• Tidak ada hasil yang ditemukan

155 Konversi (HPK) seluas 188,256.92 Ha (4,45%) (Statistik Dinas Kehutanan

Dalam dokumen BAPPEDA Sumbar (Halaman 155-161)

Sumatera Barat 2011, dalam RAD Pengelolaan Lingkungan Hidup, Prop. Sumbar th 2012). Lahan hutan berpeluang sebagai kawasan penyangga penyediaan air, sumber kehidupan masyarakat di sekitar hutan tetapi dengan tetap menjaga fungsi hutan, memanfaatkan jasa lingkungan sebagai penyedia udara bersih (oksigen). Menurut RTRW Sumbar (Perda Prop. No 13 Tahun 2012 bab 7 halaman 3; bahwa dalam kawasan hutan lindung masih diperkenankan dilakukan kegiatan lain sepanjang fungsi hutan lindung tetap dpaat dijaga sesuai KepmenHut No.50 tahun 2006.

Kekayaan keragaman hayati (flora dan fauba) berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai sumberdaya dalam pembangunan karena luasnya (55,40%) tutupan hutan yang potensial menjadi pusat konservasi keragaman hayati, agrowisata, pendidikan, dan wisata alam. Telah dilakukan inventarisasi, namun masih perlu perhatian agar dapat menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan flora fauna serta tanaman obat yang bernilai ekonomi tinggi. Saat ini ada 26 kawasan konservasi di Sumatera Barat dengan empat kawasan lain yang masih dalam tahap pengusulan. Kawasan konservasi tersebut berupa Taman Nasional, Suaka Margasatwa, cagar alam, taman hutan raya, taman wisata alam, taman wisata laut dan buru.

Tabel 2.64

Kawasan Konservasi berdasarkan Jenis dan Luas Kawasan di Provinsi Sumatera Barat

No Jenis Kawasan Kabupaten / Kota Luas (Ha)

Taman Nasional

1 Taman Nasional Siberut Kep. Mentawai 190.500,00

2 Taman Nasional Kerinci Seblat (wilayah Sumatera Barat)

Pesisir Selatan, Solok, Solok Selatan

353.980,00

Taman Hutan Raya

3 Tahura Dr. M. Hatta Padang 240,00

Cagar Alam

4 Rimbo Panti Pasaman 2.550,00

5 Lembah Harau Limapuluh Kota 270,50

6 Batang Palupuh Agam 3,40

7 Lembah Anai Tanah Datar 221,00

8 Beringin Sakti Tanah Datar 0,03

9 Batang Pangian II Sijunjung 33.580

Taman Wisata Alam

10 Mega Mendung Tanah Datar 12,50

11 Lembah Harau Limapuluh Kota 27,50

12 Rimbo Panti Pasaman 570,00

13 Bukit Batu Patah (usulan) Tanah Datar 500,00

Taman Wisata Laut

14 Pulau Pieh Pdg. Pariaman 39.900,00

15 Teluk Saibi Sarabua (usulan) Kep. Mentawai 21.200,00

156

No Jenis Kawasan Kabupaten / Kota Luas (Ha)

Taman Wisata Buru

17 Bukut Sidoali (usulan) Tanah Datar 2.354,00

18 Pulau Sipora (usulan) Kep. Mentawai 84.500,00

Suaka Alam

19 Malampah Pasaman 14.555,00

20 Alahan Panjang Pasaman 17.664,00

21 Maninjau Agam 17.304,00

22 Air Putih Limapuluh Kota 23.467,00

23 Sago Malintang Tanah Datar 2.203,00

24 Singgalang Tandikat Tanah Datar 4.180,00

25 Merapi Tanah Datar 6.574,00

26 Barisan I Tanah Datar 10.310,00

27 Batang Pangian I Sijunjung 37.295,00

28 Selasih Talang Solok 6.150,00

29 Air Terusan Pesisir Selatan 25.177,00

30 Arau Hilir Padang 5.377,00

Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, tahun ………

Berdasarkan data di atas, dapat dikatakan bahwa kawasan hutan yang tersebar di seluruh Kabupaten/Kota di Sumatera Barat berada dalam kondisi yang cukup baik, berpotensi sebagai kekayaan alam yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara ekonomi, sosial dan lingkungan. Hutan yang ada sekarang memiliki fungsi sekaligus juga berpeluang besar untuk dimanfaatkan sebagai penangkaran penunjang budidaya tanaman obat, flora dan fauna yang bernilai ekonomi tinggi dan berdaya saing karena memiliki karakteristik spesifik hutan tropis. Selain itu juga sebagai sumber plasma nutfah, menjadi objek dan tujuan wisata alam, penyimpanan atau penyerapan karbon, penyimpanan energi air, panas, dan angin, serta menjadi pusat penelitian dan pengembangan ilmu/ pengetahuan konservasi alam. Hutan yang berada di dearah kepulauan, juga memiliki potensi ekonomi untuk pembangunan melalui jasa lingkungannya, yaitu sebagai objek wisata bahari yang menjadi tujuan utama dari turis manca negara.

Tantangan selama ini adalah terjadinya pemanfaatan sumberdaya hutan dengan mengambil hasil hutan yang kurang memperhatikan kaidah pembangunan berkelanjutan, karena lebih didominasi oleh cara pandang dari aspek ekonomi dan kurang memperhatikan aspek lingkungan dan sosialnya. Kegiatan pemanfaatan hutan lebih banyak pada kegiatan mengeksploitasi hutan dan kurang memperhatikan fungsi hutan dalam menjaga keseimbangan alam dan konservasi. Akibat dari kurangnya pengetahuan stakeholders tentang hal ini, seringkali terjadi penggundulan hutan yang berdampak pada meningkatnya lahan kritis, dan meningkatnya potensi banjir bandang yang memperburuk kondisi Sumbar sebagai daerah rawan bencana.

157

2.1.5. PEMERINTAHAN

1. PERENCANAAN PEMBANGUNAN

Ukuran capaian kinerja perencanaan pembangunan adalah tersedianya dokumen perencanaan, berupa Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Propinsi Sumatera Barat Tahun 2005- 2025 (Perda No. 7 tahun 2008); Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Daerah Propinsi Sumatera Barat tahun 2010-2015 (Perda No. 5 tahun 2011). Rencana Kegiatan Pembangunan Daerah (RKPD) disusun setiap tahun sebagai penjabaran Program RPJMD kedalam rencana pembangunan tahunan, dan juga menjadi sebagai sebuah kebijakan berupa Peraturan daerah setiap tahunnya.

Namun demikian, belum semua target capaian disetiap RKPD yang mengacu kepada RPJMD tahap II tercapai sesuai yang diharapkan. Permasalahannya antara lain adalah karena indikator tidak dipahami dengan baik oleh pelaksana, indikator tidak cocok atau tidak tepat, belum cukup upaya/kegiatan yang dilakukan yang mendukung tercapainya indikator. Tabel... memperlihatkan kinerja perencanaan pembangunan menggunakan indikator sesuai PP No.6 tahun 2008. Hasil evaluasi kinerja pembangunan RPJMD periode 2010-2015 telah dilakukan pada tahun 2013.

Tabel 2.65

capaian dan Evaluasi Kinerja Perencanaan Pembangunan di Propinsi Sumatera Barat

No Indikator Evaluasi kinerja

1 Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yg telah ditetapkan dgn PERDA

Ada Ada Ada Ada Ada 2 Tersedianya Dokumen Perencanaan :

RPJMD yg telah ditetapkan dgn PERDA/PERKADA

Ada Ada Ada Ada Ada

3 Tersedianya Dokumen Perencanaan : RKPD yg telah ditetapkan dgn PERKADA

Ada Ada Ada Ada Ada 4 Penjabaran Program RPJMD kedalam RKPD Ada Ada Ada Ada Ada

Tabel di atas memperlihatkan bahwa sebagaimana indikator yang ditetapkan dokumen RPJPD, RPJMD, dan RKPD semuanya sudah menjadi kebijakan dan sudah diterbitkan Peraturan Daerah Proinsi Sumatera Barat. Berdasarkan PP No. 6 tahun 2008, saat ini dokumen rencana adalah bukti indikator kinerja tercapai perencanaan pembangunan.

Tantangan dan kendala dalam kegiatan perencanaan pembangunan selama ini yang sangat penting diperbaiki adalah cara pandang penyusunan perencanaan yang masih berada dalam perencanaan sektoral. Sementara, persoalan pembangunan itu jelas

158

membutuhkan jalan keluar yang tidak dapat dilaksanakan secara sektoral. Cara pandang yang demikian membuat proses perencanaan tidak berjalan secara terbuka, tidak terjadi diskusi lintas sektor, sulit menyusun perencanaan yang terintegrasi, indikator rencana diinterpretasikan secara sektoral, sehingga akhirnya sulit untuk mencapai target dan mengevaluasinya secara kualitatif maupun kuantitatif.

Sehubungan dengan itu, sumberdaya manusia yang terlibat secara substansial maupun secara prosedural dalam setiap kegiatan perencanaan pembangunan, perlu ditingkatkan dari sisi jumlah maupun kompetensinya. Sumberdaya perencana yang dibutuhkan dan perlu ditingkatkan adalah perencana sebagai tenaga fungsional perencana maupun staf pendukung dalam kelembagaan struktural perencanaan. Peluang yang akan diraih dengan baiknya proses perencanaan pembangunan adalah efisiensi dan efektifitas yang lebih baik. Perencanaan pembangunan yang terpadu dengan proses dan pemahaman yang lebih baik, akan membuat biaya perencanaan dan biaya pembangunan lebih efisien dan tujuan akan lebih efektif tercapai.

2. KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL

Masalah kependudukan dan catatan sipil di Sumatera Barat mendapat perhatian yang serius oleh pemerintah daerah mengingat daerah ini terus mengalami perkembangan sehingga berdampak pada bertambahnya penduduk Sumatera Barat secara signifikan. Dari laporan BPS Sumatera Barat hingga tahun 2012 jumlah penduduk Sumatera Barat mencapai 4,95 juta orang. Dengan semakin bertambahnya penduduk Sumatera Barat ini, maka dibutuhkan suatu kebijakan yang bermanfaat bagi pembangunan daerah. Mengacu pada kebijakan nasional, salah satu skenario yang dipersiapkan sejak tahun 1970an adalah pemanfaatan bonus demografi, yaitu tahun 2020-2045 Indonesia dapat mencapainya sehingga membawa dampak positif bagi pelaksanaan pembangunan. Oleh karena itu, perlu ada kebijakan yang mengarah pada pemanfaatan pertambahan penduduk ini sehingga bermanfaat bagi pembangunan Sumatera Barat.

Dengan adanya kecenderungan pertambahan penduduk ini, maka perlu ada pembenahan administrasi kependudukan dengan baik sehingga jumlah yang terus bertambah ini dapat dimanfaatkan menjadi potensi dalam melaksanakan pembangunan. Keseriusan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Barat melakukan pembenahan administrasi ini sebenarnya dapat dilihat dari Program Prioritas yang dituangkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2010- 2015, yaitu Program Pengembangan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan.

159

Tabel 2.66

Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten Kota Provinsi Sumatera Barat tahun 2012

No Kab/Kota Laki-laki Perempuan Total

Kabupaten 1 Kepulauan Mentawai 40.684 37.827 78.511 2 PesisirSelatan 216.394 221.244 437.638 3 Solok 174.964 180.113 355.077 4 Sijunjung 103.589 103.885 207.474 5 TanahDatar 166.986 176.005 342.991 6 PadangPariaman 194.787 202.096 396.883 7 Agam 227.404 236.315 463.719 8 Lima PuluhKota 176.134 179.794 355.928 9 Pasaman 127.982 130.947 258.929 10 SolokSelatan 74.662 73.775 148.437 11 Dharmasraya 102.738 95.876 198.614 12 PasamanBarat* 189.750 186.798 376.548 Kota 13 Padang 421.656 432.680 854.336 14 Solok 30.211 30.941 61.152 15 Sawahlunto 28.856 29.212 58.068 16 PadangPanjang 23.284 24.903 48.187 17 Bukittinggi 56.643 57.772 114.415 18 Payakumbuh 58.945 60.997 119.942 19 Pariaman 40.133 40.757 80.870 Jumlah keseluruhan 4.957.719

(Sumber:Sumatera Barat dalam angka 2013)

Secara umum pelaksanaan bidang kependudukan dan administrasi kependudukan ini sudah berjalan dengan baik. Ini terbukti dengan kinerja instansi terkait dalam menertibkan administrasi kependudukan dan membenahi sistem administrasi kependudukan yang akuntabel sudah dapat dilaksanakan di 19 kabupaten/kota. Dari aspek realisasi program dan kegiatan sudah dapat dilaksanakan dengan baik. Realisasi output kegiatan pengelolaan administrasi kependudukan dan bimbingan teknis pencatatan sipil sudah sesuai dengan target yang ditetapkan dalam RPJMD. Apalagi dengan adanya Program e-KTP yang dilaksanakan pemerintah pusat, juga berdampak positif bagi pemerintah daerah melaksanakan tertib administrasi kependudukan ini. Berikut dapat dilihat kondisi capaian pelaksanaan bidang kependudukan dan catatan sipil ini.

Peluang di bidang Kependudukan dan Catatan Sipil

Ada beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah terkait dengan kependudukan di Sumatera Barat ini adalah:

160

a. Laju pertumbuhan penduduk masyarakat Sumatera Barat yang relatif sedang dapat dimanfaatkan untuk penyiapan angkatan kerja yang dapat memenuhi kebutuhan dunia kerja;

b. Tersedianya teknologi komunikasi dan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk pendataan penduduk sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan daerah;

Tantangan di Bidang Kependudukan dan Catatan Sipil

Tantangan yang juga merupakan masalah dari aspek kependudukan dan catatan sipil ini adalah:

a. Pemanfaatan sumber daya manusia yang melimpah yang belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan sebagai angkatan kerja yang produktif;

b. Masih ada masyarakat yang belum terdata oleh pemerintah daerah baik dalam bentuk pengakuan ke dalam akta kelahiran, KTP dan KK sebagai penduduk di kabupaten dan kota;

c. Masih rendahnya kemampuan pemerintah daerah memobilisasi partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam pelaksanaan pembangunan. Padahal jumlahnya yang banyak dapat menjadi modal dasar dalam meringankan pekerjaan pemerintah daerah di kabupaten dan kota.

3. PENYELENGGARAAN KEAMANAN DAN KETERTIBAN

MASYARAKAT

Menurut Data BPS bahwa kejahatan di Indonesia selama periode tahun 2010–2012 cenderung berfluktuasi. Misalnya, kejadian kejahatan cenderung meningkat dari tahun 2010 dari 332.000 meningkat menjadi sekitar 347.000 kasus pada tahun 2011. Akan tetapi, pada tahun 2012 terjadi penurunan kejadian kejahatan menjadi sekitar 341.000 kasus. Begitu juga dengan dengan resiko penduduk terkena kejahatan (crime rate) selama periode tahun 2010-2012 cederung fluktuatif. Ini dapat dilihat, misalnya, tahun 2010 jumlah orang yang berisiko terkena tindak kejahatan dari setiap 100.000 penduduk diperkirakan sebanyak 142 orang. Sementara tahun 2011 meningkat menjadi 149 orang dan turun pada tahun 2012 menajdi 134 orang.Jika dirujuk data Susenas terlihat bahwa jumlah dan persentase rumah tangga korban kejahatan di Indonesia cendetung menurun selama periode tahun 2010–2012. Pada tahun tahun 2010, jumlah rumah tangga korban kejahatan dari sekitar 1.830.000 rumah tangga menurun menjadi sekitar 1.720.000 rumah tangga di tahun 2011. Begitu juga dengan tahun 2012 yang kembali turun menjadi 1.380.000 rumah tangga.

Dalam konsepnya, pembangunan baru dapat dilaksanakan jika kondisi aman dan tertib dapat diciptakan dalam masyarakat. Begitu juga,

161

Dalam dokumen BAPPEDA Sumbar (Halaman 155-161)