• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI ADALAH BAGAIKAN FATAMORGANA Persepsi yang mengenali obyek-obyek indria biasa (apa yang

ANATTALAKKHAöA SUTTA Bagian Keempat

PERSEPSI ADALAH BAGAIKAN FATAMORGANA Persepsi yang mengenali obyek-obyek indria biasa (apa yang

terlihat, terdengar, tersentuh atau diketahui) sebagai kenyataan diumpamakan sebagai fatamorgana. Fatamorgana adalah ilusi optis yang disebabkan oleh kondisi atmosfir seperti bayangan air atau bayangan rumah di udara panas yang muncul dari tanah di siang hari di bulan terakhir musim panas.

Demikianlah fatamorgana adalah ilusi optis. Binatang-binatang liar seperti rusa dan sebagainya berkelana di musim panas

untuk mencari air. Ketika mereka melihat air dari kejauhan, mereka bergegas ke tempat itu dan hanya menemukan tanah kering dan bukannya kolam air atau danau. Mereka telah tertipu oleh fatamorgana dan mengalami kesulitan. Bagaikan fatamorgana yang memberikan ilusi air atau rumah di mana benda-benda itu sebenarnya tidak ada, demikian pula sa¤¤à membuat orang-orang menganggap bahwa apa yang dilihat, didengar, disentuh atau dikenali sebagai manusia, pria, wanita, dan sebagainya. Dengan persepsi ilusi dari apa yang dilihat, didengar, disentuh atau dikenali, orang-orang terlibat dalam banyak aktivitas sehubungan dengan mereka, bagaikan rusa di hutan belantara yang mengejar fatamorgana di tempat yang jauh karena menganggapnya sebagai air.

Untuk memahami bahwa persepsi adalah ilusi dan untuk menyelamatkan diri dari penderitaan karena mengejar obyek- obyek yang tidak ada, seseorang harus mencatat dengan penuh kewaspadaan semua fenomena jasmani dan batin pada saat kemunculannya. Ketika konsentrasi menjadi kokoh, terlihat bahwa dalam setiap fenomena hanya ada obyek materi yang dikenali dan batin yang mengetahuinya; kelak akan diketahui bahwa masing-masing fenomena adalah peristiwa yang saling berhubungan dari sebab dan akibat. Akhirnya dialami secara pribadi bahwa batin yang mengetahui serta obyek yang diketahui terus-menerus lenyap; lenyap selagi dicatat.

Demikianlah apa yang sebelumnya dianggap sebagai sa¤¤à adalah kekal dan bertahan lama, suatu individu, makhluk, pria, wanita, diri, sekarang terlihat sebagai suatu tipuan oleh sa¤¤à yang menciptakan ilusi optis seperti fatamorgana. Dalam kenyataannya, Yogī memahami bahwa itu hanyalah fenomena muncul dan lenyap yang terjadi terus-menerus, dari sifat anicca, dukkha dan anatta.

Sa¤¤à adalah bagaikan fatamorgana, Tidak stabil, tidak kekal;

Terus-menerus muncul, lenyap Ini adalah penderitaan, tanpa diri.

SAðKHâRA ADALAH BAGAIKAN BATANG PISANG Aktivitas-aktivitas kehendak adalah bagaikan batang pohon pisang. Batang pohon pisang terlihat seperti batang-batang pohon biasa, yang padat, dan berinti kayu keras. Tetapi jika batang pisang itu ditebang dan diperiksa, akan terlihat bahwa batang itu terbuat dari materi berserat yang berlapis-lapis tanpa memiliki inti, tidak ada inti yang padat. Saïkhàra adalah bagaikan batang pohon pisang, hampa dari inti. Terdiri dari lima puluh jenis pendamping batin yang dipimpin oleh cetanà, kehendak. Anggota yang paling menonjol dari kelompok ini adalah phassa, kontak dengan obyek; yang memperhatikan obyek, manasikàra; ekaggatà, keterpusatan pikiran; vitakka, pikiran yang mengembara atau awal pikiran;

vicàra, penyelidikan atau kelangsungan pikiran; viriya, usaha;

loba, keserakahan; dosa, kebencian; moha, kebodohan; màna, kesombongan; diññhi, pandangan salah; vicikicchà, keragu- raguan; aloba, ketidak-serakahan; adosa, ketidak-bencian; amoha,

