• Tidak ada hasil yang ditemukan

77 3.Rendahnya pemahaman perkoperasian oleh para pengelola,

Dalam dokumen BAPPEDA Sumbar (Halaman 77-81)

pengurus maupun anggota Koperasi, dan rendahnya partisipasi anggota dalam usaha Koperasi terlihat dan rendahnya pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) oleh Koperasi aktif.

4. Kapasitas dan kualitas para pengelola Koperasi, sebagian besar masih sangat rendah. Hal ini juga mengindikasikan bahwa tetah terjadi pengelolaan Koperasi yang tidak sesuai dengan nilai, identitas dan jatidiri Koperasi.

5. Peran koperasi dalam pengembangan pertanian semakin menurun, harapan untuk melakukan perubahan tidak mungkin diserahkan pada masyarakat, karena kesadaran untuk berkoperasi belum sepenuhnya tumbuh berkembang sebagai sebuah kebutuhan. 6. Koperasi dan UKM juga menghadapi persoalan rendahnya kualitas

sumberdaya manusia. Kebanyakan SDM Koperasi dan UKM berpendidikan rendah dengan keahlian teknis, kompetensi, kewirausahaan dan manajemen yang seadanya.

7. Terbatasnya akses Koperasi dan UKM kepada sumberdaya produktif; bahan baku, permodalan, teknologi, sarana pemasaran serta informasi pasar.

8. Kebanyakan Koperasi dan UKM mengunakan teknologi sederhana, kurang memanfaatkan teknologi yang lebih memberikan nilai tambah produk dan sulit untuk memanfaatkan informasi pengembangan produk dan usahanya.

9. Rendahnya produktivitas dan daya saing produk Koperasi dan UKM. Terlebih Koperasi dan UKM tidak memiliki jaringan pasar dan pemasaran yang luas, kebanyakan mereka hanya memiliki akses pasar di tingkat local.

10. Pasar bebas yang ditandai dengan berlakunya Asean Free Trade Area (AFTA) dan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA), dapat menjadi ancaman, karena asimetris datam penguasaan pasar dan rendahnya daya saing produk Koperasi dan UKM di pasar internasional.

11. Tekanan persaingan produk Koperasi dan UKM meningkat dengan masuk dan beredarnya produk impor ilegal, berkembangnya bisnis retail oleh usaha besar di masyarakat.

12. Kebijakan aspek informasi, kemitraan, pemberian kesempatan berusaha, promosi dagang dan dukungan kelembagaan yang kurang mendukung, serta perlunya peningkatan koordinasi antar instansi terkait.

Pemahaman terhadap permasalahan dan identifikasi tiap pelaku, diharapkan dapat mempercepat upaya pemberdayaan Koperasi dan UKM

78

secara lebih luas dengan penyebaran yang lebih merata, yang bertujuan untuk mengatasi masalah internal dan eksternal yang dihadapi Koperasi dan UKM sehingga memperoleh jaminan kepastian dan kesempatan berusaha. Atas dasar itu SKPD yang membidangi Koperasi dan UKM akan mengembangkan berbagai program dan kegiatan yang berkesesuaian, tepat sasaran, berhasil guna dan bermanfaat secara langsung bagi pemberdayaan Koperasi dan UKM.

4. KETENAGAKERJAAN

a. Partisipasi Angkatan Kerja

Kondisi ketenagakerjaan di Sumatera Barat dapat dilihat dari Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja. TPAK menunjukkan merupakan indikator ketenagakerjaan yang memberikan gambaran tentang penduduk yang aktif secara ekonomi dalam kegiatan sehari-hari merujuk pada suatu waktu. TPAK adalah indikator yang biasa digunakan untuk menganalisa partisipasi angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. TPAK dihitung dari perbandingan jumlah angkatan kerja dengan jumlah penduduk usia kerja dikali 100 persen. Dengan kata lain TPAK menggambarkan jumlah penduduk yang bekerja pada suatu daerah. Kondisi TPAK Sumatera Barat selama periode 2010-2013 dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel. 2.31

TPAK Sumatra Barat dan Indonesia Tahun 2010-2013

Indikator Satuan 2010 2011 2012 2013

TPAK

Sumbar % 66,36 66,19 64,47 62,90

Indonesia % 67,72 88,34 67,88 66,90

Sumber : BPS 2014

Data Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Sumatera Barat cendrung menurun dari tahun ke tahun. Walaupun pada tahun 2011-2012 terjadi kenaikan. Penurunan TPAK sejalan dengan tingkat pengangguran yang cendrung bertambah. Selanjutnya jika dibandingkan dengan kondisi nasional, maka TPAK Sumatera Barat relatif lebih rendah. Kondisi ini kemungkinan bisa disebabkan karena terbatasnya lapangan pekerjaan yang ada atau kualitas sumber daya yang rendah sehingga tidak terserap dalam dunia kerja. Sehingga pada akhirnya akan meningkatkan pengangguran. Untuk melihat lebih jauh kondisi ketenagakerjaan kota dan kabupaten di Sumatera Barat, dapat dilihat pada tabel berikut:

79

Tabel. 2.32.

Kondisi TPAK Kota dan Kabupaten di Sumatra Barat Tahun 2010-2013 No Kab/Kota Tahun 2010 2011 2012 2013 Rata- rata Kabupaten 1 Kepulauan Mentawai 79.85 68.67 77.45 76.79 75.69 2 Pesisir Selatan 59.7 66.01 59.01 56.88 60.40 3 Solok 71.26 65.49 61.25 60,30 66.00 4 Sijunjung 64.75 66.14 64.92 63.04 64.71 5 Tanah Datar 67.17 65.2 68.82 71,95 67.06 6 Padang Pariaman 64.48 64.34 63,36 61.19 63.34 7 Agam 67.54 65.61 70,02 62,35 66.58

8 Lima puluh Kota 73.36 66.08 72.12 70.98 70.64

9 Pasaman 68.75 65.35 74,07 72,91 67.05 10 Solok Selatan 70.83 67.31 62.6 61.17 65.48 11 Dharmasraya 69.21 68.93 72.01 69,54 70.05 12 Pasaman Barat* 71.09 66.68 62,46 57.97 65.25 Kota 13 Padang 59.51 66.86 55.69 57,43 60.69 14 Solok 63.21 67.11 63,86 61.96 64.09 15 SawahLunto 74.81 67.57 72.77 67,50 71.72 16 Padang Panjang 71.56 67.94 67.14 66.31 68.24 17 BukitTinggi 64.51 65.71 67.54 62,84 65.92 18 Payakumbuh 70.55 67.15 68.16 66.64 68.13 19 Pariaman 63.26 66.25 58,64 61,62 64.76

Sumber: Sumatera Barat dalam angka 2014

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa ada 4 (empat) daerah di Sumatera Barat yaitu Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kota Sawahlunto, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Dharmasraya yang memiliki angka TPAK diatas 70 persen. Hal ini sekaligus menunjukan bahwa jumlah penduduk yang bekerja di daerah ini relatif lebih banyak dibanding dengan daerah lain. Kondisi ini juga mengindikasikan bahwa di daerah ini peluang dan kesempatan kerja relatif lebih banyak dibanding daerah lain. Walaupun tingginya TPAK belum memberikan dampak yang signifikan terhadap kenaikan pertumbuhan ekonomi, karena secara umum lowongan kerja yang ada lebih banyak untuk pekerja kasar (unskill labor). Dari data tahun 2013, diketahui hampir 1 juta orang penduduk yang bekerja hanya memiliki tingkat pendidikan SD dan tidak tamat sekolah.

80

b. Pengangguran

Kebalikan dari TPAK, pengangguran merupakan indikator negatif dalam pembangunan ekonomi daerah. Makin tinggi tingkat pengangguran menunjukkan rendahnya kinerja pemerntah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Secara umum indikator yang digunakan untuk melihat pengangguran adalah Tingkat pengangguran terbuka. Tingkat pengangguran terbuka dapat dipakai untuk mengukur tingkat keterlibatan masyarakat dalam pembangunan. Semakin tinggi tingkat pengangguran terbuka, semakin ekslusif proses pembangunan. Sebaliknya, semakin rendah tingkat pengangguran terbuka, semakin inklusif pembangunan yang sedang dilaksanakan. Selama periode 2010-2013 telah terjadi penurunan tingkat pengangguran terbuka. Pada tahun 2009 tingkat pengangguran terbuka sebesar 7,97% menjadi 6,99% di tahun 2013. Kondisi ini menandakan semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pembangunan.

Bila di bandingkan dengan rata-rata nasional, tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Sumatera Barat berfluktuasi terhadap tingkat pengangguran terbuka nasional selama periode 2010-2013. Pada tahun 2010 tingkat pengangguran terbuka Provinsi Sumatera Barat lebih rendah dari nasional, yaitu sebesar 6,95% sedangkan nasional sebesar 7,14%. Namun pada tahun 2013 tingkat pengangguran terbuka Provinsi Sumatera Barat jauh lebih tinggi dari nasional, dimana Sumatera Barat yang sebesar 6,99% sedangkan nasional sebesar 6,25%. Kondisi ini menunjukkan bahwa perekonomian daerah Provinsi Sumatera Barat belum optimal dalam penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dibandingkan dengan nasional. Fakta ini juga mengindikasikan bahwa tingkat standar hidup nasional lebih tinggi dari Provinsi Sumatera Barat. Untuk itu, Provinsi Sumatera Barat masih perlu bekerja keras dalam mencapai tingkat kesejahteraan rata-rata nasional dengan melibatkan lebih banyak masyarakat. Kondisi ini dapat dilakukan dengan peningkatan lapangan kerja, produktifitas dan diversfikasi usaha. Argumentasi ini dapat dipahami karena penyerapan lapangan kerja

81

Dalam dokumen BAPPEDA Sumbar (Halaman 77-81)