PEMERINTAH PUSAT
NO NAMA WAKIL PENDIDIKAN
3. Kewenangan Khusus
Menurut Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 yang dimaksud dengan kewenangan khusus adalah kewenangan yang hanya terdapat dalam undang-undang tersebut yang pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan perdasus atau perdasi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001, terdapat 6 (enam) kewenangan khusus yang harus dipenuhi pemerintah provinsi dalam pelaksanaan otonomi khusus yaitu perekonomian, pendidikan dan kebudayaan, kesehatan, kependudukan dan ketenagakerjaan, lingkungan hidup dan sosial. Sementara pada implementasinya di kabupaten/kota berdasarkan Rancangan Peraturan Daerah Khusus Provinsi Papua Nomor 1 Tahun 2007 tentang Pembagian dan Pengelolaan Penerimaan dalam rangka Pelaksanaan Otonomi Khusus Papua diarahkan kepada 4 (empat) bidang yaitu pendidikan, kesehatan dan gizi, ekonomi kerakyatan dan infrastruktur kampung.
Seperti telah dikemukakan dimuka, walaupun masih dalam bentuk rancangan, ternyata peraturan ini telah baku diimplementasikan di setiap kabupaten/kota.
Gambaran pelaksanaan kewenangan khusus sendiri di Provinsi Papua dan Papua Barat dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Perekonomian
Pasal 38, Pasal 39 sampai dengan Pasal 42 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001, secara khusus mengatur aspek perekonomian. Perekonomian Provinsi Papua secara umum diarahkan dan diupayakan untuk menciptakan sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan seluruh rakyat Papua, dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip keadilan dan pemerataan. Di samping itu, usaha-usaha perekonomian di Provinsi Papua yang memanfaatkan sumber daya alam dilakukan dengan tetap menghormati hak-hak masyarakat adat, memberikan jaminan kepastian hukum bagi pengusaha, serta prinsip-prinsip pelestarian lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.
Adapun pengembangan ekonomi kerakyatan dan penghormatan hak-hak masyarakat adat dalam pemanfaatan sumber daya alam mendapat penekanan khusus dalam kebijakan otonomi khusus ini. Pada Pasal 42 ayat 1, diamanatkan bahwa pembangunan perekonomian berbasis kerakyatan dilaksanakan dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat adat dan/atau masyarakat setempat. Pelaku usaha mendapat kesempatan melakukan investasi dengan melibatkan masyarakat adat.
Provinsi Papua memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah dan bila dikelola secara benar dan baik, dapat menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat. Namun pengelolaan hasil kekayaan alam Provinsi Papua belum digunakan secara optimal untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat khususnya orang asli Papua. Untuk mewujudkannya kemandirian ekonomi rakyat Papua, khususnya orang asli Papua, yang berorientasi pasar sebagai bagian dari perekonomian nasional regional dan global, perlu mengoptimalkan pelaksanaan pembangunan ekonomi rakyat di Provinsi Papua.
Atas pertimbangan tersebut, Pemerintah Provinsi Papua menerbitkan Perdasus Provinsi Papua Nomor 18 Tahun 2008 tentang Perekonomian Berbasis Kerakyatan. Perekonomian berbasis kerakyatan menurut perdasus tersebut adalah sistem pembangunan ekonomi rakyat, khususnya ekonomi orang asli Papua. Sementara kegiatan usaha ekonomi berbasis kerakyatan adalah segala usaha ekonomi yang dikelola secara sadar oleh perorangan, kelompok dan badan usaha baik skala kecil, menengah dan besar yang berorientasi dari, oleh dan untuk rakyat. Peraturan Daerah ini memuat penerapan kebijakan affirmatif terhadap orang asli Papua, penciptaan dan perluasan pasar, penyediaan modal, pembinaan dan pendampingan, dan pengembangan budaya kewirausahaan. Substansi terkait ekonomi kerakyatan yang diatur dalam perdasus tersebut terangkum dalam tabel berikut.