ketidak-bodohan; saddhà, keyakinan; sati, perhatian; mettà, cinta kasih; karunà, belas kasihan; mudità, kegembiraan simpatik, dan seterusnya, semua adalah pendamping-pendamping batin yang membentuk saïkhàra. Cetanà bertanggung jawab atas semua aktivitas kehendak (jasmani, ucapan dan pikiran) adalah pemimpinnya. Saïkhàra dhamma ini yang berjumlah sangat banyak dan terlibat dalam segala aktivitas (jasmani, ucapan dan pikiran) adalah sangat menonjol. Demikianlah

saïkhàra terutama bertanggung jawab atas kemelekatan atta

bahwa adalah aku, diri, yang melakukan semua aktivitas ini.

Saïkhàra terlihat seperti memiliki inti yang padat. Tetapi dalam kenyataannya, saïkhàra adalah hampa dari inti yang

berguna, inti yang padat. Yogī dapat melihat dalam kenyataan dengan terus-menerus mencatat fenomena nàma dan råpa. Yogī yang terus-menerus mencatat sewaktu berjalan sebagai ‘berjalan, berjalan’, ‘angkat, melangkah, turun’, akan melihat munculnya keinginan untuk berjalan, ketika konsentrasi telah menjadi lebih kokoh. Keinginan untuk berjalan ini juga diamati hingga lenyap dan munculnya. Walaupun keinginan untuk berjalan biasanya dijelaskan sebagai ‘pikiran untuk berjalan’, ini sebenarnya adalah saïkhàra yang dituntun oleh

cetanà, kehendak. Ini adalah aktivitas kehendak yang dipimpin oleh cetanà, yang mendorong tindakan berjalan. Didesak oleh

cetanà, tindakan berjalan, yang melibatkan mengangkat kaki, melangkah, menurunkan kaki terlaksana.

Sebelum pengetahuan demikian tercapai, ada gagasan bahwa adalah aku yang ingin berjalan; aku berjalan karena aku ingin berjalan, suatu kemelekatan atta. Sekarang keinginan untuk berjalan itu terlihat lenyap, pengetahuan muncul bahwa tidak ada diri, hanya suatu fenomena. Keinginan untuk membungkuk, merentang, bergerak, mengubah juga terlihat dalam cahaya sejati ini. Sebagai tambahan, usaha yang dikerahkan untuk memenuhi keinginan untuk memandang, keinginan untuk melihat adalah juga saïkhàra

yang menampakkan dirinya sesaat dan lenyap seketika. Oleh karena itu dipahami, bahwa mereka adalah hampa dari inti, bukan Diri, hanya fenomena, yang segera lenyap. Demikian pula, sehubungan dengan keinginan untuk mendengar dan usaha yang dikerahkan untuk mendengar dalam memenuhi keinginan untuk mendengar.

Lebih jauh lagi terlihat bahwa berpikir, vitakka; menyelidiki,

vicarà, dan usaha, viriya, ketika dicatat saat munculnya, seketika lenyap. Dengan demikian hal-hal itu juga hampa dari inti, bukan diri, hanya sekedar fenomena. Ketika loba, dosa

muncul, hal-hal ini dicatat sebagai ‘menginginkan, menyukai, marah’ dan segera hal-hal ini lenyap membuktikan fakta

bahwa hal-hal ini juga bukan diri, tidak memiliki inti atau inti yang padat. Ketika saddha, mettà, karunà muncul, hal- hal ini dicatat sebagai memiliki keyakinan, mengharapkan kesejahteraan, mengharapkan kebahagiaan, memiliki belas kasihan, dan seterusnya. Kemudian hal-hal ini lenyap seketika. Oleh karena itu, mereka terbuat dari sesuatu yang hampa dari inti, bukan Diri. Pengetahuan analitis ini memberikan fakta bahwa saïkhàra adalah bagaikan batang pohon pisang, yang mengungkapkan bahwa tidak ada inti yang padat, ketika ditebang dan diperiksa selapis demi selapis.

Saïkhàra adalah bagaikan batang pohon pisang, Tidak stabil, tidak kekal;

Terus-menerus muncul, lenyap Ini adalah penderitaan, tanpa diri.

KESADARAN ADALAH BAGAIKAN TIPUAN SULAP