• Tidak ada hasil yang ditemukan

57 perpustakaan mencapai 183 buah Ini suatu kemajuan yang sangat baik,

Dalam dokumen BAPPEDA Sumbar (Halaman 57-63)

namun dari segi pengunjung justru menurun dibanding dengan tahun sebelumnya. Tahun 2012 jumlah pengunjung mencapai 63.186 orang, tetapi tahun 2013 hanya 54.309 orang. Hal ini perlu dievaluasi apakah masalah pengelolaan yang masih perlu ditingkatkan agar minat pengunjung meningkat seperti penggunaan teknologi modern. Hasil evaluasi terserbut dapat digunakan untuk memperbaiki kinerja dibidang perpustakaan.

Bilamana ditinjau dari segi jumlah koleksi buku di perpustakaan perkembangannya cukup menggembirakan, hampir setiap tahun mengalami peningkatan jumlah koleksi buku yang ada di perpustakaan. Koleksi buku yang dikelola di perpustakaan pada tahun 2013 mencapai 191.391 buku. Ini suatu upaya yang sangat bagus, apalagi buku-buku itu merupakan referensi terbaru, sehingga dapat dimanfaatkan oleh banyak kalangan, baik siswa, mahasiswa, maupun masyarakat lainnya.

8. PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN ANAK

Keberhasilan pembangunan pemberdayaan perempuan tercermin dari Indeks Pemberdayaan Gender dan Indeks Pembangunan Gender (IPG).Indkator ini dapat digunakan untuk mengetahui kesenjangan pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan.Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) adalah indeks komposit yang mengukur peran aktif perempuan dalam kehidupan ekonomi dan politik.Peran aktif perempuan dalam kehidupan ekonomi dan politik mencakup partisipasi berpolitik, partisipasi ekonomi dan pengambilan keputusan serta penguasaan sumber daya ekonomi.

Propinsi Sumatera Barat termasuk Provinsi dengan IPG tertinggi dibandingkan provins lainnya di Indonesia. Pencapaian IPG dapat dilihat

pada tabel berikut, yang diambil dari buku “Pembangunan Manusia Berbasis Gender”, tahun 2013 dari Kementrian pemberdayaan Perempuan

dan Perlindungan Anak

Tabel 2.21

IPG Tertinggi dan Terendah tahun 2011-2012

2011 IPG 2012 IPG

TERTINGGI

DKI Jakarta 74,01 DKI Jakarta 74,66

DI Yogyakarta 73,07 DI Yogyakarta 74,11 Sumatera Utara 70,34 Kalimantan

Tengah

70,87 Kalimantan Tengah 69,80 Sumatera Utara 70,76 Sumatera Barat 69,55 Sumatera Barat 70,11

TERENDAH

Kalimantan Timur 61,07 Kalimantan Timur

58

Kep. Bangka Belitung 60,79 Kep.Bangka Belitung

61,38

Papua Barat 59,24 Papaua Barat 60,02

Gorontalo 57,67 Gorontalo 58,32

Nusa Tenggara Barat 56,70 Nusa Tenggara Barat

57,58

Sumber: Pembangunan Manusia Berbasis Gender, 2013 Kementrian pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Berikut pencapaian berdasarkan sebaran kabupaten/kota yang ditunjukkan pada table dibawah ini :

Tabel 2.22

IPG tahun 2010-2011 Propinsi Sumatera Barat

Provinsi / Kab/Kota IPG Trend

2010 2011

Sumatera Barat 68,50 69.55 Meningkat

Kep. Mentawai 61,33 62,03 Meningkat

Pesisir selatan 65,11 65,79 Meningkat

Kab. Solok 66,80 68,03 Meningkat

Sijunjung 59,53 60,50 Meningkat

Tanah Datar 66,67 67,44 Meningkat

Padang Pariaman 62,93 63,90 Meningkat

Agam 69,44 70,11 Meningkat

Limapuluh Kota 59,03 60,14 Meningkat

Pasaman 67,82 68,73 Meningkat

Solok Selatan 63,67 64,45 Meningkat

Dharmasraya 58,27 59,22 Meningkat

Pasaman Barat 65,29 66,27 Meningkat

Padang 70,34 71,41 Meningkat

Solok 69,51 70,28 Meningkat

Sawahlunto 62,74 63,63 Meningkat

Padang Panjang 76,55 77,16 Meningkat

Bukittinggi 73,45 74,42 Meningkat

Payakumbuh 70,96 71,63 Meningkat

Pariaman 64,79 65,51 Meningkat

Sumber: Laporan tahunan Badan pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Propinsi Sumatera Barat, 2013

Akan tetapi pada trend Indeks Pemberdayaan Gender sejak tahun 2012, yang diambil sumbernya dari Pembangunan Berbasis Gender 2013,Kementerian Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak bekerjasama BPS terlihat pencapaian ini masih dibawah angka nasional.

59

Gambar. 2.2

IDG Provinsi Menurut Peringkat 2012

Sumber: Pembangunan Manusia Berbasis Gender, 2013 Kementrian pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Pencapaian redahnya angka indeks pemberdayaan wanita tersebut menunjukkan bahwa orientasi pembangunan Sumatera Barat belum responsif.Artinya, peran perempuan dalam kegiatan politik ekonomi dan sosial masih relatif rendah dibandingkan dengan peranan perempuan ditingkat nasional.

Berikut pencapaian berdasarkan sebaran kabupaten/kota yang ditunjukkan pada tabeldibawah ini :

Tabel 2.23

IDG tahun 2010-2011 Propinsi Sumatera Barat

Provinsi Keterlibatan Perempuan di Parlemen Perempuan sebagai tenaga manager, profesional, administrasi, teknisi Sumbangan perempuan dalam pendapatan kerja IDG Trend % % % 2010 2011

Sumatera Barat 12,73 56,13 34,16 63,04 64,62 Meningkat

Kep. Mentawai 0,01 35,56 28,05 44,42 43,01 Menurun

Pesisir selatan 0,01 70,60 33,05 43,93 43,04 Menurun

Kab. Solok 2,86 56,39 35,96 51.99 54,09 Meningkat

Sijunjung 7,14 66,56 25,65 50,24 49,03 Menurun

Tanah Datar 8,57 53,49 31,65 54,87 57,73 Meningkat

Padang Pariaman 8,57 59,20 29,81 53,81 55,77 Meningkat

Agam 7,50 53,31 38,84 58,28 60,10 Meningkat

Limapuluh Kota 8,57 54,77 24,57 45,92 51,90 Meningkat

Pasaman 7,50 44,38 34.83 54,17 54,84 Meningkat

Solok Selatan 8,00 55,41 33,11 56,36 57,80 Meningkat

Dharmasraya 4,00 66,34 25,69 44,75 43,62 Menurun

Pasaman Barat 2,86 58,32 33,63 51,46 52,62 Meningkat

Padang 6,67 52,80 30,24 56,10 57,51 Meningkat

Solok 10,00 46,59 33,36 54,69 61,11 Meningkat

Sawahlunto 20,00 49,91 27,21 61,08 63,03 Meningkat

Padang Panjang 20,00 56,63 45,44 74,93 75,50 Meningkat

Bukittinggi 16,00 54,24 36,10 73,78 69,74 Menurun

Payakumbuh 8,00 57,44 35,02 59,16 59,85 Meningkat

60

Sumber: Laporan tahunan Badan pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Propinsi Sumatera Barat, 2013

Dengan dicapainya IPG yang tinggi akan tetapi angka IDG yang rendah, menunjukkan Sumatera Barat masih perlu mengoptimalkan dalam memberdayakan perempuan dalam kehidupan politik, social dan ekonomi. Capaian pembangunan gender telah melampaui capaian nasional, tetapi keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan politik, kegiatan ekonomi dan social masih rendah.

Setiap perempuan dan anak berhak untuk mendapatkan perlindungan atas hak asasinya, bebas dari penyiksaan, ancaman, tekanan, serta mendapat kemudahan, perlakuan, kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai keadilan dan kesejahteraan hidup. Sudah ada Undang-Undang Nomor 7 tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial mengamanatkan pemerintah, pemerintah daerah untuk melakukan penyelamatan,perlindungan, rehabilitasi dan pemenuhan dasar dan spesifik terhadap perempuan dan anak dalam penanganan konflik sosial; Perlindungan terhadap perempuan dan anak juga diperkuat dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 tentang Perlindungan Dan Pemberdayaan Perempuan Dan Anak Dalam Konflik Sosial

Permasalahan perempuan dan anak sudah sampai titik yang mengkhawatirkan karena jumlahnya yang semakin meningkat.Jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak ada puluhan ribu kasus.Dari jumlah tersebut 66 persennya terjadi pada ranah personal keluarga dimana masih ada hubungan kerabat atau sedarah.Sedangkan di ranah komunitas seperti tetangga atau rekan kerja dimana tidak ada hubungan kekerabatan, kasus kekerasan pada anak dan perempuan terjadi sekitar 30-34 persen.

Kekerasan terhadap perempuan (KtP)merupakan masalah global yang terkait dengankesehatan dan hak asasi manusia. KtP jugasangat berkaitan erat dengan ketimpangangender dan memberikan dampak yang sangatmerugikan terhadap kesehatan perempuan.

Kasus kekerasan terhadap perempuan yang terindentifikasi di pelayanan kesehatan dasar dan di pusat-pusat rujukan, termasuk kepolisian merupakan fenomena gunung es, karena besaran kasus tersebut belum menggambarkan jumlah seluruh kasus yangsebenarnya yang terjadi di masyarakat dan hanya merupakan sebagian kecil kasus kekerasan yang dilaporkan.

Hasil Susenas tahun 2006 menunjukkan terdapat sebanyak 2,3 juta (3,07%) kasus KtP, dengan perbandingan kasus antara perdesaan dan perkotaan adalah 3,08%: 3,06%. Sebagian besar korban (77%) tidak melakukan upaya apapun dan hanya 17% korban yang memperoleh layanan dari LSM dan pekerja sosial dan 6% dari tokoh masyarakat.

61

0 20 40 60 80 100 120 140 160 150 119 71 49 46 41 31 24 13 8 6 3 2

Dalam sepuluh tahun terakhir, kasus kekerasan terhadap perempuan cenderung terus meningkat.

Jumlah kasus kekerasan pada anak di Indonesia pun terus meningkat.Data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat, pada 2007 jumlah pelanggaran hak anak yang terpantau sebanyak 40.398.625 kasus.

Jumlah itu melonjak drastis jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 13.447.921 kasus.Data tersebut berdasarkan laporan yang masuk ke lembaga tersebut, yang tersebar di 30 provinsi.

Di Propinsi Sumatera Barat berdasarkan data yang diperoleh dari rekapitulasi data kekerasan Polda Sumbar sebagai berikut:

Gambar. 2.3

Jumlah Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Provinsi Sumatera Barat Berdasarkan Kabupaten Kota 2013

Sumber: Diolah dari Rekapitulasi Polda Sumbar 2014

Gambaran kekerasan terhadap perempuan dan anak di Propinsi Sumatera Barat menunjukkan bahwa tindak kekerasan terjadi pada semua daerah kabupaten/Kota di Sumatera Barat.

Berdasarkan analisis data kekerasan terhadap perempuan berupa kekerasan fisik, kekerasan ekonomi dan penelantaran, kekerasan seksuan dan kekerasan psikologis.Sedangkan analisis data kekerasan terhadap anak, kekerasan yang paling banyak terjadi adalah pencabulan dan perkosaan.

Data yang didapatkan masih terbatas, mengingat kejahatan dirumahtangga sebagai aib, sehingga seringkali baik korban maupun saksi tidak mau melaporkannya.

62

Berdasarkan hal tersebut di atas terdapat peluang sebagai berikut:

Adanya komitmen kuat dari pemerintah dengan adanya Program Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah melindungi perempuan dan anak dari tindak kekerasan melalui penerbitan Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Layanan Terpadu bagi Perempuan dan Anak korban kekerasan dan evaluasi terhadap pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A)

Sedangkan tantangan yang ada meliputi:

Dalam bidang pendidikan sebagian besar dana dialokasikan untuk sekolah-sekolah formal, sedangkan perempuan dan anak masih banyak yang belum mempunyai akses pada pendidikan formal.

9. Kependudukan, KB dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) Keluarga Berencana (KB) sangat berperan dalam mendukung pencapaian tujuan Nasional karena melalui program KB pertambahan dan pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali dapat dihindari sehingga setiap keluar dapat merencanakan kehidupan menjadi berkualitas dan sejahtera.

Tabel. 2.24

Laju Petumbuhan Penduduk 2012 Pada Kab/Kota se Sumatera Barat

Saat ini jumlah penduduk Sumbar dilihat selama 20 tahun menunjukkan peningkatan. Berdasarkan data Sensus 2010 yang dikeluarkan oleh BPS yang dihitung dari jumlah penduduk yang mendiami suatu wilayah lebih dari enam bulan, total penduduk Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010 sebanyak 4.241.605 jiwa dengan rincian penduduuk laki-laki 2.078.572 jiwa dan perempuan 2.163.033 jiwa, sedangkan hasil proyeksi penduduk Sumatera Barat tahun 2013 yang telah dilekuarkan secara resmi pada tanggal 9 Januari 2014 oleh BPS RI sebesar 5.066.500 jiwa dengan rincian penduduk laki-laki sejumlah 2.516.000 jiwa dan penduduk perempuan sejumlah 2.550.500 jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk Sumatera Barat tahun 2013 sebesar 1,28%. TFR Sumatera Barat berdasarkan SDKI tahun 2010 sudah mengalami penurunan yaitu menjadi 2,8 namun masih jauh dari target 2,1.

63

Dalam dokumen BAPPEDA Sumbar (Halaman 57-63)