2.3. Tinjauan Studi-Studi Terdahulu
2.3.1. Peranan Sektor Pertanian
Hirschman dalam Stringer (2001) menyoroti bagaimana sumberdaya
pertanian yang berlimpah dan mengalami surplus ditransfer untuk pembangunan
sektor industri dan menunjukkan sektor pertanian mempunyai keterkaitan ke
depan dan ke belakang antar sektor paling tinggi, hal mana kondisi tersebut
sangat dibutuhkan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi.
Byerlee, et al. (2005) menyatakan peranan sektor pertanian di dalam transformasi struktural telah ditunjukkan melalui revolusi hijau di banyak negara
terutama di Asia, dimana sekarang sektor pertanian kontribusinya terhadap
perekonomian nasional telah turun. Secara terpisah keberhasilan ini
menumbuhkan sejumlah kalangan yang pesimis terhadap sektor pertanian yang
mempertanyakan peranan strategis dari sektor pertanian pada dekade akhir ini
terutama untuk pertumbuhan bagi pengentasan kemiskinan. Pernyataan ini
terbawa oleh rendahnya harga komoditas pertanian di pasar dunia dan adanya
ketertinggalan teknologi baru di sektor pertanian dan perkembangan penting
dalam perekonomian global. Selanjutnya Byerlee menambahkan bahwa sektor
pertanian mempunyai peranan penting terutama dalam tahap awal pertumbuhan
perekonomian nasional, terutama mensejahterakan masyarakat tidak mampu yang
terkonsentrasi di sektor ini, dan pertumbuhan di sektor pertanian terkait erat
ketahanan pangan (food security) dan menjaga stabilitas harga pangan (reducing food price). Kontribusi sektor pertanian menurun sejalan dengan adanya transformasi struktural melalui pembangunan perdesan masih merupakan
kebijakan yang tepat untuk mengurangi penduduk miskin dan kesenjangan
ekonomi. Pertumbuhan di sektor pertanian terbukti sebagai sumber pertumbuhan
ekonomi di banyak negara yang kemudian meningkatkan pembangunan industri di
perkotaan terutama di daerah dengan infrastruktur yang baik dan kepadatan
penduduk yang tinggi.
Stringer (2001) dalam studinya menjabarkan peranan pertanian dalam
pembangunan ekonomi ke dalam dua bagian, yaitu secara langsung dan tidak
langsung. Kontribusi pertanian secara langsung dapat dilihat secara tradisional
dan non tradisional. Peranan pertanian dalam pembangunan yang selama ini selalu
dibicarakan oleh setiap pakar, seperti kontribusinya terhadap tenaga kerja, pangan,
ekspor, transfer modal dan pasar, tergolong sebagai peranan tradisionalnya.
Sedangkan jika pertanian dikaitkan dengan agroindustri, ekspansi lahan bagi
perluasan kota, pariwisata dan ketahanan pangan, maka peranan yang dimaksud
tergolong sebagai peranan non tradisionil. Disisi lain, pertanian dapat pula secara
tidak langsung memberi kontribusinya terhadap pembangunan. Dalam hal ini
sektor pertanian dapat memberi manfaat eksternalitas dan barang-barang publik,
setelah melalui proses joint product. Untuk manfaat eksternalitas dapat kita lihat salah satunya adalah peranan pertanian yang menghasilkan atau menumbuhkan
kepariwisataan (tourism).
Peran penting pertanian tergambar dari besarnya penduduk dunia yang
perempat dari penduduk negara berkembang setara dengan 833 juta orang hidup
di perdesaan, sebagian besar mata pencaharian mereka secara langsung atau tidak
langsung bergantung pada sektor pertanian. Disamping itu dalam pengentasan
kemiskinan melalui peningkatan pendapatan di rumahtangga perdesaan lewat
sektor pertanian dua kali lebih efektif dalam mengurangi jumlah penduduk
miskin ataupun memeratakan pendapatan dibanding dengan peningkatan atau
pertumbuhan di sektor lain. Pemerintahan China telah berhasil menurunkan
jumlah penduduk miskin di perdesaan dari 53 persen pada tahun 1981, menjadi
tinggal 8 persen pada tahun 2001. Angka tersebut setara dengan mengeluarkan
penduduk miskin sebesar 500 juta orang yang dicapai melalui mesin pertumbuhan
pada aktivitas sektor pertanian disertai dengan dukungan respon rumahtangga
petani terhadap perubahan teknologi pertanian yang cepat (World Bank, 2008).
