ANATTALAKKHAöA SUTTA Bagian Keenam
KETIDAK-KEKALAN AKTIVITAS-AKTIVITAS KEHENDAK
“Sa³khæra niccæ væ aniccæ væti; aniccæ bhante. Yam panæ niccam dukkham væ tam sukham væti; dukkham bhante. Yam panæ niccam dukkham viparinþmadhammam kællam nu tam samanupassitum ‘etam mama eso h’amasmi eso me attæti; no hi’etam bhante.”
“Apakah saïkhàra, aktivitas-aktivitas kehendak, kekal atau tidak kekal? Tanya Sang Bhagavà. “Tidak kekal, Bhagavà.”
Saïkhàra adalah motivasi kehendak yang bertanggung jawab atas tindakan-tindakan fisik, ucapan dan pikiran. Dalam pengertian abstrak, ada lima puluh jenis kelompok batin yang dipimpin oleh cetanà, kehendak, yang telah kita bahas sebelumnya, saïkhàra, aktivitas-aktivitas kehendak, mencakup bidang yang luas. Kekuatan motivasi di belakang semua tindakan fisik seperti berjalan, berdiri, duduk, berbaring, membungkuk, meregang, bergerak adalah saïkhàra; tindakan ucapan juga disebabkan oleh alat saïkhàra yang sama – Kita sekarang sedang berbicara karena didorong oleh saïkhàra,
selagi berbicara dan membaca, setiap kata yang diucapkan didahului oleh saïkhàra. Adalah saïkhàra juga yang berada di belakang setiap pikiran dan khayalan.
Orang-orang biasa menganggap bahwa semua tindakan (fisik, ucapan dan pikiran) dilakukan oleh ‘aku, diri’ dan diri ini, si pelaku, dipercaya sebagai kekal, permanen. Tetapi Yogã yang penuh perhatian mengamati naik dan turunnya perut mencatat segala aktivitas pikiran segera pada saat munculnya. Cetanà, kehendak yang disertai dengan lobha, keinginan terlihat oleh Yogã sebagai yang membangkitkan keinginan dan mendorong untuk mengejar apa yang diinginkan. Yogã mencatat aktivitas pikiran ini sebagai menyukai, menginginkan. Disertai dengan
harus dicatat sebagai ‘marah, gusar’. Ketika dipimpin oleh kebodohan, moha, pikiran-pikiran buruk terpikirkan; pikiran- pikiran ini harus dicatat. Ketika disertai dengan keangkuhan, atau ego, seseorang menjadi pongah dengan egonya dan harus melepaskannya dengan cara mencatat, ‘angkuh, angkuh.’ Ketika disertai dengan iri-hati, cemburu, kikir, ia menjadi berwujud keiri-hatian dan kekikiran dan itu harus dicatat demikian.
Ketika kehendak muncul disertai dengan keyakinan, pengabdian pada Buddha, Dhamma dan Sangha. Mendorong seseorang untuk memberikan penghormatan kepada Tiratana. Pikiran-pikiran ini dicatat pada saat munculnya sebagai pengabdian, dan seterusnya. Akusala mengarah pada akibat-akibat buruk. Cetanà akan muncul, mencegah seseorang darinya, menghalanginya; Kusala mengarah pada akibat-akibat baik; Cetanà akan muncul dalam diri seseorang untuk mempraktikkannya. Dengan cara yang sama, kehendak dapat muncul dalam banyak cara dan harus dicatat demikian. Ia dapat muncul disertai dengan perhatian, kewaspadaan akan kenyataan pada waktu-waktu tertentu, tindakan baik demikian akan dilakukan. Ia dapat muncul dalam berbagai cara dan sikap batin pada saat-saat itu juga harus dicatat. Dengan metta, cinta-kasih muncul bersama kehendak, di sana muncul perasaan cinta kasih kepada makhluk-makhluk lain, memikirkan cara untuk membahagiakan mereka. Dengan belas-kasihan, kehendak muncul mengasihani makhluk- makhluk lain dan memikirkan bagaimana menolong mereka keluar dari penderitaan. Semua sikap batin ini harus dicatat dengan saksama.
