• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keaslian Penelitian

Berdasarkan pengamatan serta penelusuran kepustakaan khususnya pada lingkungan perpustakaan Program Magister Kenotariatan dan Pasca Sarjana Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara yang dilakukan penelitian yang berjudul:

“Implementasi Prinsip Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) Terhadap Laporan Tahunan Perseroan Terbuka (Studi Annual Report Tahun 2015 PT. Unilever Indonesia, Tbk)”, ini belum pernah dilakukan baik dalam judul maupun permasalahan yang sama, walaupun sudah ada beberapa judul penelitian tentang Good Corporate Governance (GCG) akan tetapi jika dilihat dari rumusan masalah yang dibahas jelas tampak perbedaannya antara lain:

1. R.A. Dyna Ramadhani (0670005021/HK) dengan judul “Prinsip Keterbukaan Dalam Laporan Keuangan Perusahaan Penanaman Modal Menurut Undang-Undang No.25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal”, dengan permasalahan:

a. Mengapa prinsip keterbukaan perlu dalam perundang-undangan penanaman modal di Indonesia?

b. Bagaimana keterbukaan dalam laporan keuangan perusahaan penanaman modal berdasarkan ketentuan perundang-undangan penanaman modal di Indonesia?

c. Bagaimana kesiapan hukum penanaman modal di Indonesia terkait dengan penerapan prinsip keterbukaan dalam laporan keuangan perusahaan penanaman modal?

2. Rumata Rosininta Sianya (067005041 / HK) dengan judul “Tanggung Jawab Direksi atas Laporan Keuangan Perusahaan Publik” dengan permasalahan : a. Bagaimana kriteria untuk menentukan direksi telah melakukan pelanggaran

dalam hal penandatanganan pernyataan yang merugikan pihak di luar perseroan?

b. Bagaimana bentuk pertanggung jawaban direksi atas laporan keuangan menurut ketentuan UUPT dan Peraturan Bapepam Nomor VIII.G.11 tentang Tanggung Jawab Direksi Atas Laporan Keuangan?

3. Windy Sri Wahyuni (117005003/HK) dengan judul “Tanggung Jawab Akuntan Publik atas Laporan Keuangan yang Overstated di Pasar Modal”

dengan permasalahan :

a. Bagaimana independensi akuntan publik di pasar modal?

b. Bagaimana penentuan pendapat akuntan publik atas laporan keuangan di pasar modal?

c. Bagaimana tanggung jawab akuntan publik atas laporan keuangan yang overstated di pasar modal?

Jika diperbandingkan dengan penelitian yang dilakukan dengan penelitian ini, baik permasalahan maupun pembahasan adalah berbeda. Dengan demikian, maka penelitian ini adalah asli dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara secara keilmuan akademis.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

Dalam dunia ilmu hukum, teori menempati kedudukan yang penting sebagai sarana untuk merangkum serta memahami masalah secara lebih baik. Hal-hal yang semula tampak tersebar dan berdiri sendiri bisa disatukan dan ditunjukkan kaitannya satu sama lain secara bermakna. Teori memberikan penjelasan melalui cara mengorganisasikan dan menyistemasikan masalah yang dibicarakan.7

Solly Lubis memberikan pengertian kerangka teori adalah pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan yang dapat menjadi bahan perbandingan dan pegangan teoritis, hal mana dapat menjadi masukan eksternal bagi penulis. Teori berfungsi untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifikasi atau proses tertentu terjadi.8

Pembahasan dalam penelitian ini adalah meneliti implementasi prinsip GCG terhadap laporan tahunan (annual report) tahun 2015 oleh PT. Unilever Indonesia, Tbk. Berikut ini disajikan beberapa teori yang relevan terkait dengan praktik GCG di Indonesia dan dihubungankan pertanggungjawaban Perseroan dalam penyampaian laporan tahunan berdasarkan prinsip GCG:

a. Finance Model (Agency Theory)

Ilmu pengetahuan telah mengubah peradaban sebuah teori klasik menjadi teori manajemen modern. Kontribusi ilmu manajemen modern, menjadi babak baru lahirnya teori agency. Teori ini pertama kali diungkapkan oleh

7 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2000), Hlm. 253

8Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung: Bandar Maju, 1994), Hlm.80.

