DALAM PENGELOLAAN PERSEROAN TERBATAS BERDASARKAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA
A. Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance)
4. Prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) menurut The Organization for Economic Cooperation and
Development (OECD)
OECD merupakan salah satu organisasi internasional yang sangat aktif mendukung implementasi dan perbaikan corporate governance di seluruh dunia.
OECD mengembangkan prinsip-prinsip corporate governance sejak tahun 1998.
Prinsip-prinsip GCG dari OECD pertama kali diluncurkan pada tahun 1999 dan menjadi acuan utama dalam penyusunan code of good corporate governance bagi negara-negara di seluruh dunia. Banyak Institusi International, seperti World Bank, International Monetary Fund (IMF), dan International Organization for Securities Commission (IOSCO) menjadikan prinsip corporate governance OECD sebagai benchmark bagi penilaian kondisi corporate governance di suatu negara. Berdasarkan hasil diskusi dan konsultasi dengan pihak-pihak yang relevan serta memperhatikan perkembangan yang terjadi, prinsip-prinsip corporate governance OECD tersebut direvisi pada tahun 2004.
Tata kelola perusahaan merupakan salah satu dari 12 (dua belas) standar yang ditetapkan oleh komunitas keuangan internasional. The World Bank dan International Monetary Fund (IMF) bekerja sama dalam melakukan penilaian atas penerapan Prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang disusun oleh OECD. Untuk Indonesia, country assessment pertama dilakukan pada tahun 2004 dan diperbaharui pada tahun 2010. Pada penilaian terakhir, skor yang diperoleh Indonesia meningkat termasuk empat prinsip yang memperoleh nilai “fully implemented”, 25 dinilai “broadly implemented”, 34 item dinilai “partially implemented”, dan 2 item dinilai belum diimplementasikan.70
Ditahun 2015 Indonesia menjadi bagian dari Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Untuk itu, ada kebutuhan dan dorongan untuk meningkatkan praktik-praktik bisnis yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia agar mampu meningkatkan daya saing. Penguatan daya saing perusahaan-perusahaan Indonesia, melalui peningkatan praktik tata kelola perusahaan, merupakan salah satu cara untuk memacu kinerja finansial dan operasional serta meningkatkan kepercayaan investor, disamping menyediakan akses bagi modal yang masuk.71 Prinsip-prinsip yang diterbitkan oleh OECD pada tahun 2004 dinyatakan bahwa kerangka kerja tata kelola perusahaan harus mendorong transparansi dan pasar yang efisien, sejalan dengan peraturan hukum, dan membagi dengan jelas kewajiban dan tanggung jawab di antara otoritas yang menjalankan fungsi pengawasan, pengaturan dan penegakan hukum.
70 Otoritas Jasa Keuangan, Road Map Tata Kelola Perusahaan Indonesia ” Menuju Tata Kelola Emiten Dan Perusahaan Publik Yang Lebih Baik”, (Jakarta : Otoritas Jasa Keuangan, 2014), Hlm.7-8.
71 Ibid, Hlm.11
Prinsip OECD telah diterima di seluruh dunia sebagai Kerangka kerja dan titik acuan untuk tata kelola perusahaan. Diterbitkan pada tahun 1999 dan direvisi pada tahun 2004, prinsip-prinsip corporate governance OECD mencakup 6 aspek yaitu: 72
a. Landasan hukum yang diperlukan untuk memastikan penerapan corporate governance secara efektif.
Untuk memastikan penerapan corporate governance yang efektif diperlukan adanya landasan hukum, peraturan dan institusi yang dapat menjadi acuan bagi para pelaku bisnis dalam melaksanakan aktivitasnya.
Kerangka penerapan tersebut harus dikembangkan dengan mengantisipasi dampaknya terhadap kinerja ekonomi, integritas pasar, dan insentif yang diberikannya kepada para pelaku bisnis. Disamping itu, peraturan yang melandasi praktik corporate governance harus konsisten dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, bersifat transparan dan dapat ditegakkan. Ketentuan-ketentuan corporate governance harus ditegakkan oleh pihak-pihak terkait dengan tujuan melindungi kepentingan publik.
Untuk itu, pihak-pihak tersebut harus memiliki kewenangan, integritas, dan sumber daya yang memadai untuk melakukan tugasnya secara profesional.
b. Hak pemegang saham dan fungsi pokok kepemilikan perusahaan.
