi sebesar 0.296, dan
pengaruh langsung sebesar 0.064 yang dihasilkan melalui jalur dasar (27, 13, 1,
8). Jalur ini telah terdeteksi sekitar 46.4 persen dari total jalur dasar yang bisa
bangun. Dimana secara keseluruhan jumlah jalur dasar yang dapat dibentuk untuk
Dengan kata lain masih ada 45.4 persen jalur dasar lainnya yang tidak dideteksi
karena pengaruhnya sangat kecil di bawah 10 persen.
Tidak seperti pada jalur struktural sebelumnya, untuk semua jalur dasar
industri penggilingan padi kelihatan fungsi intermediasi dari institusi petani
pemilik modal ke institusi rumahtangga lain tidak lagi terjadi. Seluruh intistusi
rumahtangga menerima pancaran efek dari industri penggilingan padi hanya
melibatkan variabel antara tenaga kerja pertanian di desa (1), tenaga kerja
pertanian di kota (2), tenaga kerja non pertanian di desa (3), tenaga kerja non
pertanian di kota (4), kapital (5), sektor padi (13), dan terakhir sektor
perdagangan, perhatikan Gambar 13. Jalur dasar industri penggilingan padi paling
banyak menggunakan variabel antara kapital (5) sebagai penghubung ke institusi
rumahtangga. Tekecuali pada buruh tani, semua institusi tampak melibatkan
faktor produksi ini sebelum menerima pancaran efek dari industri penggilingan
padi.
Berdasarkan hasil analisis kedua jalur struktural di atas, terlihat bahwa ada
perbedaan yang cukup nyata antara komoditi padi dengan industri penggilingan
padi dalam memancarkan efeknya terhadap kenaikan pendapatan rumahtangga.
Sekiranya komoditi padi tersebut dapat mewakili sektor pertanian primer, dan
industri penggilingan padi mewakili sektor agroindustri, maka secara umum dapat
disimpulkan semua golongan rumahtangga akan mengalami peningkatan
pendapatan dari setiap kenaikan injeksi di sektor pertanian primer. Namun pada
akhirnya, sebagian besar peningkatan pendapatan tersebut akan dinikmati oleh
pemilik modal yang ada di desa, dalam hal ini rumahtangga yang memiliki modal
dipancarkan oleh sektor agroindustri. Meskipun petani pemiliki modal masih
menerima efek paling besar untuk rumahtangga di desa, namun efek yang
dipancarkan tidak lagi terpusat kepadanya. Sektor agroindustri dapat memberi
stimulus kenaikan pendapatan kepada masing-masing rumahtangga tanpa melalui
satu institusi pun, sehingga disini tidak ada lagi pemusatan efek yang banyak
diterima oleh satu institusi saja.
Beranjak kepada hasil analisis jalur di atas maka strategi yang cukup tepat
dilakukan untuk meningkatkan rumahtangga yang berpendapatan rendah di desa
adalah melalui pembangunan agroindustri, terutama yang banyak menggunakan
tenaga kerja. Dimana menurut Heri (2007) kebijakan ekonomi di sektor
agroindustri makanan akan memberi dampak paling besar untuk meningkatkan
pendapatan tenaga kerja pertanian, rumah tangga buruh tani dan petani, sehingga
dapat menurunkan tingkat kesenjangan pendapatan rumah tangga, pendapatan
tenaga kerja dan output sektoral yang lebih besar. Sedangkan kebijakan ekonomi
untuk agroindustri non makanan akan berdampak lebih besar menurunkan tingkat
Peran pertanian di Indonesia terlihat semakin penting ketika terjadi krisis
ekonomi di tahun 1998. Pada waktu itu tidak dapat dipungkiri bahwa sektor
pertanian telah menjadi penyanggah runtuhnya perekonomian Indonesia, sehingga
tidak membuat kondisinya jatuh pada jurang yang lebih dalam. Sektor pertanian
tetap mampu menyerap lapangan kerja di kala sektor-sektor industri dan jasa
banyak yang melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), bahkan sebagian
tenaga kerja korban PHK beralih ke sektor pertanian. Tingginya depresiasi rupiah
terhadap mata uang dolar AS saat krisis juga menjadi berkah bagi kenaikan nilai
ekspor komoditi pertanian. Ini disebabkan karena kandungan lokal (local content) di sektor pertanian lebih tinggi dibandingkan sektor industri dan jasa, sehingga
melonjaknya nilai rupiah terhadap dolar bukannya menjadi petaka malah
membawa keberuntungan, karena daya saing komoditas pertanian meningkat yang
akhirnya mendorong kenaikan ekspor komoditi pertanian. Sebaliknya untuk
sektor industri, meningkatnya nilai rupiah terhadap dolar menjadi beban yang
sangat berat, karena harus menanggung biaya ekonomi tinggi untuk membayar
pembelian barang-barang modal yang lebih banyak berasal dari impor.
Pada akhirnya sektor pertanian dapat menghantarkan perekonomian
Indonesia ke masa pemulihan dan telah berhasil melewati fase krisis (1997-1998),
fase pertumbuhan rendah (1999-2001), dan sejak tahun 2002 berada di fase
pecepatan pertumbuhan (accelerating growth) sebagai masa transisi menuju pertumbuhan berkelanjutan (sustaining growth) (Syafa’at, et al., 2003).
