• Tidak ada hasil yang ditemukan

JENIS CEDERA DAN PENANGANANNYA Memar (Contusio)

Dalam dokumen 7. Buku OSCE Pengajar (Halaman 90-99)

OVERVIEW MATERI SISTEM MUSKULOSKELETAL

JENIS CEDERA DAN PENANGANANNYA Memar (Contusio)

Memar adalah keadaan cedera yang terjadi pada jaringan ikat dibawah kulit. Memar biasanya diakibatkan oleh benturan atau pukulan pada kulit. Jaringan di bawah permukaan kulit rusak dan pembuluh darah kecil pecah, sehingga darah dan cairan seluler merembes ke jaringan sekitarnya. Timbulnya pendarahan didaerah yang terbatas disebut hermatoma

Penanganan Cedera Memar

1. Kompres dengan es selama 12-24 jam untuk menghentikan pendarahan kapiler.

2. Istirahat untuk mencegah cedera lebih lanjut dan mempercepat pemulihan jaringan-jaringan

lunak yang rusak.

3. Hindari benturan di daerah cedera pada saat latihan maupun pertandingan berikutnya.

Cedera pada Otot atau Tendo dan Ligamen Sprain

Sprain adalah cedera pada ligamentum, terjadi karena stress berlebihan yang mendadak atau penggunaan berlebihan yang berulang-ulang dari sendi. Ada tiga tingkatan, yaitu:

a) Sprain Tingkat I

Beberapa serabut yang putus, rasa nyeri tekan, pembengkatan di daerah tersebut.

b) Sprain Tingkat II

Serabut dari ligamentum yang putus lebih banyak. Cedera menimbulkan rasa sakit, nyeri tekan, pembengkakan, efusi, (cairan yang keluar) dan biasanya tidak dapat menggerakkan persendian.

c) Sprain Tingkat III

Seluruh ligamentum putus, sehinnga kedua ujungya terpisah. Persendian yang bersangkutan merasa sangat sakit, terdapat darah dalam persendian, pembekakan, tidak dapat bergerak seperti biasa, dan terdapat gerakan–gerakan yang abnormal.

Strain

Strain adalah kerusakan pada suatu bagian otot atau tendo karena penggunaan yang berlebihan ataupun stress yang berlebihan. Ada tiga tingkatan

a) Strain Tingkat I

Pada strain tingkat I, terjadi regangan yang hebat, tetapi belum sampai terjadi robekan pada jaringan otot maupun tendon.

b) Strain Tingkat II

Pada strain tingkat II, terdapat robekan pada otot maupun tendon. Tahap ini menimbulkan rasa nyeri dan sakit sehingga terjadi penurunan kekuatan otot.

c) Strain Tingkat III

Pada strain tingkat III, terjadi robekan total pada unit musculo tendineus. Biasanya hal ini membutuhkan tindakan pembedahan, kalau diagnosis dapat ditetapkan. Adapun strain dan sprain yang mungkin terjadi dalam cabang olahraga renang yaitu punggung, dada, pinggang, bahu, tangan, lutut, siku, pergelangan tangan dan pergelangan kaki.

Penanganan Strain dan Sprain

(a) Sprain/strain tingkat satu

Pada keadaan ini, bagian yang mengalami cedera cukup diistirahatkan untuk memberi kesempatan regenerasi.

(b) Sprain/strain tingkat dua

Lakukan prinsip RICE (Rest, Ice, Compession and Elevation).

 Tindakan istirahat yang dilakukan sebaiknya dalam bentuk fiksasi dan imobilisasi (suatu tindakan yang diberikan agar bagian yang cedera tidak dapat digerakan) dengan cara balut tekan, spalk maupun gibs. Tindakan imobilisasi dilakukan selama 3-6 minggu.

 Terapi dingin yang dilakukan dilakukan pada fase awal cedera. Pada fase lanjut terapi dingin digantikan dengan terapi panas. Pada keadaan subkronis dimana tanda tanda peradangan sudah menurun dilakukan terapi manual berupa massage. Pada fase akhir dapat dilakukan terapi latihan untuk memaksimalkan proses penyembuhan.

(c) Sprain/strain tingkat tiga

Pertolongan pertama dengan metode RICE dan segera diikirim kerumah sakit untuk dijahit dan menyambung kembali robekan ligamen, otot maupun tendon.

Dislokasi

Dislokasi adalah terlepasnya sebuah sendi dari tempatnya yang seharusnya. Dislokasi yang sering terjadi adalah dislokasi di bahu, ankle (pergelangan kaki), lutut dan panggul.

Penanganan Dislokasi

Prinsip dasar penanganan dislokasi adalah reposisi. Reposisi pada keadaan akut (beberapa saat setelah cedera sebelum terjadinya respon peradangan) dapat dilakukan dengan lebih mudah. Penanganan yang dilakukan pada saat terjadi dislokasi adalah melakukan reduksi ringan dengan cara menarik persendian yang bersangkutan pada sumbu memanjang. Setelah reposisi berhasil dilakukan, sendi tersebut difiksasi selama 3-6 minggu untuk mengurangi resiko terjadinya dislokasi ulang.

Patah Tulang (Fraktur)

Patah tulang adalah suatu keadaan yang mengalami keretakan, pecah atau patah, baik pada tulang maupun tulang rawan. Berdasarkan tampak tidaknya jaringan dari bagian luar tubuh, patah tulang dibagi menjadi:

1. Patah tulang terbuka: fragmen tulang melukai kulit diatasnya dan tulang keluar. 2. Patah tulang tertutup: fragmen tulang tidak menembus permukaan kulit.

Penanganan Patah Tulang

Penderita harus segera direposisi oleh tenaga medis secepat mungkin dalam waktu kurang dari lima belas menit, sebelum terjadi respon peradangan jaringan lunak yang dapat mengganggu proses reposisi. Setelah dilakukan reposisi bagian yang mengalami patah tulang kemudian difiksasi dengan spalk balut tekan untuk mempertahankan kedudukan yang baru, serta menghentikan perdarahan.

Pemasangan Bidai

Informed consent pemasangan bidai untuk mencegah deformitas dan cedera jaringan lunak lebih lanjut sebelum dirujuk

Pasien diberikan analgetik Buka pakaian pasien

Cek neurovaskular distal pada lengan kanan dan kiri, bandingkan keduanya Tutup luka (bila ada) dengan balutan steril

Prinsip pembidaian menggunakan 2-3 buah spalk/papan yang mencakup 2 buah sendi yang berhubungan dengan tulang yang patah. Pilih ukuran bidai yang sesuai dengan ekstremitas yang trauma. Pasang bantalan di atas tonjolan tulang.

Bidai ekstremitas pada posisi yang ditemukan pulsasi distalnya. Bila tidak ada, coba luruskan ekstremitas. Traksi secara hati-hati dan pertahankan sampai bidai terpasang.

Bidai dipasang pada ekstremitas yang telah lurus, namun jangan meluruskan secara paksa. Fiksasi dengan kassa gulung atau elastic bandage.

SENDI

Sistim muskuloskeletal terdiri dari tulang, sendi, otot dan saraf. Kelainannya dapat berupa : 1. Kongenital dan kelainan perkembangan

2. Infeksi dan inflamasi

3. Arthritis dan kelainan rematik 4. Disfungsi metabolik dan degenerasi 5. Tumor dan lesi yang mirip dengan tumor 6. Gangguan sensoris dan kelemahan otot 7. Cedera dan gangguan mekanis yang terjadi Gejala yang timbul umumnya adalah :

1. Nyeri

2. Kekakuan sendi 3. Bengkak

4. Kelainan bentuk (deformitas) 5. Gangguan sensibilitas

6. Gangguan fungsi

Anamnesis

Tujuan dari anamnesis adalah mengumpulkan data untuk menegakkan diagnosis kerja sambil menyingkirkan diagnosis banding yang mungkin. Pada kasus, pasien datang dengan nyeri sendi. Beberapa diagnosis yang mungkin: osteoarthritis, rheumatoid arthritis, gout arthritis, septic arthritis. Perlu ditanyakan karakteristik yang mendalam mengenai nyeri sendi untuk menyingkirkan diagnosis banding tersebut.

Osteoartritis: nyeri bersifat kronik, umumnya bilateral, umumnya mengenai sendi-sendi penopang beban (lutut, pinggang, tulang belakang, jari), tidak ada tanda-tanda radang, memberat dengan aktivitas, kaku di pagi hari <30 menit, pasien kesulitan berjalan dan beraktivitas

Artritis rematoid: nyeri bersifat kronik, menyerang sendi-sendi kecil, ada tanda-tanda radang (merah, bengkak), kaku di pagi hari >1 jam, ada gejala sistemik (demam, malaise)

Artritis gout: nyeri bersifat akut, intensitas berat, umumnya menyerang sendi ibu jari kaki, bersifat unilateral, ada tanda-tanda radang, bisa dipicu oleh makanan

Artritis septik: nyeri bersifat akut, intensitas berat, unilateral, ada tanda-tanda radang, ada riwayat trauma ke sendi yang bersangkutan

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik sebenarnya mulai dilakukan saat melihat pasien dengan mengobservasi tampilan, postur dan cara berjalan. Pemeriksaan terdiri dari pemeriksaan keadaan umum dan lokal.

Keadaan Umum

o Perhatikan habitus dan postur pasien, cara berjalan

o Obesitas dan instabilitas postural berhubungan dengan osteoartritis Tanda Vital

o Umumnya dalam batas normal.

o Mungkin ada peningkatan frekuensi nadi karena nyeri, serta demam Status Generalis

o Cari penyakit di organ lain yang mungkin terlibat, seperti ginjal pada nefropati gout (ada edema, JVP meningkat, asites) dan sebagainya

o Umumnya dalam batas normal

Pemeriksaan lokal ( dimulai dari sisi yang sehat) terdiri dari : Inspeksi : LOOK ( skin, shape, position )

- Kulit : parut luka (scar), perubahan warna dan lipatan kulit abnormal - Shape / bentuk : bengkak, wasting, benjolan, bentuk tulang bengkok

- Posisi : berbagai kelainan sendi dan lesi saraf mengakibatkan deformitas yang khas. Ingat ekstremitas memiliki 3 dimensi, sehingga carilah deformitas dalam 3 bidang. Palpasi : FEEL (skin, soft tissues, bone and joints)

- Kulit : hangat/dingin, lembab/kering, sensoris normal/abnormal - Jaringan lunak : benjolan, pulsasi

- tulang dan sendi : bentuk luar, penebalan sinovial, cairan sendi

- Nyeri tekan : selalu penting dan sering kali diagnostik bila terlokalisir Gerak : MOVE (aktif, pasif, abnormal)

- Aktif : minta pasien untuk menggerakkan sendi dan periksa kekuatannya - Pasif : catat lingkup gerak sendi pada setiap bidang gerak fisiologis - Abnormal ? : stabilitas gerak sendi

TEST KHUSUS :

- Pemeriksaan ini khusus untuk daerah tertentu dengan keunikan tertentu

o Inspeksi :

 Perhatikan ada tidaknya DOTS (Deformitas, Open wound/luka terbuka, Tumor,

Swelling/bengkak dan tanda radang lainnya)

o Palpasi

 Perhatikan ada tidaknya nyeri, panas, bengkak, fluktuasi/efusi, dan krepitasi  Periksa fungsi neuro-vaskular di distal lesi. Periksa motorik dan sensorik untuk

fungsi saraf, dan denyut nadi yang untuk menilai vaskularisasi o Gerakan

 Perhatikan ROM sendi, baik secara aktif maupun pasif. Bandingkan dengan sendi yang sehat

FRAKTUR

JUDUL MUSKULOSKELETAL-Fraktur KOMPETENSI DIUJIKAN (bold yang berhubungan) 1) Anamnesis 2) Pemeriksaan fisik/psikiatri

3) Interpretasi data/kemampuan prosedural pemeriksaan penunjang

4) Penegakan diagnosis dan diagnosis banding 5) Tatalaksana nonfarmakoterapi

6) Tatalaksana farmakoterapi 7) Komunikasi dan edukasi pasien 8) Perilaku professional SKENARIO DAN INSTRUKSI PESERTA SKENARIO KLINIK

Tn. Nur Kholid, 39 thn, dibawa oleh petugas PT. Kereta Api ke IGD RSCM. Tungkai kanannya terasa nyeri tidak bisa digerakkan setelah membentur peron kereta api. Ia datang dengan tungkai kanannya dibidai.

TUGAS

Lakukan penilaian awal dan penanganan awal pada pasien! Tentukan tindakan lanjutan pada pasien!

Peragakan pemasangan bidai!

PASIEN

Identitas

Nama Tn Nur Kholid

Usia 39 thn

Jenis Kelamin Laki-laki

Pekerjaan Tukang sablon

Status Nikah Sudah menikah

Pendidikan SLTA

Keluhan

Keluhan utama Tn. Nur Kholid, 39 thn, dibawa oleh petugas PT. Kereta Api ke IGD

RSCM. Tungkai kanannya terasa nyeri tidak bisa digerakkan setelah membentur peron kereta api. Ia datang dengan tungkai kanannya dibidai.

Riwayat

Kejadian Tn. Nur Kholid adalah seorang penumpang kereta api. 2 jam sebelum datang ke rumah sakit, Saat berada di bekasi, pasien melihat seorang

nenek yang juga penumpang kereta api mengalami kesulitan waktu hendak turun dari kereta api. Dengan bermaksud menolong, pasien mengangkat nenek itu dan juga semua tas dan perlengkapannya. Saat itu kaki kanan Tn. Nur Kholid tersangkut salah satu tas nenek itu sementara kereta sudah mulai berjalan. Pada waktu kereta berjalan pelan, dan tungkai kanan tn. Nur Kholid masih menjulur keluar kereta, saat itulah tungkai kanannya terbentur peron kereta. Ia mengeluh terluka dibawah lutut kanannya. Ia juga mengeluh nyeri dan sulit digerakkan pada tungkai kanannya. Tidak ada keluhan pada bagian tubuh yang lain. Selama kejadian pasien sadar penuh. Oleh petugas kereta api, lukanya dibalut dan dibidai kemudian dibawa ke RSCM.

Riwayat Lain Riwayat sebelumnya

Pasien tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alcohol.

Riwayat alergi, pengobatan maupun operasi sebelumnya tidak ada. Kehidupan social

Pasien bekerja sebagai tukang sablon. Pendidikan terakhirnya ialah SMA. Pasien telah menikah dan semua keluarganya di Jawa Tengah

Pemeriksaan Fisik Survey Primer

Survey primer dalam batas normal

Jalan nafas bebas, pernafasan spontan dengan frekuensi nafas 22x tiap menit, sirkulasi baik dengan akral hangat, denyut nadi 88x tiap menit, dan tekanan darah 120/80 mmHg. Pasien sadar penuh.

Survey

Sekunder Survey sekunder

Kepala : tidak terdapat deformitas

Dada : tidak terdapat memar, luka, simetris dalam statis dan dinamis Jantung : BJ I dan II normal

Paru : sonor, vesikuler

Abdomen: datar,jejas (-), lemas, BU (+) normal

Status Lokalis Region cruris dextra

L : tampak luka pada proksimal kruris sebelah medial ukuran 2 x 1 x 1 cm,

Tampak fragmen tulang, bengkak (+), deformitas (+)

F : nyeri (+), pulse a. tibialis post dan a. doralis pedis (+), CRT <2”, sensorik

normal

M : terbatas karena nyeri

MANEKIN+ALAT

Manekin (-)

Alat Bidai

Foto penunjang Basic life support kit

PEMBAHASAN

Pemeriksaan Fisik

Survey primer dalam batas normal

Jalan nafas bebas, pernafasan spontan dengan frekuensi nafas 22x tiap menit, sirkulasi baik dengan akral hangat, denyut nadi 88x tiap menit, dan tekanan darah 120/80 mmHg. Pasien sadar penuh.

Survey sekunder

Kepala : tidak terdapat deformitas

Dada : tidak terdapat memar, luka, simetris dalam statis dan dinamis Jantung : BJ I dan II normal

Paru : sonor, vesikuler

Abdomen: datar,jejas (-), lemas, BU (+) normal Status lokalis:

Region cruris dextra

L : tampak luka pada proksimal kruris sebelah medial ukuran 2 x 1 x 1 cm, Tampak fragmen tulang, bengkak (+), deformitas (+)

F : nyeri (+), pulse a. tibialis post dan a. doralis pedis (+), CRT <2”, sensorik normal

M : terbatas karena nyeri

Intruksi

 Gunakan informasi ini untuk menyusun kembali hipotesis anda.

 Pemeriksaan apa yang ingin anda kerjakan untuk mendukung hipotesis anda? Berikan alasannya!

Peragakan pemasangan bidai!

Pemasangan Bidai

Informed consent pemasangan bidai untuk mencegah deformitas dan cedera jaringan lunak lebih lanjut sebelum dirujuk

Pasien diberikan analgetik Buka pakaian pasien

Cek neurovaskular distal pada lengan kanan dan kiri, bandingkan keduanya Tutup luka (bila ada) dengan balutan steril

Prinsip pembidaian menggunakan 2-3 buah spalk/papan yang mencakup 2 buah sendi yang berhubungan dengan tulang yang patah. Pilih ukuran bidai yang sesuai dengan ekstremitas yang trauma. Pasang bantalan di atas tonjolan tulang.

Bidai ekstremitas pada posisi yang ditemukan pulsasi distalnya. Bila tidak ada, coba luruskan ekstremitas. Traksi secara hati-hati dan pertahankan sampai bidai terpasang.

Bidai dipasang pada ekstremitas yang telah lurus, namun jangan meluruskan secara paksa. Fiksasi dengan kassa gulung atau elastic bandage.

Dalam dokumen 7. Buku OSCE Pengajar (Halaman 90-99)