Sewaktu mencatat naik dan turunnya perut, jika ada perasaan kaku atau panas muncul, perasaan itu harus dicatat juga. Sewaktu dicatat, akan muncul pikiran dan dorongan untuk membungkuk, meregang dan mengubah posisi. Ini harus dicatat juga. Kemudian ada dorongan untuk menurunkan atau
mengangkat kepala, bergerak ke depan atau ke belakang, dan sebagainya, bangkit dan berjalan. Ini adalah aktivitas-aktivitas fisik yang dikondisikan dan dikehendaki oleh kehendak dan semuanya itu dicatat.
Kemudian ada dorongan kehendak sehubungan dengan aktivitas-aktivitas ucapan, mendorong dan mengarahkan apa yang harus diucapkan dan bagaimana mengucapkannya, seperti halnya saat ini ketika saya mengucapkan hal-hal yang dikehendaki oleh kehendak. Yogã yang mengamati aktivitas- aktivitas kehendak ini mengetahui dengan pengalaman pribadi bahwa aktivitas-aktivitas muncul dan lenyap dengan cepat dan oleh karena itu, tidak kekal. Dan Kelompok Lima Bhikkhu menjadi Sotàpana melalui pengetahuan mereka sendiri atas sifat ketidak-kekalan. Sewaktu mendengarkan Khotbah Anattalakkhaõa Sutta, mereka melihat lagi sifat ketidak-kekalan dengan melihat muncul dan lenyapnya
saïkhàra seperti phassa, cetanà manasikàra, saddhà, sati, dan sebagainya. Demikianlah atas pertanyaan “Apakah saïkhàra
kekal atau tidak kekal?” mereka menjawab “Tidak kekal, Bhagavà”.
“Selanjutnya, apakah yang tidak kekal itu dukkha atau sukha?” – “Dukkha, Bhagavà.”
“Apa yang tidak kekal, penuh penderitaan dan mengalami perubahan – apakah layak menganggapnya sebagai ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku?” “Tidak layak, Bhagavà.”
Ini adalah jenis pertanyaan dan jawaban yang sama seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Kita hanya perlu mengetahui bagaimana saïkhàra dapat dilekati dengan kesombongan dan pandangan keliru dan bagaimana terbebas dari kemelekatan- kemelekatan ini.
råpa, nàma pada saat munculnya, percaya bahwa aktivitas- aktivitas kehendak yang dipimpin oleh cetanà adalah baik, menyenangkan dan mereka gembira di dalamnya. Ini adalah kemelekatan dengan keserakahan. Berpikir bahwa aktivitas- aktivitas ini adalah miliknya untuk dilakukan, bahwa ia dapat melakukan lebih baik dari orang lain adalah kemelekatan dengan kesombongan. Berpikir bahwa aktivitas-aktivitas seperti berjalan, berhenti, duduk, membungkuk, meregang, bergerak, dan sebagainya adalah dilakukan olehku, “Aku melakukan, adalah aku yang melakukan perbuatan itu; aku bicara, adalah aku yang berbicara; aku berpikir, adalah aku yang berpikir; aku melihat, mendengar, adalah aku yang melihat, mendengar, dan sebagainya”. Ini adalah kemelekatan dengan pandangan keliru; karena kemelekatan itu ada dalam diri si pelaku, maka disebut sebagai kemelekatan Kàraka Atta. Mempercayai bahwa semua perbuatan, fisik, ucapan dan pikiran dilakukan oleh diri adalah kemelekatan Kàraka Atta. Mempercayai bahwa diri berada dalam seseorang secara permanen adalah kemelekatan Nivàsi Atta. Diri ini yang berada secara permanen di dalam seseorang berjalan kapanpun ia menginginkan, berdiri, duduk, membungkuk, meregang, berbicara, berpikir kapanpun ia menginginkan, kapanpun ia menghendaki, dan menuruti kendali seseorang. Mempercayai demikian disebut kemelekatan Sàmi Atta.