Ironisnya, perjalanan sektor pertanian selama masa krisis sampai
menghantarkan perekonomian Indonesia pulih kembali lebih cenderung terjadi
dengan sendirinya tanpa banyak di intervensi pemerintah, yang saat itu sedang
disibukkan dengan pembenahan di sektor jasa, khususnya perbankan, dan sektor
industri, terutama industri besar. Bahkan beberapa kebijakan pertanian yang
dikeluarkan kurang mendukung bagi penguatan sektor pertanian karena adanya
intervensi eksternal yang begitu kuat (tekanan dari IMF), seperti kebijakan
pencabutan subsidi pupuk, kenaikan harga BBM, penghentian Kredit Usaha Tani,
dan lain-lain. Padahal pemerintah sendiri menyadari bahwa sektor pertanian itu
telah menjadi penyelamat perekonomian Indonesia sewaktu krisis. Kondisi
tersebut terjadi karena kebijakan pembangunan pertanian yang dibuat masih selalu
terpinggirkan oleh kebijakan di sektor industri dan perdagangan misalnya. Sektor
pertanian hanya menjadi jargon ekonomi ketika terjadi krisis, banyak
pengangguran, atau penurunan devisa.
Bagi Indonesia, pembangunan pertanian menjadi salah satu kunci
keberhasilan pembangunan nasional. Namun beberapa masalah di antaranya
adalah besarnya ketergantungan pada iklim, belum meluasnya penerapan
teknologi (dari hulu sampai ke hilir), skala usaha kecil (subsistence farm), produktivitas rendah, kualitas hasil rendah dan beragam, tidak ada jaminan
kontinuitas dalam jumlah pasokan; produk ekspor masih didominasi oleh produk
primer, kebijakan pemerintah yang masih bersifat parsial dan belum mengarah
pada terciptanya integrasi yang baik. Sistem kelembagaan agribisnis yang
cenderung menguntungkan pedagang, menyebabkan margin pendapatan petani
menyebabkan tingginya harga akhir di tingkat konsumen yang akan menurunkan
daya saing. Ditengah upaya menciptakan nilai tambah bagi produk-produk
pertanian sehingga ekspor Indonesia akan beralih kepada barang jadi dan hasil
manufaktur (secondary manufacturing, ), ternyata semakin menghadapi jenis-jenis rintangan di luar tarif (non tariff barriers) yang akhir-akhir ini semakin menjadi pusat perhatian karena cenderung menjadi masalah baru dalam proteksionisme.
Peran pertanian bukan hanya kepada peran yang bersifat tradisional
tersebut, tetapi juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan
pendapatan, menurunkan ketimpangan pendapatan, mengentaskan kemiskinan,
mendorong peningkatan produksi di sektor industri dan jasa karena mempunyai
backward linkage dan forward linkage yang paling besar, menyangga ketahanan pangan, dan sebagainya. Sebagai bukti empiris dari luasnya peranan pertanian
tersebut, berikut ini disampaikan ulasan mengenai dampak kebijakan
pembangunan pertanian terhadap perekonomian Indonesia baik itu secara
kelompok maupun menyeluruh.
Sesungguhnya melalui disagregasi angka pengganda sektor pertanian
terhadap penerimaan faktor-faktor produksi dan rumahtangga sebagaimana yang
telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, sudah terlihat besarnya dampak
pembangunan pertanian tersebut. Akan tetapi, besarnya dampak yang dilihat
masih bernilai satu-satuan moneter yang mana penyebarannya dilihat ke semua
aktivitas. Sekarang ini, bagaimana besarnya dampak pembangunan pertanian
tersebut jika besarnya goncangan tidak lagi sebesar satu-satuan moneter namun
menggunakan nilai dalam jumlah tertentu, dalam hal ini akan dilakukan 9
Simulasi 1 : Peningkatan produksi (output) sektor pertanian sebesar 10
triliun rupiah.
Simulasi 2 : Peningkatan produksi (output) sektor agoindustri sebesar 10
triliun rupiah.
Simulasi 3 : Peningkatan produksi (output) sektor pertanian dan agroindustri
sebesar 10 triliun rupiah.
Simulasi 4 : Pengeluaran pembangunan sebesar 10 triliun rupiah dibagi
secara proporsional pada sektor non pertanian.
Simulasi 5 : Bantuan tunai ke rumahtangga buruh tani dan rumahtangga
golongan rendah di desa sebesar 10 triliun secara merata
Simulasi 6 : Dukungan terrhadap harga gabah sebesar 10 triliun melalui
transfer pendapatan untuk menambah keuntungan sektor padi
yang kemudian terdistribusi kepada 2 kelompok RT buruh tani
dan RT pengusaha tani.
Simulasi 7 : Kenaikan ekspor pertanian sebesar 10 triliun rupiah
Simulasi 8 : Kenaikan ekspor pertanian dan agroindustri sebesar 10 triliun
rupiah
Simulasi 9 : Kenaikan ekspor sektor non pertanian 10 triliun rupiah
7.1. Dampak Kebijakan di Sektor Perekonomian terhadap Tenaga Kerja