BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil dan Analisis Wawancara
7. Doa dalam Menerima Komuni Batin
Sehubungan dengan doa menerima komuni batin dalam perayaan Ekaristi daring, N01 menyatakan bahwa ia hanya berdoa spontan untuk mengucapkan syukur dan memohon berkat untuk anak-anak dan keluarganya supaya diberikan kesehatan. Menurut N02, ia menyatakan: “saya hanya mendoakan doa spiritual
yang sudah ada di layar” [Lampiran 4: (7-8)]. Menurut N03, ia berdoa dalam hati untuk mengucap syukur kepada Tuhan karena masih diberi kesehatan sampai saat ini. Menurut N04, ia berdoa spontan untuk mengucapkan syukur atas berkat yang telah ia terima. Menurut N05, ia berdoa secara spontan dan dengan panduan dari gereja (Doa Komuni batin). Menurut N06, ia berdoa secara pribadi pertama-tama untuk bersyukur kepada Tuhan atas rahmat-Nya, baik keselamatan, kesehatan, kebahagiaan dan atas ijin-Nya, sehingga ia masih bisa melakukan perziarahan di dunia. Ia juga mengikuti panduan yang sudah disiapkan oleh Gereja.
Menurut N07, ia berdoa lewat batinnya untuk bersyukur bahwa ia masih diberi kesehatan sampai saat ini. Hal tersebut juga dilakukan oleh N08 [Lampiran 4: (19-20)]. N09 dan N10 menyatakan: “Kami pertama-tama doa spontan secara pribadi setelah itu mengikuti nyanyian doa komuni spiritual (komuni batin) karena itu sifatnya wajib” [Lampiran 4: (21-24)]. Menurut N11, ia berdoa karena ia percaya bahwa ini adalah Tubuh dan Darah Kristus, setelah itu ia menyanyikan lagu doa komuni batin. Menurut N12 ia mengikuti doa yang dianjurkan oleh Gereja. N13 berdoa spontan mengucap syukur kepada Tuhan dan menyanyikan lagu doa komuni batin. Hal tersebut sama dengan N14 dimana ia berdoa spontan dan mendoakan doa komuni batin. Berbeda dengan N15 di mana ia berdoa dalam hati untuk mengucap syukur kepada Tuhan karena masih diberi kesehatan sampai saat ini.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, penulis memperoleh hasil bahwa para lansia menghayati penerimaan komuni sebagai berkat dan rahmat yang telah mereka terima dalam hidup mereka. Hal tersebut dibuktikan dari doa spontan
yang mereka doakan, di mana mereka berdoa mengucap syukur atas rahmat dan berkat yang telah mereka terima. Selain itu, sebagian besar dari para lansia dapat menyesuaikan diri dengan Gereja di mana dalam penerimaan komuni sebagian besar dari mereka ada yang mendoakan doa komuni batin atau menyanyikan doa komuni batin. Dengan demikian para lansia dapat menerima komuni dengan hati mereka dan dapat menyesuaikan diri dengan situasi dan keadaan saat ini.
8. Ruang dalam Melaksanakan Perayaan Ekaristi Daring
Menurut N01, ia mengikuti perayaan Ekaristi daring di ruang tamu.
Sementara N02, N03, N12, N14 dan N15 mengungkapkan bahwa mereka di tempat tidur untuk berdoa dan mengikuti perayaan Ekaristi [Lampiran 4: (7-10, 27-28, & 31-34)]. Kemudian N04, N05, N06, N08 dan N13 mengikuti perayaan Ekaristi daring di ruang tamu [Lampiran 4: (11-16, 19-20 & 29-30)]. Menurut N07 ia mengikuti perayaan Ekaristi daring bersama-sama di rumah tetangganya yaitu di ruang tamu. Sedangkan N09 dan N10 mengikuti perayaan Ekaristi di kamar karena televisi sudah ada di sana, sehingga tinggal nanti peralatan disiapkan oleh cucu mereka [Lampiran 4: (21-24)]. Berbeda dengan N11, ia mengikuti perayaan Ekaristi daring di ruang tengah karena peralatan sudah tersedia di sana.
