D. Periode Kedua (Menghafal Al quran saat Kuliah) SEMESTER I (Agustus-Desember 2011)
15. Tak Kenal Tetangga dan Wilayah Kecamatan
Dulu sebelum saya kuliah, ketika liburan panjang Idul Fitri. Saya pulang ke rumah. Orang tua sering kali bercerita tentang keadaan rumah dan tentang keadaan tetangga. Saya merasa tidak paham dengan nama orang-orang di desa walaupun mereka adalah para tokoh masyarakat. Suatu hari Ibu bercerita bahwa Pak Kyai Mansur sakit dan masuk ke rumah sakit. Beliau sudah beberapa hari disana. Namun alangkah terkejutnya ketika mendengarkan tanggapan dari cerita ibuku bahwa saya tidak kenal dengan Pak Mansur. Pak Mansur yang mana? Ibu menjelaskan bahwa Pak Mansur itu yang dulu pernah menjadi ketua yayasan madrasah Nurul Huda Sumubkidul. Ibu juga cerita tentang haji ini, haji itu, Pak ini, Pak itu, Bu ini, Bu itu dan lain sebagainya, namun saya merasa tidak menanal mereka. Saya hanya mengiyakan tanpa tahu wajahnya seperti apa.
Mungkin inilah akibat saya jarang di rumah karena mondok dari kecil. Bahkan teman-teman sering menanyakan desamu sebelah mananya desa Krasak Ageng? Sebelah mananya desa Bulak Pelem? Sebelah mananya desa Bakungan? Sebelah mananya desa Tengeng? Saya hanya tersenyum, dan menjawab saya tidak tahu desa-desa itu. Saya hanya tahu nama desa, namun tidakk tahu letak desa tersebut secara pasti.
Ketika saya menonton TV di rumah, keluarga sering menceritakan nama-nama public figur televisi dan jalan cerita beberapa film, saya sama sekali tidak tertarik. Mungkin bukan karena tidak tertarik tapi karena memang tidak pernah menonton. Kalaupun saya menonton TV saya juga tak peduli nama-nama artisnya, bagaimana kehidupan mereka dan berita-berita yang terkait dengan para astis tersebut di media sosial, sama sekali saya tidak peduli dan tidak penting bagi saya mengenal mereka karena mereka tidak masuk dalam nama-nama tokoh yang saya pelajari di lembaga pendidikan.
Dulu sebelum saya kuliah, ketika saya pulang ke rumah, saya lebih suka berada di rumah seakan malu apabila bermain ke tetangga. Walaupun ingin rasanya saya bermain bersilaturahim ke tetangga, namun rasanya saya sangat malu. Ternyata hal ini tidak hanya menimpa pada saya, namun juga pada hampir semua santri di desa saya yang pernah mondok. Ketika mereka pulang, mereka hanya di rumah saja tak berani ke tetangga. Hingga suatu hari ibu saya berinisiatif bagaimana caranya agar saya mau keluar rumah. Ibu jualan kecil-kecilan dan saya disuruh mengantarkan jajan itu ke warung-warung desa dengan tujuan agar saya bersosialisasi dengan masyarakat. Saya juga pernah sengaja jalan-jalan mengendarai motor berkeliling kacamatan dangan minta ditemani seorang sahabat agar saya tahu wilayah kecamatan saya sendiri beserta nama-nama desa serta keadaan masyarakatnya. Hidup di pesantren sejak kecil dan meninggalkan kampung halaman membuat saya tidak mengenal wilayah sendiri.
Setelah saya mondok sambil kuliah, sepertinya saya merasa menjadi lebih bisa bersosialisasi dengan masyarakat seitar. Saya berusaha mengenal nama para tokoh masyarakat, saya mulai tidak malu bersilaturahmi ke tetangga-tetangga, ikut aktif mengadakan perkumpulan remaja membentuk embrio IPNU IPPNU. Saya juga proaktif bersama teman-teman mendirikan ISSIM (Ikatan Santri Simbang) se-kecamatan Sragi. Saya juga sering mengikuti acara tahlilan, manaqiban, pengajian-pengajian yang anggotanya adalah bapak-bapak dan saya peserta termuda. Perubahan-perubahan ini mungkin sebagai akibat pendidikan yang saya tempuh baik di pesantren maupun di pendidikan perguruan tinggi yang merubah pola pikir saya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
SEMESTER III (Agustus-Desember 2012) 16. Panitia Kegiatan di UKM LPTQ
Sejak saya masuk di UKM LPTQ, saya mulai melibatkan diri untuk aktif di dalam menghidupkan organisasi. Saya membantu teman-teman untuk mensukseskan kegiatan-kegiatan. Saya mau membantu apa saja, yang penting LPTQ bisa sukses dalam menjalankan kagiatan. Namun, usaha saya untuk membantu kegiatan-kegiatan LPTQ tidak boleh membuat saya terlalu sibuk di organisasi, sehingga seringkali saya tidak bisa menginap di kampus bila pondok ada kegiatan mengaji karena bagaimanapun saya tetap mementingkan kegiatan pondok.
Suatu ketika saya menjadi pengurus LPTQ dan diminta untuk menjadi panitia pengkaderan dan pelatihan kader dasar. Saya merasa senang dan
mambantu sekuat tenaga karena memang saya ingin mengabdikan diri di UKM LPTQ. Saya mengikuti rapat-rapat persiapan, dalam rapat tersebut dibahas kepanitiaan dan tugas-tugas masing-masing panitia, masalah teknis kegiatan, tempat pelaksanaan kegiatan, ijin-ijin penggunaan tempat, proposal dana, undangan-undangan, surat-surat penting, pembuatan sertifikat dan dokumentasi kegiatan. Semua harus jelas dan tepat tersusun rapi sehingga gambaran kegiatan sudah bisa kami bayangkan sebelum kegiatan berlangsung.
Kami juga membahas kemungkinan-kemungkinan terburuk apabila terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, sehingga perlu juga menyusun rencana A, B dan bahkan C. Dalam rapat satu kegiatan biasanya tidak bisa terselesaikan hanya dengan satu kali rapat karena banyaknya persiapan yang harus di selesaikan apalagi dalam penentuan rapat pun sering kali mendapat halangan karena masing-masing mahasiswa memiliki jam kuliah dan kepentingan yang berbeda-beda. Ada yang mendapat jam kuliah siang, ada yang mendapat jam kuliah pagi, ada yang mendapat jam kuliah sore, sehingga harus benar-benar teliti dalam menentukan jadwal rapat. Berkat kerja keras dan kerjasama dari semua pihak, alhamdulillah kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan semua masalah dapat teratasi dengan baik.
Gambar 3.23 Sertifikat Panitia Pengkaderan dan Pelatihan Kader Dasar (PKD)