Tabel 4.12
Substansi Tentang Ekonomi Kerakyatan dalam Perdasus Provinsi Papua Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Perekonomian Berbasis Kerakyatan
Aspek Substansi
Pemanfaatan Sumber Daya Alam
Masyarakat adat berhak mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam yang tersedia di wilayahnya, dilakukan sendiri atau bekerja sama dengan pihak lain. Bentuk-bentuk manfaat tersebut dapat berupa royalti, sewa tanah, kompensasi, dividen, bagi hasil, dana abadi, donasi, dan ganti rugi
Pemanfaatan sumberdaya alam oleh pihak lain, terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari masyarakat adat setempat melalui musyawarah
Pemanfaatan Potensi lainnya
Masyarakat adat mengelola dan memanfaatkan budaya dan adat istiadat serta obyek wisata untuk kegiatan usaha pariwisata dengan tetap mempertahankan nilai-nilai budaya adat istiadat setempat Pengembangan
ekonomi masyarakat
Pemerintah Daerah dan pelaku usaha skala besar serta organisasi dunia usaha melakukan upaya pengembangan perekonomian masyarakat dalam hal pengelolaan, produksi, pemasaran, sumberdaya manusia dan teknologi. Upaya tersebut meliputi: penguatan institusi masyarakat adat dalam pengelolaan hak ulayat untuk produksi; pemberdayaan kewirausahaan kelompok pengusaha produk lokal; penggalangan kemitraan (partnership) antara usaha besar dan menengah dengan pelaku usaha ekonomi masyarakat setempat; dan pendampingan bagi pelaku usaha ekonomi masyarakat sesuai dengan karakteristik sosial budaya setempat. Adapun cara yang dapat ditempuh melalui: peningkatan kemampuan sumberdaya manusia dan teknis produksi; peningkatan kemampuan teknologi tepat guna; dan peningkatan prasarana dan sarana produksi dan pengelolaan bahan baku, bahan penolong dan kemasan.
Kewenangan dan Tanggung Jawab
Wewenang Pemerintah Provinsi menetapkan kebijakan pengelolaan potensi daerah
Wewenang Pemerintah Daerah menetapkan kebijakan mengenai perekonomian berbasis kerakyatan dan melakukan pembinaan dan pengembangan atas pelaksanaan perekonomian berbasis kerakyatan. Wewenang pemerintah kabupaten/kota mengatur pengelolaan sumberdaya alam di wilayahnya dan pembangunan perekonomian berbasis kerakyatan sesuai potensi daerah.
Tanggung jawab Pemerintah daerah mengembangkan sistem nilai dan etos kerja yang berorientasi pada produktivitas dan efisiensi dalam rangka menunjang berkembangnya perekonomian berbasis kerakyatan, memfasilitasi musyawarah antara masyarakat adat dengan pelaku kegiatan usaha ekonomi, menyelenggarakan pelayanan perizinan yang memudahkan dan mendorong berkembangnya usaha ekonomi berbasis kerakyatan, menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk menjamin terciptanya kepastian hukum dan terselenggaranya usaha Ekonomi Berbasis Kerakyatan (EBK).
Hak dan Kewajiban
Hak setiap pelaku usaha EBK untuk melakukan kegiatan usaha untuk memperoleh pendapatan yang layak, melakukan kerjasama yang saling menguntungkan dengan pihak lain, memperoleh informasi yang diperlukan dalam pengembangan usahanya.
Aspek Substansi
manfaat dari pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam, melakukan usaha dibidang konstruksi, pengadaan barang dan jasa. Kewajiban setiap pelaku usaha ebk untuk memperhatikan adat istiadat setempat dan ketentuan peraturan perundang-undangan, mengakui dan menghormati hak-hak masyarakat adat setempat dalam pemanfaatan sumber daya alam, menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan hidup dalam pemanfaatan potensi daerah.
Kewajiban pelaku usaha ekonomi berskala besar yang beroperasi di wilayah Provinsi Papua untuk memberikan dukungan modal usaha yang disertai dengan pembinaan dan pendampingan kepada masyarakat pelaku usaha EBK.
