• Tidak ada hasil yang ditemukan

KINERJA KEUANGAN

Dalam dokumen Mendorong Momentum Pertumbuhan (Halaman 48-52)

Analisa Kinerja Keuangan

BIMC yang diakuisisi memiliki pendapatan rata-rata per pasien sebesar Rp 45 juta karena kebijakan harga 3-tingkat. Rumah sakit yang diakuisisi di tahun 2014, Siloam Hospitals ASRI mencapai pendapatan rata-rata per pasien sebesar Rp 14 juta seperti yang diharapkan, sementara SHPW dan RSUS mencapai rata-rata pendapatan per pasien sebesar Rp 7 juta, konsisten dengan pendapatan rumah sakit umum kami yang telah ada.

Untuk Departemen Rawat Jalan (OPD), 4 mature hospitals membukukan

pendapatan rata-rata Rp 1 juta per pasien, MRCCC sebesar Rp 2 juta per pasien dan rumah sakit yang baru dibuka di tahun 2012 dan 2013 memperoleh pendapatan rata-rata per pasien dari Rp 0,5 juta sampai Rp 1 juta.

Pendapatan rata-rata per pasien BIMC yang diakuisisi adalah Rp 2 juta melalui penerapan kebijakan harga 3-tingkat.

Rumah sakit yang diakuisisi pada tahun 2014, Siloam Hospitals ASRI, mencapai pendapatan per pasien rata-rata seperti yang diharapkan yakni sebesar Rp 1 juta, sementara SHPW dan RSUS mencapai pendapatan rata-rata per pasien Rp 0,3 juta, konsisten dengan pendapatan RSUS yang ada.

Pertumbuhan Kunjungan &

Penerimaan Pasien

Penerimaan IPD dari 4 mature hospitals menyumbang 39% dari total penerimaan IPD, sementara rumah sakit yang sedang berkembang dan MRCCC tumbuh sebesar 18% dibandingkan dengan tahun lalu.

RSUS tumbuh sebesar 66% sejalan dengan penambahan tempat tidur operasional mereka sepanjang tahun. Pertumbuhan tertinggi dialami oleh rumah sakit yang baru dibuka pada tahun 2012, terutama SHMK dan SHPL yang masing-masing tumbuh sebesar 59% dan 36%, dan rumah sakit yang baru dibuka di tahun 2013, SHDP dan SHTB dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 88% dan 460%. Rumah sakit umum yang baru dibuka pada tahun 2014, SHPW telah memberikan kontribusi 8 ribu penerimaan IPD dalam waktu singkat, yakni selama 7 bulan. Secara total, penerimaan IPD tumbuh sebesar 34%.

Kunjungan OPD dari 4 mature hospitals menyumbang 53% dari total penerimaan IPD sementara rumah sakit yang sedang berkembang dan MRCCC tumbuh sebesar 11% dan 15% dibandingkan dengan tahun lalu. Kunjungan OPD ke RSUS tumbuh sebesar 176%. Rumah sakit yang baru dibuka pada tahun 2012, terutama SHMK dan SHPL masing-masing tumbuh

sebesar 82% dan 51%, dan rumah sakit yang baru dibuka pada tahun 2013, SHDP dan SHTB tumbuh masing-masing sebesar 74% dan 361% sejalan dengan peningkatan throughput mereka. Rumah sakit umum yang baru diakuisisi pada tahun 2014, SHPW telah memberikan kontribusi 34 ribu OPD dalam waktu 7 bulan. Secara total, kunjungan OPD tumbuh sebesar 24%.

Kunjungan ke Departemen Darurat (ED) MRCCC tumbuh sebesar 30%

dibandingkan tahun lalu. Kunjungan ED ke MRCCC tumbuh 64%, sedangkan kunjungan ED ke RSUS tumbuh sebesar 78%. 4 rumah sakit yang baru dibuka di tahun 2013 mencatat pertumbuhan kunjungan ED sebesar 141% dan rumah sakit yang baru dibuka pada tahun 2012 memiliki pertumbuhan ED sebesar 29%. Rumah sakit umum yang baru dibuka pada tahun 2014, SHPW, telah memberikan kontribusi 8 ribu kunjungan ED.

Pertumbuhan Jumlah Rumah Sakit

Jumlah rumah sakit telah berkembang pesat selama 4 tahun terakhir. Dimulai dengan empat rumah sakit pada tahun 2010, Perseroan memiliki 20 rumah sakit di akhir 2014. Pertumbuhan ini menunjukkan CAGR yang menguntungkan sebesar 50%

selama periode tersebut.

Gross Operating Revenue (GOR) GOR Perseroan terdiri dari pendapatan pasien rawat inap dan pendapatan pasien rawat jalan. Selama 2014, pendapatan Perseroan meningkat sebesar 33%

menjadi Rp 3.341 miliar pada tahun 2014 dari Rp 2.504 miliar di tahun 2013.

