• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sasaran pembangunan pertanian dalam pemerintahan “Kabinet

Pembangunan Bersatu” yang tertuang dalam Peraturan Presiden Republik

Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka

Menengah Nasional Tahun 2004-2009 adalah tercapainya tingkat pertumbuhan

sektor pertanian rata-rata 3.52 persen per tahun dalam periode 2004-2009 dan

meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani.

Untuk mencapai hal tersebut pemerintah menetapkan beberapa sasaran :

(1) meningkatnya kemampuan petani untuk dapat menghasilkan komoditas yang

berdaya saing tinggi, (2) terjaganya tingkat produksi beras dalam negeri dengan

tingkat ketersediaan minimal 90 persen dari kebutuhan domestik, (3) diversifikasi

produksi, ketersediaan dan konsumsi pangan untuk menurunkan ketergantungan

pada beras, (4) meningkatnya ketersediaan pangan ternak dan ikan dari dalam

negeri, (5) meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap protein hewani yang

berasal dari ternak dan ikan, (6) meningkatnya daya saing dan nilai tambah

produk pertanian dan perikanan, (7) meningkatnya produksi dan ekspor hasil

pertanian dan perikanan, (8) meningkatnya kemampuan petani dan nelayan dalam

mengelola sumber daya alam secara lestari dan bertanggung jawab, (9)

optimalnya nilai tambah dan manfaat hasil hutan kayu, (10) meningkatnya hasil

hutan non kayu, dan (11) bertambahnya hutan tanaman minimal seluas 5 juta ha.

Menyamakan persepsi dalam pembangunan pertanian adalah persoalan

dilakukan evaluasi dan perbaikan secara maksimal. Pembangunan pertanian pada

awalnya (Repelita I-V) terprogram dengan perencanaan yang baik. Sektor

pertanian merupakan sektor prioritas, akan tetapi dalam implementasinya strategi

dan kebijakan yang telah ditetapkan dengan mudah dilanggar dimana

program-program industrialisasi dengan cepatnya merubah titik pandang pembuat

kebijakan untuk berpaling ke sektor non pertanian terutama pada masa setelah

swasembada pangan telah tercapai.

Dalam awal Pelita dengan besarnya perhatian pemerintah terhadap sektor

pertanian, pertumbuhan sektor pertanian mencapai 5 persen per tahun, namun

dengan adanya booming minyak pada awal 80-an dana pemerintah yang tersedia melimpah dan arah pembangunan mulai memfokuskan juga pada industrialisasi

dan pembangunan fisik yang pada umumnya kurang terencana dengan baik.

Pemerintah mendanai secara leluasa pembangunan industri substitusi impor, yang

sebagian besar tidak kredibel yang pada akhirnya hanya menjadi beban

pemerintah. Inilah awal industri lead sector dan pertanian hanya sebagai pendukung. Pemikiran ini sejalan dengan pengalaman sejarah negara barat, yang

mengidentikkan pembangunan ekonomi dengan transformasi struktural terhadap

perekonomian secara cepat, yakni dari perekonomian yang bertumpu pada

kegiatan pertanian menjadi perekonomian industri modern dan jasa-jasa yang

serba lebih kompleks (Todaro, 2000).

Pemerintah selama periode tahun 1980-an telah melakukan proteksi di

sektor industri yang biayanya 10 kali lebih tinggi daripada proteksi terhadap

sektor pertanian. Atas kebijakan ini memunculkan keengganan berinvestasi di

dari setengah kali daripada berinvestasi di sektor industri (Halwani, 2002).

Selain itu perhatian dan anggaran pembangunan pertanian mulai dikurangi dan

dialihkan ke sektor industri (broad based industry) yang tidak berdasarkan sumberdaya domestik, termasuk mengembangkan teknologi tinggi yang menguras

keuangan negara, devisa dan hutang luar negeri (Masyhuri, 2006).

Ketidakseimbangan pembangunan antara industri dan pertanian, dianggap

wajar, karena para pengambil keputusan terlalu mengedepankan model

pembangunan yang mampu meningkatkan sumbangan sektor industri dan

“menurunkan” sumbangan sektor pertanian (Mubyarto, 2004). Memang dalam

proses pembangunan sebagai ukuran keberhasilan suatu pembangunan di suatu

negara adalah adanya penurunan sumbangan sektor pertanian sehingga

ketimpangan dukungan antara sektor pertanian dan sektor industri merupakan

suatu keharusan, namun sejak tahun 1980-an terjadi perubahan pandangan dari

beberapa pembuat kebijakan dengan munculnya konsep Agriculture Demand Led Industrialization (ADLI) strategi yang mengedepankan sektor pertanian sebagai penggerak utama pertumbuhan dan industrialisasi (Daryanto, 1999).