Yogã yang senantiasa mengamati fenomena nàma, råpa
melihat bahwa aktivitas yang muncul yaitu keinginan untuk berpikir, keinginan untuk melihat, mendengar, membungkuk, meregang, mengubah posisi, bangkit, berbicara, lenyap dengan segera setelah dicatat; oleh karena itu, semua aktivitas ini, yang muncul dan lenyap terus-menerus adalah tidak kekal. Konsekuensinya, semua itu adalah tidak menyenangkan, tidak dapat diandalkan, hanya penderitaan; demikianlah disimpulkan melalui pengetahuan pribadi. Oleh karena itu, ia menyadari bahwa tidak ada apapun untuk dilekati sebagai “Ini milikku,” dibanggakan sebagai “Ini aku”, dan
mempercayai bahwa “Ini diriku”. Kelompok Lima Bhikkhu telah menyadari dengan cara serupa dan menjadi Sotàpana. Sewaktu mendengarkan khotbah ini juga, mereka melihat aktivitas-aktivitas kehendak muncul dan lenyap. Oleh karena itu mereka menjawab pertanyaan Sang Bhagavà bahwa adalah tidak layak menganggap apa yang tidak kekal, penuh penderitaan dan mengalami perubahan sebagai “Ini milikku, ini aku, ini diriku.”
Sekarang kami akan mengajukan pertanyaan sehubungan dengan saõkhàra; kalian boleh menjawab sesuai dengan apa yang kalian anggap benar.
Apakah usaha untuk melakukan kekal atau tidak kekal? 1.
(Tidak kekal, Bhante); apakah pikiran untuk melakukan kekal atau tidak kekal? (Tidak kekal, Bhante); apakah keinginan untuk membungkuk, meregang, mengubah posisi, bangkit, berjalan, mengangkat kaki, melangkah, menurunkan kaki, kekal atau tidak kekal? (Tidak kekal, Bhante); apakah keinginan untuk berbalik, berdiri, duduk, kekal atau tidak kekal? (Tidak kekal, Bhante); apakah keinginan untuk melihat, berbicara, makan, mengunyah, kekal atau tidak kekal? (Tidak kekal, Bhante).
Apa yang tidak kekal, apakah menyenangkan atau 2.
tidak menyenangkan? Baik atau tidak baik? (Tidak menyenangkan, Bhante; Tidak baik, Bhante).
Apa yang tidak kekal, penuh penderitaan, mengalami 3.
perubahan, apakah tepat untuk bergembira di dalamnya dan menganggapnya sebagai ‘Ini milikku?’ (Tidak tepat, Bhante); membanggakannya sebagai ‘ini aku?’ (Tidak tepat, Bhante); melekat padanya sebagai ‘Ini diriku?’ (Tidak tepat, Bhante).
kemelekatan terhadap saïkhàra dan keangkuhan ‘Ini gagasanku’, ‘Aku dapat memikirkannya’; dan bagi orang- orang biasa untuk mencegah kemelekatan terhadap saïkhàra
dengan pandangan keliru akan diri.
Penjelasan ini seharusnya cukup mengenai saïkhàra. Sekarang kami akan melanjutkan dengan penjelasan vi¤¤àõa .
KETIDAK-KEKALAN VI¥¥âöA, KESADARAN “Viññæ¼am niccam væ aniccæ væti, aniccam bhante. Yam panæ niccam dukkham væ tam sukham væti. Dukkham bhante. Yam panæ niccam dukkham viparinæma dhammam kallam nu tam sammanupassitum etam mama eso h’amasmi eso me attæti no h’etam Bhante.”
“Apakah pikiran, kesadaran kekal atau tidak kekal?” Tanya Sang Bhagavà. Para bhikkhu menjawab, “Tidak kekal, Bhagavà.”