Pelaku usaha EBK adalah perorangan, kelompok atau badan yang dikategorikan menurut skala usaha dalam berbagai sektor: primer, sekunder, dan tersier.
Keharusan pelaku usaha harus bergabung pada wadah organisasi orang asli Papua yang dibentuk oleh masyarakat adat yang ditetapkan dengan Peraturan Gubernur. Bentuk organisasi adalah koperasi peranserta masyarakat adat (Kopermas), dan berbadan hukum, kelompok usaha bersama dan kegiatan program lainnya.
Prioritas bagi masyarakat adat
Masyarakat adat memperoleh prioritas melalui usaha keberpihakan dan pemberdayaan sebelum mampu untuk bersaing secara terbuka selama 10 (sepuluh) tahun untuk melakukan kegiatan usaha ekonomi di berbagai sektor yang telah disebutkan.
Permodalan Pemerintah daerah, BUMN, BUMD, dan pelaku usaha skala besar dan sektor swasta untuk memperoleh pekerjaan dari jasa pemerintah melalui APBD Provinsi, menyediakan permodalan untuk kegiatan usaha ebk yang berasal dari penyisihan 1 % (satu persen) dari keuntungan bersih
Permodalan yang berasal dari Pemerintah Daerah bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah.
Permodalan yang berasal dari Pemerintah Provinsi sudah harus tersedia dalam anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebesar 3,5% (tiga koma lima) persen dari Dana Otonomi Khusus pada Tahun Anggaran 2009, yang setiap tahunnya apabila dianggap perlu dapat ditambah.
Permodalan yang berasal dari Pemerintah Kabupaten/Kota yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota besarnya ditetapkan sendiri.
Sumber daya alam dan hak atas tanah yang berada dalam penguasaan masyarakat yang dimanfaatkan untuk kegiatan usaha ekonomi dapat diperhitungkan sebagai modal. Penentuan nilai ekonomi didasarkan atas kesepakatan antara masyarakat pemangku hak dan pelaku usaha. Penjaminan
Kredit
Pemerintah Daerah dan lembaga-lembaga non pemerintah dapat menjadi lembaga penjamin untuk membantu usaha EBK yang tidak memiliki akses ke lembaga pembiayaan.
Pembinaan dan Pendampingan
Pemerintah Daerah, lembaga pembiayaan dan pelaku usaha skala besar melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap pelaku usaha EBK yang dilakukan secara berskala dan berkesinambungan. Pembinaan dan Pendampingan tersebut meliputi: peningkatan kualitas sumber daya manusia; pembinaan manajamen usaha;
Aspek Substansi
peningkatan ketrampilan usaha; pengembangan perilaku kewirausahaan; pemberian bantuan fasilitas dan permodalan; dan bantuan pemasaran hasil produksi.
Menurut ketentuan tersebut, masyarakat adat memperoleh prioritas melalui usaha keberpihakan dan pemberdayaan sebelum mampu untuk bersaing secara terbuka selama 10 (sepuluh) tahun untuk melakukan kegiatan usaha ekonomi di sektor usaha.
Terbitnya perdasus ini dapat dikatakan terlambat, namun secara substansial, perdasus mengenai ekonomi kerakyatan ini cukup komprehensif dan dapat dijadikan suatu kerangka pengembangan ekonomi kerakyatan. Bagaimana implementasi Perdasus tersebut, memerlukan pengkajian lebih lanjut yang lebih detail. Patut menjadi pertanyaan bagaimana implementasi kebijakan tersebut baik oleh Pemerintah Provinsi Papua maupun pemerintah kabupaten/kota di wilayah Papua. Terdapat indikasi bahwa perdasus ini belum dapat dijalankan dengan baik. Hal ini mengingat para stakeholders, khususnya di kabupaten/kota bahkan belum mengetahui keberadaan Perdasus ini.12 Hal ini berkaitan dengan bagaimana menerjemahkan kebijakan tersebut ke dalam program/kegiatan atau kebijakan lainnya secara konkrit. Ada indikasi bahwa kewenangan membangun perekonomian yang berbasis kerakyatan ini belum dihayati dengan baik sehingga ada kebingungan dalam memaknai kewenangan yang berkaitan dengan ekonomi kerakyatan. Implementasi yang terpantau saat ini baru sekedar pengalokasian dana otonomi khusus ke dalam berbagai program. Salah satu contoh yang dilakukan pemerintah kabupaten diuraikan dalam box 4 berikut:
Box 4. Implementasi Otonomi Khusus Bidang Perekonomian di Kabupaten Jayapura
12 Hal ini antara lain tercermin dari berbagai diskusi dan wawancara dengan pemerintah daerah yang menyatakan bahwa kebijakan perdasus/perdasi yang mengatur ekonomi kerakyatan ini belum tersedia. Terkesan ada kebingungan dalam memaknai kewenangan yang berkaitan dengan ekonomi kerakyatan
Di Kabupaten Jayapura, alokasi dana Otonomi Khusus untuk pemberdayaan ekonomi selama tahun 2002-2011 sangat bervariasi sebagaimana terlihat pada tabel berikut.