Sektor pertanian mempunyai keterkaitan ke belakang (backward linkage)

yang kuat kepada sektor non pertanian, sehingga sektor pertanian merupakan

sektor unggulan (leading sector) di dalam strategi industrialisasi. Analisis terhadap dekomposisisi multiplier dapat menjelaskan arti penting kontribusi tidak

langsung (indirect contributions) yang dibuat oleh permintaan rumahtangga kepada keterkaiatan produksi hasil pertanian. Potensi dari keterkaitan ini yang

membuat ADLI sebuah pilihan kebijakan yang menarik untuk negara-negara

Pembangunan sektor pertanian dengan strategi Agricultural Demand Led Industrialization ditengarai selaras dengan kondisi negara-negara berkembang yang masih menitikeratkan program pembangunan di sektor pertanian. Strategi ini

menjadikan sektor pertanian sebagai penggerak pembangunan sektor industri dan

sektor-sektor lain. Sebagaimana dimunculkan oleh Adelman (1984), sebagai

berikut:

“The development strategy consist of public investment program designed to induce a progressive downward shift in the supply curve of the domestic agricultural sector. The argument in favour of this strategy rest both on its linkage effect, in creating a domestic mass market for industrial product through intermediate and final demand linkages, and on its distributional impact, poor members of society. The proposed strategy is stimultaniously a growth programme, and employment programme since agriculture is considerably more labour intensive than even labour-intensive manufacturing, a basic needs, food security and income distribution program and industrialization program.

Pembangunan dengan strategi ADLI adalah strategi pembangunan yang

terdiri dari program investasi publik, yang dirancang untuk mendorong kurva

penawaran sektor pertanian domestik menjadi lebih elastis. Alasan dari strategi

ini diarahkan pada keterkaitan di dalam penciptaan pasar secara massal untuk

produk industri melalui keterkaitan permintaan antara (intermediate demand) dan permintaan akhir (final demand) dan dampaknya pada distribusi anggota masyarakat miskin. Program ini secara bersamaan merupakan program

pertumbuhan ekonomi dan program penciptaan lapangan kerja, mengingat sektor

pertanian merupakan sektor yang lebih banyak membutuhkan tenaga kerja

dibanding sektor manufaktur, disamping juga sebagai penyedia kebutuhan dasar

(basic need), ketahanan pangan (food security) dan disamping itu sebagai program distribusi pendapatan dan program industrialisasi.

Sementara Syafa’at (2005) mengartikan ADLI sebagai strategi

pembangunan nasional dengan berbasis pada pertanian sebagai sektor utama dan

pembangunan industri dengan penekanan kuat pada keterkaitan industri pertanian.

Strategi ADLI akan menekankan pada peningkatan produktivitas sektor pertanian

dalam menuju industrialisasi. Senada dalam Todaro (2000), para pakar ekonomi

pembangunan berpendapat bahwa daerah perdesaan pada umumnya dan sektor

pertanian khususnya sama sekali tidak bersifat pasif, dan tidak hanya sebagai

penunjang melainkan sebagai elemen unggulan yang sangat penting, dinamis dan

menentukan dalam strategi-strategi pembangunan secara keseluruhan, terutama

untuk negara berkembang berpendapatan rendah.

Daryanto (1999) melakukan penelitian dengan menganalisis dampak dari

krisis ekonomi di Indonesia pada penduduk miskin dan sektor pertanian serta

relevansi penggunaan strategi ADLI dalam mengatasi krisis tersebut. Hasil

analisis menunjukkan pendapatan kelompok rumahtangga perdesaan dan

perkotaan keduanya meningkat akan tetapi kelompok rumahtangga perkotaan

meningkat lebih tinggi dibanding rumahtangga perdesaan. Hasil dari penelitian

dengan menggunakan kebijakan ADLI menunjukkan keberhasilan menaikkan

produksi sektor pertanian dan pendapatan riil, disamping itu juga menyebabkan

perbaikan di sektor non pertanian. Meskipun rumahtangga perdesaan lebih sedikit

keuntungannya daripada rumahtangga perkotaan. Hal ini dimungkinkan karena

adanya perolehan yang berkurang akibat biaya transaksi perdagangan. Inilah tugas

pembuat kebijakan untuk membuat cara yang dapat menjamin para petani

memperoleh keuntungan yang terbesar dari penerapan strategi ADLI. Berdasarkan

strategi ADLI yang merupakan strategi pembangunan pertanian sebagai

penggerak industrialisasi dan motor pertumbuhan ekonomi. Adanya pertumbuhan

di sektor pertanian akan meningkatkan pendapatan dan permintaan barang dan

jasa dari perdesaan terhadap sektor non pertanian.

