• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keandalan Unit Pembangkit 1. Reliability Management

PROSES BISNIS PEMBANGKITAN

2. Keandalan Unit Pembangkit 1. Reliability Management

2. Keandalan Unit Pembangkit 2.1. Reliability Management.

2.1.1. SERP (System Equipment Reliability Prioritization) /Menetapkan prioritas pekerjaan berdasarkan criticality ranking peralatan

2.1.1.1. Kelengkapan daftar system dan equipment 2.1.1.2. Penetapan kriteria ranking

2.1.1.3. Workshop SERP 2.1.1.4. Hasil MPI

2.1.2. Failure Mode and Effects Analysis (FMEA)

2.1.2.1. Definisi system dan unjuk kerja yang dibutuhkan 2.1.2.2. Identifikasi equipment yang membutuhkan FMEA 2.1.2.3. Jadwal workshop FMEA

2.1.2.4. Workshop FMEA

2.1.2.5. Tentukan assumsi dan groundrules yang akan digunakan untuk menganalisis

2.1.2.6. List individual komponen atau berbagai fungsi 2.1.2.7. Kembangkan blok diagram

2.1.2.8. Device an analysis worksheet.

2.1.2.9. Ratio FMEA oleh external dan internal 2.1.2.10. Pengukuran efektifitas hasil.

2.1.2.11. Rekomendasi

2.1.3. Root Cause Failure Analysis (RCFA)

2.1.3.1. Daftar problem/Identify the unacceptable performance.

2.1.3.2. Workshop

2.1.3.3. Identifikasi dan rekomendasi hasil RCFA 2.1.3.4. Cost Benefit Analysis (CBA)

2.1.4. Base line Audit

Pemetaan terhadap kesiapan peralatan yang ada di unit pembangkit, sehingga diketahui kondisi peralatan secara nyata. Dilakukan Equipment Audit dengan langkah langkah sebagai berikut:

2.1.4.1. Melakukan pengambilan data melalui predictive tool technology untuk semua peralatan, berupa data-data vibrasi, thermograpy, oil analysis, dll.

2.1.4.2. Mengumpulkan data operasi, berupa gangguan kerusakan, alarm, trip, derating, laporan hasil gatecycle dan kondisi resource (fuel, oil, water).

2.1.4.3. Mengumpulkan data pemeliharaan berupa histori peralatan, job card feedback, laporan quality control.

2.1.4.4. Melakukan workshop koordinasi (engineering, operasi dan pemeliharaan) untuk membuat program-program recovery untuk peralatan yang masuk kategori merah dan kuning.

51  2.1.5. Predictive Maintenance

2.1.5.1. Setting Up Database Predictive Maintenance (PdM) 2.1.5.2. Jadwal

2.1.5.3. Persiapan Teknis Lapangan 2.1.5.4. Pengukuran (Monitoring) 2.1.5.5. Data Management 2.1.5.6. Analisa & Rekomendasi 2.1.5.7. Tindak Lanjut

2.1.5.8. Cost and Benefit Analysis

2.2. Operation Management.

2.2.1. Merencanakan dan mengoperasikan unit pembangkit berdasarkan kebutuhan sistem dan kesiapan unit.

2.2.1.1. Membuat rencana operasi jangka panjang.

2.2.1.2. Membuat rencana daya mampu mingguan dan bulanan

2.2.1.3. Mengoperasikan unit pembangkit untuk kondisi normal (Seperti tertuang dalam SOP normal )

2.2.1.4. Mengoperasikan unit saat keadaan tidak normal (Seperti tertuang dalam SOP tidak normal )

2.2.2. Pengoperasian, pengujian dan pengaturan jam kerja operasi peralatan.

2.2.2.1. Melakukan change over peralatan sesuai jadwal.

2.2.2.2. Melakukan routine test peralatan sesuai jadwal (mingguan, 2 mingguan dan bulanan).

2.2.2.3. Melakukan pengujian / performance test setelah perbaikan / overhaul.

2.2.3. Melakukan first line maintenance

2.2.3.1. Melakukan patrol check dan house keeping

2.2.3.2. Melakukan tindakan first line maintenance (menambah oli/

minyak, pengencangan baut baut, pembersihan filter, pembersihan peralatan dan lain lain)

2.2.3.3. Melakukan pengamanan dan penanganan awal jika terjadi gangguan sesuai dengan prosedur penanganan gangguan.

2.2.3.4. Melaporkan gangguan.

2.2.3.5. Memprioritaskan pekerjaan pemeliharaan 2.2.3.6. Memonitor gangguan.

2.2.3.7. Mengendalikan gangguan.

2.2.3.8. Evaluasi & Laporan Gangguan

2.2.4. Melakukan optimasi dan evaluasi kinerja operasi.

2.2.4.1. Melakukan pengukuran/ metering, pencatatan dan pelaporan energi listrik untuk memantau kinerja pembangkit dan pembuatan neraca energi listrik bulanan.

2.2.4.2. Membandingkan dan mengevaluasi kesiapan unit yang telah dicapai (waktu dan produksi listrik netto) dengan target yang telah disepakati.

52 

2.2.4.3. Membandingkan dan mengevaluasi konsumsi spesifik unit pembangkit aktual (batubara, bahan kimia, auxiliary) dengan target yang telah disetujui.

2.2.4.4. Melakukan review/ update SOP dan mengeluarkan rekomendasi untuk menjaga keandalan dan efisiensi, berdasarkan kondisi terakhir unit pembangkit (kajian evaluasi gangguan, histori peralatan, rencana pemeliharaan, rencana produksi, kondisi bahan bakar dan lain lain)

2.2.5. Pengelolaan bahan bakar

2.2.5.1. Melakukan perhitungan kebutuhan pemakaian bahan bakar untuk satu bulan kedepan.

2.2.5.2. Mengusulkan kebutuhan bahan bakar hasil perhitungan dan jadwal kedatangan angkutan pembawa bahan bakar yang telah disesuaikan dengan kebutuhan unit pembangkit.

2.2.5.3. Mengawal proses penerimaan batubarabahan bakar, koordinasi dengan perusahaan bongkar muat dan surveyor independen sesuai dengan prosedur penerimaan bahan bakar .

2.2.5.4. Membuat laporan ketidaksesuaian kondisi bahan bakar maupun pada saat proses pengiriman.

2.2.5.5. Membuat rencana kebutuhan bahan bakar HSD, mengusulkan dan mengawal proses transportasi dan penerimaan bahan bakar sesuai dengan prosedur penerimaan bahan bakar HSD.

2.2.5.6. Membuat rencana kebutuhan bahan kimia, mengusulkan dan mengawal proses penerimaan bahan kimia sesuai dengan prosedur penerimaan bahan kimia.

2.2.6. Melakukan komunikasi dan pelaporan Pusat Pengatur Beban dan kantor pusat.

2.2.6.1. Melaporkan rencana daya mampu mingguan dan bulanan kepada Pusat Pengatur Beban dan kantor pusat.

2.2.6.2. Melakukan komunikasi secara real time dengan Pusat Pengatur Beban untuk informasi kondisi beban/ daya yang dibangkitkan agar sesuai dengan permintaan (sesuai dengan prosedur kontrak niaga).

2.2.6.3. Melakukan pelaporan jika terjadi gangguan unit.

2.2.6.4. Membuat laporan pengusahaan bulanan yang mencakup rencana produksi listrik, rencana alokasi pengiriman energi, realisasi produksi dan penjualan energi, energi pemakaian sendiri, susut trafo, kWh terjual, faktor faktor operasi, pemakaian dan penerimaan bahan bakar serta biaya operasi.

2.2.6.5. Memberikan informasi laporan pengusahaan bulanan tersebut ke kantor pusat.

2.2.6.6. Membuat berita acara transaksi energi antara unit pembangkit dan PT PLN (Persero) Pusat Pengatur Beban .

53  3. Efficiency Management

3.1. Operator Action. (Operator bertanggung jawab dalam operasi unit yang efisien) 3.1.1. Operator bertanggung jawab untuk meminimalkan “controllable” losses

(PS)

3.1.2. Operator membuat keputusan-keputusan yang menghasilkan dampak besar pada heat rate (Efisiensi)

3.2. Efficiency Improvement.

3.2.1. Baselining didasarkan pada data heat balance 3.2.2. Data Collection

3.2.3. Heat balance modelling : model based normalization 3.2.4. Performance test

3.2.5. Identify corrective action 4. Sistem Manajemen Terpadu

4.1. Komitmen Manajemen 4.2. Tinjauan Manajemen 4.3. Pemahaman (Awareness) 4.4. Pengendalian Dokumen 4.5. Pengendalian Operasi K3

4.5.1. Pengendalian Supplier dan Pihak Ke-3 4.5.2. Ijin Safety (Safety Permit)

4.5.3. Sistem Isolasi dan Penormalan serta Log Out dan Tag Out 4.5.4. Pengendalian Combustable Material

4.5.5. Pengendalian Alat Pelindung Diri

4.5.6. Pengendalian Keamanan Lingkungan Kerja 4.5.7. Pengendalian Pekerjaan Panas (Hot Work)

4.5.8. Pengendalian Pekerjaan Dalam Ruang Terbatas (Terowongan, Vesel, tangki, dll).

4.5.9. Pengendalian Pekerjaan Pada Ketinggian.

4.5.10. Pengendalian Pekerjaan Bawah Air

4.5.11. Pengendalian Pekerjaan Pada Instalasi Gas (Explosif dan Combustible).

4.5.12. Pengendalian Rokok (Smoking Kontrol).

4.5.13. Pengendalian Kesehatan Kerja.

4.5.14. Pengendalian Alat Angkat, Angkut, Bejana Bertekanan dan Instalasi Penangkal Petir.

4.5.15. Pengendalian Pekerjaan pada Lokasi Bertegangan.

4.5.16. Pengendalian Risiko Radiasi

4.5.17. Pengendalian Fire Fighting and Protection System.

4.5.18. Pengendalian APAR dan APAT 4.5.19. Pengendalian Kotak PPGD (P3K)

54  4.6. Pengendalian Operasi Lingkungan

4.6.1. Pengendalian Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

4.6.2. Pengendalian Limbah B3

4.6.3. Pengendalian Limbah Cair Berminyak.

4.6.4. Pengendalian Limbah Cair Proses /Operasi.

4.6.5. Pengendalian Limbah Cair Dometik /Limbah Sanitasi.

4.6.6. Pengendalian Limbah Padat Non B3 (Limbah Padat Domestik).

4.6.7. Pengendalian Emisi Gas Buang.

IV

PERSIAPAN DALAM MENJALANKAN