Penerapan corporate governance harus melindungi dan memfasilitasi terlaksananya hak-hak pemegang saham. Hak-hak dasar pemegang saham meliputi hak untuk: memperoleh perlindungan kepemilikan sahamnya secara aman, mentransfer sahamnya, memperoleh informasi perusahaan secara berkala dan tepat waktu, berpartisipasi dalam rapat umum pemegang saham (RUPS), dan dapat memilih direksi dan komisaris, serta berhak atas keuntungan perusahaan sesuai dengan porsi kepemilikan sahamnya.
Pelaksanaan hak-hak pemegang saham tersebut, termasuk pemegang saham institusi, harus difasilitasi oleh perusahaan. Dengan demikian, diskusi diantara para investor tersebut mengenai hak-hak mereka terhadap perusahaan harus di perkenankan. Disamping itu, mekanisme yang memungkinkan terjadinya pengalihan pengendalian perusahaan secara efisien dan transparan harus diperbolehkan. Penggunaan mekanisme anti-take-over oleh manajemen perusahaan tidak boleh menghalangi mereka dari kewajiban mempertanggungjawabkan akuntabilitasnya kepada para pemegang saham. Begitu pula, struktur modal yang memungkinkan pemegang saham tertentu memperoleh pengendalian tidak proporsional dengan kepemilikan sahamnya harus diungkapkan.
72 Op.Cit, Etty Retno Wulandari, Good Corporate Governance Konsep Prinsip dan Praktik, Hlm. 43-46.
c. Perlakuan yang adil terhadap para pemegang saham
Kerangka corporate governance harus memastikan bahwa seluruh pemegang saham, termasuk pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing, memperoleh perlakuan yang adil dan setara. Kesetaraan tersebut harus berlaku untuk semua pemegang saham yang memiliki saham dengan kelas saham yang sama. Hal tersebut juga termasuk kesempatan untuk memperoleh penggantian apabila hak-haknya dilanggar. Dalam rangka mencapai kesetaraan perlakuan terhadap para pemegang saham, maka transaksi orang dalam (insider trading) dan berdagang untuk kepentingan sendiri (self-dealing) harus dilarang. Begitu juga anggota Direksi dan komisaris harus mengungkapkan transaksi benturan kepentingan yang melibatkan mereka.
d. Peranan pemangku kepentingan dalam corporate governance
Kerangka corporate governance harus mengakui hak-hak pemangku kepentingan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apabila hak-hak tersebut dilanggar, perusahaan harus memastikan bahwa pemangku kepentingan akan memperoleh penggantian. Perusahaan juga harus mendorong kerja sama aktif antara perusahaan dengan para pemangku kepentingannya untuk meningkatkan kesejahteraan dalam rangka menjaga keberlangsungan perusahaan. Mekanisme peningkatan kinerja perusahaan melalui partisipasi karyawan harus dikembangkan.
Pemangku kepentingan juga harus memiliki akses terhadap informasi yang relevan, memadai dan dapat diandalkan secara berkala dan tepat waktu.
Ketersediaan mekanisme bagi para pemangku kepentingan untuk menyuarakan pendapatnya harus disediakan oleh perusahaan. Hal ini untuk memastikan bahwa hak-hak para pemangku kepentingan, termasuk kreditur, dapat dilaksanakan.
e. Pengungkapan informasi perusahaan secara transparan
Kerangka corporate governance harus memastikan bahwa keterbukaan informasi perusahaan secara akurat dan tepat waktu harus dilakukan.
Keterbukaan tersebut harus mencakup, tetapi tidak terbatas pada informasi yang material mengenai kinerja keuangan perusahaan, transaksi benturan kepentingan, pengelolaan risiko, struktur pengelolaan dan kebijakan perusahaan, khususnya tentang prinsip corporate governance. Semua informasi yang disajikan harus disiapkan dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi yang berkualitas tinggi. Laporan keuangan harus diaudit oleh auditor yang independen, kompeten dan memiliki kualifikasi yang tinggi. Dalam pelaksanaan tugasnya akuntan publik harus beranggungjawab kepada pemegang saham. Kerangka corporate governance juga harus memiliki mekanisme yang mendorong penggunaan analis, brokers, dan pemeringkat yang tidak memiliki benturan kepentingan
dengan perusahaan. Hal tersebut untuk memastikan terjaganya integritas profesi-profesi tersebut.
