Tanggap darurat
2) Pelaksanaan Komunikasi Risiko
Sesuai keterangan pada bagian Pokok-Pokok Kegiatan Komunikasi Risiko, melaksanakan komunikasi risiko berarti melakukan semua kegiatan dengan mengacu pada Tabel 2 di atas, dengan pengkhususan kegiatan sesuai tahap pada Tabel di atas.
Pelaksanaan sepenuhnya dilakukan sejak Tahap II (teridentifikasi sinyal virologis, ditetapkan KLB). Adapun tempat dan targetnya sama dengan kegiatan Perencanaan dan Persiapan di atas.
TKR dan SM telah dapat beroperasi penuh, berlokasi di Kabupaten/Kota yang sama namun di luar wilayah penanggulangan. Jika episenter terjadi di ibukota propinsi, maka kemungkinan TKR dan SM utama adalah para personil dari instansi-instansi di tingkat propinsi. Mengingat keperluan komunikasi dan publikasi yang meningkat, dimungkinkan anggota TKR dan SM di wilayah penanggulangan tidak terbatas pada personil dari Kabupaten/Kota setempat.
Perlu dikerahkan personil atau ahli dari propinsi setempat dan pemerintah pusat.
Selain Tim Komunikasi di wilayah penanggulangan, juga dibentuk Tim Komunikasi di tingkat Propinsi dan Pusat. Kegiatan rinci kedua tim ini dapat dilihat pada lampiran 5 Sementara bagaimana mekanisme kerja, koordinasi, komunikasi dan interaksi antara setiap pihak yang terlibat dalam upaya komunikasi risiko penanggulangan episenter pandemi influenza, dapat dilihat pada bagian Jejaring dan Mekanisme Kerja.
Kegiatan
Secara singkat, kegiatan-kegiatan dalam pelaksanaan komunikasi risiko adalah sebagai berikut.
(a). Komunikasi Risiko
(1) Memberdayakan masyarakat dengan meningkatkan peran serta masyarakat dalam mengatasi episenter pandemi influenza
(2) Menginformasikan ke masyarakat langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam menghadapi situasi episenter (3) Mengumpulkan data dan informasi secara berkala, atau setiap ada
perkembangan situasi dari Tim Penanggulangan (4) Mengolah dan mengelola data dan informasi terkumpul
(5) Membuat papan informasi internal yang memuat informasi dasar (kontak, peta wilayah, dll) dan data/informasi terbaru
(6) Mengatur jenis dan saluran informasi bagi target yang berbeda-beda (7) Menetapkan jadwal distribusi informasi berdasar jenis dan saluran (8) Menyusun pesan/instruksi dengan masukan dan koordinasi dengan ahli
teknis sesuai target dan saluran informasi
(9) Mendistribusikan informasi/instruksi/pesan (yang mungkin berbeda-beda) berdasar target, jenis, dan saluran informasi
(b). Komunikasi dan Koordinasi
(1) Aktivasi dan perawatan peralatan komunikasi yang ditetapkan pada perencanaan. Peralatan dapat diganti jika diperlukan.
(2) Pertemuan pagi TKR dan SM untuk pembaruan informasi/data.
(3) Pertemuan sore TKR dan SM untuk evaluasi dan pembaruan informasi/data.
(4) Komunikasi dan koordinasi terus menerus antara TKR dan SM masing-masing di tingkat Kabupaten/Kota, Propinsi dan Pusat.
105
(5) Telekonferensi atau komunikasi dan koordinasi berkala antara Tim Komunikasi tingkat Kabupaten/Kota dengan tingkat Propinsi, dan kemudian dengan Tim Komunikasi Pusat.
(6) Penyebaran informasi dari Tim Komunikasi di satu tingkat ke tingkat lain secara berkala, atau jika dianggap perlu
(7) Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan setiap kegiatan komunikasi risiko dengan Tim Penanggulangan
(c). Sentra Media
(1) Memastikan informasi dari TKR dapat disebarkan ke masyarakat melalui berbagai media massa
(2) Bekerja sama dengan juru bicara dan TKR untuk menyebarkan informasi yang selaras
(3) Membuat pointers dan memberi informasi surveilans komunikasi dan media monitoring kepada juru bicara
(4) Memantau berita di media masa dan desas-desus atau informasi di masyarakat, kemudian memastikan agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat pada waktu yang tepat
(5) Mengatur arus informasi internal dan eksternal (untuk konsumsi publik) dan memastikan bahwa informasi ke media sudah diubah ke dalam format yang dapat dengan mudah digunakan oleh media cetak, radio dan televisi (press release, ad lips, video news release)
(6) Melayani kebutuhan media masa
(7) Menyelenggarakan jumpa pers secara berkala
(8) Memastikan bahwa media dan public serta pihak-pihak terkait (Kedutaan Besar, Badan-badan PBB, LSM, swasta dan institusi-institusi pemerintah) memperoleh berita/informasi terakhir secara rutin
(9) Berkonsultasi dengan pihak terkait untuk memastikan ketepatan pesan-pesan kunci yang ingin dipublikasikan
(10) Memastikan data yang dapat dan tidak dapat dibagi dengan media massa.