Alokasi dana Otonomi Khusus untuk pemberdayaan ekonomi (Milyar Rupiah) selama tahun 2002-2011 di Kabupaten Jayapura
Bidang 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Pemberdayaan
Ekonomi
6.42 3.45 2.86 1.92 1 9.2 0.20 12.09 11.82
Beberapa program utama yang dipilih pemerintah adalah gerakan wajib tanam kakao, peningkatan usaha pertanian masyarakat Papua, perikanan dan pemberdayaan usaha ekonomi perempuan Papua. Program lain yang dilakukan adalah pengembangan perikanan melalui pembangunan BBI Lokal, pakan dan bibit ikan, kolam dan penampungan hasil ikan. Selain itu terdapat pula program pengembangan produksi jeruk, pisang dan komoditas tanaman pangan lainnya. Dilakukan pula upaya pengembangan usaha peternakan rakyat berupa pembuatan ranch, pengobatan ternak, bantuan bibit sapi dan ternak lainnya.
Dengan adanya gerakan wajib tanam kakao sebagai salah satu program andalan, diharapkan pada tahun 2010 seluruh KK miskin di kabupaten Jayapura telah memiliki sumber penghasilan yang tetap dan pasti. Perkembangan 3 tahun terakhir gerakan wajib kakao, mencatat perkembangan yang positif. Tahun 2006 sejumlah 1.15 juta bibit didistribusikan bagi 490 KK. Selanjutnya pada tahun 2007, 4.1 juta bibit kakao diberikan untuk 4979 KK dan pada tahun 2008, 5 juta bibit diberikan bagi 7000 KK. Tahun 2009 terdapat 14333 KK petani dengan areal mencapai 12.234 ha, kepemilikan rata-rata 0.83 ha/KK. Adapun produksinya mencapai 5.474 ton biji kering. Pendapatan petani yg sudah berproduksi (sekitar 5124KK) berkisar antara Rp 1.6 juta-2.5 juta per bulan (dengan asumsi harga biji kakao kering Rp 18 ribu-20 rb/kg). Ilustrasi ini mengindikasikan bahwa pengalokasian dana otonomi khusus dengan pemilihan program yang sesuai yang dapat memberi nilai tambah secara langsung bagi pendapatan penduduk sebetulnya dapat mengangkat kesejahteraan masyarakat asli Papua, khususnya secara ekonomi.
Adapun program yang bersifat meningkatkan kapasitas berusaha masyarakat Papua antara lain: pengiriman peserta pelatihan manajemen usaha kecil bagi perempuan Papua Jayapura, bantuan usaha kepada pengusaha perempuan Papua. Selain itu terdapat pula program pelatihan pertukangan mubelair pengusaha asli Papua dan pelatihan anyaman bagi 7 orang di Jogjakarta. Contoh lain adalah penyuluhan dan pendampingan petani dan pelaku agribisnis sebanyak 200 orang di Kalimantan. Belum ada informasi yang jelas tentang kemanfaatan upaya peningkatan kapasitas berusaha masyarakat semacam ini. Namun perlu menjadi perhatian agar program semacam ini disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan terdapat upaya tindak lanjut agar pengetahuan dan ketrampilan yang sudah diperoleh dapat dipraktekkan dengan baik.