Masyhuri (2006) menyatakan bahwa pertanian di Indonesia sangat penting
artinya karena peranannya sebagai penghasil pangan utama, lapangan kerja
sebagian besar penduduk, pemasok bahan untuk industri, penghasil devisa negara
dan kandungan impor rendah, mempunyai efek multiplier yang tinggi, kegiatan
yang ramah lingkungan, penghasil energi alternatif biofuel. Sebagai penghasil
pangan utama, sektor pertanian tidak tergantikan. Sebagai negara dengan jumlah
penduduk yang besar, di tengah-tengah dinamika hubungan antar negara yang
penuh ketidakpastian, kecukupan pangan yang dihasilkan sendiri sangat penting.
Dengan demikian sektor pertanian menjadi sektor utama yang memproduksi
pangan yang memadai dalam rangka untuk menjaga ketahanan pangan.
Sipayung (2000) telah melakukan penelitian tentang pengaruh kebijakan
menjelaskan bahwa peningkatan alokasi investasi pemerintah dan perbankan pada
sektor pertanian meningkatkan minat investasi swasta pada sektor pertanian. Hal
ini ditunjukkan oleh peningkatan pangsa alokasi investasi swasta asing pada
sektor pertanian sebesar 14 persen dan pangsa alokasi investasi swasta domestik
pada sektor pertanian sebesar 9.46 persen. Akibatnya, kapital stok total sektor
pertanian meningkat sebesar 8.87 persen, sementara kapital stok sektor non
pertanian turun sebesar 2 persen. Peningkatan dan penurunan kapital stok total
pertanian dan non pertanian melalui proses produksi mempengaruhi produksi
kedua sektor tersebut, dimana produksi sektor pertanian meningkat sebesar 0.30
persen dan sektor non pertanian turun sebesar 0.04 persen. Penurunan produksi
sektor non pertanian ini disebabkan oleh penurunan kapital stok yang tidak
mampu diimbangi oleh peningkatan produksi sektor non pertanian yang
diakibatkan peningkatan produksi sektor pertanian melalui keterkaitan kedua
sektor tersebut.
Sembiring (1995) menggunakan model Input-Output menyatakan peranan
agroindustri terhadap pembangunan ekonomi di provinsi Sumatera Utara
ditunjukkan dari keterkaitan output tidak langsung antara sektor pertanian dengan
sektor agroindustri atau sebaliknya, sektor agroindustri kurang mendukung
pengembangan sektor pertanian, sebaliknya sektor pertanian mendukung
pengembangan sektor agroindustri. Selanjutnya hasil penelitian menjelaskan
sektor agroindustri penyumbang terbesar terhadap output dan ekspor,
masing-masing sebesar 26.30 persen dan 33.90 persen, tetapi sektor ini juga pengimpor
terbesar, yaitu 45 persen untuk proses produksinya sehingga terjadi defisit terbesar
kesempatan kerja masih lebih rendah dibandingkan dengan sektor pertanian, tetapi
produktivitas tenaga kerja di sektor agroindustri relatif jauh lebih tinggi (Rp 11.88
juta/orang/tahun) dibandingkan dengan sektor pertanian (Rp1.61 juta/orang/tahun).
Ditemukan juga bahwa sektor agroindustri belum jadi sektor pemimpin (the leading sector) tetapi termasuk salah satu sektor utama (a leading sector) dalam pembangunan ekonomi di Provinsi Sumatera Utara tahun 1990.
Agroindustri merupakan salah satu prioritas penting dalam pembangunan
ekonomi di India, karena di awal perjuangan kemerdekaan telah ditekankan oleh
Mahatma Gandhi untuk melakukan penguatan pembangunan perdesaan dengan
berbasis pada sektor agroindustri. Hasil penelitian di India menunjukkan sektor
agroindustri di India mempunyai kontribusi yang besar terhadap keseluruhan
penyerapan tenaga kerja di sektor industri demikian juga sumbangannya dalam
nilai tambah dan sumber pendapatan. Kontribusi ini tidak terhenti disitu saja, akan
tetapi juga mendorong percepatan pembangunan dan mengurangi kemiskinan
terutama adanya keterkaitan pada kapasitasnya sebagai sumber pendapatan petani
beskala kecil dan penyedia lapangan kerja di perdesaan terutama bagi para
penduduk miskin yang tidak mempunyai tanah (Gandhi, et al., 2001).
Menurut Saragih (1992) agroindustri diartikan sebagai semua kegiatan
industri yang terkait erat dengan kegiatan pertanian. Agroindustri mencakup
beberapa kegiatan : (1) industri pengolah hasil produksi pertanian dalam bentuk
setengah jadi dan produk akhir seperti industri minyak sawit, industri pengolah
karet, industri pengalengan ikan, industri kayu lapis dan sebagainya, (2) industri
penanganan hasil pertanian segar seperti industri pembekuan ikan, industri
pertanian seperti pupuk, pestisida dan bibit, (4) industri pengadaan alat-alat
pertanian seperti industri traktor pertanian, industri mesin perontok, industri mesin
pengolah minyak sawit, industri mesin pengolah karet dan sebagainya.
Menurut Sudaryanto dan Rusastra (2000), sektor pertanian diyakini
mampu menyumbang terhadap pertumbuhan, pemerataan, dan penanganan
lingkungan secara simultan sebagai prasyarat keberlanjutan pembangunan
ekonomi. Untuk itu diharapkan pemerintah daerah perlu mengupayakan
pembangunan pertanian sebagai poros pembangunan yang didukung oleh
kebijaksanaan yang kondusif sehingga dapat memberikan sumbangan nyata
terhadap pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di daerah.
Beberapa program pembangunan yang perlu mendapat penekanan dan
pertimbangan diantaranya adalah transformasi struktur ekonomi berbasis
pertanian, peningkatan ketahanan pangan berkelanjutan, pengembangan agribisnis
dan ekonomi kerakyatan, dan pengembangan agropolitan yang sejalan dengan
semangat otonomi daerah.
Peranan sektor pertanian menjadi penting dalam kemampuan menyediakan
pangan yang berasal dari dalam negeri sendiri. Impor pangan dilakukan hanya
untuk memenuhi kekurangan, karena jika jumlah yang diimpor lebih besar
dibanding yang diproduksi oleh petani, selain akan menguras devisa negara dalam
jumlah banyak karena ketersediaan pangan dunia sangat terbatas dan harga
jualnya selalu berfluktuasi. Ketahanan pangan (food security) di dalam negeri yang tidak kokoh berkaitan erat dengan ketahanan sosial, ketahanan ekonomi serta
Johnston dan Mellor (1961) dalam Daryanto (2001) menyatakan terdapat
lima kontribusi yang bisa diberikan sektor pertanian Pertama, sektor pertanian
menghasilkan pangan dan bahan baku untuk sektor industri dan jasa. Jika
peningkatan pangan dapat dipenuhi secara domestik, hal ini dapat mendorong
penurunan laju inflasi dan tingkat upah tenaga kerja, yang pada akhirnya diyakini
dapat lebih memacu pertumbuhan ekonomi. Kedua, sektor pertanian dapat
menghasilkan atau menghemat devisa yang berasal dari ekspor atau produk
subtitusi impor. Perolehan devisa dari ekspor pertanian pada akhirnya dapat
digunakan untuk membayar kebutuhan impor barang-barang dan teknologi untuk
memodernisasikan dan memperluas sektor pertanian. Melalui kontribusi ini,
pembangunan sektor pertanian dapat memfasilitasi proses struktural transformasi.
Ketiga, sektor pertanian merupakan pasar potensial bagi produk-produk industri,
sehingga bila sektor pertanian bisa tumbuh dan berkembang sehat, akan terjadi
stimulasi permintaan terhadap produk-produk yang dihasilkan oleh sektor industri.
Keempat, transfer surplus tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri
merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi. Perekonomian yang tumbuh
cepat dapat menstimulasi terjadinya pemindahan tenaga kerja dalam jumlah besar
dan kontinu dari sektor pertanian ke sektor industri. Akhirnya kelima, sektor
pertanian dapat menyediakan modal bagi pengembangan sektor-sektor lain (a net outflow of capital for investment in other sector). Selain lima indikator yang terungkap ini, masih banyak lagi sebenarnya bukti empiris yang bisa
menunjukkan pentingnya keterkaitan yang kuat antara sektor pertanian dan
Studi yang dilakukan oleh Priyarsono, et al. (2006) mengeksplorasi berbagai peranan sektor pertanian dalam pembangunan perekonomian Indonesia.
Penelitian ini mengupas peran sektor pertanian dengan fokus pada tiga
permasalahan ekonomi yang tergolong paling mendesak untuk segera ditangani di
Indonesia, yakni kemiskinan, pengangguran, dan ketahanan pangan. Adapun
dalam jangka pendek (tahun pertama masa penelitian), fokus lebih diarahkan pada
pembangunan model analisis dan simulasi kebijakan yang diarahkan untuk
mengatasi masalah kemiskinan. Kerangka pemikiran untuk mendekati
permasalahan di atas dilandasi oleh konsep kesetimbangan umum (general equilibrium approach), khususnya dengan menggunakan sistem neraca sosial ekonomi (SNSE, 1999). Metode ini secara khusus diarahkan untuk menghasilkan
nilai pengaruh pengganda (multiplier effects). Dicoba pula diterapkan beberapa metode dekomposisi dan analisis lintasan struktural (strucural path analysis) untuk menguraikan pengaruh pengganda dan lintasan penjalaran pengaruh
tersebut. Hasil studi ini memberi kesimpulan bahwa pembangunan sektor
pertanian bukan saja lebih baik dalam meningkatkan pendapatan rumahtangga,
namun juga lebih berpihak pada kaum miskin, terutama di pedesaan, bila
dibandingkan dengan pembangunan sektor industri non pertanian.