Jensen dan Meckling pada tahun 1976. Sifat dasar manusia terkait dengan teori keagenan yaitu manusia pada umumnya mementingkan diri sendiri (self interest), manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa datang (bounded-rationality), dan manusia selalu menghindari risiko (risk-averse).9

Perspektif hubungan keagenan merupakan dasar yang digunakan untuk memahami corporate governance. Dalam teori ini dijelaskan bahwa hubungan keagenan adalah sebuah kontrak antara manajer (agent) dengan investor (principal). Konfilk kepentingan antara pemilik dan agen terjadi karena kemungkinan agen tidak selalu berbuat sesuai dengan kepentingan principal, sehingga memicu biaya keagenan (agency cost).10

Asumsi teori ini menyatakan bahwa pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan perusahaan dapat menimbulkan masalah keagenan (agency problem). Pemilik perusahaan akan memberikan kewenangan pada pengelola (manajer) untuk mengurus jalannya perusahaan seperti mengelola dana dan mengambil keputusan perusahaan seperti mengelola dana mengambil keputusan perusahaan lainnya untuk dan atas nama pemilik, karena adanya perbedaan kepentingan (conflict interest).

Mekanisme GCG berfungsi sebagai alat untuk mendisiplinkan pengelola agar mentaati kontrak yang telah disepakati, sehingga dengan adanya

9 Eisenhardt, Kathleem,M, Agency Theory: An Assesment and Reiew, (Academy Management Review 14: 1989), Hlm. 57-74

10 Muhamad Ujiyantho. Arief dan Pramuka, Mekanisme Corporate Governance, Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan Studi pada Perusahaan Go Publik Sektor Manufaktur, Siposium Nasional Akutansi, Universitas Hasanusin Makasar, 2007

mekanisme tata kelola yang baik yang dilandasi prinsip-prinsip corporate governance ini diharapkan dapat mengurangi masalah keagenan dalam perusahaan yang kemudian dapat meningkatkan kinerja perusahaan.11 Teori agensi (angency theory) dipandang tepat digunakan dalam penelitian ini dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut:

1) Teori agensi (angency theory) menekankan pentingnya pemilik perusahaan (pemegang saham) menyerahkan pengelolan perusahaan kepada tenaga-tenaga profesional (agen) yang lebih mengerti dalam menjalankan bisnis sehari-hari. Teori ini muncul setelah fenomena terpisahnya kepemilikan perusahaan dengan pengelolaan, terutama perusahaan-perusahaan besar yang modern. 12

2) Teori ini muncul karena adanya pemisahan kepemilikan dan pengelolaan PT berdasarkan perjanjian berimbang. Serta dimaksudkan untuk menganalisis perusahaan nasional, multinasional atau perusahaan asing yang telah menerapkan prinsip-prinsip GCG.13

3) Dalam teori agensi (angency theory) ini juga menyatakan bahwa agen (direksi/manajemen) harus bertindak secara rasional untuk kepentingan principal-nya. Agen harus mempergunakan keahlian, kebijaksanaan, itikad baik dan tingkah laku yang wajar dan adil dalam memimpin perusahaan.14 Dalam melaksanakan kepentingan principal, direksi dan dewan komisaris dari suatu PT juga mengemban prinsip fiduciary duty untuk menerima tanggung jawabnya sebagaimana diatur dalam UUPT 2007, wajib menjalankan dengan sebaik-baiknya, jujur, dengan itikad baik, dan demi kepentingan PT. Hal sesuai dengan maksud dan tujuan PT sebagaimana terdapat di dalam anggaran dasar setiap PT.

Sehubungan dengan pembuatan laporan tahunan sebagai bahan pertanggungjawaban direksi atas kepengurusannya dalam kaitannya dengan

11 Hartono, DF dan Nugrahanti Y.W, Pengaruh Mekanisme Corporate Governance Terehadap Kinerja Keuangan Perusahaan Perbankan, Dinamika Akuntansi, Keuangan dan Perbankan. Volume 3, Hlm.191-205

12 Misahardi Wilamarta, Hak Pemegang Saham Monoritas dalam Rangka Good Corporate Governance, (Jakarta : Program Paca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2002), Hlm. 27-28.

13 Nindyo Pramono, Bunga Rampai Hukum Bisnis Aktual, (Jakarta : Citra Aditya, 2006), Hlm.90

14 Ibid.

keadaan keuangan perseroan terwujud dalam bentuk laporan keuangan,15 dan dewan komisaris bertanggung jawab untuk melakukan pengawasan wajib memenuhi prinsip fiduciary duty. Tugas dan tanggung jawab direksi sesuai Pasal 92 ayat (1) UUPT 2007 adalah menjalankan pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. Sedangkan, dewan komisaris bertanggung jawab untuk melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya, baik mengenai Perseroan maupun usaha perseroan, dan memberi nasihat kepada direksi sesuai Pasal 108 ayat UUPT 2007.