Catatan lain, masih dijumpai alokasi tidak sesuai untuk bidang perekonomian. Di mana kegiatan pengamanan dan perlindungan cagar alam dan pengamanan dan perlindungan kawasan penyangga cagar alam. Kegiatan semacam ini semestinya tercakup dalam sektor lingkungan. Memang diperlukan adanya sinkronisasi dan keterlibatan berbagai sektor. Namun perlu dibedakan peran yang dapat dilakukan oleh masing-masing sektor, dan menghindari adanya tumpang tindih atau sasaran yang kurang tepat.
Papua sangat kaya dengan hasil hutan. Secara ekonomi kekayaan ini juga semestinya mampu meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya orang asli Papua. Pemerintah daerah mencatat bahwa banyak suku yang menguasai areal hutan masyarakat hukum adat
yang cukup besar, dan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya masyarakat hukum adat sangat tergantung pada hutan. Namun demikian dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan hutan selama ini masyarakat hukum adat belum banyak dilibatkan.
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 menyebutkan bahwa usaha-usaha perekonomian di Provinsi Papua yang memanfaatkan sumber daya alam dilakukan dengan tetap menghormati hak-hak masyarakat hukum adat, memberikan jaminan kepastian hukum bagi pengusaha, serta prinsip-prinsip pelestarian lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan. Di samping itu usaha-usaha perekonomian di Provinsi Papua yang memanfaatkan sumberdaya alam harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan, dan pembangunan yang berkelanjutan dengan tetap menghormati hak-hak masyarakat adat, memberikan jaminan kepastian hukum bagi pengusaha. Terdapat upaya Pemerintah Provinsi Papua dalam menerjemahkan kebijakan tersebut dengan menerbitkan Perdasus Nomor 21 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Hutan Berkelanjutan di Provinsi Papua.
Salah satu aspek yang terdapat dalam perdasus tersebut adalah keberpihakan kepada masyarakat adat guna memperoleh manfaat dari pengelolaan hutan, diantaranya melalui pelaksanaan pengelolaan hutan lestari berbasis masyarakat hukum adat, dalam bentuk pemberian kesempatan kepada masyarakat hukum adat untuk mengelola hutan masyarakat hukum adat. Pemberian hak pengelolaan hutan dan pemanfaatan hasil hutan oleh masyarakat hukum adat dilakukan dalam bentuk Kesatuan Pengelolan Hutan Masyarakat Hukum Adat yang selanjutnya disebut Kesatuan Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (KPHK).
Sementara di Provinsi Papua Barat, pemerintah provinsi bahkan belum menerbitkan perdasus/perdasi yang mengatur tentang perekonomian, khususnya perekonomian berbasis kerakyatan. Namun Pemerintah Provinsi Papua Barat mencoba mengembangkan suatu grand
design terkait empat program strategis Provinsi Papua Barat. Ekonomi kerakyatan menjadi
salah satu dari program strategis dalam grand design tersebut. Selanjutnya langkah yang diambil Provinsi Papua Barat tersebut disebarkan ke seluruh kabupaten/kota di wilayah Papua Barat13. Menurut Sekretaris BP3D Papua Barat, pembangunan perekonomian Papua Barat mulai tahun 2011 diarahkan pada pembangunan ekonomi kerakyatan. Dalam konteks ini, dana Otonomi Khusus yang telah didistribusikan kepada kabupaten/kota sebesar 70%, sebagian dana tersebut dimanfaatkan untuk membangun pasar-pasar kampung dan infrastruktur kampung.
“...ke depan strategi pembangunan Papua Barat ditekankan pada pemberdayaan masyarakat (community development), salah satunya di bidang ekonomi akan diterapkan ekonomi kerakyatan pada semua bidang pembangunan untuk meningkatkan derajat
hidup yang layak bagi warga Papua Barat dan khususnya bagi orang asli yang ada di Papua Barat”.