Vi¤¤àõa adalah pikiran atau kesadaran; istilah kesadaran tidak lazim digunakan seperti halnya penggunaan pikiran. Bahkan faktor-faktor batin seperti cetàna, lobha dan dosa dibicarakan hanya sebagai pikiran, karena pikiran memainkan peran penting. Kita juga akan sering menggunakan pikiran daripada kesadaran pada bab ini.
Mereka yang tidak mampu mengamati dan mencatat batin pada saat munculnya membayangkan bahwa pikiran adalah kekal, berpikir bahwa itu adalah pikiran yang sama yang sadar pada saat melihat, mendengar, mencium, mengecap, berpikir; pikiran yang sama yang melihat selama waktu yang lama, mendengar, mencium, dan sebagainya selama waktu yang lama; pikiran yang sama yang ada sejak masih muda, masih ada; akan terus ada hingga mati. Sepanjang satu kehidupan, pikiran yang sama yang sudah bekerja. Beberapa orang
bahkan menganut kepercayaan bahwa itu adalah pikiran yang sama yang berlanjut pada kehidupan selanjutnya. Ini adalah bagaimana pikiran dianggap sebagai kekal dan bertahan lama.
Ketika Yogã yang mengamati fenomena nàma, råpa sewaktu mencatat naik dan turunnya perut, memperhatikan munculnya suatu gagasan atau pikiran, ia segera mencatatnya sebagai ‘gagasan’, ‘pikiran’. Ketika dicatat demikian, gagasan atau pikiran lenyap. Demikianlah Yogã menyadari bahwa ‘pikiran tidak ada sebelumnya; ia muncul saat ini dan lenyap seketika. Kita telah membayangkan bahwa pikiran itu kekal karena kita tidak penuh perhatian mengamatinya sebelumnya; sekarang setelah kita mengamatinya; kita melihat bahwa ia lenyap dengan cepat. Sekarang kita mengetahui dengan sesungguhnya sifat ketidak-kekalannya.”
Ketika mendengarkan juga, jika dicatat ‘mendengar, mendengar’, ia akan terus-menerus muncul, lenyap, muncul, lenyap, dengan cepat. Hal yang sama berlaku pada kesadaran mencium, mengecap. Kesadaran sentuhan yang muncul di dalam tubuh tercatat muncul dan lenyap dengan cepat, di sana-sini, di seluruh tubuh. Ketika konsentrasi menjadi sangat kuat, tindakan melihat teramati sebagai terjadi dan lenyap dalam serangkaian peristiwa terpisah namun sambung- menyambung satu demi satu. Demikianlah disadari bahwa kesadaran berpikir, mendengar, menyentuh, melihat, dan sebagainya muncul secara terpisah dan lenyap satu demi satu, semuanya tidak kekal, tidak stabil.
Pikiran yang ingin membungkuk, mengubah posisi, bangkit, berjalan, dan sebagainya, memperbarui dirinya dan memudar dengan cepat. Pikiran yang mencatat tiap-tiap fenomena juga lenyap pada setiap pencatatan. Demikianlah, pikiran yang sadar terhadap berbagai subyek muncul dan lenyap terus-menerus dan oleh karena itu tidak kekal. Kelompok
Lima Bhikkhu telah menyadari hal yang sama dan telah menjadi Sotàpana. Dan sewaktu mendengarkan khotbah Anattalakkhana Sutta ini, mereka melihat lagi sifat ketidak- kekalan dengan melihat muncul dan lenyapnya kesadaran terus-menerus seperti kesadaran mata, kesadaran telinga, kesadaran sentuhan, kesadaran pikiran, dan seterusnya. Oleh karena itu, terhadap pertanyaan dari Sang Bhagavà, “Apakah kesadaran, kekal atau tidak kekal,” mereka menjawab, ‘Tidak kekal, Bhagavà.’ Bagi Yogã yang selalu mengamati, ini tentu saja sangat jelas.