Sisi penting pembangunan pertanian dalam mendorong dan menstimulasi

pembangunan perdesaan (rural development) dapat terlihat dari perannya dalam peningkatan kesejahteraan penduduk desa, termasuk diantaranya petani-petani

kecil, petani gurem, dan buruh-buruh tani yang miskin, penyakap, petani

penggarap dan lain-lain yang kegiatannya tidak terkait dengan industrialisasi dan

merekalah penduduk miskin di perdesaan yang membutuhkan perhatian dan

pemihakan dari para pembuat kebijakan di sektor pertanian (Mubyarto, 2004).

Mangkuprawira (2000) yang melakukan analisa terhadap perekonomian

kotamadya Bogor, menunjukkan bahwa peran sektor pertanian adalah terpenting

ke dua setelah sektor agroindustri dalam kegiatan ekspor dan penyerapan tenaga

kerja untuk wilayah kabupaten Bogor.

Pembangunan pertanian yang dijalankan selama ini tampaknya belum

sepenuhnya berhasil mengangkat kesejahteraan masyarakat perdesaan. Sebagai

indikatornya dapat dilihat pada perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP). NTP

merupakan perbandingan antara indeks yang diterima petani dan yang dibayar

petani. Jika NTP berada dibawah angka 100, menunjukkan bahwa tingkat

kesejahteraan petani masih rendah karena hasil produksi yang diperoleh petani

tidak sebanding dengan keuntungan yang diterima. Sebaliknya, bila NTP di atas

100 dikatakan tingkat kesejahteraan petani cukup baik. Perkembangan faktual

dibandingkan dengan NTP di luar Jawa. Misalnya untuk tahun 2006 data BPS

(2006) menunjukkan NTP di 12 provinsi dari 23 provinsi yang dipantau BPS nilai

NTP-nya di bawah angka 100, yaitu NAD, Sumut, Sumatera Barat, Riau, Jawa

Tengah, Jawa Timur, NTB, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan

Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Paling rendah adalah di NTB,

dengan NTP-nya sebesar 51.94. Masalah klasik yang selalu ditonjolkan untuk

menjelaskan mengapa NTP kita selalu berfluktuatif turun naik setiap waktunya

adalah karena rendahnya produktivitas, pemanfaatan teknologi yang masih sangat

kurang, dan permasalahan harga yang tidak mendukung penguatan NTP. Ketiga

ini selalu menjadi sorotan ketika pemerintah ingin memecahkan permasalahan

turunnya NTP. Kecenderungan penurunan NTP ini tampaknya berkorelasi dengan

proses transformasi struktural yang terhambat, yang menyebabkan semakin

terakumulasinya angkatan kerja di sektor pertanian, sehingga meningkatkan

tekanan terhadap sumberdaya lahan. Hal ini pada akhirnya menyebabkan

produktivitas usahatani (output per tenagakerja) semakin menurun.

Rendahnya produktivitas ini tidak bisa dilepaskan dari penguasaan lahan

petani makin lama makin kecil. Rata-rata penguasaan lahan petani Indonesia 1.05 hektar per rumahtangga tahun 1983, menurun menjadi hanya 0.86 hektar per rumahtangga tahun 1993 dan kurang dari 0.5 hektar tahun 2003. Penurunan luas pemilikan lahan petani dan meningkatnya jumlah petani menunjukkan transformasi ekonomi tidak berjalan lancar. Berbeda dengan Thailand, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Australia, jumlah petani menurun dan luas pemilikan lahan meningkat. Tahun 1820 jumlah petani Amerika Serikat 71.8 persen, saat ini tinggal 2

persen dari total penduduk dengan penguasaan lahan rata-rata 200 hektar (Setiawan, 2007).

Indonesia melakukan pembangunan pertanian harus diartikan sebagai

pembaruan penataan pertanian dalam upaya mengatasi kemiskinan atau

meningkatkan kesejahteraan mereka yang paling kurang beruntung di perdesaan,

melalui maksimalisasi sumberdaya utama pembangunan pertanian (Mubyarto,

2004). Mellor (2000) meyakini bahwa program yang paling signifikan dalam

menanggulangi kemiskinan adalah melalui pertumbuhan sektor pertanian yang

cukup tinggi, dengan program perubahan teknologi pertanian yang dapat

meningkatkan produksi disertai biaya produksi yang lebih murah, percepatan

pembangunan infrastruktur perdesaan dengan maksud mengurangi biaya transaksi

dan memperkuat pengembangan komoditas unggulan bernilai tinggi.

Upaya peningkatan produksi pertanian dalam proses pembangunan

pertanian merupakan tujuan antara, sasaran sebenarnya adalah kesejahteraan dari

masyarakat secara keseluruhan, sebagaimana yang disampaikan Seers (2001).

Dasar pemilihan sektor pertanian dipilih pada tahap awal pembangunan dengan

strategi untuk memproduksi pangan dan jika produksi pertanian bertambah maka

kenaikan produksi itu dapat dinikmati oleh sebagian besar penduduk. Oleh karena

itu kebijakan pertanian yang relevan harus diarahkan bagaimana meningatkan

produksi, dan bagaimana hasil produksi didistribusikan secara adil sehingga

meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Suatu rangkaian penting dalam pembangunan pertanian erat kaitannya

dengan ketahanan pangan (food security) dan pengentasan kemiskinan. Selama tahun 2000-2004 melalui program ketahanan pangan telah berhasil mengurangi

penduduk miskin, dari 38.7 juta jiwa (19.1 persen) tahun 2000 menjadi 36.1 juta

jiwa (16.7 persen) pada 2004. Akan tetapi pada tahun 2005 jumlah penduduk

miskin meningkat menjadi 39.05 juta jiwa (17.75 persen). Sebagian besar

penduduk miskin berada di perdesaan yang menggantungkan hidup dari sektor

pertanian. Penduduk di sektor pertanian menempati proporsi 55 persen dari total

penduduk miskin, sekitar 75 persen di antaranya pada subsektor tanaman pangan,

7.4 persen pada perikanan laut dan 4.6 persen pada peternakan. Penduduk miskin

memiliki resiko tinggi dan rentan terhadap kerawanan pangan. Apabila

program-program pemantapan ketahanan pangan kurang memperhatikan kelompok ini,

maka akan berdampak pada peningkatan kemiskinan/kerawanan pangan

(Nainggolan, 2006).

Pembangunan pertanian juga harus mencermati sistem perdagangan global

telah mengalami transformasi yang sangat nyata. Negara-negara maju tetap

memelihara tingkat subsidi pertanian yang cukup tinggi yang dibarengi pula

dengan subsidi ekspor. Hal ini merupakan insentif nyata bagi produsen di negara

tersebut sehingga terjadi kelebihan produksi yang membanjiri pasar dunia.

Sementara negara sedang berkembang masih harus bergulat dengan persoalan

usaha tani skala kecil, keterbatasan teknologi, dukungan keuangan dan

infrastruktur, yang menyebabkan sebagian besar negara sedang berkembang

belum bisa melepaskan diri dari masalah kemiskinan, pengangguran, ketahanan

pangan dan keterbelakangan kehidupan masyarakat desa.

Penurunan relatif sektor pertanian adalah suatu proses alami dalam suatu

perekonomian nasional dan merupakan kebiasaan dan ciri-ciri yang melekat dari

perubahan struktur ekonomi yang signifikan dikarenakan faktor (1) elastisitas

permintaan terhadap harga, dan (2) tingkat pertumbuhan produktivitas.

Gambar 1. Perubahan Permintaan dan Penawaran pada Produk Pertanian dan Non Pertanian Dalam Pertumbuhan Ekonomi Dilihat dari Hukum Engel.

Keterangan :

DA adalah kurva permintan barang-barang produk pertanian SA adalah kurva penawaran barang-barang produk pertanian

Elastisitas permintaan (demand) terhadap pendapatan untuk produk non pertanian dibandingkan dengan produk pertanian berbeda. Demand untuk produk non pertanian berada pada elastisitas pendapatan > 1, naik lebih cepat daripada

demand untuk produk pertanian yang mempunyai elastisitas permintaan terhadap pendapatan yang positif akan tetapi < 1 (inilah esensi dari Engel’s Law).

Pada gambar-1 diasumsikan hanya dua sektor dalam suatu perekonomian

yaitu pertanian (A) dan non pertanian (N). Alasan logis dari hukum Engel

adalah terjadinya pertumbuhan ekonomi pada perekonomian karena adanya

perbaikan dalam produktivitas. Pada saat bersamaan pertumbuhan ekonomi akan

sama baik di sektor pertanian maupun non pertanian dengan asumsi kurva quantity

20200

Sumber : Johnson (1973) dan Anderson (1988) dalam Daryanto (1999)

SN1 DN1 0 DA1 SAo DAo price 230 100 115 85 180 100 DNo SNo SA1

penawaran berada pada posisi yang sama sebagaimana terlihat pada Gambar 1.

dan tetap sama pada periode ke dua, dengan posisi kurva penawaran bergeser ke

kanan sejalan dengan terjadinya peningkatan produktivitas pada ke dua sektor

perekonomian. Sementara kecenderungan pengeluaran penduduk atas kenaikan

pendapatan untuk produk pertanian dan non pertanian berbeda (hukum Engel).