Wacana pemerintah provinsi tersebut antara lain telah sejalan dengan upaya pemerintah Kabupaten Manokwari. Hal ini sebagaimana yang telah dilaksanakan Kabupaten Manokwari, dimana telah diprioritaskan pembangunan bidang ekonomi dengan sasaran rehabilitasi prasarana pasar dan pengembangan produktivitas pertanian dalam arti luas. Pemberdayaan ekonomi rakyat dilakukan melalui kebijakan pemberian kredit lunak dalam usaha ekonomi produktif, paket program pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui paket program bidang pertanian, perikanan, peternakan , perkebunan, perindustrian, koperasi, usaha sektor informal, dalam rangka memperkuat basis usaha ekonomi keluarga maupun yang berorientasi investasi dalam skala kecil dan menengah.
Pemerintah Kabupaten Manokwari pada tahun 2010 mengalokasikan dana sebesar Rp 3.571.137.800 untuk pengembangan ekonomi kerakyatan yang dikelola 3 SKPD. SKPD yang mengelola adalah Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan, Dinas Perikanan dan Kelautan serta Dinas Perindagkop dan UMKM. Dana diarahkan untuk menunjang peningkatan ketahanan pangan, serta pemberdayaan industri kecil, koperasi, UMKM.
Senada dengan Kabupaten Manokwari, apa yang dilakukan oleh Kabupaten Sorong Selatan menunjukkan perhatian khusus pada pembangunan ekonomi kerakyatan. Disampaikan oleh Sekda Kabupaten Sorong Selatan bahwa:
“program ekonomi kerakyatan merupakan prioritas yang mendapatkan dukungan pendanaan dari Otonomi Khusus, meskipun tidak terlalu besar dana tersebut dapat mendorong dinas terkait untuk memprogramkan kegiatan ekonomi kerakyatan di Kabupaten Sorong Selatan. Kami mengharapkan dana Otonomi Khusus ini terus dilanjutkan, untuk mengentaskan rakyat Papua dari kemiskinan dan keterbelakangan’.
Adapun Pemerintah Kota Sorong, mengalokasikan dana sebesar Rp 8.268.550.000 pada tahun 2009. Jumlah ini merupakan 11.07% dari dana yang diterima kota tersebut. Dana tersebut diperuntukkan bagi pengembangan pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan di Kota Sorong yang dikelola oleh 5 SKPD, meliputi Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM, Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, Dinas Perikanan dan Kelautan, serta Kantor Kebudayaan dan Pariwisata.
Namun demikian, program ekonomi kerakyatan yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat adat dan atau masyarakat setempat nampaknya belum mencapai kondisi yang diharapkan. Sebagai contoh, program pemberdayaan ekonomi kerakyatan kadang menerima pendanaan yang sangat kecil sehingga efeknya kurang terasa dalam pembangunan perekonomian.
Secara makro, perekonomian daerah di Provinsi Papua mengalami perkembangan yang fluktuatif dari tahun 2007-2010 (Lampiran 1). Tercatat laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan 2000 (pertumbuhan ekonomi daerah) mengalami penurunan dari 4.34 persen di tahun 2007 menjadi -1.4 di tahun 2008. Pada tahun berikutnya terdapat lonjakan menjadi 22.74 persen, namun mengalami penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2010 menjadi -2,65 persen. Sementara di Provinsi Papua Barat, dalam kurun waktu yang sama mengalami perkembangan yang cukup positif. Tahun 2007 tercatat laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan 2000 (pertumbuhan ekonomi daerah) sebesar 6.95 persen. Pada tahun berikutnya terus meningkat menjadi 7.84 persen. Selanjutnya pada tahun 2009 terdapat sedikit penurunan menjadi 7.02 persen. Sementara pada tahun 2010 tercatat mengalami peningkatan menjadi 7.96 persen.
Dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia, Provinsi Papua Barat pada tahun 2010 mampu mencatat laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan 2000 (pertumbuhan ekonomi daerah) yang tertinggi. Namun untuk Provinsi Papua justru merupakan angka terendah dibanding provinsi lainnya pada tahun 2010.
