• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Resiko Hukum Cessie Tagihan Piutang Sebagai Objek Jaminan Pembiayaan

4. Jaminan Pribadi (Personal Guarantee) Dari Pengurus Dan Direksi

Gunawan widjaja mengatakan bahwa: ”Pasal 1131 kitab undang –undang

hukum perdata menyatakan, ”Segala kebendaan, yang bergerak dan tidak

bergerak milik debitur, baik yang sudah ada maupun yang akan ada, menjadi jaminan unutk perikatan-perikatan perorangan debitur itu”. Ini berarti setiap

108 Hasil wawancara dengan Shanty Dewi, Legal Team, Pada PT. Permodalan Nasional Madani (Persero) cabang Medan , pada hari Kamis tanggal 27 Oktober 2011.

tindakan seseorang dalam lapangan harta kekayaan selalu akan membawa akbiat terhadap harta kekayaannya (kredit), maupun yang nantinya akan ada mengurangi jumlah harta kekayaannya (debit ). Demikianlah harta kekayaan setiap orang akan selalu berada dalam keadaan dinamis dan sealu berubah -rubah dari waktu kewaktu. Setiap perjanjian yang dibuat maupun perikatan yang terjadi akan mengakibatkan harta kekayaan seseorang bertambah atau berkurang .109

Untuk lebih menjamin pembiayaan dari PT. Permodalan Nasional Madani (Persero), maka disyaratkan juga adanya penjamin dari perjanjian pembiayaan ini. Dalam hal ini penulis temukan bahwa adanya perjanjian penjaminan pribadi, yaitu adanya jaminan pribadi yang mendampingi cessie tagihan piutang sebagai jaminan.

Shanty Dewi, Legal Team pada PT. Permodalan Nasional Madani

(Persero) berpendapat : ”Mengacu pada NPL (non performing loan/ kredit macet)

dari debitur ditemukan bahwa cessie tagihan piutang sebagai j aminan utama ada dua macam yaitu:

a. Perjanjian pembiayaan dengan cessie sebagai satu-satunya jaminannya. Ini dapat dilakukan apabila PT. Permodalan Nasional Madani Persero menilai bahwa badan hukum ini layak dan pantas mendapat pembiayaan/kredit, dengan melihat NPL (Non Performing Loan) karakter dan sehatnya badan hukum ini.

b. Perjanjian pembiayaan dengan Cessie tagihan piutang

sebagai jaminan utama ditambah dengan jaminan kebendaan lain juga ditambah dengan jaminan perorangan.110

Suatu penanggungan adalah suatu persetujuan dengan mana seorang pihak ketiga, guna kepentingan kreditut, mengikatkan diri untuk memenuhi

109

Gunawan Widjaja dan Kartini Mul jadi, Penanggungan Utang dan Perikatan Tanggung Menanggung . Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada . hal. 1.

110 Hasil wawancara dengan Shanty Dewi, Legal Team, P ada PT. Permodalan Nasional Madani (Persero) cabang Medan , pada hari Kamis tanggal 27 Oktober 2011.

perikatannya debitur manakala orang ini sendiri tidak memenuhinya”,

demikianlah rumusan pasal 1820 KUHPerdata. Dari rumusan yang diberikan tersebut dapta kita ketahui bahwa suatu penanggungan utang meliputi beberapa unsur yaitu:

1. Penanggungan utang adalah suatu bentuk perjanjian, berarti sahnya penanggungang utang tidak terlepas dari sahnya perjanjian yang diatur dalam pasal 1320 KUHPerdata.

2. Penanggungan utang melibatkan keberadaan suatau utang yang terlebih dahulu ada. Hal ini berarti tanpa keberadaan utang yang ditanggung tersebut, maka penanggungan hutang tidak pernah ada.

3. Penanggungan utang dibuat semata -mata untuk kepentingan kreditur dan bukan unutk kepentingan debitur.

4. Penanggungan hutang hanya mewajibkan penanggungan memenuhi kewajibannya kepada kreditur manakala debitur telah terbukti tidak memenuhi kewajiban atau prestasi kewajibannya.