Peningkatan ini terutama disebabkan oleh pertumbuhan throughput pasien atas 4 mature hospitals, peningkatan operasional rumah sakit yang sedang berkembang Quality Research (ESQR) dalam hal

pemeliharaan dan pemberian layanan kesehatan dengan kualitas, sistem, efisiensi, produktivitas dan standar pelayanan global yang konsisten.

Kinerja Operasional

Gross Operating Revenue Perseroan tumbuh sebesar 33% dari 2013, dengan CAGR sebesar 34% dari tahun 2010 sampai 2014. Pertumbuhan CAGR mencerminkan efektivitas dari manajemen serta sumber daya medis, dan non-medis, termasuk biaya pemasaran.

EBITDA juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dengan CAGR sebesar 35% pada periode yang sama dari tahun 2010 hingga 2014. Khususnya untuk 2014, EBITDA meningkat sebesar 56% dari 2013.

Kontribusi pendapatan terbesar berasal dari 4 mature hospitals. Pertumbuhan GOR dari rumah sakit ini mencapai 6%

-16% per tahun. Sementara rumah sakit yang sedang berkembang (SHJB, SHBP) masing-masing tumbuh sebesar 22% dan 28%. Rumah Sakit yang dibuka pada tahun 2013 (SHDP, SHTB) bertumbuh lebih baik dari perkiraan. Rumah Sakit yang dibuka pada tahun 2012 (SHMK, SHPL) tumbuh sekitar 50% sejalan dengan peningkatan operasional untuk mencapai kapasitas.

Di sisi biaya, Service Cost meningkat sebesar 32% dan beban material meningkat 27%, sehingga marjin kotor GOR sedikit meningkat dari 41% pada tahun 2013 menjadi 43% pada tahun 2014.

Siloam Hospital Purwakarta, yang baru dibuka, dan merupakan model hibrida rumah sakit lengkap dengan rumah sakit umum, telah mencapai EBITDA sebesar 39% dalam waktu singkat, yakni 7 bulan, sedangkan Siloam Hospitals ASRI yang diakuisisi pada Agustus 2014 mencatatkan EBITDA sebesar 13% YTD.

Pendapatan Rata-Rata Per Pasien Untuk Departemen Rawat Inap (IPD), 4 mature hospitals memiliki pendapatan rata-rata per pasien sebesar Rp 21 juta, sementara MRCCC membukukan pendapatan rata-rata tertinggi per pasien sebesar Rp 36 juta. Rumah sakit yang baru dibuka pada tahun 2012 dan 2013, dengan meningkatkan operasional mereka, mencatatkan pendapatan rata-rata per pasien dari Rp 13 juta sampai Rp 24 juta. Sementara rumah sakit yang diakuisisi di Cinere, pendapatan rata-rata per pasien adalah Rp 41 juta akibat tingginya jumlah kasus jantung kompleks.

EBITDA menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dengan CAGR sebesar

35%

pada periode tahun 2010 hingga 2014.

Khusus untuk tahun 2014, EBITDA meningkat

56%

dibandingkan tahun 2013.

Laporan Tahunan PT Siloam International Hospitals Tbk. 2014

44

Analisa Kinerja Keuangan

Beban pokok penjualan layanan rawat inap yang berkaitan dengan gaji dan tunjangan karyawan meningkat sebesar 28% menjadi Rp 653 miliar di 2014 dari Rp 511 miliar pada tahun 2013. Beban pokok penjualan yang berkaitan dengan obat-obatan dan perlengkapan medis meningkat 24% menjadi Rp 460 miliar pada 2014 dari Rp 372 miliar pada 2013.

Beban pokok penjualan yang berkaitan dengan biaya penyusutan meningkat sebesar 22% menjadi Rp 118 miliar pada tahun 2014 dari Rp 97 miliar pada tahun 2013. Beban pokok penjualan yang berkaitan dengan makanan dan minuman meningkat 18% menjadi Rp 53 miliar pada tahun 2014 dari Rp 45 miliar pada 2013.

Beban pokok penjualan lain meningkat sebesar 59% menjadi Rp 60 miliar pada tahun 2014 dari Rp 38 miliar di tahun 2013.

Beban pokok penjualan layanan rawat jalan yang berkaitan dengan gaji dan tunjangan karyawan meningkat sebesar 34% menjadi Rp 453 miliar pada 2014 dari Rp 337 miliar pada 2013. Beban pokok penjualan layanan rawat jalan yang berkaitan dengan obat-obatan dan perlengkapan medis meningkat sebesar 30% menjadi Rp 325 miliar di tahun 2014 dari Rp 250 miliar pada tahun 2013.

Kenaikan di atas terutama merupakan kontribusi dari peningkatan rumah sakit yang baru dan rumah sakit yang diakuisisi

pada tahun 2014, yakni SHPW dan Siloam Hospitals ASRI.

Laba Bruto

Laba bruto Perseroan meningkat 44% dari Rp 659 miliar pada tahun 2013 menjadi Rp 952 miliar pada tahun 2014. Marjin laba bruto sebesar 28%, meningkat dari 26%

pada tahun 2013 mencerminkan efisiensi yang lebih besar sejalan dengan upaya rumah sakit memenuhi kapasitasnya.

Beban Usaha

Beban usaha Perseroan untuk 2014 adalah Rp 784 miliar, naik 35% dari Rp 583 miliar pada tahun 2013. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

- Beban Umum dan Administrasi meningkat sebesar 36% dari Rp 557 miliar di tahun 2013 menjadi Rp 757 miliar, terutama disebabkan oleh kenaikan gaji dan tunjangan karyawan, biaya air dan listrik, biaya kantor lainnya, sewa dan biaya penyusutan. Gaji dan tunjangan karyawan meningkat sebesar 35%

menjadi Rp 272 miliar pada 2014 dari Rp 202 miliar pada tahun 2013. Biaya air dan listrik meningkat 19% menjadi Rp 89 miliar pada tahun 2014 dari Rp 75 miliar pada tahun 2013. Biaya kantor lainnya meningkat sebesar 65%

menjadi Rp 122 miliar pada tahun 2014 dari Rp 74 miliar pada tahun 2013. Biaya sewa meningkat sebesar 61% menjadi Rp 66 miliar pada tahun dan baru dibuka pada tahun 2012 dan

2013, dan juga rumah sakit yang diakuisisi pada tahun 2013 dan 2014. Rumah sakit yang baru dibuka pada tahun 2012 dan 2013 mencatat pertumbuhan GOR yang luar biasa, masing-masing sebesar 47%

dan di atas 100%, melebihi perkiraan sebagai akibat peningkatan operasional mereka untuk mencapai kapasitas, sedangkan rumah sakit baru yang diakuisi di tahun 2013 dan 2014 menunjukkan kinerja seperti yang direncanakan.

Beban Pokok Penjualan Beban pokok penjualan Perseroan meliputi biaya yang berkaitan dengan gaji dan kesejahteraan karyawan (termasuk biaya profesional dokter), obat-obatan dan perlengkapan medis, biaya penyusutan, persediaan klinis, makanan dan minuman, perbaikan dan pemeliharaan dan biaya lainnya sehubungan dengan rawat inap dan layanan rawat jalan.

Beban pokok penjualan Perseroan meningkat sebesar 29% pada tahun 2014 menjadi Rp 2.389 miliar dari Rp 1.845 miliar pada tahun 2013.

Peningkatan ini terutama disebabkan oleh kenaikan beban pokok penjualan untuk layanan rawat inap dan rawat jalan yang berkaitan dengan gaji dan tunjangan karyawan, obat-obatan dan perlengkapan medis, dan beban pokok penjualan layanan rawat inap yang berkaitan dengan biaya penyusutan dan lain-lain.

Jumlah kewajiban lancar pada 31 Desember 2014 adalah Rp 478 miliar, meningkat 62%

dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 296 miliar. Kenaikan kewajiban lancar terutama disebabkan oleh peningkatan akrual sewa sebesar Rp 35 miliar dan akrual bunga sebesar Rp 31 miliar.

Jumlah kewajiban jangka panjang pada tanggal 31 Desember 2014 sebesar Rp 712 miliar, meningkat 7% dibandingkan dengan Rp 666 miliar pada tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh naiknya hutang kepada perusahaan induk.

Ekuitas

Jumlah Ekuitas Perseroan meningkat menjadi Rp 1.654 miliar pada tahun 2014 dari Rp 1.639 miliar pada tahun 2013.

Kebijakan Dividen

Perseroan akan membagikan dividen tunai berdasarkan kinerja keuangan dan kondisi keuangan dalam jumlah yang setara dengan 10% dari laba bersih setiap tahun jika laba bersih konsolidasi setelah pajak untuk tahun buku tersebut mencapai Rp 150 miliar, dan sebesar 15% -30% dari laba bersih jika laba bersih konsolidasi setelah pajak untuk tahun buku tersebut melebihi Rp 150 miliar, kebijakan ini ditujukan untuk memaksimalkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang.

Peristiwa Penting Setelah Tanggal Laporan Akuntan Tidak ada kegiatan material yang terjadi setelah tanggal laporan auditor.

Likuiditas Dan Sumber Modal

Perseroan mendefinisikan likuiditas sebagai kemampuan untuk menghasilkan dana yang cukup dari sumber internal dan eksternal untuk memenuhi kewajiban dan komitmennya.

Selain itu, likuiditas mencakup kemampuan untuk memperoleh pembiayaan yang tepat dan untuk mengkonversi aset-aset yang tidak lagi diperlukan menjadi uang tunai untuk memenuhi tujuan strategis dan keuangan yang ada.

Perseroan membiayai kebutuhan modal terutama melalui pinjaman dari perusahaan induk, dana yang dihasilkan dari operasional, pembiayaan dari bank dan hasil pendapatan IPO.

Keberadaan modal utama telah membiayai pembelian peralatan medis, akuisisi rumah sakit dan untuk mendanai kebutuhan modal kerja.

Perseroan berkeyakinan dapat memiliki sumber dana yang mencukupi dari kegiatan operasional serta pembiayaan bank, lembaga keuangan, dan kreditur lainnya. Perseroan berusaha untuk mempertahankan saldo minimum kas dan setara kas yang cukup untuk menutupi biaya operasional untuk jangka waktu tiga sampai enam bulan.

Solvabilitas

Rasio solvabilitas menunjukkan kemampuan Perseroan dalam memenuhi kewajibannya secara keseluruhan, termasuk kewajiban keuangan seperti kewajiban bunga. Rasio ini dapat diukur dengan membandingkan total kewajiban keuangan terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio).

Solvabilitas 2014 2013

Total kewajiban terhadap total aset 42% 37%

Total kewajiban terhadap total ekuitas 72% 59%

Profitabilitas

Rasio profitabilitas didefinisikan sebagai kemampuan perseroan untuk menghasilkan keuntungan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini dapat diukur dengan menghitung rasio laba bersih, rasio Return on Asset (ROA) dan rasio Return on Equity (ROE).

Rasio profitabilitas Perseroan adalah sebagai berikut:

Profitabilitas 2014 2013

Marjin laba bersih 2% 2%

ROA 2% 2%

ROE 4% 3%

2014 dari Rp 41 miliar pada tahun 2013. Biaya penyusutan meningkat sebesar 57% menjadi Rp 81 miliar pada tahun 2014 dari Rp 52 miliar pada tahun 2013. Peningkatan di atas terutama berasal dari penyesuaian inflasi dan juga pertambahan jumlah rumah sakit yang dibuka dan diakuisisi pada tahun 2014.

Beban Keuangan

Beban keuangan meningkat sebesar 195% menjadi Rp 56 miliar pada tahun 2014 dari Rp 19 miliar pada tahun 2013, terutama karena beban bunga dari hutang kepada PT Lippo Karawaci Tbk. (induk perusahaan), yang berlaku efektif sejak tahun 2014.

Laba Sebelum Pajak

Laba sebelum pajak penghasilan naik 31%

menjadi Rp 94 miliar, meningkat signifikan dari Rp 72 miliar pada tahun 2013 untuk alasan yang disebutkan di atas.

Beban Pajak

Beban pajak meningkat sebesar 55%

menjadi Rp 34 miliar pada tahun 2014 dari Rp 22 miliar pada tahun 2013 terutama disebabkan oleh peningkatan penghasilan kena pajak sebagai akibat dari kenaikan laba sebelum pajak.

Laba Bersih

Laba bersih Perseroan meningkat 19%

menjadi Rp 60 miliar dari Rp 50 miliar pada tahun 2013. Peningkatan ini terutama karena alasan tersebut di atas.

Aset

Total Aset Perseroan meningkat sebesar 9% menjadi Rp 2.844 miliar pada tahun 2014 dari Rp 2.601 miliar di tahun 2013. Pada 31 Desember 2014, Properti dan Perlengkapan meningkat 13%

menjadi Rp 1.589 miliar dari Rp 1.402 miliar pada tahun 2013 sebagai akibat dari pembukaan 3 rumah sakit baru di Purwakarta, Kupang dan Medan, serta rumah sakit yang diakuisisi selama tahun 2014.

Liabilitas

Jumlah kewajiban pada tanggal 31 Desember 2013 adalah sebesar Rp 1.190 miliar atau meningkat 24% dari Rp 962 miliar pada tahun sebelumnya.

Peningkatan total kewajiban ini disebabkan oleh peningkatan pembayaran pinjaman kepada perusahaan induk dan biaya-biaya yang masih harus dibayar.

Laporan Tahunan PT Siloam International Hospitals Tbk. 2014

46

Sumber Daya Manusia

ditangani secara terpusat di kantor pusat, dengan tetap memantau keberadaan potensi sumber daya

Dalam dokumen Mendorong Momentum Pertumbuhan (Halaman 48-52)