perekonomian daerah serta ketahanan pangan. Peningkatan produktivitas pertanian akan mendorong peningkatan pendapatan sebagian besar angkatan kerja yang ada serta pengembangan usaha pertanian sekaligus akan memberikan peluang terbukanya kesempatan kerja pedesaan.Pembangunan pertanian di Sumatera Barat termuat dalam agenda kegiatan pengembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Agenda Pengembangan Kegiatan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat merupakan jabaran dari misi ke-empat dari RPJMD Sumatera Barat 2010-2015, yakni ”Mewujudkan ekonomi masyarakat yang tangguh, produktif, berbasis kerakyatan, berdaya saing regional dan global”. Haltersebut yang terkait pertanian, terlihat pada Tabel berikut.
Tabel. 2.33
Tujuan dan Sasaran dari Misi Pembangunan Pertanian Sumatera Barat 2010-2015
Tujuan Sasaran
Terwujudnya Sumatera Barat sebagai provinsi agribisnis
1. Meningkatnya kualitas dan produktivitas berbagai komoditi pertanian,
perkebunan, peternakan dan perikanan 2. Meningkatnya jumlah dan luas kawasan
sentra produksi komoditi unggulan bidang pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan
3. Berkembangnya industri pengolahan hasil pertanian (Agro-industri) dan pengolahan hasil perikanan laut (Fishery Processing)
4. Meningkatnya kesejahteraan petani Sumber; (RPJMD Sumatera Barat 2010-2015)
Salah satu Prioritas untuk Misi ”Mewujudkan ekonomi masyarakat yang tangguh, produktif, berbasis kerakyatan, berdaya saing regional dan
global” adalah Prioritas pegembangan pertanian berbasis kawasan dan komoditi unggulan yang diarahkan untuk mengembangkan pertanian dalam arti luas (tanaman pangan, peternakan, perkebunan, perikanan dan kelautan) yang mempunyai nilai tambah (added value) tinggi, sehingga masyarakat dapat menikmati tingkat keuntungan yang tinggi dari gabungan hasil usaha pertaniannya melalui berbagai komoditi unggulan. Dengan prioritas tersebut diharapkan: 1) Berkembangnya kawasan sentra produksi pertanian, 2) Berkembangnya agroindustri dan agribisnis sesuai potensi daerah, 3) Terwujudnya Sumatera Barat sebagai propinsi agraris dengan petani yang yang sejahtera, 4) Berkembanganya
84
penerapan teknologi pertanian, 5) Meningkatnya pemasaran hasil produksi pertanian, 6) Terwujudnya ketahanan pangan, 7) Terwujudnya Sumatera Barat sebagai daerah penghasil pengusaha profesional, 8) Terwujudnya pola pembangunan berbasis kawasan, 9) Terwujudnya pola pembangunan berbasis komoditi unggulan dan prinsip one village one product. Capaian Kinerja Makro Prioritas Pengembangan Pertanian terlihat pada Tabel berikut.
Tabel. 2.34
Capaian Kinerja Makro Prioritas Pengembangan Pertanian BerbasisKawasan dan Komoditi Unggulan
No Indikator Utama Tahun
2010
2012 2013
Target Realisasi % Target Realisasi % 1 Produktivitas Tenaga Kerja
Sektor Pertanian 9.66 11.25 11.92 105.96 11,78 13,02 110,53 2 Kawasan Sentra ProduksiTanaman Pangan (unit) 40 47 52 110.64 52 60 115,38
3 Kawasan Sentra Produksi
Perkebunan (unit) 12 17 25 147.06 20 22 110.00
4 Kawasan Sentra Produksi
Peternakan(unit) 6 8 10 125.00 10 10 100.00
5 Luas Tanam Kakao (Ribu Ha) 101 140 137 97.86 150 148.01 98,67
6 Produksi Jagung (ton) 354,262 524,138 495,497 94.54 560,828* 547.437 97,61 7 Produksi daging (ton) 52,614 58,017 57,110 98,44 58,017 55,969 96,47
8 Nilai Tukar Petani (%) 105.6 107 105.03 98.16 98.17 98.18 98.19
* = Dihitung pengingkatan 7% dari tahun sebelumnya
Tabel indikator makro di atas memperlihatkan sebagian indikator belum tercapai. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pelaksanaan kegiatan program untuk Misi ”Mewujudkan ekonomi masyarakat yang tangguh, produktif, berbasis kerakyatan, berdaya saing regional dan
global” yang tujuan pertamanya terwujudnya Sumatera Barat sebagai provinsi agribisnis belum sepenuhnya mencapai sasaran meningkatnya kualitas dan produktivitas berbagai komoditi pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan, meningkatnya jumlah dan luas kawasan sentra produksi komoditi unggulan bidang pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan, Berkembangnya industri pengolahan hasil pertanian (Agro- industri) dan pengolahan hasil perikanan laut (Fishery Processing), serta meningkatnya kesejahteraan petani belum tercapai sepenuhnya.
Peranan sector Pertanian dalam PDRB dan Pertumbuhan riil sector pertanian terlihat pada Tabel 3 berikut, juga memperlihatkan kecenderungan menurun. Dengan demikian Pengembangan pertanian berbasis kawasan dan komoditi unggulan masih perlu jadi prioritas pembangunan Sumatera Barat untuk menunjang pengembangan Agibisnis umumnya dan Agroindusrti khususnya dalam meningkatkan daya saing daerah.
85
Tabel.2.35Peranan Sektor Pertanian di Propinsi Sumatera Barat tahun 2009 – 2013 (Persentase) No Tahun Kontribusi Pertanian Pertumbuhan riil sector pertanian Angkatan Kerja Yg Bekerja Pada Lapangan Pekerjaan Pertanian (%) 1 2009 23,95 3,47 45,39 % 2 2010 23,94 4,09 44,10 % 3 2011 23,67 3,84 39,30 % 4 2012 23,12 4,58 40,60 % 5 2013 22,74 3,58 *
* = Data Tidak tersedia
Peranan sector Pertanian dalam PDRB dan Pertumbuhan riil sector pertanian seperti terlihat pada Tabel di atas, memperlihatkan menurunnya kontribusi dan pertumbuhan sector pertanian. Distribusi Persentase Sektor Pertanian terhadap PDRBatas Dasar Harga Berlaku 2009–2013 (persen) pada Tabel 4 berikut memperlihatkan bahwa persentase terbesar bersumber dari Tanaman pangan dan hotikultura, dan akan tidak jauh berbeda kalau data kontribusi tanaman pangan dipisahkan dengan tanaman hortikultura. Penurunan kontribusi pertanian yang menurun hendaknya diikuti oleh peningkatan kontribusi hasil pengolahan pertanian. Hal ini akan mendatangkan Nilai Tambah produk pertanian.
Tabel 2.36
Distribusi Persentase Sektor Pertanian
terhadap PDRBatas Dasar Harga Berlaku 2009 – 2013 (persen)
Peranan Sektor Pertanian dalam PDRB berdasarkan wilayah di Propinsi Sumatera Barat tahun 2009 – 2013 terlihat pada Tabel 5 berikut. Pada umumnya Peranan Sektor Pertanian (Kontribusi Pertanian) dalam PDRB menururt wilayah (Kabupaten dan Kota) di Sumatera Barat memperlihatkan kecenderungan menurun atau tidak berubah atau
5,15 5,18 5,09 4,92 4,76 1,96 1,49 2,88 1,98 1,43 2,84 1,97 1,36 2,83 1,98 1,32 2,8 1,93 1,26 2,79 12,47 12,52 12,41 12,09 12,01 0 10 20 2009 2010 2011 2012* 2013**
86
meningkat hanya sekitar 0,1%. Khususnya di Kabupaten Mentawai meningkat hamper 20% dari tahun 2012 ke tahun 20013 namun tetap menurun dari tahun 2009 sampai 2011.
Tabel.2.37
Peranan Sektor Pertanian (Kontribusi Pertanian) dalam PDRB menururt wilayah di Propinsi Sumatera Barat tahun 2009 – 2013
(Persentase)
No Kabupaten/Kota Tahun
2009 2010 2011 2012 2013
1 Kab. Agam 41,38 40,71 40,22 39,72 38,71
2 Kepulauan Mentawai 55,18 54,62 54,08 33,62 52,81
3 Kab. Pesisir Selatan 34,69 34,61 34,32 33,62 33,71
4 Kab. Solok 44,74 45,01 45,32 44,86 45,30
5 Kab. Sijunjung 27,37 27,78 28,08 27,73 27,60
6 Kab. Tanah Datar 37,77 37,72 37,49 37,09 37,26
7 Kab. Padang pariaman
24,56 23,87 23,19 22,12 21,34
8 Kab. 50 Kota 33,59 34,30 34,54 34,52 34,61
9 Kab. Pasaman 53,67 53,79 54,14 54,10 54,21
10 Kab. Solok Selatan 38,81 38,30 37,80 36,89 35,98
11 Kab. Dharmasraya 35,26 35,37 34,89 33,75 33,48
12 Kota Padang 5,73 5,82 5,87 5,74 5,70
13 Kota solok 8,80 8,79 8,73 8,63 8,31
14 Kota Sawahlunto 9,73 10,22 10,10 10,54 10,69
15 Kota Padang Panjang 9,62 9,20 8,87 8,65 8,41
16 Kota Bukittinggi 2,27 2,49 2,39 2,30 2,21
17 Kota Payakumbuh 10,07 9,96 9,96 9,96 9,99
19 Kota Pariaman 27,61 28,13 27,97 27,97 27,29
Propinsi Sumbar 23,95 23,94 23,67 23,12 22,74
Selanjutnya, Tabel 2.38 memperlihatkan bahwa Pertumbuhan riil sector pertanian periode 2009 sp 2013 cenderung meningkat terdapat di wilayah Kabupaten Solok, Padang Pariaman, 50 kota dan Dharmasraya, serta Kota Solok, Sawahlunto dan Payakumbuh. Pada wilayah Kabupaten kota lainnya cenderung menurun. Pembangunan pertanian umumnya perlu ditingkatkan pada wilayah yang pertumbuhan riil cenderung menurun. Untuk Percepatan pertumbuhan ekonomi wilayah dapat dilakukan peningkatan pertumbuhan riil sector pertanian di wilayah yang telah cenderung meningkat, dengan mengembangkan pengolahan hasil pertanian guna menunjang pembangunan Industri Agro.
87
Tabel 2.38Pertumbuhan Riil Sektor Pertanian menururt wilayah di Propinsi Sumatera Barat tahun 2009 – 2013 (Persentase)
No Kabupaten/Kota Tahun
2009 2010 2011 2012 2013
1 Kab. Agam 12,62 12,32 12,18 12,22 12,16
2 Kepulauan Mentawai 3,64 3,63 3,60 3,61 3,53
3 Kab. Pesisir Selatan 7,42 7,38 7,34 7,20 7,21
4 Kab. Solok 10,86 11,03 11,27 11,24 11,40
5 Kab. Sijunjung 3,86 3,89 3,92 3,90 3,87
6 Kab. Tanah Datar 9,57 9,44 9,32 9,24 9,24
7 Kab. Padang pariaman 9,72 9,96 10,10 10,13 10,28
8 Kab. 50 Kota 8,11 8,15 8,27 8,47 8,49
9 Kab. Pasaman 2,48 2,49 2,51 2,53 2,49
10 Kab. Solok Selatan 4,33 4,37 4,37 4,27 4,25
11 Kab. Dharmasraya 9,14 9,24 9,38 9,65 9,68
12 Kota Padang 7,22 6,91 6,66 6,44 6,28
13 Kota solok 6,54 6,60 6,60 6,56 6,58
14 Kota Sawahlunto 0,50 0,53 0,53 0,55 0,56
15 Kota Padang Panjang 0,41 0,40 0,38 0,37 0,36
16 Kota Bukittinggi 0,23 0,25 0,24 0,23 0,22
17 Kota Payakumbuh 0,87 0,87 0,88 0,89 0,91
19 Kota Pariaman 2,02 2,05 2,04 2,09 2,06
Propinsi Sumbar 3,47 4,09 3,84 4,58 3,58
Salah satu aspek yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani adalah meningkatkan nilai tambah. Nilai tambah (value added) adalah pertambahan nilai suatu komoditas karena mengalami proses pengolahan, pengangkutan ataupun penyimpanan dalam suatu produksi. Dalam proses pengolahan nilai tambah dapat didefinisikan sebagai selisih antara nilai produk dengan nilai biaya bahan baku dan input lainnya, tidak termasuk tenaga kerja. Sedangkan marjin adalah selisih antara nilai produk dengan harga bahan bakunya saja. Dalam marjin ini tercakup komponen faktor produksi yang digunakan yaitu tenaga kerja, input lainnya dan balas jasa pengusaha pengolahan (Hayami et al, 1987).
Berdasarkan pengertian tersebut, perubahan nilai bahan baku yang telah mengalami perlakuan pengolahan besar nilainya dapat diperkirakan. Dengan demikian, atas dasar nilai tambah yang diperoleh, marjin dapat dihitung dan selanjutnya imbalan bagi faktor produksi dapat diketahui. Nilai tambah yang semakin besar atas produk pertanian tentunya dapat berperan bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang besar tentu saja berdampak bagi peningkatan lapangan usaha dan pendapatan masyarakat yang muara akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan Nilai Tambah Sektor Pertanian menurut Sub-sektor tahun 2009 – 2013 (persen) seperti pada Tabel dan Gambar berikut memperlihatkan cenderung menurun dan berfluktuasi. Hal ini memperlihatkan bahwa sector pertanian perlu lebih memperhatikan aspek pasca panen dan pengolahan hasil pertanian.
88
Tabel.2.39
Pertumbuhan Nilai Tambah Sektor Pertanian menurut Sub-sektor2009 – 2013 (persen)
SEKTOR 2009 2010 2011 2012 2013
PERTANIAN 3,47 4,09 3,84 4,58 3,58
1. TanamanPangan dan Hortikultura 4,08 3,12 4,18 4,15 2,67 2. Tanaman Perkebunan 1,58 5,77 3,15 5,11 4,64
3. Peternakan 5,17 5,42 3,91 4,01 2,29
4. Kehutanan 2,11 4,75 2,33 3,92 4,42
5. Perikanan 4,54 3,50 4,59 6,08 5,76
Dari data dan uraian di atas (Tabel 4) dapat disampaikan bahwa Kontribusi sector pertanian terhadap PDRB meskipun menurun, namun masih tinggi (22,71%) dibanding sector lain. Pertumbuhan tertinggi adalah pada sub Sektor perikanan (5,76%) diikuti perkebunan, kehutanan, pangan hortikultura dan peternakan. Distribusi Peran Sektor Pertanian terhadap PDRB (%) memperlihatkan peran yang lebih tinggi pada sub sector Pertanian hortikultura dan tanaman pangan diikuti perkebunan, perikanan, peternakan, dan kehutanan. Jika sub sektor hortikultura dan sub sektor tanaman pangan dipisahkan maka distribusi peran semua sub sektor di sektor pertanian cukup merata.
Selanjutnya, Peran sector pertanian yang masih tinggi belum diikuti oleh peningkatan Nilai Tambah dan Nilai Tukar Pertanian (Tabel 3 dan Tabel 4). Pertumbuhan Nilai Tambah Sektor Pertanian menurut Sub- sektor tahun 2009–2013 (persen) berfluktuasi dan cenderung menurun. Hal ini disebabkan rendahnya perkembangan usaha/kegiatan pengolahan hasil pertanian (pascapanen).
Rancangan pembangunan sector pertanian jangka menengah ke depan, hendaknya menekankan bahwa pelaku usaha perkebunan rakyat tidak lagi bisa menjalankan bisnis seperti pola yang selama ini diterapkan (business as usual). Mereka harus benar-benar dibantu untuk menumbuhkan kewirausahaan, budaya kerja, dan mengembangkan lingkungan yang kondusif bagi usaha yang memiliki daya saing yang tinggi.
Berikut disampaikan gambaran umum realisasi rencana pembangunan Perkebunan, pertanian pangan dan hortikultura, peternakan dan ketahanan pangan.
Hasil Capaian Sasaran pembangunan Perkebunan
a. Capaian Sasaran makro pembangunan perkebunan yang dikehendaki yaitu Meningkatnya luas tanam, produksi, nilai ekspor, serapan tenaga kerja, dan produktifitas, serta menurunnya serangan OPT pada Sub