Sebagai perjanjian pemberian jaminan, perjanjian penanggungan hutang

ini di beri titel “Perjanjian Pemberian Jaminan Pribadi”. Perjanjian ini merupakan

akta notaril. Yang mana perjanjian ini bertujuan untuk menjamin pelunasan hutang calon debitur apabila debitur cidera janji.

Adapun tujuan dari perjanjian pemberian j aminan pribadi ini adalah untuk menjamin pembayaran kembali sebagaimana mestinya atas hutang yang timbul

berdasarkan perjanjian kredit baik yang sekarang telah ada maupun yang akan ada dikemudian hari.

Dalam pasal 2 akta perjanjian pemberian jaminan pribad i ini dijelaskan bahwa Pemberian jaminan pribadi ini bertujuan untuk:

- Untuk menjamin pembayaran yang lunas, penuh tertib, dan dengan cara sebagaimana mestinya atas hutang debitur yang wajib dibayar oleh debitur kepada PT. Permodalan Nasional M adani (Persero) berdasarkan pemberian kredit. Penjamina dengan ini menjamin dan mengikatkan dirinya untuk menerima jaminan berupa jaminan pribadi kepada PT. Permodalan Nasional Madani (Persero) dan PT. Permodalan Nasional Madani (P ersero) dengan ini menerima baik pemberian jaminan berupa jaminan pribadi tersebut kepada penjamin.

- Sehubungan dengan hal tersebut diatas, penjaminan dengan ini secara tidak dapat ditarik kembali dan tidak bersyarat menjamin kepada PT. Permodalan Nasional Madani (Persero) untuk pembayaran sepenuhnya kepada PT. Permodalan Nasional Madani (Persero) atas permintaan pertama dari PT. Permodalan Nasional Madani (Persero), semua hutang debitur dalam hal debitur lalai/wanprestasi/tidak melaksanakan kewajibannya baik sebagian atau seluruhnya sesuai dengan perjanjian kredit.

Adapun perjanjian pemberian jaminan ini akan mengesampingkan hak utama dari seorang penjamin terhadap hartanya. Ini dapat dilihat dalam klausul perjanjian ini yang berbunyi:

“Penjamin untuk kepentingan PT. Permodalan Nasional Ma dani (Persero) dengan ini mengesampingkan semua dan setiap hak hak utama yang oleh peraturan hukum yang berlaku diberikan kepada seorang penjamin (borg) antara lain (tetapi tidak terbatas) hak -hak dan hak-hak utama sebagaimana diatur dalam pasal-pasal 1430, 1439, 1831. 1833, 18 37, 1838, 1843 dan 1847 sampai 1850 dari KUHPerdata”.

Dengan adanya perjanjian penjaminan pribadi ini akan lebih melindungi kepentingan kreditur ketika terjadi wanprestasi dari debitur.

Dari uraian-uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Bahwa kedudukan hukum atas cessie tagihan piutang sebagai benda jaminan masuk kedalam lembaga fidusia. Hal ini dapat kita lihat dalam pasal 1 ayat (2) Undang-undang Nomor 42 tahun 1999 tentang jaminan fidusia, berdasarkan pasal 1 ayat (2) Undang- undang Nomor 42 tahun 1999 tentang jaminan fidusia diatas maka cessie tagihan piutang merupakan benda bergerak tidak berwujud, sehingga

cessie tagihan piutang menjadi objek jaminan yang bisa dibebankan dengan

jaminan fidusia yang pendaftarannya dilakukan di lembaga fidusia pada Departemen Hukum dan Hak Asasi manusia.

2. Pembebanan cessie tagihan piutang sebagai jaminan harus didahului dengan perjanjian pembiayaan/kredit sebagai perjanjian utama, dan dilanjutkan dengan perjanjian jaminan fidusia sebagai perjanjian penyerahan jaminan yang bersifat

acesoir. Sedangkan prosedur pendaftaran cessie tagihan piutang sebagai benda

jaminan fidusia sama haln ya dengan pendaftaran benda jaminan fidusia lainnya yaitu diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 86 tahun 2000, BAB II tentang tata cara pendaftaran Fidusia yaitu dalam pasal 2 ayat 1, sampai ayat 5.

Namun dalam hal jika nilai nominal cessie tagihan piutang berkurang, maka tagihan pitang tersebut akan diantikan dengan tagihan piutang baru. Setiap

perubahan tersebut harus tetap harus didaftarkan kembali ke Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia dan akan di lekatkan pada sertifikat jamina n fidusia, hal ini dilakukan untuk menjamin tidak berubahnya nilai nominal jaminan cessie tagihan piutang.

3. Terdapat tiga kondisi re siko yang dapat ditimbulkan atas cessie tagihan piutang sebagai jaminan kredit pada pembiayaan PT. Permodalan Nasional Mad ani, (Persero) cabang Medan. Pertama debitur wanprestasi/cidera janji. Kedua kecenderungan perubahan nilai nominal cessie tagihan piutang yang terjadi akibat adanya pembayaran oleh debitur cessus (debitur lama) ke cedent debitur baru yang mengakibatkan ber ubahnya nilai nominla jaminan. Ke tiga terjadi

forcemajuare (kedaan memaksa). Untuk mengurangi resiko diatas ada 4 (empat)

upaya yang dilakukan PT. Permodalan Nasional Madani (Persero) yaitu : Pertama dengan melihat NPL (non performing loan ) dari calon debitur yaitu dengan mencari tahu track record dan BI Cheking dari debitur dan juga dengan memperhatikan karakter calon debitur. Kedua jika calon debitur memiliki track

record yang baik maka PT. Permodalan Nasional Madani (Persero) mengeluarkan

suatu ketentuan tertulis yaitu SP3 (Surat Persetujuan Prinsip Pembiayaan) yang mana di dalam SP3 tersebut ada ketentuan yang mengatur perihal cessie tagihan piutang yaitu bahwa cessie tersebut hanya dapat dialihkan kepada PT. Permodalan Nasional Madani (Persero) dan ke tentuan tersebut harus dituangkan dalam perjanjian kredit pembiayaan (antara PT. Permodalan Nasional Madani (Persero dengan BPR/Koperasi) dan perjanjian pembiayaan antara debitur dengan

end user/cessus BPR/Koperasi). Ketiga yaitu dengan mensyaratkan adanya

jamianan tambahan kepada debitur. Ke empat yaitu dengan mensyaratkan adanya jaminan pribadi dari direksi dan atau pengurus perseroan.

B. Saran.

1. Kedudukan hukum cessie tagihan piutang sebagai barang jaminan telah berubah dan masuk kedalam benda jaminan fidusia, diharapkan adanya peraturan lebih khusus dari pemerintah terhadap cessie tagihan piutang sebagai jaminan.

2. Prosedur pemberian cessie tagihan piutang sebagai jaminan kredit yang ada dalam Undang-Undang Nomor 42 tahun 1999 tentang jaminan fidusia dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 86 tahun 2000, BAB II tentang tata cara pendaftaran Fidusia telah jelas bahwa prosedurnya sama dengan jaminan fidusia pada umumnya, tetapi mengenai adanya berkurangnya nilai nominal jaminan belum diatur secara tegas. Bagaimana mengatasinya belum diatur dalam undang-undang dan peraturan pemerintah diatas. Maka diharapkan kepada pemerintah agar mengeluarkan peraturan tertulis tentang tata cara pendaftaran

cessie secara khusus sebagai benda jaminan fidusia.

3. Melihat resiko yang cukup tinggi terhadap cessie tagihan piutang sebagai jaminan kredit, sedangkan pelaksanaannya belum diatur secara tegas. Maka disarankan kepada pemerintah untuk mengeluarkan peraturan tertulis sebagai pedoman dalam pelaksanaan cessie tagihan piutang sebagai jaminan, khususnya masalah eksekusi cessie tagihan piutang apabila debitur wanprestasi.

DAFTAR PUSTAKA