Direksi merupakan satu-satunya organ perseroan yang bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan dan merupakan wakil perseroan bagi pihak di luar perseroan.16 Dalam pengelolaan perseroan atau perusahaan, para anggota direksi dan dewan komisaris sebagai salah satu organ vital dalam perusahaan tersebut merupakan pemegang amanah (fiduciary) yang harus berperilaku sebagaimana layaknya pemegang kepercayaan.17 Prinsip ini merupakan hubungan kepercayaan antara direksi dengan perseroan di mana Direksi bertindak sebagai seorang trustee atau agen semata dari perseroan yang diberikan wewenang dan tanggung jawab untuk melaksanakan kepengurusan perseroan demi maksud tujuan perseroan

15 Pasal 66 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

16 Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

17 Bismar Nasution, “Pertanggungjawaban Direksi dalam Pengelolaan Perusahaan”, http://bismar.wordpress.com/2009/12/23 /, diakses tanggal 13 Februari 2017.

dengan itikad baik, loyalitas, dan penuh tanggung jawab, kejujuran serta kepedulian dan kemampuan tinggi.18

Doktrin fiduciary duty berasal dari sistem hukum Common Law yang berasal dari Inggris dan hingga kini mempengaruhi sistem hukum negara-negara bekas jajahannya dan juga dianut di Amerika Serikat. Karena hubungan hukum antara perseroan dan direksi didasarkan pada doktrin fiduciary duty, maka berdasarkan doktrin ini direksi dalam menjalankan kepengurusan mempunyai duty of care dan duty of loyalty terhadap perseroan.19 Henry Campbell Black menyatakan :

“fiduciary duty, a duty to act for someone else’s benefit, while subordinating one’s personal interest to that of the other person. It is the highest standard of duty implied by law”( suatu tindakan untuk dan atas nama orang lain, dimana seseorang mewakili kepentingan orang lain yang merupakan standar tertinggi dalam hukum).20

b. Stewardship Model (Stewardship Theory)

Teori stewardship diperkenalkan sebagai teori yang berdasarkan tingkah laku dan premis. Teori agensi mencoba untuk menjalin hubungan yang formal antara prinsipal dan agen atau pihak-pihak yang berkepentingan.

Suatu model dari perilaku dan motivasi manajerial adalah teori

18 Munir Fuady, Doktrin -Doktrin Modern Dalam Corparate Law & Eksistensinya Dalam Corporate Law dan Eksistensinya Dalam Hukum Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2002), Hlm. 15.

19 Suharnoko, Hukum Perjanjian Teori dan Analisa Kasus, (Jakarta: Kencana, 2009), Hlm.152.

20 Try Widiono, Direksi Perseroan Terbatas edisi kedua, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2008), Hlm.87.

stewardship. Keterbatasan teori agency kurang mempertimbangkan masalah psikologi dan sosiologi.21

Suatu model alternatif dari perilaku dan motivasi manajerial adalah teori stewardship. Pada teori agency terkadang mengabaikan kompleksitas kehidupan organisasi. Teori stewardship dipandang tepat dalam penelitian ini karena, teori stewardship menggambarkan situasi di mana para manajer tidak termotivasi pada tujuan individu tetapi lebih ditunjukan pada tujuan untuk kepentingan organisasi. Organ perseroan bertindak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan anggaran dasar perusahaan, jika terjadi kegagalan perusahaan atas tindakan organ diluar dari ketentuan tersebut maka organ yakni direksi dan dewan komisaris menyalahgunakan kepercayaan serta amanah yang diberikan oleh principals. Beberapa model yang dapat dipilih oleh agent dan principal dalam pengambilan keputusan ada empat macam:22

1) Minimalisir biaya potensial;

2) Agen bertindak oportunistik;

3) Prinsipal bertindak oportunistik;

4) Memaksimalkan kinerja potensial.

c. Stakeholder Model (Stakeholder Theory)

Tanggung jawab perusahaan yang semula fokus pada indikator ekonomi (economics focused) dalam laporan keuangan, saat ini telah bergeser dan lebih memperhitungkan faktor-faktor sosial (social dimentions) terhadap

21 Hirsch, Michales, Friedman, Teori Agensi Dan Teori Stewarship Dalam Perspektif Akuntansi,Fokus Ekonomi Volume Nomor 2, Hlm.37-46

22 Freeman RE, Strategic Management: A Stakeholder Approach. Boston: Pitman, 1994. The Politics Of Stakeholder Theory: Some Futurre Direction. Business Ethics Quarterly 4 (4): 409 421.

stakeholders, baik internal maupun eksternal. Untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan, sangat tergantung pada dukungan stakeholder. Makin powerful dukungan stakeholder, makin besar kemampuan perusahaan beradaptasi dengan lingkungan. Pengungkapan sosial dianggap sebagai bagian dari dialog antara perusahaan dengan stakeholder-nya. Corporate governance mengarahkan pengelolaan perusahaan untuk pencapaian profit dan sustainability secara seimbang.