f. Tanggung jawab dewan pengurus
Kerangka corporate governance harus memberikan acuan mengenai pengelolaan strategis perusahaan, pengawasan terhadap pengurus, dan akuntabilitas pengurus kepada perusahaan dan pemegang saham. Hal tersebut berarti bahwa pengurus perusahaan harus bertindak berdasarkan informasi yang cukup, dengan niat baik, dan semata-mata untuk kepentingan perusahaan. Pengurus perusahaan juga harus memperlakukan semua pemegang saham secara setara dan berdasarkan standar etika.
Pengurus perusahaan harus melakukan beberapa fungsi penting, seperti antara lain: menelaah dan memutuskan strategi pengelolaan perusahaan;
meyusun perencanaan, kebijakan pengelolaan risiko, menyusun anggaran serta menerapkannya dan mengawasinya; memonitor dan mengelola kemungkinan timbulnya benturan kepentingan diantara pengurus, pemegang saham, dan karyawan kunci perusahaan. Disamping itu, pengurus harus dapat melakukan tugasnya secara independen. Untuk itu, harus dipastikan bahwa pengurus perusahaan memiliki akses terhadap informasi yang akurat, relevan dan tepat waktu.
Prinsip tersebut dikembangkan untuk memberikan panduan berbasis prinsip tentang tata pemerintahan yang baik. Kerangka tata kelola perusahaan OECD dibangun berdasarkan empat nilai inti yaitu:73
a. Fairness
“The corporate governance framework should protect shareholder rights and ensure the equitable treatment of all shareholders, including minority and foreign shareholders. All shareholders should have the opportunity to obtain effective redress for violations of their rights.”
Prinsip Keadilan kerangka tata kelola perusahaan yang dimaksud OECD mencakup:
1) Melindungi hak pemegang saham;
2) Menjamin perlakuan yang adil dari semua pemegang saham termasuk minoritas dan pemegang saham asing;
3) Semua pemegang saham harus memiliki kesempatan untuk memperolehnya;
73 International Finance Corporation Advisory Services in Indonesia and Otoritas Jasa Keuangan, The Indonesia Corporate Governance Manual, First Edition, (Jakarta: IFC, 2014), Hlm.39
4) Ganti rugi yang efektif atas pelanggaran hak-hak pemegang saham.
b. Responsibility:
“The corporate governance framework should recognize the rights of stakeholders as established by law, and encourage active co-operation between corporations and stakeholders in creating wealth, jobs, and the sustainability of financially sound enterprises.”
Prinsip Tanggung Jawab kerangka tata kelola perusahaan yang dimaksud OECD mencakup :
1) Kerangka tata kelola perusahaan harus mengenali Hak pemangku kepentingan sebagaimana ditetapkan oleh undang-undang;
2) Mendorong kerja sama yang aktif antara perusahaan dan pemangku kepentingan dalam menciptakan kekayaan, pekerjaan; dan
3) Keberlanjutan perusahaan yang sehat secara finansial.
c. Transparency:
“The corporate governance framework should ensure that timely and accurate disclosure is made on all material matters regarding the company, including its financial situation, governance structure, performance and ownership.”
Prinsip Transparansi kerangka tata kelola perusahaan yang dimaksud OECD mencakup kepastian perusahaan bahwa ketepatan waktu dan pengungkapan yang akurat dilakukan atas semua hal yang material mengenai perusahaan,termasuk situasi keuangan, struktur pemerintahan, kinerja dan kepemilikan.
d. Accountability:
“The corporate governance framework should ensure the strategic guidance of the company, the effective monitoring of management by the Board, and the Board’s accountability to the company and shareholders.”
Prinsip Akuntabilitas Kerangka tata kelola perusahaan yang dimaksud OECD memastikan :
1) Bimbingan strategis perusahaan, pemantauan manajemen yang efektif oleh dewan, dan pertanggungjawaban dewan kepada perusahaan dan pemegang saham.
2) Jelasnya kewajiban dan tanggung jawab di antara otoritas yang menjalankan fungsi pengawasan, pengaturan dan penegakan hukum.
5. Prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate