Monitoring dan evaluasi
B. 5. Intervensi Nonfarmasi
2) Karantina Wilayah
Karantina wilayah dilaksanakan setelah pemerintah menetapkan adanya KLB episenter pandemi influenza dengan konfirmasi laboratorium atau sinyal virologi. Kegiatan yang dilaksanakan mencegah orang keluar dan masuk wilayah penanggulangan selama masa karantina wilayah dilaksanakan. Namun, bila dalam wilayah penanggulangan ada salah satu rumah terkena kasus dengan riwayat menderita influenza like illness (suspek influenza pandemi), maka seluruh anggota yang tinggal dalam rumah tersebut harus menjalani tindakan karantina rumah dalam area karantina wilayah tersebut. Hal ini disebabkan belum adanya obat antivirus yang dapat menjamin tidak tertularnya masyarakat di wilayah penanggulangan.
Adapun langkah-langkah kegiatan karantina wilayah meliputi:
a) Tahap Persiapan i. Koordinasi
Bila sinyal epidemiologi telah terdeteksi oleh tim gerak cepat (TGC) dan tim verifikasi maka pemerintah daerah secepatnya melakukan penanggulangan seperlunya, sebelum
65
sinyal virologi ditetapkan. Keberhasilan penanggulangan ini ditentukan oleh persiapan yang optimal dengan langkah awal melakukan koordinasi dengan instansi terkait, satlak, tokoh agama, serta tokoh masyarakat. Koordinasi dilakukan untuk mensosialisasikan, menyatukan persepsi, dan menyusun langkah-langkah kegiatan serta mengantisipasi gejolak sosial yang mungkin timbul di masyarakat. Masing-masing instansi terkait menjalankan tugasnya sesuai dengan kewenangan yang dimiliki.
ii. Perencanaan
Pada saat melakukan investigasi, TGC sudah melakukan penilaian cepat untuk menetapkan kebutuhan pelaksanaan penanggulangan intervensi nonfarmasi. Pemerintah daerah perlu menyusun perencanaan kontinjensi tentang kebutuhan yang diperlukan dalam hal logistik, tenaga, dan biaya operasional. Juga perlu menyusun rencana aksi pelaksanaan penanggulangan episenter pandemi influenza di wilayah penanggulangan dilakukan bersamaan dengan tahap koordinasi.
b) Tahap Pelaksanaan
• Petugas karantina bersama dengan TGC dan Polri memberikan informasi, pengumuman, dan penjelasan kepada masyarakat tentang akan dilakukannya tindakan karantina wilayah selama kurang lebih 5 minggu.
• Pemberian informasi, pengumuman, dan penjelasan tersebut dapat dilakukan melalui mobil penyuluhan, brosur ataupun spanduk yang bekerjasama dengan puskomlik.
• Daerah yang akan dilakukan tindakan karantina wilayah hanya mempunyai satu pintu yang berfungsi untuk masuk/keluar.
• Pintu masuk dan keluar dijaga oleh petugas keamanan dan petugas karantina.
• Selama masa tindakan karantina wilayah, masyarakat yang berada di wilayah penanggulangan dianjurkan tetap tinggal di rumah masing-masing dan membatasi kegiatan yang tidak perlu dilakukan di luar rumah.
• Masyarakat di luar wilayah penanggulangan, dilarang memasuki daerah yang dilakukan tindakan karantina wilayah.
• Hanya petugas logistik yang yang diperbolehkan masuk dan keluar wilayah penanggulangan dengan syarat menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap dan melepaskan APD di tenda desinfeksi untuk dilakukan tindakan disinfeksi (body clean) sesuai prosedur di pintu masuk wilayah tersebut.
• Semua petugas yang keluar dan masuk dari wilayah penanggulangan dicatat jam masuk dan keluar serta kondisi kesehatannya pada buku registrasi karantina (Lampiran 2).
• Petugas surveilans dan petugas profilaksis antiviral tidak boleh keluar masuk wilayah penanggulangan selama masa karantina.
• Jika ada masyarakat yang sakit bukan karena penyakit influenza pandemi di wilayah penanggulangan selama masa tindakan karantina, maka di lakukan pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter.
• Bila penyakitnya tidak dapat ditangani di tempat dan memerlukan pengobatan lanjut, maka orang tersebut di rujuk ke RS dengan menggunakan mobil ambulans sampai di pintu keluar wilayah penanggulangan.
• Sesampai di pintu keluar wilayah penanggulangan, orang sakit tersebut dipindahkan ke mobil evakuasi penyakit menular yang sudah ada di pintu keluar wilayah penanggulangan untuk dirujuk ke RS Rujukan.