“Selanjutnya, apa yang tidak kekal, apakah dukkha atau sukha?” Tanya Sang Bhagavà. ‘Dukkha, Bhagavà.’
“Apa yang tidak kekal, penderitaan, dan mengalami perubahan apakah tepat dianggap sebagai ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku’?” ‘Tidak tepat, Bhagavà.’
Ini adalah jenis yang sama dari pertanyaan dan jawaban seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Kita telah mengetahui bagaimana berpikir, mengetahui pikiran dapat secara keliru dilekati dengan keserakahan, kesombongan dan pandangan keliru dan bagaimana terbebas dari kemelekatan-kemelekatan ini.
Orang-orang biasa yang tidak mampu mencatat pikiran saat muncul di enam pintu pada setiap kejadian melihat, mendengar, menyentuh, mengenali, bergembira di dalamnya sebagai “Ini milikku, ini aku.” Mereka gembira dengan pikiran yang terwujud pada saat ini; mereka gembira dengan pikiran yang telah muncul sebelumnya dan mereka ingin menikmati pikiran gembira demikian di masa depan. Ini adalah kemelekatan dengan keserakahan. Yogã yang terus- menerus mencatat setiap fenomena melihat bahwa kesadaran sehubungan dengan pemandangan indah atau suara yang berhubungan dengan kegembiraan, kebahagiaan, semuanya
lenyap bahkan pada saat ia sedang mencatatnya. Oleh karena itu, ia tidak bergembira di dalamnya, tidak merindukannya. Demikianlah seseorang membebaskan diri dari kemelekatan dengan keserakahan.
Orang-orang biasa yang tidak mampu mencatat pikiran tidak mampu membedakan pikiran sebelumnya dengan pikiran berikutnya. Mereka menganggap bahwa pikiran di masa lalu masih terus ada sebagai satu kesatuan pikiran yang kekal. Pikiran yang ada sebelumnya tetap melihat, mendengar, menyentuh, berpikir, dan seterusnya. Meyakininya sebagai kekal dan memiliki kualitas-kualitas khusus, kesombongan berkembang, ‘Aku mengetahui dengan cara ini, aku tidak akan menerima omong-kosong apapun, aku memiliki pikiran yang berani.’ Ini adalah kemelekatan dengan keangkuhan. Akan tetapi Yogã yang mengamati mengetahui bahwa semua kesadaran melihat, mendengar, menyentuh, dan seterusnya ini, terus-menerus lenyap sewaktu sedang dicatat. Ia mengetahui sifat ketidak-kekalannya. Dengan cara yang sama, tidak ada kesombongan yang muncul dalam seseorang yang mengetahui bahwa ia akan segera mati. Tidak ada kesombongan yang dikembangkan oleh Yogã sehubungan dengan pikirannya. Ini adalah bagaimana membebaskan diri dari kemelekatan dengan kesombongan.
Orang-orang biasa percaya ‘Adalah aku yang melihat, mendengar, mencium, menyentuh, berpikir; aku dapat mengetahui berbagai obyek; aku ingin membungkuk, meregang, berjalan, berbicara, berpikir, semua perbuatan dilakukan oleh pikiranku, oleh diriku.’ Ini adalah kemelekatan
Kàraka atta.
“Mempercayai semua perbuatan, fisik, ucapan dan pikiran dilakukan oleh diri adalah kemelekatan Kàraka atta.”
dikelompokkan dalam saïkhàra, tetapi juga berhubungan dengan pikiran. Umumnya keinginan untuk membungkuk, meregang, berjalan, berbicara, biasanya dijelaskan sebagai pikiran. Oleh karena itu keinginan untuk melakukan suatu perbuatan dikelompokkan dalam pikiran atau kesadaran. ‘Pikiran atau kesadaran ini ada secara permanen dalam diri seseorang, adalah diri ini yang sadar dalam melihat, mendengar, dan sebagainya.’ Mempercayai demikian adalah kemelekatan Nivàsã atta.
“Mempercayai bahwa ada diri yang kekal dalam seseorang adalah kemelekatan Nivàsã atta.”
Pada zaman modern ini beberapa agama menyebutkan tentang suatu kesadaran atau jiwa yang secara permanen berdiam dalam tubuh seseorang. Menurut beberapa dari mereka, ketika seseorang mati, jiwa itu meninggalkan tubuh yang mati itu dan pindah ke tubuh yang baru. Pada masa Sang Buddha, seorang Bhikkhu bernama Sàti, menganggap kesadaran sebagai diri. Kisah bhikkhu Sàti telah diceritakan pada Bagian Empat khotbah ini. Ini adalah pandangan keliru yang menganggap kesadaran sebagai diri.
Kemudian ada kepercayaan bahwa seseorang dapat memikirkan apa yang ia inginkan; seseorang dapat mengendalikan pikirannya sesuai keinginannya. Ini adalah kemelekatan Sàmi atta.
“Mempercayai ada suatu diri dalam tubuh yang menuruti keinginan seseorang adalah kemelekatan Sàmi atta.”
Bagi Yogi yang terus-menerus mencatat, bahkan selagi mencatat, ‘berpikir, berpikir’, pikiran yang berpikir lenyap; mencatat ‘mendengar, mendengar’, kesadaran mendengar lenyap; mencatat ‘menyentuh, menyentuh’, kesadaran menyentuh lenyap; mencatat ‘melihat, melihat’, kesadaran
melihat lenyap. Demikianlah lenyapnya kesadaran bahkan selagi mencatat, penembusan muncul bahwa “berbagai kesadaran ini yang berhubungan dengan berpikir, mendengar, menyentuh, melihat, mencatat dan sebagainya hanyalah fenomena yang muncul dikondisikan oleh sebab-sebabnya sendiri dan kemudian lenyap. Semua itu bukanlah diri, entitas hidup.”
Penembusan datang dengan cara ini. Selaras dengan ‘cakkhum ca paticca rþpe ca uppajjati cakkhu viññæ¼am’, kesadaran mata muncul karena ada mata dan bentuk terlihat; kesadaran telinga muncul karena ada telinga dan suara-suara; kesadaran sentuhan muncul karena ada badan dan badan sensitif; ada kesadaran pikiran karena ada landasan pikiran (bhavaïga dan berpikir) dan obyek pikiran; kesadaran mencatat karena ada kehendak (untuk mencatat) dan obyek pencatatan. Semua itu muncul karena sebab dan kondisinya masing-masing. Ketika ada sebab-sebab yang mengkondisikan ini, hal-hal tersebut muncul dan lenyap, apakah kita menginginkannya terjadi atau tidak. Dengan tidak adanya sebab-sebab yang mengkondisikan ini, tidak akan ada keinginan yang dapat memunculkannya. Pikiran yang menyenangkan, kita menginginkannya bertahan lama, namun tidak akan bertahan, ia berlalu dengan cepat. Demikianlah Yogã dapat memutuskan dengan pengetahuannya sendiri bahwa ‘Kesadaran adalah bukan diri, yang melakukan aktivitas-aktivitas, yang kekal dan menuruti kendali dan keinginan seseorang. Ia muncul menuruti sebab-sebab yang mengkondisikannya dan lenyap sebagai hanya sekedar fenomena. Pengetahuan dari Kelompok Lima Bhikkhu tentang fenomena ini bukanlah pengetahuan biasa; itu adalah pandangan terang dari Sotàpattimagga ¤àõa, yang sepenuhnya bebas dari kemelekatan. Demikianlah ketika ditanya oleh Sang Bhagavà, ‘Kesadaran yang tidak kekal, penuh penderitaan dan mengalami perubahan, apakah layak dianggap sebagai ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku,’ mereka menjawab, ‘Tidak layak,
Kami juga akan mengajukan pertanyaan yang sama, kalian boleh menjawab dengan apa yang kalian anggap benar:
Apakah pikiran kekal atau tidak kekal? (Tidak kekal, 1.
Bhante); Ketika mengamati naik dan turunnya perut sebuah pikiran muncul; apakah pikiran itu kekal atau tidak kekal? (Tidak kekal, Bhante); Ketika duduk dalam waktu yang lama, perasaan panas muncul. Sewaktu mencatatnya sebagai ‘panas, panas’, keinginan muncul untuk mengubah posisi. Ketika dicatat, ia lenyap, benarkah? (Benar, Bhante); Oleh karena itu apakah itu kekal atau tidak kekal? (Tidak kekal, Bhante). Ketika merasa kaku, kalian mencatatnya sebagai ‘kaku, kaku’, kemudian keinginan muncul untuk mengubah posisi. Ketika dicatat, ia lenyap, benarkah? (Benar, Bhante); Oleh karena itu apakah itu kekal atau tidak kekal? (Tidak kekal, Bhante). Ketika kalian ingin membungkuk, kalian mencatatnya sebagai ‘ingin membungkuk, ingin membungkuk’ dan keinginan itu lenyap. Apakah itu kekal atau tidak kekal? (Tidak kekal, Bhante). Ada keinginan untuk meregang, ketika dicatat, ia lenyap. Apakah itu kekal atau tidak kekal? (Tidak kekal, Bhante). Sekali lagi, keinginan untuk bangkit, berjalan; ketika dicatat, ia lenyap. Apakah itu kekal atau tidak kekal? (Tidak kekal, Bhante).
Apapun yang dicatat, pikiran yang mencatat lenyap bahkan pada saat mencatat. Apakah pikiran yang mencatat kekal atau tidak kekal? (Tidak kekal, Bhante). Kesadaran mendengar ketika dicatat sebagai ‘mendengar, mendengar’ lenyap; apakah kesadaran mendengar itu kekal atau tidak kekal? (Tidak kekal, Bhante). Kesadaran menyentuh ketika dicatat sebagai ‘menyentuh, menyentuh’ lenyap; apakah kesadaran menyentuh itu kekal atau tidak kekal? (Tidak kekal, Bhante). Kesadaran mata, apakah itu kekal atau tidak kekal? (Tidak kekal, Bhante?) Kesadaran hidung, kesadaran lidah, apakah itu kekal atau tidak kekal? (Tidak
Apa yang tidak kekal, apakah itu penderitaan atau 2.
kebahagiaan? (Penderitaan, Bhante). Apakah ketidak- kekalan baik atau buruk? (Buruk, Bhante).
Kalau begitu apakah layak menganggap kesadaran yang 3.
tidak kekal, penuh penderitaan dan mengalami perubahan, sebagai ‘Ini milikku’ dan bergembira di dalamnya? (Tidak, Bhante); sebagai ‘Ini aku’ dan bangga karenanya atau sebagai ‘Ini diriku’ dan secara keliru melekat padanya? (Tidak, Bhante).
Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk mencegah kemelekatan dengan keserakahan dan kesombongan akan kesadaran yang mengenali obyek-obyek, menganggap semua itu sebagai ‘Ini pikiranku, aku mengetahui; yang berpikir dan yang melakukan adalah diriku’ dan bagi orang-orang biasa agar tidak melekat padanya dengan pandangan keliru.
Kami telah menjelaskan pertanyaan-pertanyaan dalam Ajaran yang membahas tentang kemelekatan karena keserakahan, kesombongan dan pandangan keliru sehubungan dengan lima gugus råpa, vedanà, sa¤¤à, saïkhàra dan vi¤¤àõa. Sekarang kita akan melanjutkan pada Ajaran tentang bagaimana merenungkannya untuk memperjelas ketiga jenis kemelekatan ini.
MELENYAPKAN KETIGA JENIS KEMELEKATAN