Sektor pertambangan masih mendominasi perekonomian daerah di Provinsi Papua maupun Papua Barat. Perbedaan yang cukup signifikan dapat dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto di kedua Provinsi tersebut jika sektor pertambangan tidak diikutsertakan dalam perhitungan, sebagaimana terlihat dalam grafik berikut. Namun demikian, menilik masing-masing sektor, di Provinsi Papua Barat sektor memiliki share terbesar kedua untuk PDRB di Provinsi tersebut. Sementara di Provinsi Papua sektor pertambangan dan penggalian masih memiliki share terbesar dari PDRB Provinsi tersebut.
Produktifitas ekonomi suatu daerah terlihat dari pertumbuhan ekonominya yang diperoleh dari PDRB atas dasar harga konstan. Selama lima tahun terakhir, Papua mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup berfluktuasi. Setelah mencapai pertumbuhan tertinggi di tahun 2005 (36,40%), 2006 (19,26%), 2007 (23.60%), 2008 (22,20%), 2009 (22,74%) dan 2010 (20,09).
Tanpa sub sektor pertambangan dan migas, pertumbuhan Provinsi Papua khususnya lima tahun terakhir (2006-2010) terlihat jauh lebih stabil dengan rata-rata pertumbuhan 10,90%. Pada tahun 2010 perekonomian Papua tumbuh 11,98%, tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang tumbuh diatas 10%.
Pertumbuhan Ekonomi Papua Barat tahun 2010 yang diukur dari kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) meningkat sebesar 26,82% terhadap tahun 2009. Hampir semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan positif, dengan pertumbuhan tertinggi di
sektor industri pengolahan 149,52%. Sementara sektor pertambangan dan penggalian mengalami konstraksi sebesar -0,84%.
Gambar 4.8
Perbandingan PDRB atas Dasar Harga Konstan dengan Tambang dan Tanpa Tambang di Provinsi Papua dan Papua Barat Tahun 2005-2010
Sumber : Badan Pusat Statistik, Tahun 2005 - 2010
Tabel berikut memperlihatkan perkembangan PDRB atas dasar harga konstan di Provinsi Papua menurut berbagai lapangan usaha (sektor) dari tahun 2008-2010. Sektor pertanian memiliki share terbesar kedua setelah sektor pertambangan. Di sektor ini, tanaman bahan makanan menghasilkan PDRB tertinggi, diikuti sub sektor perikanan, kehutanan, peternakan, dan tanaman perkebunan. Mengingat mata pencaharian penduduk sebagian besar masih
mengandalkan sektor pertanian, perlu diupayakan untuk memperbesar hasil-hasil produksi di sektor pertanian ini.
Tabel 4.13
Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Papua atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha (miliyar Rupiah) Tahun 2008-2010
No Lapangan Usaha Tahun
2008 2009 2010
1. Pertanian 3419.07 3548.78 3768.31
a. Tanaman Bahan Makanan 1700.89 1755.14 1868.51
b. Tanaman Perkebunan 161.4 171.87 184.2
c. Peternakan 224.64 244.69 266.09
d. Kehutanan 467.85 481.35 510.16
e. Perikanan 864.28 895.73 939.35
2. Pertambangan dan Penggalian 8574.1 11495.77 9475.03
3. Industri Pengolahan 485.6 515.78 558.8
4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 45.99 48.65 51.57
5. Bangunan 1452.25 1712.65 1993.11
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 1360.78 1518.24 1677.49 7. Pengangkutan dan Telekomunikasi 1344.37 1536.71 1747.42 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa 515.55 745.12 792.28
9. Jasa-Jasa 1734.13 23237.11 2555.29
Sumber : Badan Pusat Statistik, Tahun 2008-2010
Sementara di Provinsi Papua Barat, lapangan usaha pertanian menghasilkan porsi tertinggi penyumbang PDRB, diikuti sektor pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, jasa-jasa, restoran, pengangkutan, telekomunikasi, bangunan, perdagangan dan hotel, keuangan, persewaan dan jasa, listrik, gas dan air bersih. Produk Domestik Regional