• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indonesia Bagus merupakan salah satu tayangan kearifan lokal yang memiliki ciri khas orang lokal asli sebagai naratornya. Berdasarkan uraian-uraian dari pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat penulis simpulkan beberapa hal terkait usaha program kearifan lokal Indonesia Bagus dalam memenuhi P3SPS yang dimiliki oleh Komisi Penyiaran Indonesia. Pertama, konsep dasar yang dimiliki oleh Indonesia Bagus dalam produksi tayangan sudah berusaha untuk berlandaskan pada semangat kearifan lokal. Hal itu ditunjukan dengan mengutamakan orang lokal sebagai narator dari setiap episode dalam Indonesia Bagus ini, yang juga menggunakan beberapa bahasa daerah pada setiap naskah yang diproduksi oleh program Indonesia Bagus.

Kedua, kebijakan redaksional yang dimiliki oleh Indonesia Bagus yaitu dengan berusaha mengangkat cerita-cerita membanggakan dari seluruh penjuru Indonesia. hal tersebut juga diketahui oleh setiap kru, yang menjadikan kru satu pandangan dalam memproduksi setiap episode pada program Indonesia Bagus. Dalam hal ini, program Indonesia Bagus sendiri tidak memilki standar khusus, dan hanya berlandaskan pada Standar Program Siaran (SPS) yang dikeluarkan oleh Komisi Peyiaran Indonesia. Artinya untuk poin kearifan lokal, Indonesia Bagus berlandaskan pada BAB IV mengenai penghormatan nilai-nilai kesukuan, agama, ras dan antar golongan yang termasuk kepada P3SPS KPI tahun 2012.

Kemudian, implementasi yang dilakukan oleh program Indonesia Bagus terlihat pada tahapan produksi baik ketika Pra Produksi, saat Produksi di lapangan, serta Pasca Produksi yang mereka lakukan, koordinasi sesama tim mampu menyelesaikan masalah-masalah yang timbul pada setiap tahapan produksi. Yang pada akhirnya tiap-tiap konten dalam tayangannya dapat mereka susun secara baik. Bentuk-bentuk kearifan lokal yang hadir di setiap episode, selalu melalui penyaringan produser, setelah sebelumnya disusun oleh reporter dalam bentuk story line. Adapun usaha tersebut juga ditunjukan melalui prestasi yang mereka dapatkan dari ajang penganugerahan Komisi Penyiaran Indonesia, pada tahun 2014, 2015, dan 2017 dalam kategori Program Feature Terbaik.

Dalam tahap memenuhi P3SPS yang dikeluarkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia, program Indonesia Bagus juga selalu berusaha untuk tetap pada jalurnya yang artinya berusaha untuk tidak mendapatkan teguran dari KPI. Dan hal tersebut juga diketahui oleh setiap kru, bahwa pada proses produksi atau kegiatan kerja masing-masing individu sudah berusaha meliput bentuk-bentuk kearifan lokal yang sesuai, dikemas secara menarik dan tidak menimbulkan ketidaknyamanan khalayaknya. Namun, pada akhir tahun 2017 program Indonesia Bagus mendapatkan teguran dari KPID SUMUT, mengenai salah satu episode yang menampilkan seseorang sedang merokok, dan hal tersebut telah melanggar Standar Program Siaran Tahun 2012 BAB XVII Pasal 33, SPS BAB XIV Pasal 26 Ayat 1, dan SPS Pasal 15. Dan Program Indonesia Bagus mendapatkan sanksi administratif berupa teguran tertulis dari KPID SUMUT. Tetapi, pada poin kearifan lokal dalam penelitian ini program Indonesia Bagus sudah berhasil dalam

memenuhi Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) dari KPI tersebut, terlebih tidak adanya teguran yang dilanggar pada BAB IV mengenai kearifan lokal yang menjadi landasan pada penelitian ini.

5.2 Saran

Pada penelitian ini, saran akademis yang dapat penulis berikan kepada mahasiswa yang akan melakukan penelitian mengenai program kearifan lokal untuk hendaknya memperkaya sumber-sumber mengenai kearifan lokal. Informan dalam penelitian dapat ditambah lagi seperti kepada Budayawan atau pemerhati kearifan lokal atau pihak Komisi Penyiaran Indonesia lebih dalam terkait program kearifan lokal dan beberapa program serupa dalam konsep yang sama. Karena pada penelitian ini informan seluruhnya merupakan tim yang memproduksi secara langsung setiap episode-episode yang berada pada program Indonesia Bagus, penulis hanya mengambil data di dalam tim redaksi. Juga memperkaya proses produksi secara detail mengenai kearifan lokal yang dilakukan oleh salah satu tim redaksi dalam program kearifan lokal lainnya. Penulis juga menyarankan kepada lembaga pendidikan untuk mempraktikan P3SPS yang telah dikeluarkan oleh KPI, dalam setiap proses kegiatan perkuliahan khususnya pada konsentrasi jurnalistik yang berperan aktif dalam media nantinya.

Saran praktis penulis terhadap media televisi terkait program kearifan lokal, berharap P3SPS dapat dipraktikan dalam tiap-tiap episode program kearifan lokal dan tidak membatasi konten dalam tayangan tersebut. Serta televisi dapat mengangkat segala macam bentuk kearifan lokal lain yang tidak hanya kepada

kebiasaan makanan khas, dan tempat pariwisatanya saja. Tetapi lebih jauh lagi seperti adat istiadat, cara hidup lingkungan sekitar, bahasa daerah, dan lain sebagainya. P3SPS yang dikeluarkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia merupakan batasan-batasan yang harus dipenuhi oleh penggerak media. Di mana dalam hal tersebut juga media harus menanyangkan siaran lokal sebesar 10% dari waktu siarannya yang tentu akan bertambah, sesuai dengan kemampuan media tersebut. Menurut penulis hal itu tidak memberatkan pihak media melihat Indonesia kaya dengan beragam suku budaya. Media harus memberikan tayangan yang membuat khalayak merasa lebih dekat dengan bentuk-bentuk kearifan lokal yang mereka miliki, dimiliki oleh orang lain, dan dimiliki oleh setiap masyarakat yang beragam di Indonesia. Tayangan kearifan lokal juga harus ditingkatkan kualitasnya agar dalam generasi-generasi selanjutnya pada masyarakat kita tidak terbentuk dalam budaya media dengan beberapa bentuk program hiburan yang kurang mendidik. Masyarakat perlu tahu identitas dirinya sendiri, dan tidak hanya berlandaskan pada gaya hidup Ibu Kota yang biasa dihidangkan oleh media, sehingga membentuk identitas baru pada setiap individu di masyarakat.

Media sudah seharusnya memberikan informasi, menghibur, serta mendidik penikmat tayangannya. Artinya media juga punya peran aktif dalam membentuk kualitas generasi bangsa. Maka dari itu, penulis mengharapkan kepada setiap media dapat terus menayangkan sisi kearifan lokal yang bisa menimbulkan kecintaan masyarakat terhadap identitasnya sendiri. Menggerakan masyarakat untuk tetap melestarikan bentuk-bentuk kearifan lokal yang terjadi di lingkungan daerahnya dan tidak berusaha mengganti pola kehidupan yang tidak

sesuai dengan lingkungannya. Penulis sangat mengharapkan program Indonesia Bagus dapat menambah durasi tayangannya, dan mengemas lebih baik bentuk tayangan kearifan lokal tersebut, sebab rating tayangannya yang juga belum terlalu tinggi dibanding dengan bentuk program serupa di media televisi lainnya.