Berdasarkan data tersebut, penulis menyimpulkan bahwa para lansia dalam mengikuti perayaan Ekaristi daring melihat keadaan dan situasi kondisi rumah mereka, sehingga mereka dapat menyesuaikan diri untuk beribadat.
9. Yang Mengikuti Perayaan Ekaristi Daring Bersama Lansia
Dalam mengikuti perayaan Ekaristi daring, N01, N09, dan N10 bersama dengan anak, istri dan cucunya [Lampiran 4: (5-6 & 21-24)]. Sementara itu N02 dan N11 menyatakan bahwa ia kadang-kadang bersama dengan tetangganya, namun ia lebih sering sendiri untuk mengikuti perayaan Ekaristi daring [Lampiran 4: (7-8 & 25-26)]. Sedangkan N03 dan N15 mengungkapkan bahwa sekarang ia sendiri berbeda dengan dulu yang bersama dengan tetangga. Hal tersebut juga dialami oleh N04, N12 dan N14 [Lampiran 4: (9-12, 27-28 & 32-34)]. Selain itu, N05 dan N06 kadang-kadang mengikuti perayaan Ekaristi bersama keluarga, tetapi kalau anak-anak tidak ikut hanya berdua saja [Lampiran 4: (13-16)]. Hal tersebut hampir sama dengan N08 dan N13 bersama dengan anaknya dalam mengikuti perayaan Ekaristi [Lampiran 4: (19-20 & 29-30)]. Berbeda dengan N07 yang merayakan perayaan Ekaristi bersama dengan tetangga seperti pertemuan lingkungan.
Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar para lansia menjadi teladan bagi keluarga mereka untuk berdoa bersama, walaupun masih ada beberapa anggota keluarga yang masih sibuk namun masih ada beberapa keluarga yang mementingkan untuk doa bersama. Dengan demikian para lansia dapat merasakan adanya perhatian dan mempunyai rasa bangga karena dapat melaksanakan doa bersama keluarga. Selain bersama keluarga ada yang merayakan Ekaristi bersama tetangganya. Hal itu menunjukkan bahwa ada rasa solidaritas antara satu dengan yang lain. Dengan demikian para lansia setidaknya merasa bahwa diri mereka diperhatikan oleh lingkungan sekitar mereka.
10. Harapan untuk Dunia Pewartaan di Era Digital
N01 berharap semoga pandemi ini segera selesai dan para pengurus Gereja dapat memberikan pembekalan kepada umat. Sementara N02 berharap semoga bisa misa lagi ke gereja dan para gembala Gereja membuka sekolah-sekolah.
Sedangkan N03, N05, N06, N07, N08, N11, N12, N13 dan N15 berharap semoga pandemi ini segera berakhir, sehingga mereka bisa pergi ke gereja lagi untuk merayakan perayaan Ekaristi secara langsung dan dapat berjumpa dengan teman-teman dan gembala kita [Lampiran 4: (9-10, 13-20, 25-30 & 33-34)]. Sementara itu N04 berharap semoga para romo bisa menyapa umat yang sakit dan mereka yang tidak bisa pergi ke gereja terkhusus lansia. Sedangkan N09 dan N10 berharap semoga Gereja dapat menjabarkan apa yang pemerintah harapkan sehingga bisa banyak yang mengikuti perayaan Ekaristi. Selain itu, kiranya setiap orang juga mempunyai kesadaran untuk menerima peraturan apa saja yang diberikan oleh Gereja dan pemerintah. Harapannya Gereja dapat menjelaskan sejelas-jelasnya kepada umat perkembangan digital saat ini, supaya umat merasa bahwa mereka dirangkul dan disapa oleh Gereja. Hal tersebut sama dengan yang disampaikan oleh N14 [Lampiran 4: (21-24 & 31-32)].
Berdasarkan hasil data tersebut, penulis menyimpulkan bahwa apa yang menjadi harapan para lansia dalam dunia pewartaan ke depannya, yaitu semoga para gembala dapat menjabarkan sejelas-jelasnya kepada umat bagaimana menggunakan media digital supaya umat merasa bahwa mereka dirangkul dan disapa oleh Gereja. Selain itu mereka berharap bahwa anggota keluarga juga mendukung atau membantu para lansia dalam penggunaan media digital.
11. Niat untuk ke Depannya dengan Adanya Kegiatan atau Perayaan Peribadatan secara Daring
Sehubungan dengan niat yang akan dilakukan untuk kegiatan atau perayaan peribadatan secara daring, N02 menyatakan: “Saya menerima saja karena itu tidak dialami sendiri bahkan seluruh dunia mengalaminya, selain itu ikut terlibat aja, saya terima disuruh begini atau begitu saya terima dan ikuti saja”
[Lampiran 4: (7-8)]. Berbeda dengan N01, N03, N05, N06, N08, N11, N12, N13 dan N14 di mana mereka ingin terlibat namun karena kemajuan zaman yang begitu cepat sehingga membutuhkan bantuan dari orang lain atau anggota keluarga. [Lampiran 4: (5-6, 9-10, 13-16, 19-20, & 26-32)] Sedangkan N04 niatnya ingin mendekatkan diri dengan Tuhan. Sementara N07 niatnya ingin terlibat dan ambil bagian namun karena kodisi fisik yang kurang memungkinkan, sehingga tidak bisa. Sedangkan N09 dan N10 niatnya ingin mengikuti apa yang dianjurkan oleh pemerintah dan Gereja [Lampiran 4: (21-24)]. Selain itu N15 niatnya mau mengikuti perayaan Ekaristi seperti biasa.
Berdasarkan hasil tersebut sebenarnya para lansia ingin terlibat dan mau ambil bagian, namun karena kemajuan jaman yang begitu cepat dan kondisi fisik yang kurang memungkinkan membuat mereka membutuhkan bantuan dari orang lain untuk mengoperasikan dan memahaminya.
12. Hasil Pengamatan Wawancara
Berdasarkan wawancara yang sudah dilakukan penulis melihat bahwa dalam proses wawancara ada beberapa lansia yang merasa kebingungan untuk
menjawab pertanyaan. Sebagain besar dari mereka sangat merindukan untuk mengikuti perayaan Ekaristi secara langsung, namun karena kondisi dan situasi yang ada mereka harus mengikuti peraturan yang ada. Hal tersebut disimpulkan dari sikap mereka yang nampak dalam proses wawancara. Hal tersebut juga diperkuat dengan keterbatasan mereka dalam menggunakan media ataupun dalam mempersiapkan perayaan Ekaristi membutuhkan bantuan orang lain. Persiapan yang mereka lakukan sudah sangat baik dari segi kelayakan dan kesiapan.
Berbeda dari segi batin atau kerinduan mereka kadang kala menampakkan bahwa mereka tidak nyaman dengan perayaan Ekaristi daring walaupun itu membantu mereka untuk mengikuti perayaan Ekaristi secara langsung.
Melalui hasil wawancara dari setiap pertanyaan di atas, penulis menyimpulkan bahwa sebenarnya para lansia dapat mempersiapkan diri untuk mengikuti perayaan Ekaristi daring mulai dari pakaian, peralatan misa (lilin, salib, patung dan tablak) dan media yang mereka gunakan walaupun sebagian besar membutuhkan bantuan dari orang lain dalam penggunaan medianya. Persiapan yang telah mereka lakukan membantu mereka untuk memfokuskan diri secara khusyuk dan berdoa sepenuh hati. Hal tersebut dibuktikan dengan sikap mereka untuk berpuasa dan berpantang sebelum mengikuti perayaan Ekaristi. Selain itu mereka dapat menata hati mereka dan menyiapkan diri mereka supaya layak untuk menyambut kehadiran Tuhan dengan mengambil waktu hening baik di kamar mereka atau pun di tempat mereka mengikuti perayaan Ekaristi daring.
Dalam perayaan Ekaristi daring para lansia merasa kecewa, sedih, kurang mantap karena tidak bisa menyambut Tubuh dan Darah Kristus secara langsung.
Karena kondisi dan keadaan mereka dapat menyesuaikan diri dengan perayaan Ekaristi daring. Makna yang diperoleh dalam perayaan Ekaristi daring dan komuni batin sama saat mengikuti perayaan Ekaristi secara langsung. Para lansia merasakan kehadiran Tuhan di dalam diri, perkumpulan dan di mana saja mereka berada. Para lansia juga merasa bahwa mereka terobati kerinduannya untuk berjumpa dengan Tuhan dalam perayaan Ekaristi. Dalam penerimaan komuni batin para lansia memperoleh kebahagiaan, ketentraman dan kedamaian dalam menyambut komuni suci secara batin, walalupun sebenarnya para lansia sangat merindukan perayaan Ekaristi secara langsung.
Dalam perayaan Ekaristi daring seluruh umat mengambil sikap duduk baik karena kondisi fisik ataupun karena melihat anjuran dari Gereja. Ada salah satu umat yang menyatakan bahwa umat berdiri saat menerima komuni batin.
Dengan demikian para lansia mampu mengikuti anjuran dari Gereja dalam mengikuti perayaan Ekaristi secara daring. Tempat yang digunakan untuk mengikuti perayaan Ekaristi daring, yaitu dengan melihat keadaan dan kondisi rumah serta menyesuaikan diri mereka untuk berdoa. Dalam perayaan Ekaristi daring sebagian besar para lansia berdoa bersama dengan keluarga ataupun
dengan tetangganya, namun ada juga yang sendiri. Hal tersebut membuat para lansia memberikan teladan bagi keluarga mereka untuk berdoa bersama. Selain itu para lansia setidaknya dapat merasa bahwa dirinya diperhatikan oleh keluarga dan lingkungan sekitar mereka.
Dalam penerimaan komuni batin para lansia menghayati penerimaan komuni sebagai berkat dan rahmat yang telah mereka terima dalam hidup mereka.
Hal tersebut dibuktikan dari doa spontan yang mereka doakan, di mana mereka mengucap syukur atas rahmat dan berkat yang telah mereka terima serta para lansia dapat menyesuaikan diri dengan Gereja untuk mendoakan atau menyanyikan doa komuni batin. Dengan demikian para lansia berharap semoga dalam dunia pewartaan ke depan para gembala dapat menjabarkan sejelas-jelasnya kepada umat bagaimana mereka menggunakan media digital supaya umat merasa bahwa mereka dirangkul dan disapa oleh Gereja. Selain itu, anggota keluarga juga mendukung para lansia dalam penggunaan media digital, sehingga para lansia para lansia mempunyai niat untuk terlibat dan mau ambil bagian dengan bantuan dari orang lain.
Berdasarkan hasil dan analisis wawancara tersebut penulis menyimpulkan bahwa para lansia masih kurang memahami perayaan Ekaristi daring, namun mereka dapat menghayati perayaan Ekaristi daring seperti mengikuti perayaan Ekaristi secara langsung. Dalam penerimaan komuni mereka menemukan dan berjumpa dengan Tuhan namun mereka sangat merindukan diri mereka untuk menyambut Tubuh dan Darah Kristus secara langsung. Hal ini menunjukkan bahwa dari segi penghayatan memang menghayati, namun dari segi kenyamanan dan kerinduan mereka yang paling dalam adalah mengikuti perayaan Ekaristi secara langsung.
C. Hasil dan Analisis Pertemuan Online beserta Pengamatan
Pertemuan online ini dilaksanakan pada hari Selasa, 15 Juni 2021 yang diikuti oleh 3 narasumber yaitu N09, N10, N11. Pertemuan online ini diawali
dengan pengantar singkat, doa pembuka, mengingat kembali video, sharing pengalaman dengan paduan yang sudah dipersiapkan, peneguhan dan doa penutup [Lampiran 5: (35-37)]. Berikut ini hasi dari pertemuan onine:
1. Hasil Pertemuan Katekese Online
a. Perasaan mengikuti perayaan Ekaristi secara daring dan penerimaan komuni batin.
Dalam mengikuti perayaan Ekaristi daring dan penerimaan komuni batin N09 menyatakan bahwa ia kurang puas, namun sebagai lansia dan sebagai warga negara yang baik ia mengikuti peraturan pemeritah di mana usia yang lebih dari 60 tahun ke atas dibatasi aktivitasnya. Selain itu, perayaan Ekaristi daring dan pergi ke gereja juga sama saja bahwa Tuhan benar-benar hadir di dalam diri dan di tengah-tengah kita. Sedangkan N10 menyatakan bahwa ia kurang puas, namun karena kondisi seperti ini kita harus mensyukuri saja. Sementara N11 merasa kurang mantap karena tidak terbiasa, namun lama kelamaan ia merasa puas karena dapat menyadari bahwa dalam menerima komuni secara langsung atau pun secara batin tetap sama bahwa Tuhan benar-benar hadir.
Berdasarkan pernyataan tersebut, para lansia merasa kurang puas dan mantap dalam mengikuti perayaan Ekaristi daring dan penerimaan komuni batin.
Karena kondisi dan keadaan para lansia dapat menerima dan mensyukurinya.
Selain itu para lansia juga menyadari bahwa dalam penerimaan komuni batin itu sama saja dengan penerimaan komuni di gereja di mana Tuhan benar-benar hadir di dalam diri kita dan di tengah-tengah kita.
b. Persiapan dalam mempersiapkan perayaan Ekaristi daring
Dalam mempersiapkan perayaan Ekaristi daring N09 dan N10 menyatakan bahwa alat-alatnya sudah dipersiapkan oleh cucu mereka. Hal yang paling penting untuk dipersiapkan adalah hati. Kalau hati kita berantakan, kita tidak bisa mengikuti perayaan Ekaristi dengan sepenuh hati. Oleh karena itu, yang paling penting adalah menata hati supaya dapat membangun iman, sehingga dapat mempersiapkan dan menanggapi kehadiran Tuhan. Sementara N11 menyatakan bahwa beliau dibantu oleh anak tetangganya dalam menggunakan HP atau televisi untuk mengikuti perayaan Ekaristi sedangkan untuk peralatan yang lain seperti lilin, salib dan lain sebagainya disiapkan oleh beliau sendiri.
Dari pernyataan di atas, para lansia membutuhkan bantuan orang lain dalam mempersiapkan media untuk mengikuti perayaan Ekaristi daring. Hal yang paling penting adalah menata hati supaya dapat membangun iman, sehingga dapat mempersiapkan dan menanggapi kehadiran Tuhan.
c. Pemahaman tentang perayaan Ekaristi daring dan komuni batin
Tentang pemahaman atas perayaan Ekaristi daring dan komuni batin, N09 menyatakan bahwa kesadaran secara rohani dan nyata itu sama bahwa Tuhan mendatangi kita. Ia tidak hanya datang saat penerimaan komuni saja, namun dalam perayaan Ekaristi dari awal hingga akhir Tuhan mendampingi kita setiap saat. Sedangkan N10 dan N11 menyatakan bahwa mereka sama seperti apa yang disampaikan oleh N09 bahwa Tuhan memang hadir di dalam diri kita.
Berdasarkan pernyataan di atas, para lansia memahami bahwa perayaan Ekaristi daring dan penerimaan komuni batin sebagai bentuk kesadaran secara rohani dan nyata itu sama saja, bahwa Tuhan hadir dari awal hingga akhir perayaan Ekaristi daring bukan hanya dalam penerimaan komuni saja karena Tuhan memang benar-benar hadir di dalam diri kita.
d. Memfokuskan diri secara khusyuk dan berdoa sepenuh hati
Dalam memfokuskan diri secara khusyuk dan berdoa sepenuh hati N09, N10, N11 menyatakan bahwa mereka menyatukan hati dengan diri supaya dapat memfokuskan diri dan siap untuk menyambut Tuhan di dalam diri mereka.
Dengan demikian para lansia menyatukan hati dan diri mereka untuk memfokuskan diri dan menyambut kehadiran Tuhan di dalam diri mereka.
e. Merayakan perayaan Ekaristi daring
Sehubungan dengan mengikuti perayaan Ekaristi daring, N11 mengungkapkan bahwa ia dalam mengikuti perayaan Ekaristi daring di ruang tengah dengan bersikap duduk. Sementara N09 dan N10 menyatakan bahwa dalam mengikuti perayaan Ekaristi daring kalau hari Minggu atau hari raya bersama dengan anak-anak, istri dan cucu mereka, sedangkan untuk misa harian mereka berdua saja. Selama mengikuti perayaan Ekaristi daring, N09 dan N10 berada di ruang kamar dengan bersikap duduk. Dengan demikian para lansia mengikuti perayaan Ekaristi daring dengan sikap duduk di ruangan yang telah
mereka siapkan bersama dengan istri, anak dan cucu mereka atau pun hanya sendiri.
f. Menerima komuni batin
Terkait dengan penerima komuni batin, N09 mengungkapkan bahwa sebelum menerima komuni batin ia berdoa spontan terlebih dahulu. Dalam doa spontan tersebut ia memohon agar Tuhan hadir di tengah-tengah mereka dan memohon supaya diri mereka disucikan, sehingga layak menerima kehadiran-Nya. Sementara N10 juga menyatakan seperti itu dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Sedangkan N11 menyatakan hal bahwa kurang lebih sama seperti N09 dan N10. Setelah doa spontan mereka menyanyikan lagu komuni batin sesuai peraturan atau panduan yang sudah ada.
Dengan demikian para lansia dalam penerimaan komuni batin berdoa spontan untuk mengucapkan syukur dan memohon rahmat untuk disucikan, sehingga mereka merasa pantas untuk menyambut kehadiran Tuhan di dalam diri mereka. Setelah itu mereka menyanyikan lagu doa komuni batin sesuai dengan panduan yang diberikan oleh Gereja.
g. Harapan dalam pewartaan di era digital
Tentang harapan untuk dunia pewartaan ke depannya N09, N10 dan N11 mengungkapkan bahwa perayaan Ekaristi daring dapat ditinjau ulang mulai dari aturan dan pelaksanaannya, karena dampaknya kurang baik bagi anak muda, yaitu bahwa mereka yang mempunyai akses untuk pergi ke gereja ternyata tidak pergi
ke gereja dan jika mengikuti perayaan Ekaristi daring masih ada yang menyepelekan perayaan Ekaristi. Dengan demikian para lansia berharap semoga para Gembala meninjau ulang peraturan perayaan Ekaristi supaya tidak disalahgunakan oleh anak muda.
h. Niat dalam pewartaan di era digital
Tentang niat yang akan dilakukan dalam pewartaan di era digital ini, menurut N09 dan N10 kita harus terbuka dengan perkembangan lingkungan yang ada. SedangkanN11 menyatakan bahwa ia harus mempunyai kesadaran untuk bergabung dalam pewartaan secara online walaupun masih membutuhan bantuan orang lain. Dengan demikian para lansia berniat untuk mempunyai kesadaran dan keterbukaan dengan perkembangan yang ada untuk terlibat dalam pewartaan secara online.
2. Hasil pengamatan Elisabeth Retno Juita
Pertemuan online yang diadakan pada tanggal 15 Juni 2021 diamati oleh Elisabeth Retno Juita yang sedang menyelesaikan studinya di Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik Unversitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis memilih Elisabeth Retno Juita sebagai pengamat karena penulis merasa bahwa Elisabeth Retno Juita mampu untuk mengamati pertemuan online para lansia di Lingkungan St. Antonius Gendeng Selatan, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta [Lampiran 6: (38-39)].
Elisabeth Retno Juita sebagai pengamat mengungkapkan bahwa peserta merasa senang karena dapat saling menyapa satu dengan yang lain. Selain itu peserta antusias atas pertanyaan yang diajukan oleh penulis. Para peserta juga mengungkapkan bahwa pada awalnya mereka merasa kurang mantap, namun lama kelamaan mereka merasa puas karena mereka menyadari bahwa menerima komuni secara langsung ataupun secara batin tetap sama, yaitu merasakan kehadiran Tuhan di dalam diri mereka. Para peserta juga mengungkapkan bahwa sebagai warga negara yang baik, mereka ikut serta dalam menjalankan peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk mengurangi aktivitas di luar rumah.
Dalam mengikuti perayaan Ekaristi daring mereka mendapatkan berbagai tantangan. Salah satunya yaitu mereka sering dikomentari oleh orang lain bahwa mengikuti perayaan Ekaristi seperti menonton televisi. Meskipun demkian mereka tidak menghiraukan, karena mereka menyadari sebagai umat beriman mereka harus percaya bahwa dalam bentuk apa pun mereka merasakan kehadiran Tuhan.
Dalam mempersiapkan diri para lansia lebih menata hati supaya siap untuk mengikuti perayaan Ekaristi daring. Ketika perayaan Ekaristi daring setiap hari Minggu, para lansia mengikuti bersama dengan keluarga, sedangkan untuk harian sendiri atau pun bersama dengan pasangan. Para lansia bersikap duduk seperti saat mengikuti perayaan Ekaristi secara daring.
Khusus dalam penerimaan komuni secara batin biasanya para lansia mendoakan doa spontan sebelum masuk pada saat doa komuni spiritual. Doa yang didaraskan yaitu berisi rasa syukur atas kehadiran Tuhan Yesus Kristus di tengah-tengah mereka dan memohon supaya dilayakkan dan disucikan untuk menerima
Tubuh dan Darah Kristus, meskipun hanya secara batin. Dalam mengikuti perayaan Ekaristi online, para lansia melaksanakannya di ruang tamu, kamar tidur, dan di ruang lainnya yang hening dan tenang. Para lansia juga berharap dalam pewartaan di dalam era digital ini supaya perayaan Ekaristi daring dapat ditinjau ulang mulai dari aturan dan pelaksanaannya.
D. Hasil dan Analisis Kuesioner
Kuesioner penelitian di Lingkungan St. Antonius Gendeng Selatan disebarkan pada tanggal 10-13 Juni 2021 di rumah masing-masing dengan 15 Narasumber. Dalam penelitian ini penulis membagikan kuesioner secara tertulis [Lampiran 7: (40-41)]. Kuesioner ini dibagi menjadi 3 sub bab yaitu sebelum, selama dan sesudah melaksanakan perayaan Ekaristi daring.
1. Sebelum Mengikuti Perayaan Ekaristi Daring.
Diagram 1: Persiapan sebelum Mengikuti Perayaan Ekaristi Daring (N=15)
15%
8%
15%
23%
39%
siap tempat bantuan persiapan berpuasa
Berdasarkan diagram di atas, dapat dilihat bahwa 15% para lansia merasa
Berdasarkan diagram di atas, dapat dilihat bahwa 15% para lansia merasa