Pencapaian keuntungan tersebut merupakan wujud pemenuhan pemegang saham (shareholder) dan tidak dapat dilepaskan dari upaya pencapaian sustainability yang merupakan wujud pemenuhan kepentingan para pemangku kepentingan

Untuk dapat menganalisis tentang implementasi GCG pada pemyajian laporan tahunan (annual report) 2015 PT. Unilever Indonesia, Tbk, maka angency theory, stewardship theory, stakeholder theory perlu didukung oleh teori tentang GCG. Pemahaman terhadap prinsip-prinsip GCG sebenarnya merupakan esensi yang sangat mendasar dalam rangka implementasi GCG. Agar GCG dapat diterapkan, perlu ada struktur yang dapat mendukung. Perusahaan harus memiliki organ perusahaan yang dapat menjalankan fungsinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan atas dasar prinsip bahwa masing-masing organ mempunyai kemandirian dalam melaksanakan tugas, fungsi dan tanggung jawabnya semata-mata untuk kepentingan perusahaan. Di Indonesia, sebuah badan hukum perseroan

terbatas harus tunduk pada UUPT 2007, dimana disebutkan bahwa perseroan memiliki tiga organ, yaitu “direksi” yang bertanggung jawab atas pengelolaan perseroan; “dewan komisaris” yang bertanggung jawab atas pengawasan terhadap pengelolaan yang dilakukan oleh direksi; serta

“Rapat Umum Pemegang Saham” (RUPS), sebagai organ yang merupakan wadah para pemegang saham untuk mengambil keputusan penting berkaitan dengan modal yang ditanamnya di perusahaan. Setiap organ memiliki peranannya masing-masing dalam rangka menerapkan GCG di sebuah perusahaan. Ketiga organ perusahaan tersebut harus ada secara bersamaan, dan tidak dapat dibentuk secara bertahap.23

Penerapan GCG perlu didukung oleh adanya lingkungan yang kondusif serta peraturan yang dapat mengakomodir GCG. Tentunya kerangka ini perlu mendapatkan dukungan penuh dari regulator. Dengan adanya kerangka hukum yang dapat menunjang pelaku usaha serta dengan adanya penerapan hukum yang konsisten, maka pelaku usaha dapat lebih mudah dalam menerapkan GCG. Tingkat penerapan awal GCG dilihat dari pemenuhan peraturan perundang-undangan, sehingga kerangka dasar penerapan GCG dapat dikembangkan dari kerangka hukum tersebut.

Secara ringkas, penerapan GCG dapat ditempuh dalam beberapa tahapan yang harus dilakukan secara berkelanjutan, antara lain:24

23 Mas Achmad Daniri, Angela Indrawati Simatupang, “Langkah Jitu Peenerapan GCG Yang Efektif”, http://madani-ri.com/web/?p=103 , diakses tanggal 27 Februari 2017.

24 Ibid.

1) Pertama, adalah membangun pemahaman, kepedulian dan komitmen untuk melaksanakan GCG oleh semua anggota direksi dan dewan komisaris, serta Pemegang Saham Pengendali, dan semua karyawan;

2) Kedua, perusahaan perlu melakukan kajian terhadap kondisi perusahaan yang berkaitan dengan pelaksanaan GCG dan tindakan korektif yang diperlukan;

3) Ketiga, setelah ketimpangan dan tindakan korektif yang diperlukan teridentifikasi, perlu disusun program dan pedoman pelaksanaan GCG perusahaan;

4) Keempat, dilakukan internalisasi pelaksanaan GCG sehingga terbentuk rasa memiliki dari semua pihak di dalam perusahaan, serta pemahaman atas pelaksanaan pedoman GCG dalam kegiatan sehari-hari;

5) Kelima, melakukan penilaian independen untuk memastikan penerapan GCG secara berkesinambungan. Tanpa adanya penilaian atau monitoring yang berkelanjutan atas penerapan GCG, maka akan sulit untuk mengukur efektivitas dan sudah sejauh mana penerapan GCG dilakukan secara konsisten. Hasil penilaian ini tentunya perlu dilaporkan kepada pemegang saham dalam RUPS, dan dituangkan dalam laporan tahunan (untuk perusahaan publik). Hal ini diperlukan agar fungsi pengawasan yang dilakukan oleh pemegang saham dan juga stakeholder lainnya dalam menilai penerapan GCG perusahaan dapat berjalan dengan semestinya.

2. Konsepsi

Berdasarkan kerangka teoritis yang telah diuraikan tersebut diatas, maka perlu diuraikan difensi operasional untuk menghindari perbedaan penafsiran terhadap istilah-istilah yang digunakan penelitian ini sebagai berikut:

a. Audit merupakan suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan -pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai

yang berkepentingan.25 Audit merupakan proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai entitas ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dimaksud dengan kriteria- kriteria yang telah ditetapkan.26

b. Good Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan yang Baik) adalah sebagai system hokum dan praktik untuk menjalankan kewenangan dan kontrol dalam kegiatan bisnis perusahaan. Kegiatan itu meliputi hubungan khusus antara pemegang saham, komisaris dan komite-komite, direksi, pejabat eksekutif, dan konstituen lainnya (seperti pegawai, masyarakat lokal, dan pelanggan dan pihak supplier).27

c. Prinsip-prinsip GCG yaitu Keterbukaan (Transparency), Akuntabilitas (Accountability), Tanggung Jawab (Responsibility), Independensi (Independence), Kewajaran (Fairness).

d. Perseroan Terbatas , yang selanjutnya disebut Perseroan adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya

25 Mulyadi dan Kanaka Puradireja, Auditing. Edisi Kelima, (Jakarta : Salemba Empat, 1998).

Hlm. 3

26 Ihyaul Ulum M.D, Audit Sektor Publik Suatu Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009).

Hlm. 9

27 Sedarmayanti, Good Governance & Good Corporate Governance: Bagian Ketiga Edisi Revisi, Bandung: CV. Mandar Maju, 2012), Hlm. 63

terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya.28

e. Penanaman modal adalah segala bentuk kegiatan menanam modal, baik oleh penanam modal dalam negeri maupun penanam modal asing untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia.

f. Emiten adalah Pihak yang melakukan Penawaran Umum.29

g. Perseroan Terbuka adalah Perseroan publik atau Perseroan yang melakukan penawaran umum saham, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan di bidang pasar modal.30

h. Perseroan Publik adalah Perseroan yang sahamnya telah dimiliki sekurang-kurangnya oleh 300 (tiga ratus) pemegang saham dan memiliki modal disetor sekurang–kurangnya Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) atau suatu jumlah pemegang saham dan modal disetor yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.31

i. Efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial ,saham, obligasi, tanda bukti utang, Unit Penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas Efek, dan setiap derivatif dari Efek.32

j. Pasar Modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek

28 Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

29 Pasal 1 ayat (6) Undang-Undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal

30 Pasal 1 ayat (7) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

31 Pasal 1 ayat (22) Undang-Undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal

32 Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal

yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek.33

k. Prinsip Keterbukaan adalah pedoman umum yang mensyaratkan Emiten, Perusahaan Publik, dan Pihak lain yang tunduk pada Undang-undang ini untuk menginformasikan kepada masyarakat dalam waktu yang tepat seluruh Informasi Material mengenai usahanya atau efeknya yang dapat berpengaruh terhadap keputusan pemodal terhadap Efek dimaksud dan atau harga dari Efek tersebut.34

l. KNKG adalah lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah untuk membuat pedoman Corporate Governance bagi perusahaan-perusahaan Di Indonesia.

m. Organ Perseroan adalan Rapat Umum Pemegang Saham, Direksi, Dewan Komisaris.35

n. Rapat umum pemegang saham, selanjutnya disebut RUPS adalah organ perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada direksi atau dewan komisaris dalam batas yang ditentukan dalam undang-undang ini dan anggaran dasar.36

o. Direksi adalah organ perseroan yang berwenang dan bertanggungjawab penuhatas pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan, sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan, baik di

33 Pasal 1 ayat (13) Undang-Undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal

34 Pasal 1 ayat (25) Undang-Undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal

35 Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

36 Pasal 1 ayat (4) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.37

p. Dewan komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan /atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasehat kepada direksi. 38