(11) Memastikan semua fasilitas sentra media memadai.
Pesan
Garis besar pesan yang disampaikan dalam komunikasi risiko adalah sebagai berikut:
106
Pesan Inti Komunikasi Risiko
Tahap
- Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
- Cara Bijak Menghindari Penyebaran Influenza - Cara penularan virus baru
- Melindungi diri dari terjangkit virus pandemi influenza - Mencegah meluasnya penyebaran virus pandemi influenza - Seluruh pesan Tahap I
-Informasi tentang perkembangan upaya pengendalian/pencegahan penyebaran - profilaksis masal
-pembatasan kegiatan sosial atau berkumpulnya warga (social distancing) seperti rapat, kegiatan keagamaan di rumah ibadah
- Nomor yang dapat dihubungi masyarakat untuk pengaduan -Saluran informasi yang dapat dipantau masyarakat sehingga
mendapatkan informasi resmi dan akurat dari pemerintah - Seluruh pesan Tahap I dan II
-Telah dimulai karantina wilayah dan penanggulangan episenter
-Prosedur karantina wilayah dan penjagaan keamanan oleh aparat keamanan
-Prosedur/aturan keluar masuknya warga atau tenaga penanggulangan
-Penutupan tempat umum/sarana publik (sekolah, pasar, pabrik, dll)
- Pembagian logistik dan pakan hewan
-Kegiatan yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan masyarakat
- Seluruh pesan Tahap I untuk Masyarakat Wilayah Episenter -Informasi tentang berbagai upaya penanggulangan di wilayah
episenter yang mungkin berdampak pada wilayah sekitarnya -Perlunya dukungan wilayah sekitar bagi upaya
penanggulangan episenter pandemi influenza
-Perubahan/alternatif jalur lalu lintas demi kelancaran transportasi berbagai kendaraan/pengangkut dukungan bagi wilayah episenter
-Kesiap-siagaan terhadap kemungkinan penularan dari wilayah episenter
- Seluruh pesan Tahap I untuk Masyarakat Wilayah Episenter -Prosedur penyaringan (screening ) dan pemeriksaan di setiap
fasilitas
- Diberlakukannya daerah X sebagai wilayah episenter I
107
Tahap
- Seluruh pesan Tahap I
- Dihentikannya pemberlakuan karantina wilayah - Prosedur pembukaan wilayah karantina
- Apa yang perlu dilakukan atau tidak boleh dilakukan masyarakat - Pembukaan kembali fasilitas umum yang ditutup
- Rehabilitasi lingkungan
- Masyarakat diminta tetap waspada
- Dihentikannya pemberlakuan karantina wilayah
-Hal-hal yang dilakukan di wilayah episenter yang akan berdampak pada wilayah di sekitar wilayah episenter
- Masyarakat diminta tetap waspada
- Dihentikannya pemberlakuan karantina di daerah X
- Penghentian seluruh prosedur yang dilaksanakan di setiap fasilitas - Masyarakat diminta tetap waspada
Pesan
Pesan-pesan lain dapat dibuat sesuai kebutuhan tahap atau situasi dan kondisi wilayah setempat (episenter, sekitar episenter, jauh di luar episenter), dengan bahasa yang juga dapat disesuaikan dengan bahasa setempat.
b. Jejaring dan Mekanisme Kerja 1) Jejaring
Departemen/Instansi yang terkait langsung dalam komunikasi risiko, adalah:
a) Departemen Komunikasi dan Informasi untuk mendukung penyebaran informasi melalui saluran khusus dan jejaringnya.
b) Departemen Dalam Negeri untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah di wilayah episenter dan seluruh wilayah Indonesia.
c) Departemen Luar Negeri untuk menyampaikan informasi ke semua kedutaan besar atau perwakilan negara-negara asing di Indonesia, dan ke semua kedutaan besar dan perwakilan Indonesia di negara-negara di seluruh dunia.
d) Kementerian Koordinasi Kesejateraan Rakyat sebagai organisasi payung Departemen Kesehatan dan penggerak pengendalian episenteri pandemi influenza.
e) Departemen Sosial untuk penyaluran bahan logistik bagi masyarakat.
f) Departemen Perhubungan beserta BUMN terkait untuk mendukung transportasi dan distribusi.
g) Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang jejaring, tugas dan wewenangnya wajib mendukung pengendalian episenter PI.
h) TNI-POLRI untuk pengamanan, komando, kontrol perimeter.
Mekanisme antara Tim Komunikasi Risiko dan pihak-pihak di atas dapat dilihat pada Skema 2 di bagian Mekanisme Kerja. Mekanisme antara berbagAI pihak sebaiknya ditetapkan dalam suatu dokumen kesepakatan kerjasama atau Memorandum of Understanding (MOU).
Berbagai instansi dan istitusi lain dalam daftar jejaring berikut juga berpotensi sebagai pendukung penanggulangan. Setiap pihak dapat berkoordinasi langsung dengan kantor wilayahnya pada tingkat propinsi maupun kabupaten, namun bagi instansi pemerintah, koordinasi lebih efektif bila instansi menempatkan staf dalam Tim Penanggulangan.
108 Unit dan instansi terkait lainnya
1. Pemerintah Pusat
1.1. Departemen Komunikasi dan Informatika
1.1.1. Direktorat Kelembagan Komunikasi Pemerintah 1.1.2. Pusat Informasi Kesejahteraan Rakyat
1.1.3. Direktorat Telekomunikasi 1.1.4. Direktorat Penyiaran 1.1.5. Direktorat Kemitraan Media 1.2. Departemen Kesehatan
1.2.1. Pusat Komunikasi Publik 1.2.2. Pusat Promosi Kesehatan 1.2.3. Pusat Penanggulangan Krisis 1.2.4. Posko Flu Burung
1.2.5. Direktorat Surveilans, Epidemiologi, Imunisasi dan Kesehatan Matra
1.2.6. Direktorat Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Sub Direktorat Infeksi Saluran Pernapasan Akut
1.2.7. Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Sub Direktorat Zoonosis
1.2.8. Kantor Kesehatan Pelabuhan
1.2.9. Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik (Dit. Yanmed Dasar, Dit. Yanmedik Spesialistik)
1.2.10.Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat (Kes.
Komunitas)
1.2.11.Bina Yanfar & Alkes (Bag PI Yanfar, Dit. Obat Publik) 1.2.12.Badan Penelitan dan Pengembangan Kesehatan 1.2.13.Rumah Sakit Rujukan dan rumah sakit-rumah sakit lain.
1.3. Departemen Dalam Negeri 1.4. Departemen Luar Negeri 1.5. Departemen Perhubungan
1.6. Departemen Pendidikan Nasional 1.7. Departemen Sosial
1.8. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 1.9. Departemen Perindustrian
1.10. Departemen Perdagangan
1.11. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1.12. Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Imigrasi)
1.13. Departemen Pertanian 1.14. Komite Nasional AIPI
1.15. Badan Nasional Penanggulangan Bencana 1.16. Tentara Nasional Indonesia
1.17. Kepolisian Republik Indonesia 1.18. Badan Urusan Logistik (Bulog) 2. Organisasi Internasional
2.1. WHO 2.2. UNICEF 2.3. FAO 2.4. OIE
2.5. Kedutaan Besar negara-negara di Indonesia 3. Pemerintah Daerah
3.1. Gubernur, Bupati/Walikota, Camat, Lurah/Kepala Desa 3.2. Dinas Kesehatan
3.3. Dinas Infokom/Badan Infokom / Humas
3.4. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Prop., Kab./Kota)
109 4. Non Pemerintah
4.1. Lembaga Penyiaran
4.2. Lembaga Pers (PWI, AJI, AJTV) 4.3. Organisasi Massa
4.4. Organisasi Keagamaan
4.5. Lembaga Swadaya Masyarakat 4.6. Organisasi Profesi
4.7. Operator Telekomunikasi
4.8. Masyarakat Bisnis (Kamar Dagang Indonesia)
4.9. Kelompok Informasi Masyarakat (Kelompencapir, dasa wisma, TOGA, TOMA, PKK, media tradisional)
4.10. ORARI, RAPI, dll 2) Mekanisme Kerja
Hubungan kerja di dalam Tim Komunikasi atau Bidang Komunikasi dapat dilihat pada skema berikut: