• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

C. Pewartaan di Era Digital

3. Katekese di Era Digital

Pada awal tahun 2020 seluruh Gereja mulai terlibat dalam dunia teknologi, hal ini dikarenakan hampir segala bentuk kegiatan dilaksanakan dengan teknologi

karena pandemi Covid-19. Walaupun menginjak tahun 2000 sudah ada beberapa negara yang sudah menggunakan toknologi, tahun 2020 inilah yang menjadikan setiap orang harus memanfaatkan teknologi dengan sebaik-baiknya terkhusus Gereja dalam karya pewartaannya. Menurut Komisi Kateketik KWI (2015:56), perkembangan teknologi di era digital ini menjadikan budaya lebih maju dan berkembang pesat. Teknologi juga memudahkan manusia untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan manusia lain dari berbagai belahan dunia dengan mudah.

Selain itu, teknologi di era digital ini memiliki landasan yang mengikuti perkembangan arus zaman modern yang cenderung sekular, individualis, meterialis, dalam hal cara hidup dan pandangan hidup. Melalui landasan tersebut Bapa Suci (Komkat KWI, 2015:63) mengingatkan kita bahwa “segala bentuk komunikasi yang tejadi haruslah memiliki dimensi moral”.

Perkembangan teknologi di era digital ini mengajak Gereja untuk berkatekese dengan menyadari berbagai perkembangan media dan cara menggunakannya. Oleh karena itu, tantangan berkatekese pada masa ini adalah (Komkat KWI 2015:65): “Bagaimana mengaktualkan sabda Allah dengan memberinya ungkapan baru yang lebih berbicara bagi manusia zaman sekarang, khususnya gencarnya pengaruh budaya digital saat ini”.

Oleh karena itu, Komkat KWI (2015:65) menjelaskan bahwa katekese merupakan metode dan bentuk pewartaan Injil yang memuat segi pemahaman dan pengetahuan iman dengan tujuan sebagai tahap pengajaran dan pedewasaan untuk memperoleh kepenuhan Kristus. Ciri-ciri dari katekese ini adalah pemahaman dan pengetahuan iman, sehingga dapat membantu pendewasaan umat yang luas dan

utuh dengan cara pendampingan dan pengalaman hidup beriman. Sedangkan prinsip dasar dalam berkatekese adalah menciptakan suasana dan situasi hidup beriman yang dapat membantu tumbuh berkembangnya iman seseorang melalui komunikasi iman dan sharing pengalaman dalam perjumpaan yang mendalam.

D. Penulisan Yang Relevan

Penulisan yang dilakukan adalah “Penghayatan Komuni Dalam Perayaan Ekaristi Daring Bagi Umat Lansia di Lingkungan St. Antonius Gendeng Selatan Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta”. Berdasarkan pencarian, telah ditemukan salah satu tulisan yang berkaitan dengan penulisan tersebut yaitu “Makna Perayaan Ekarisi Bagi Lansia” yang ditulis oleh Asnelly Samaloisa mahasiswa Universitas Sanata Dharma angakatan 2013 pada tahun 2018. Berdasarkan hasil penulisan Asnelly Samaloisa, ditemukan bahwa menurut lansia makna perayaan Ekaristi perlu menghayatinya dalam kedekatannya dengan perayaan Ekaristi.

Selain itu menurut Sari Puspita Rahayu dalam penulisannya uang berjudul

“Pengaruh Perayaan Ekaristi Daring Terhadap Keterlibatan Umat Paroki Santo Antonius Kotabaru, dalam Tugas Pelayanan (Diakonia)” menyimpulkan bahwa perayaan Ekaristi daring berpengaruh terhadap keterlibatan umat dalam pelayanan. Oleh karena itu, penulis memilih judul penghayatan komuni dalam perayaan Ekaristi daring ini supaya penulis dapat melihat apakah umat lansia dapat menghayati penerimaan komuni batin dalam perayaan Ekaristi daring saat ini.

BAB III

METODE PENELITIAN

Dalam bab II penulis telah memaparkan penjelasan tentang Penghayatan Komuni Batin dan Perayaan Ekaristi daring bagi Lansia. Perkembangan teknologi digital menuntut Gereja untuk terlibat dan ambil bagian. Hal ini juga berlaku bagi umat-Nya bagaimana mereka juga mau terlibat dan berpartisipasi. Dalam bab III ini penulis menjelaskan metode penelitian yang digunakan dalam pembuatan skripsi ini, antara lain: jenis penelitian, desain penelitian, waktu dan tempat penelitian, narasumber penelitian, fokus penelitian, teknik dan instrumen penelitian, teknik analisis data dan teknik keabsahan data.

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang mencoba memahami kodisi dan keadaan yang alamiah dengan positivisme di mana hasil penelitian memaparkan data secara nyata, sesuai realitas dan tidak memanipulasi data yang diamati (Helaluddin, 2019:3). Dalam penelitian ini konteks yang diteliti adalah penghayatan komuni batin dalam perayaan Ekaristi daring bagi umat lansia di Lingkungan St. Antonius Gendeng Selatan, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta. Penulis melakukan wawancara kepada 15 narasumber. Setelah itu penulis mengadakan pertemuan dengan 15 narasumber secara online untuk mendapatkan sharing pengalaman berdasarkan pertanyaan dari penulis. Setelah

itu penulis menyebarkan kuesioner kepada 15 narasumber di Lingkungan St.

Antonius Gendeng Selatan. Setelah data terkumpul penulis melakukan analisis data dari wawancara, pertemuan online dan kuesioner.

B. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Tempat Penelitian

Tempat Penelitian ini dilaksanakan di Lingkungan St. Antonius Gendeng Selatan, Wilayah II, Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta. Jalan Melati Wetan 47, Yogyakarta 55225, telpon. 564414. Lingkungan ini terletak di sebelah barat Gereja.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu dua minggu, yaitu pada tanggal 10 Juni-25 Juni 2021.

C. Narasumber Penelitian

Narasumber dalam penelitian ini adalah umat di Lingkungan St. Antonius Gendeng Selatan, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive sampling.

Purposive sampling adalah teknik pengambilan data dengan

pertimbangan-pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2014:300). Pertimbangan yang digunakan yaitu para lansia mengikuti perayaan Ekaristi daring. Berdasarkan data di Paroki ada 89 orang jumlah umat di Wilayah II dari 6 lingkungan. Dari data tersebut penulis

mengambil 15 umat lansia di Lingkungan St. Antonius Gendeng Selatan dengan kisaran usia 65 tahun ke atas.

D. Fokus Penelitian

Fokus penelitian adalah penghayatan komuni batin dalam perayaan Ekaristi daring bagi umat lansia di Lingkungan St. Antonius Gendeng Selatan Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta. Penghayatan komuni batin dalam perayaan Ekaristi daring meliputi persiapan dan partisipasi umat lasia dalam mempersiapkan dan mengikuti perayaan Ekaristi Daring. Lansia dapat menghayati komuni batin dalam perayaan Ekatisti daring sebagai kekuatan dan mempersiapkan diri supaya lebih bijaksana dalam menyikapi kematian yang akan datang. Selain itu, lansia dapat menjadi teladan bagi kaum muda dan orang dewasa serta umat yang lain dalam mempersiapkan diri dan menghayati komuni batin dalam perayaan Ekaristi daring.

E. Teknik dan Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini teknik dan instrumen yang digunakan antara lain:

jenis instrumen, kisi-kisi instrumen, dan pengembangan instrumen. Beberapa teknik dan instrumen yang digunakan dalam penelitian sebeagai berikut:

1. Jenis Instrumen.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini: pertama adalah wawancara dalam bentuk perjumpaan langsung ke rumah umat masing-masing.

Beberapa pedoman pertanyaan digunakan dalam proses wawancara untuk

memperoleh data. Kedua adalah pertemuan dengan umat secara online untuk memperdalam apa yang disampaikan di dalam wawancara. Ketiga adalah kuesioner guna memperkuat data dan membandingkannya dengan hasil wawancara pertemuan online yang diperoleh.

2. Kisi-kisi Instrumen Penelitian

Untuk membantu penulis memperoleh data penghayatan komuni batin dalam perayaan Ekaristi daring, penulis membuat kisi-kisi wawancara, rencana pertemuan lingkungan dan kisi-kisi kuesioner sebagai berikut:

Tabel 1.1: Kisi-kisi Wawancara

Fokus Penelitian Aspek Pertanyaan Penghayatan komuni

batin dalam perayaan Ekaristi daring.

Perasaan a. Bagaimana perasaan bapak/ibu ketika mengikuti perayaan Ekaristi daring?

b. Bagaimana perasaan bapak/ibu ketika menerima komuni batin dalam perayaan Ekaristi daring?

Pembahasan a. Menurut bapak/ibu apa itu perayaan Ekaristi daring?

b. Apa yang bapak/ibu pahami

mengenai perayaan Ekaristi daring?

c. Apa makna yang bapak/ibu dapatkan ketika mengikuti perayaan Ekaristi daring?

d. Apa yang bapak/ibu pahami tentang penerimaan komuni batin dalam perayaan Ekaristi daring?

e. Menurut bapak/ibu apa makna komuni batin dalam perayaan Ekaristi daring?

Harapan Apa harapan bapak/ibu supaya lebih merasakan dan menghayati perayaan Ekaristi daring dalam pewartaan iman di era digital dengan perkembangan zaman?

Niat Niat apa yang bapak/ibu setelah mengalami dan mengetahui perayaan Ekaristi daring terkhusus dalam dunia pewartaan?

Tabel 1.2: Pertanyaan Untuk Pengamatan Pertemuan

Fokus Aspek Pertanyaan Soal

Penghayatan

Perasaan Bagaimana perasaan bapak/ibu ketika mengikuti perayaan Ekaristi secara daring dan menerima komuni batin secara batin? (senang, sedih dll)

2

Pemahaman Apa yang bapak/ibu pahami tentang komuni batin dan perayaan Ekaristi daring? (hening, sembah sujud dst)

2

Harapan Apa bapak/ibu mempunyai harapan dalam pewartaan di era digital ini terkhusus dalam perayaan Ekaristi daring? (melihat dari ekspresi wajah ketika mengungkapkannya)

1

Niat Niat apa yang akan bapak/ibu lakukan dalam pewartaan di era digital ini?

(kesungguhan).

1

Tabel 1.3: Kisi-kisi Kuesioner

Fokus Aspek Pertanyaan Soal

Penghayatan komuni

Perasaan Bagaimana perasaan bapak/ibu ketika mengikuti perayaan Ekaristi secara

3

batin dalam

Sikap Sikap dalam mengikuti perayaan Ekaristi daring dan penerimaan komuni batin secara batin.

7

Pemahaman

Apa yang bapak/ibu pahami tentang komuni batin dan perayaan Ekaristi daring? (teologi kehadiran fisik dengan teologi relasi/kesatuan jiwa)

3

Harapan Apa harapan bapak/ibu agar dalam

perayaan Ekaristi daring dapat membantu bapak/ibu untuk berjumpa dengan Yesus secara nyata dalam komuni batin?

1

Niat Apa niat bapak/ibu agar dalam mengikuti dan menerima Tubun dan Darah Kristus secara kidmat?

1

3. Pengembangan Instrumen

Tabel 2.1: Instrumen Pertanyaan Wawancara

No Pertanyaan

1. Bagaimana persiapan bapak/ibu dalam mempersiapkan perayaan Ekaristi daring? Apakah bapak/ibu dapat mempersiapkan diri

dengan baik, mulai dari kuota, tempat dan peralatan serta suasana yang layak?

2. Bagaimana bapak/ibu dapat memfokuskan diri secara khusyuk dan berdoa dengan sepenuh hati?

3. Bagaimana perasaan bapak/ibu ketika tidak dapat menerima komuni suci secara langsung melainkan secara daring (komuni batin)?

4. Bagaimana makna yang bapak/ibu peroleh ketika mengikuti perayaan Ekaristi secara daring?

5. Bagaimana makna yang bapak/ibu peroleh ketika menerima komuni suci secara batin?

6. Bagaimana sikap bapak/ibu ketika mengikuti perayaan Ekaristi secara daring?

7. Bagaimana doa bapak/ibu ketika menerima komuni batin? Apakah bapak/ibu mendoakan komuni batin yang dianjurkan oleh

keuskupan atau menggunakan bahasa pribadi?

8. Bagaimana harapan bapak/ibu untuk kedepan terkhusus dalam pewartaan di era digital saat ini?

9. Apakah bapak/ibu mempunyai ruang tersendiri untuk melakukan perayaan Ekaristi daring?

10. Apakah bapak/ibu merayakan Ekaristi daring sendiri atau bersama keluarga dan tetangga?

11. Apa niat bapak/ibu ketika melihat kondisi dan keadaan gereja saat ini dalam mengikuti kegiatan atau perayaan peribadatan secara daring?

Table 2.2: Rencana Pertemuan dan Panduan Pengamatan

Rencana Pertemuan Kegiatan

Pertemuan katekese online dilaksanakan pada tanggal 15 Juni 2020 Via Whatsapp dengan kurun waktu kurang lebih satu jam.

Dalam pertemuan ini rangkaian acara yang dilaksanakan adalah pengantar, sharing pengalaman, menjelaskan tatacara dan perayaan Ekaristi daring, sharing mengenai niat ke depan

dan penutup.

Pedoman pertemuan [Lampiran 5: (35-37)]

Tabel 2.3: Pertanyaan Kuesioner Keterangan:

SS : Sangat Setuju S : Setuju

KS : Kurang Setuju TS : Tidak Setuju

STS: Sangat Tidak Setuju

No Pertanyaan SS S KS TS STS Persiapan sebelum Mengikuti Perayaan Ekaristi Daring

1. Saya merasa siap ketika mengikuti perayaan Ekaristi daring.

2. Saya mempunyai tempat tersendiri untuk mengikuti perayaan Ekaristi Daring.

3. Saya dibantu oleh saudara/i saya dalam mempersiapkan perayaan Ekaristi Daring.

4. Saya dapat mempersiapkan diri secara layak dan pantas dalam mengikuti perayaan Ekaristi daring.

5. Saya berpuasa atau berpantang satu jam sebelum mengikuti perayaan Ekaristi daring.

Saat Perayaan Ekaristi Daring

6. Saya dapat mengikuti perayaan Ekaristi daring dan penerimaan komuni batin

secara lanyak dan pantas.

7. Saya dapat mengikuti perayaan Ekaristi daring bersama-sama dengan anggota keluarga atau tetangga saya.

8. Saya paham dengan tata cara perayaan

Ekaristi daring dan penerimaan komuni batin.

9. Saya mengerti akan apa yang akan saya lakukan dalam perayaan Ekaristi daring dan penerimaan komuni batin.

Setelah Mengikuti Perayaan Ekaristi Daring.

10. Saya merasa senang dapat mengikuti perayaan Ekaristi daring.

11. Saya merasakan perjumpaan dengan Tuhan dalam penerimaan komuni batin dan perayaan Ekaristi daring.

12. Perayaan Ekaristi daring dapat membantu saya dalam menanggapi kerinduan saya untuk berjumpa dengan Tuhan.

13. Saya dapat mengetahui makna komuni batin dalam perayaan Ekaristi daring.

14. Saya berharap kiranya para anggota, pengurus gereja dapat memperjelas kepada umat mengenai persiapan diri dalam mengikuti perayaan Ekaristi daring.

15. Saya berniat akan mengikuti perayaan Ekaristi daring dengan mempersiapkan diri

secara layak dan pantas untuk menyambut komuni batin.

F. Teknik Analisis Data.

Analisis data merupakan teknik yang dapat membantu penulis untuk memfokuskan masalah atau kajian supaya tampak jelas dan mudah memperoleh maknanya. Metode analisis data ini berupa analisis teks, bahasa, tema, pengalaman dan lain sebagainya (Helaluddin, 2019:99). Prosedur dalam teknik analisis menurut Milles dan Huberman (Helaluddin, 2019:123) seperti berikut ini:

1. Reduksi Data: teknik data yang digunakan dalam penelitian ini sering kali digunakan baik itu kuesioner atau yang lain. Teknik yang digunakan ini untuk memfokuskan pengambilan data guna kesimpulan.

2. Display Data: menyajikan data yang sudah dihasilkan dalam reduksi data berupa konsep, bagan dan lain sebagainya.

3. Kesimpulan: Dalam kesimpulan ini penulis mengambil kesimpulan yang diperkuat oleh data-data yang sudah ada.

G. Teknik Keabsahan Data.

Dalam penelitian ini validitas yang digunakan adalah triangulasi.

Triangulasi merupakan pengumpulan data dari berbagai sumber yang berbeda untuk memperoleh data yang terpercaya. Proses triangulasi yang digunakan oleh penulis adalah triangulasi sumber dan triangulasi metode.

 Pertama penulis melakukan wawancara. Dalam proses wawancara ini penulis

memperoleh informasi dari narasumber. Selain itu penulis memperdalam data yang disampaikan oleh narasumber.

 Kedua adalah pertemuan secara online. Pertemuan ini digunakan untuk

memperkuat data berdasarkan sharing bersama dan data dari pihak ketiga.

Pihak ketiga yang dimaksud dalam pertemuan ini adalah pengamat dalam pertemuan.

 Terakhir yaitu menyebarkan kuesioner sebagai langkah akhir untuk

memperkuat data yang telah disampaikan dalam wawancara dan pertemuan online.

Ketiga sumber data ini dianalisis dan saling diperbandingkan untuk melihat konsistensinya. Sumber data yang utama adalah hasil wawancara dan hasil sharing bersama yang diperoleh dengan cara kualitatif. Hasilnya kemudian divalidasi dengan hasil kuesioner yang diperoleh secara kuantitatif.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini penulis memaparkan gambaran umum umat di Lingkungan Santo Antonius Gendeng Selatan, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta.

Setelah itu penulis memaparkan hasil penelitian mulai dari wawancara, pertemuan online dan kuesioner. Setelah memaparkan hasil penelitian penulis memaparkan

validasi data, pembahasan hasil wawancara dan usulan program bagi lansia di Lingkungan St. Antonius Gendeng Selatan, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta.

A. Gambaran Umat di Lingkungan St. Antonius Gendeng Selatan

Lingkungan St. Antonius Gendeng Selatan merupakan salah satu Lingkungan di Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta. Lingkungan St. Antonius Gendeng Selatan masuk di Wilayah II dari 6 wilayah. Lingkungan St. Antonius merupakan lingkungan yang paling dekat dengan paroki di sebelah barat gereja.

Lingkungan ini diketuai oleh bapak Antonius Heri Purwito dengan jumlah umat 89 jiwa dari 31 KK. Kriteria umat di Lingkungan St. Antonius yaitu 6 jiwa usia dini, 12 jiwa anak-anak, 22 jiwa orang muda, 31 jiwa orang dewasa dan 18 jiwa usia lanjut. Di Lingkungan St. Antonius juga ada dua biara yaitu Kongregasi SS.CC (Hati Kudus Yesus dan Maria) dan OP (Ordo Pewarta Santo Dominikus).

Dua biara ini termasuk di Lingkungan St. Antonius. Berdasarkan data umat yang ada, mereka merupakan umat asli dari wilayah tersebut, sehingga didomisili asli

suku Jawa, sedangkan pendatang hanya para suster. Data ini diperoleh dari Paulus Nova selaku pengurus di Lingkungan St Antonius Gendeng Selatan secara personal (13 April 2021).

Situasi ekonomi umat di Lingkungan St. Antonius Gendeng Selatan pada umumnya sangat sejahtera. Sebagian besar mata pencaharian mereka adalah pegawai swasta. Selain itu ada yang bekerja sebagai wirausaha, guru, serabutan, dan pensiun. Situasi budaya di lingkungan ini sangat kental dengan kebudayaan Jawa seperti gotong royong dan persaudaraan antara satu dengan yang lain.

Contohnya: bagi mereka yang terkena Covid-19 saat ini umat saling bergiliran untuk mengantar makanan. Selain itu umat di lingkungan sangat aktif dalam kegiatan masyarakat seperti arisan, kerja bakti dan kegiatan masyarakat lainnya.

Dalam kegiatan peribadatan umat sangat terlibat dan aktif bahkan umat di Lingkungan St. Antonius rajin mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari baik itu secara daring maupun secara langsung. Paroki Kristus raja Baciro juga sudah mengadakan misa untuk lansia yang dilaksanakan pukul 10.00 pada Minggu kedua. Tetapi karena di Lingkungan St. Antonius ada yang terkena Covid-19, mereka tidak dapat mengikuti perayaan Ekaristi secara langsung di gereja [Lampiran 4: (5-34)].

B. Hasil dan Analisis Wawancara

Wawancara tentang penghayatan komuni batin dalam perayaan Ekaristi daring bagi umat lansia di Lingkungan St. Antonius Gendeng Selatan, Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta dilaksanakan pada tanggal 10-13 Juni 2021.

Wawancara ini dilaksanakan secara langsung di rumah umat masing-masing oleh 15 narasumber [Lampiran 3: (3)]. Berikut ini hasil dari wawancara yang telah dilaksanakan bersama dengan narasumber di rumah mereka masing-masing [Lampiran 4: (5-34)]:

1. Mempersiapkan Perayaan Ekaristi Daring

Penulis melakukan wawancara mengenai bagaimana para lansia mempersiapkan diri untuk mengikuti perayaan Ekaristi daring. Menurut N01, dalam mempersiapkan perayaan Ekaristi daring ia dibantu oleh anaknya: mulai dari lilin dan salib itu disiapkan oleh cucunya sedangkan laptop yang disambungkan ke televisi disiapkan oleh anaknya. Selain itu ia mempersiapkan diri seperti berpakain ke gereja. Hal tersebut berbeda dengan N02 yang menyampaikan: “Saya mempersiapkan diri seperti ketika mengikuti perayaan Ekaristi di gereja mulai dari buku Madah Bakti, berpakaian rapi dan rosario serta televisi, untuk lilin saya kadang-kadang menggunakannya” [Lampiran 4: (7-8)].

Menurut N03, untuk persiapan seperti televisi dan peralatan misa sudah ada di kamar, sehingga tinggal ia menyiapkan hati supaya mantap mengikuti perayaan Ekaristi. Menurut N04, laptop, lilin dan salib sudah disiapkan oleh anak-anaknya, ia tinggal berpakaian rapi saja.

Menurut N05 dan N06, untuk laptop yang mempersiapkan cucunya karena seusianya tidak paham, sedangkan untuk peralatan lainnya sudah dipersiapkan sendiri [Lampiran 4: (13-16)]. Menurut N07 untuk laptop dan peralatan yang lain sudah dipersiapkan oleh adik sepupunya. Menurut N08, menyatakan bahwa dalam

perayaan Ekaristi daring ia menggunakan HP, berpakaian seperti ke gereja dan menyiapkan lilin.

Menurut N09 dan N10, bahwa lilin, televisi, salib, dan cara berpakaian adalah seperti saat mengikuti perayaan Ekaristi di gereja dan menyiapkan hati dan diri kita dengan berpuasa selama satu jam [Lampiran 4: (21-24)]. Menurut N11, yang dipersiapkan oleh dirinya yaitu menyiapkan taplak putih, patung bunda Maria, salib, lilin dan patung Santo Yusuf. N12 menyampaikan bahwa dalam mengikuti perayaan Ekaristi daring ia menggunakan televisi, lilin, salib yang dipersiapkan sendiri. Sementara N13 menyampaikan bahwa laptop disiapkan oleh anaknya, sedangkan peralatan misa seperti lilin dan salib sudah siap di ruang tamu. Setelah itu ia menyiapkan diri dengan membersihkan diri dan berpakaian rapi seperti mau pergi ke gereja. N14 menyampaikan bahwa ia menyiapkan diri seperti mengikuti perayaan Ekaristi biasa, berpakaian seperti umat pergi ke gereja, sedangkan lilin, salib, taplak dan televisi disiapkan sendiri. Selain itu, N15 menyampaikan bahwa lilin, salib, dan telivisi disiapkan sendiri.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut, penulis menemukan bahwa para lansia dapat mempersiapkan diri untuk mengikuti perayaan Ekaristi daring mulai dari peralatan misa (lilin, salib, patung dan taplak) yang sudah disiapkan baik oleh diri sendiri maupun anak dan cucu mereka. Sedangkan media yang mereka gunakan untuk mengikuti perayaan Ekaristi secara daring seperti laptop, handphone dan televisi sebagian besar membutuhkan bantuan dari orang lain.

Selain itu dalam mempersiapkan diri mereka mampu menyiapkan diri dengan baik mulai dari pakaian maupun kesiapan diri mereka.

2. Memfokuskan diri secara Khusyuk dan Berdoa dengan Sepenuh Hati

Dalam memfokuskan diri secara khusus dan berdoa dengan sepenuh hati dalam perayaan Ekaristi daring, N01 menyatakan bahwa ia menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan atas segala rahmatnya dan sebelum mengikuti perayaan Ekaristi ia berpuasa selama satu jam. Sedangkan N02 berkata “… kalau secara umum saya menerima namun secara pribadi tidak enak karena daring tetapi karena keadaan harus menerima untuk beradaptasi, ya seperti mengikuti perayaan Ekaristi di gereja” [Lampiran 4: (9-10)]. Menurut N03, ia memfokuskan diri dengan memasrahkan diri kepada Tuhan yang telah memberikan berkat kepada kita. Sedangkan menurut N04 ia mengosongkan diri dengan ambil waktu sebelum mengikuti perayaan Ekaristi untuk berdoa supaya dapat siap mengikuti perayaan Ekaristi. Menurut N05, suasananya sama seperti ke gereja harus siap karena mau bertemu dengan Tuhan walaupun di rumah sama saja dengan gereja kecil. N06 selalu fokus, walaupun secara daring ia tetap siap untuk menghadap Tuhan dengan berpuasa satu jam sebelum makan dan minum. Sebelum mengikuti perayaan Ekaristi daring, mereka berdoa di kamar masing-masing.

Selain itu, N07 menyampaikan bahwa ia mempersiapkan diri seperti biasa kalau pergi ke gereja saja. Sedangkan N08 mengosongkan diri dengan tidak minum dan tidak makan. N09 mengosongkan diri dan menyatukan hati supaya dapat membangun iman untuk bersatu dengan Tuhan. Sementara N10 mengungkapkannya dengan berpuasa dan mengosongkan hati supaya dapat bersatu dengan Tuhan dalam perayaan Ekaristi dan komuni batin. Menurut N11, N12, N13 memfokuskan diri dengan menyerahkan diri dan berpuasa satu jam

sebelum mengikuti perayaan Ekaristi [Lampiran 4: (23-24)]. N14 menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan menerima kehendak Tuhan, sehingga ia mempunyai rasa syukur untuk segala anugrah-Nya. N15 mengungkapkan bahwa

sebelum mengikuti perayaan Ekaristi [Lampiran 4: (23-24)]. N14 menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan menerima kehendak Tuhan, sehingga ia mempunyai rasa syukur untuk segala anugrah-Nya. N15 mengungkapkan bahwa