Oleh : Eka Nur Susanti
Jogjakarta, sebuah kota yang membuatku kagum. Aku selalu merindukan setiap sudut kota Jogja. Entah mengapa, aku bisa memiliki rasa seperti ini. Mungkin ada banyak hal di Jogja yang memiliki daya magnet tersendiri hingga aku selalu merasa ingin balik ke Jogja. Sepertinya pepatah yang mengatakan ‘rumput tetangga lebih hijau’ berlaku padaku. Dalam pandanganku, Jogja lebih segalanya dari kota kelahiranku sendiri. Meskipun dalam kenyataannya ada beberapa hal dimana kota kelahiranku lebih dari Jogja.
Saking terkagum-kagumnya dengan pesona Jogja, membuatku tak menolak jika ada yang mengajakku pergi ke Jogja, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Sekitar pertengahan bulan Juli 2011 aku dan dua orang temanku melakukan perjalanan ke Jogja. Ala backpacker pun menjadi pilihan perjalanan kami meskipun bukan backpacker yang sebenarnya.
Ketika sampai di Jogja, terdapat aroma lain dari kota-kota yang pernah kukunjungi. Stasiun Lempuyangan menjadi pijakan pertama kami. Sebelumnya kami telah duduk berjam-jam di dalam kereta api ekonomi. Aku yang baru pertama kali melakukan perjalanan dengan kereta merasakan keasingan dan juga keasyikan. Asing karena aku baru tahu kehidupan di dalam kereta api yang
sesungguhnya yang selama ini hanya aku temui di layar televisi. Selain asing, aku juga merasakan keasyikan menikmati perjalanan. Dibandingkan menggunakan alat transportasi lainnya, kereta api memberikan lebih banyak pengalaman. Di kereta api kita bisa bertemu dan berkenalan dengan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Kita seperti menemukan keluarga baru meskipun baru kenal karena saking lamanya bersama dalam tempat yang sama. Berbagi pun menjadi kegiatan kami. Mulai berbagi tempat duduk, bekal makanan, hingga pengalaman. Inilah yang membedakan kereta api dengan alat transportasi lainnya.
Pengalaman menarik pertama dalam perjalanan menuju Kota Gudeg telah aku dan dua orang temanku peroleh di dalam kereta api. Untuk selanjutnya akan banyak lagi hal menarik yang bisa aku bagi ketika di Jogja. Salah satunya adalah pengalaman mencari tempat untuk bermalam. Inilah yang menjadi masalah kami ketika malam tiba. Kami yang masih belajar menjadi the real backpacker tidak mengandalkan hotel sebagai tempat tinggal kami. Selain masalah biaya penginapan, kita juga ingin mencari pengalaman lain yang kami yakini tidak tidur di hotel akan memberikan lebih banyak pengalaman. Kami pun berdiskusi untuk menentukan tempat yang aman untuk bermalam karena dua di antara kita termasuk aku adalah perempuan yang sangat rawan terkena gangguan para kelelawar malam. Kami juga tidak mau tidur di tengah jalan seperti tuna wisma. Akhirnya masjid pun menjadi pilihan terakhir kami. Selama tiga hari kita bermalam di tiga masjid yang berbeda. Hikmah yang bisa kita ambil adalah kita tidak kehilangan momen sholat berjama’ah meskipun hanya sholat shubuh. Bermalam di masjid
membuat kita lebih bisa untuk sholat berjama’ah. Namun selama di Jogja, terdapat beberapa masjid yang kurang memuaskan. Salah satunya adalah masalah kamar mandi yang kurang terjaga kebersihannya. Sepertinya mereka lupa dengan hadist yang mengatakan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Mereka hanya tahu ada hadis yang mengakatakan demikian, namun mereka tidak menerapkannya dalam kehidupan. Tak perlu mencari siapa yang salah dalam hal ini. Masalah ini adalah masalah bersama yang harus dihadapi bersama tanpa saling menyalahkan. Itulah sebagian hal yang aku temui di Jogja.
Berbicara tentang Jogja, tak pernah lepas dari tempat wisata dan Malioboro. Kedua hal itu menjadi daya tarik sendiri bagi para wisatawan domestik maupun internasional. Beberapa daftar tempat wisata di Jogja di antaranya adalah Candi Prambanan, Candi Borobudur, taman wisata Purawisata, Keraton Jogja, dan masih banyak lagi. Dari sekian tempat wisata tersebut, hanya satu yang kita kunjungi yaitu Keraton Jogjakarta. Inilah satu-satunya tempat wisata yang murah dan banyak memberikan pengetahuan bersejarah. Hanya dengan Rp3.000,00, kita bisa mengetahui peninggalan-peninggalan Jogja dan juga para pemimpin Jogja (Sultan) terdahulu beserta keturunannya. Sungguh tempat yang menyenangkan.
Menginjak malam hari, Malioboro dan segala aktivitas di dalamnya menjadi pilihanku untuk menghabiskan waktu di Jogja. Mulai sore hari pengunjung Malioboro berdatangan dan puncak keramaiannya terjadi antara pukul 17.00 – 21.00 WIB. Malioboro tak pernah sepi dari pengunjung sekalipun bukan musim liburan. Hal yang menjadi daya tarik dari Malioboro ini adalah barang-barang
khas Jogja yang melimpah ruah dan bisa didapatkan dengan harga murah. Mulai dari aksesoris, pakaian, miniatur, makanan, dan hal-hal yang menjadi ciri khas Jogja bisa kita bawa pulang sebagai buah tangan. Di Malioboro inilah, kepintaran kita dalam menawar harga serendah mungkin sangat dibutuhkan. Jadi, bagi yang kurang mahir dalam hal tawar-menawar harus ekstra hati-hati karena bisa jadi kita rugi karena kurang mahir menawar.
Selama di Jogja, aku dan kedua temanku menggunakan transportasi berupa bus trans Jogja. Ini pertama kalinya aku menggunakan transportasi semacam ini karena di daerahku sendiri belum ada transportasi ini. Transportasi ini sangat murah dan juga aman. Ongkos bus trans hanya dipatok Rp3.000,00 dan kita tak perlu membayar lagi jika harus ganti jurusan. Keadaan bus ini juga sangat aman dan menyehatkan. Tak ada para perokok di sini yang menjadi masalah umum transportasi di Indonesia. Dan keamanannya pun lebih terjamin dibandingkan dengan transportasi pada umumnya karena di sini tak ditemukan pencopet yang meresahkan penumpang. Seperti itulah perjalananku ke Jogjakarta selama empat hari. Perjalanan ala backpacker bohongan ini lebih bermakna dibandingkan perjalanan dengan menggunakan rombongan seperti pada umumnya. Perjalanan yang aku alami ini mengajarkan kita untuk mandiri. Perjalanan ini juga mengajarkan kita untuk berani bertanya karena selama di Jogja, kita tak begitu paham daerah tersebut sehingga membutuhkan bantuan warga setempat untuk menunjukkan arah yang akan kita tuju. Apa yang terjadi seandainya kita malu untuk bertanya pasti kita akan kebingungan mengarungi Jogja yang begitu luas. Pengalamanku sebelumnya di Jogja juga tak
cukup membantu karena aku juga tak begitu hafal daerah-daerah Jogja jika ditempuh dengan jalan kaki atau transportasi umum. Selama ini aku tak pernah melakukan perjalanan seperti ini. Sebelumnya, perjalananku ke Jogja hanya mengikuti rombongan yang sudah ada pemandu wisatanya yang mengarahkan kemana kita pergi tanpa kita tahu sendiri.