Permintaan untuk barang pertanian tumbuh lebih rendah dibandingkan

dengan pertumbuhan permintaan terhadap barang non pertanian. Dengan kata lain

tingkat kenaikan permintaan untuk barang pertanian (DA) lebih rendah daripada

tingkat kenaikan permintaan barang non pertanian (DN). Kurva demand

sebagaimana terlihat dalam Gambar 1, bergeser ke kanan dengan tingkat

perubahan yang berbeda untuk kedua sektor tersebut. Jika kurva penawaran

bergerak dengan proporsi yang sama tetapi kenaikan permintaan untuk produk

pertanian lebih rendah daripada produk non pertanian, maka output ke dua sektor

akan naik dengan kenaikan yang lebih rendah untuk produk pertanian, dan harga

produk pertanian relatif lebih murah dibandingkan dengan harga produk non

pertanian. Sebagai hasil dari pola ini kontribusi sektor pertanian dalam

perekonomian nasional akan turun. Gambar diatas mengilustrasikan, harga produk

pertanian (A) relatif terhadap produk non pertanian (N) akan turun dari 1 ke

(85/115) = 0.74, representasi dari penurunan sebesar 25 persen dari nilai tukar

produk pertanian. Kontribusi sektor pertanian terhadap PDB akan turun dari 50

persen menjadi (85X180/(85X180)+(115X220)) = 38 persen.

Faktor utama lain yang menyebabkan turunnya kontribusi sektor pertanian

dalam perekonomian nasional adalah adanya perbedaan tingkat kenaikan

ekonomi secara betahap lebih rendah daripada sektor non pertanian. Hal ini

menunjukkan bahwa kontribusi sektor pertanian di dalam GDP dan nilai tukar

perdagangan produk perdagangan akan turun dari waktu ke waktu (Daryanto,

1999).

Kebijakan proteksi terhadap sektor industri yang dilakukan selama

pemerintahan orde baru banyak menghasilkan industri yang tidak efisien sebagai

akibat terjadinya praktek ekonomi biaya tinggi (high cost economy) dan kurangnya keterkaitan antara industri tersebut dengan bahan baku yang berasal

dari sumberdaya lokal. Proteksi yang diterapkan pada industri substitusi adalah

melalui kebijakan rupiah overvalued terhadap mata uang asing, dengan maksud untuk memudahkan dan meringankan beban biaya produksi, terutama untuk bahan

baku yang berasal dari negara luar.Bahan baku yang digunakan untuk proses

industri substitusi impor berasal dari luar negeri. Kerentanan industri substitusi

impor terbukti ketika badai krisis moneter melanda kawasan Asia Tenggara,

industri SI (Substitusi Impor) satu persatu runtuh dan dampaknya output nasional

di bidang manufaktur tumbuh negatif diatas 25 persen (Tambunan, 2001).

Kunci keberhasilan sektor pertanian Indonesia untuk dapat bersaing di

pasar internasional adalah kemampuan mengubah keunggulan komparatif menjadi

keunggulan kompetitif produk pertanian dan olahannya, serta adanya kondisi

perdagangan internasional yang fair mengingat masih tingginya distorsi negara

lain terutama negara maju dalam memberikan subsidi domestik terhadap

negaranya (Ditjen BP2HP, 2004). Dalam tahun 1997 misalnya, pemerintah di

ekspor tidak kurang dari U$ 362.5 milyar per tahun terhadap surplus produksi

pertaniannya (Erwidodo dan Ratnawati, 2004).

Sistem perdagangan global telah mengalami transformasi yang sangat

nyata. Negara-negara maju tetap memelihara tingkat subsidi pertanian yang cukup

tinggi yang dibarengi pula dengan subsidi ekspor. Hal ini merupakan insentif

nyata bagi produsen di negara-negara tersebut sehingga terjadi kelebihan produksi

yang membanjiri pasar dunia. Sementara negara sedang berkembang masih harus

bergulat dengan persoalan usaha tani skala kecil, keterbatasan teknologi,

dukungan keuangan, infrastruktur, biaya distribusi yang tinggi dan lain-lain yang

menyebabkan sebagian besar negara sedang berkembang belum bisa melepaskan

diri dari masalah kemiskinan, pengangguran, ketahanan pangan dan

keterbelakangan kehidupan masyarakat desa (Dirjen BPPHP, 2004).