• Pemberian surat keterangan/izin:
Surat keterangan/izin ini merupakan kebutuhan penting bagi orang yang sedang dikarantina untuk legalitas yang menerangkan bahwa orang tersebut tidak dapat melaksanakan segala aktivitas selama yang bersangkutan terkena karantina, seperti izin untuk tidak masuk sekolah, izin untuk tidak bekerja, izin untuk menunda penyelesaian pekerjaan.
• Bila wilayah penanggulangan dilewati oleh jalan protokol yang menghubungkan satu kabupaten/kota maka jalan tersebut ditutup atau dapat dilakukan pengalihan jalur transportasi melalui jalan di luar wilayah penanggulangan. Jika tidak bisa dialihkan dan
66
jalan tersebut satu-satunya jalan protokol maka yang diperbolehkan untuk lewat adalah kendaraan roda empat yang tertutup, dengan syarat sebagai berikut:
1. Pos pemeriksaan jalan protokol di pintu masuk dan keluar melaksanakan pemeriksaan setiap kendaraan yang melintas.
2. Di pintu masuk, kendaraan yang melintas diberhentikan dan diberi penjelasan tentang situasi yang ada. Mobil harus ditutup jendelanya, pengendara dan penumpang diminta menggunakan masker yang dibagikan. Petugas pintu masuk memberikan kartu pass yang berisi jam masuk dan jumlah penumpang, golongan umur, dan jenis kelamin.
Petugas melakukan kontak dengan petugas pintu keluar pada saat kendaraan meninggalkan pintu masuk.
3. Di pintu keluar, kendaraan yang keluar menyerahkan kartu pass dan dilakukan disinfeksi. Petugas memeriksa kartu pass yang ada. Masker yang dipakai pengendara dan penumpang dibuang di tempat yang sudah disediakan di pintu keluar. Kendaraan boleh melanjutkan perjalanan, namun untuk sementara jendela dibuka lebar.
• Jika di wilayah penanggulangan terdapat rumah sakit maka pelayanan tetap dibuka, dan hanya untuk masyarakat yang berada di wilayah penanggulangan.
• Petugas yang bertugas di wilayah penanggulangan selama masa tindakan karantina harus dilengkapi surat tugas dan tanda pengenal.
• Barang atau benda yang keluar dari wilayah penanggulangan selama masa tindakan karantina harus dilakukan tindakan disinfeksi.
• Untuk bahan makanan tidak diperbolehkan keluar dari wilayah penanggulangan selama masa tindakan karantina.
• Petugas dan orang yang berada di wilayah penanggulangan selama masa tindakan karantina diberikan profilaksis selama 20 hari. Bila sudah tersedia vaksin prapandemi dapat diberikan kepada petugas.
• Penanggung jawab operasional wilayah penanggulangan adalah bupati/walikota.
• Penanggung jawab teknis karantina wilayah adalah kepala dinas kesehatan.
c) Pelaksanaan karantina untuk wisatawan
i. Jika di wilayah penanggulangan terdapat wisatawan, baik asing maupun domestik, maka dilakukan tindakan karantina terhadap para wisatawan tersebut sesuai dengan protokol karantina wilayah.
ii. Apabila tidak memungkinkan dilakukan tindakan karantina terhadap para wisatawan tersebut di wilayah penanggulangan, maka dapat dilakukan pemindahan wisatawan tersebut untuk dikarantina di luar wilayah penanggulangan.
iii. Proses pemindahan wisatawan tersebut mengikuti prosedur rujukan penderita influenza pandemi.
iv. Tempat untuk pelaksanaan karantina di luar wilayah penanggulangan dapat berupa hotel, mess, dan lain-lain.
v. Petugas karantina dan Polri/TNI mengawasi wisatawan tersebut di tempat karantina yang telah disediakan sampai berakhirnya masa karantina.
vi. Wisatawan tersebut tidak boleh keluar maupun dikunjungi, dan selama masa karantina tetap diberikan profilaksis.
d) Petugas pelaksana i. Petugas kekarantinaan
Petugas karantina kesehatan dengan syarat:
• PNS
• Berlatar belakang pendidikan kesehatan
• Telah mendapatkan pelatihan karantina kesehatan ii. Polri/TNI dan Petugas Pengamanan lainnya
iii. Sopir mobil evakuasi penyakit menular e) Jumlah petugas yang dibutuhkan per shift:
i. Petugas keamanan di pintu masuk: Polri/TNI tergantung luasnya wilayah penanggulangan.
67
ii. Petugas pengawas pada tempat orang memakai/melepas APD: 2 orang iii. Petugas untuk disinfeksi: 2 orang